
Eric langsung mengangkat tubuh gadis cantik itu dan membawanya pergi. Hakon dan Gerald melihat tubuh Aila yang diselubungi sinar cemerlang berkelip seperti bintang.
“Eric, dia sedang mengobati Aila!” Hakon menenangkan kemarahan Eric.
“Mengobati apa! Dia hanya sedang mencari kesempatan! Tak akan kubiarkan!” Pria muda itu benar-benar marah.
Sementara pria bersayap tadi terbaring di tempatnya. Hakon datang dan memeriksa. “Apa kau memberikan kekuatanmu pada Aila? Jangan seperti itu. Kau harus menjaga kekuatanmu juga. Ada seorang pangeran yang menjadi tanggung jawabmu!" tegur”Hakon.
“Eric, berikan aku air abadi!” pinta Hakon.
Eric cemberut dan menolak.
“Oh, ayolah ... jangan seperti anak kecil. Dia kepayahan setelah membagi kekuatannya untuk keponakanmu itu! Berterima kasihlah sedikit!” desak Gerald.
“Huh! Ini!” Eric menyerahkan botol air abadi pada Gerald. Naga itu mengantarnya pada Hakon.
“Ayo minum dulu ini. Kau akan merasa lebih segar setelahnya,” Hakon meletakkan mulut botol ke dekat mulut orang itu dan membantunya minum.
“Mataku mulai pulih. Tidak terasa panas lagi,” ujar Glenn. Dikerjap-kerjapkannya mata sebelum membuka lebar.
“Syukurlah ... penglihatanku kembali normal. Bagaimana dengan kalian?” tanya Glenn pada bawahannya.
“Tidak kepanasan lagi,” sahut Randall.
“Bagus!”
Glenn melihat keponakannya Karl yang masih terbaring pingsan. “Bagaimana dengan keponakanku ini? Apakah