The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
9. Petunjuk di Desa Penyihir.


__ADS_3

Di siang yang panas dan berdebu itu, Rombongan pasukan Pangeran Elf melintasi desa pertama yang mereka temui sejak memasuki perbatasan Negara Penyihir.


Dapat dilihat bagaimana para Orc menguasai desa dan menjadikan penduduk di sana sebagai budak untuk melayani mereka.


Melihat kedatangan rombongan pasukan kerjaaan Elf, membuat para tahanan dari Bangsa Penyihir, memiliki harapan baru.


"Tolong kami. Tolong bebaskan kami!" para tahanan itu berdiri di tengah jalan dan mencegat jalan rombongan Glenn.


"Menyingkir!" bentak Randall. Semua angota pasukan khususnya langsung mengelilingi Glenn. Mereka tak ingin aksi para tahanan itu adalah jebakan untuk melukai sang pangeran.


Sebuah pecut mendesing dan dengan cepat melibas punggung-punggung para tahanan yang berdiri di jalanan.


"Tugas kalian adalah bekerja! Sana!" Gagang pecut kembali dihentakkan. Talinya melayang sebentar di udara, sebelum mendarat di punggung para tahanan.


Glenn melompat dari kuda dan menahan ujung tali pecut agar tidak melukai siapapun. Kemudian dia turun tepat di depan seorang Orc yang buruk rupa dengan banyak bekas luka menganga di wajahnya.


Glenn menarik kuat tali pecut yang melilit pedangnya. Para pengawalnya sudah menyibak kerumunan tahanan dan sekarang berdiri mengelilingi Glenn.


"Apa hakmu mejadikan mereka tahanan! Ini tanah mereka turun-temurun!" bentak Glenn.


Orc itu menaikkan dahi, hingga terlihat jelas kerutan tebal tercetak di sana. Kemudian dia melayangkan pandang pada ratusan pasukan Elf yang datang.


"Kulihat kau datang dengan pasukan begini besar. Apa kau juga ingin menguasai tanah ini? Tidakkah ini terlalu jauh dari negaramu?" katanya sarkas.


"Oh, jadi kau mau mengatakan bahwa kalian menguasai tanah ini sekarang? Bagaimana kalian bisa punya keberanian seperti itu dan melanggar perjanjian perdamaian puluhan tahun yang lalu!" bentak Glenn.


"Hahahaa ... pemimpin kami sudah berganti. Yang sekarang, tidak takut pada apapun! Kami akan menguasai semua negara di sini!" balasnya pongah.


"Kalau begitu, kau harus mengalahkan kami!" Pangeran Glenn mundur setelah mengatakan hal itu. Semua komandan pasukan bersiap untuk memulai pertarungan.


"Kau sungguh punya nyali menantang kami!"


"Aaaoorrggghh ...!"


Orc itu berteriak keras menggelegar. Dalam sekejap, Hampir dua puluh Orc berkumpul. Mereka sepertinya sudah bersiaga. Dibuktikan dengan masing-masing memegang senjata dan sikap siap tarung.


Para tahanan mundur menjauh. Mereka tak bisa ikut serta dalam pertarungan itu. Randal melihat hal itu. Akan tetapi, dia lebih memusatkan perhatian pada Glenn, sehingga tidak memikirkan alasan aneh para penyihir itu. Alih-alih membantu, mereka justru menyingkir jauh.


Para Orc bersorak-sorai memanaskan suasana. Kelompok mereka sudah sangat bersemangat. Kapan lagi, bisa bertarung dengan begitu banyak pasukan Elf? Mereka sudah tak sabar.

__ADS_1


"Jangan lukai bagian berbahaya mereka. Nanti tak bisa diberdayakan!" yang lain mengingatkan.


"Yeahhhh!" Pasukan Orc itu bersorak penuh semangat.


"Serang!" Aba-aba telah diucapkan Pangeran Glenn. Pasukannya langsung menyerbu beramai-ramai, mengerubuti para Orc yang hanya puluhan orang.


Glenn dan pasukan khususnya menarik seorang pria tua berambut putih yang berdiri tak jauh dari kumpulan tahanan. Pria itu sangat diam dan Glenn bisa lihat kharisma yang terpancar di wajahnya.


"Apakah Anda adalah kepala desa di sini?" tanya Glenn. Pria itu melihat telinga Glenn, sebelum mengangguk sebagai jawaban.


"Desa kami jatuh hanya dalam semalam. Benar-benar semalam!" ujarnya murung dan sedih.


"Apa kau ada mendengar berita serang putri Elf yang dibawa lari ke sini oleh Orc?" tanya Glenn lagi.


"Dua malam lalu memang ada dua kuda datang tengah malam. Aku dapat melihat mereka membawa dua wanita di punggung kuda!" pria itu mengangguk mengiyakan.


"Benarkah? Apa kau ada melihat wajahnya? Mungkin sedikit mirip denganku? Putriku dan pelayannya hilang dua malam lalu!" Glenn sangat antusias.


"Aku tak melihat wajahnya. Dua orang itu langsung dibawa ke tempat mereka berkumpul. Kemudian pagi-pagi sekali mereka sudah pergi."


Pria itu menunjuk ke bangunan paling besar di desa. "Mereka berkumpul di sana!"


"Terima kasih informasinya!" Glenn melangkah ke arah bangunan yang ditunjuk.


Randal menghampiri pria itu. "Apakah tidak ada tahanan pria dalam kelompok sang putri?"


"Pria itu menggeleng dengan mata melotot. "Para Orc menculik seorang putri Elf?" tayanya tak percaya.


"Katakan ke arah mana mereka pergi!" tanya Randall.


"Jalan setapak di sana. Itu jalan menuju kota terdekat!" jelasnya.


"Baik. Terima kasih!" Randall menyusul Glenn yang sudah memeriksa hingga hampir setengah bangunan.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Randall. Dia ikut memeriksa di setiap sudut tempat itu.


"Aku menemukan sesuatu!" kata Randal. Dia mengambil satu benda dari balik tumpukan sampah yang berserakan di tempat itu.


"Apa itu?" tanya Glenn tak mengerti.

__ADS_1


"Ini token pelayan yang biasanya mereka bawa setiap kali keluar dari kediaman. Lihat!" Randall menyerahkan token itu pada Glenn.


Diperhatikannya token dari kayu berukir dengan lambang kediamannya. Glenn mengangguk. Kemudian token itu disimpan dan mereka keluar. Putrinya dan pelayan itu memang datang ke tempat itu kemarin.


"Tuan, kata pria di sana, tidak ada tahanan lelaki bersama sang putri!" bisik Randall.


"Apa? Lalu di mana Gilang?" Glenn menjadi cemas memikirkan hal itu.


Randall tak dapat menjawab. Namun, dia menambahkan informasi. "Pria tua itu bilang, sang putri dan pelayannya dibawa ke sana pagi-pagi."


Glenn menghampiri lagi pria itu. Memeriksa besi yang merantai kaki mereka. Rantai kaki itu bersambung dengan setidaknya sepuluh orang dalam kelompok. Rantai besi yang ditempa kasar dan melukai kaki semua tahanan. Membuatnya berdarah dan luka berdarah itu kotor penuh debu. Tapi sangat jelas bahwa rantai itu dipasangi mantera pengunci.


"Apa kalian tidak bisa melepaskan rantai ini dengan sihir?" tanya Glenn heran.


"Para Orc memasang ini di dada kami. Jika kami menggunakan sihir, maka kami akan tewas!"


Pria itu menunjukkan satu pin dari besi aneh berwarna hitam yang ditancapkan di dada mereka. Darah segar masih terlihat jelas di antara warna biru kehitaman yang menutupi dada mereka.


"Apa sudah ada yang membuktikannya?" tanya Glenn.


"Putraku yang gagah berani, menolak untuk takluk. Dia mencabut besi ini dan merapal mantra sihir terakhirnya. Itu membuat kaki salah satu Orc putus, dan dia sendiri tewas!" Pria itu menunduk sedih.


Glenn menggeleng. "Mau melawan ataupun tidak, kalian akan tetap mati! Mereka meracuni alat ini. Putramu bukan mati karena sihirnya diganggu. Tapi karena keracunan!" jelas Glenn.


Pria itu terkejut. Dan melihat dadanya yang kini membiru. Dia memang merasa tidak cukup fit. Dikiranya karena kakinya yang terluka akibat rantai.


"Tapi, saat putraku melakukannya, dia baru saja dipasangi pin ini!" bantahnya.


"Jika pin dicabut, kemungkinan racunnya jadi cepat menyebar, makanya dia tewas!" Randall menimpali.


Pria itu dan sepuluh orang kelompoknya, terkejut mendengar penjelasan itu. "Jadi, sebenarnya kami masih bisa melakukan sihir?" ulang mereka tak percaya.


"Coba saja sihir sederhana. Misalnya melepaskan rantai kaki. Lalu, cari tabib untuk mencari penangkal racunnya!" saran Randall.


Glenn dan Randal meninggalkan para Penyihir yang menjadi tahanan. Mereka tak bisa membantu melepaskan rantai kaki yang menahan semua tahanan.


"Kami sudah mendapat informasi. Habisi saja mereka!" perintah Glenn.


Randal dan angota pasukannya merangsek maju dan tak bisa dibendung. Dalam setengah jam berikutnya, semua Orc itu tewas mengenaskan!

__ADS_1


"Jaga diri kalian!" pasukan Elf itu meninggalkan desa di perbatasan. Melanjutkan jalan megikuti petunjuk pria tadi.


*****


__ADS_2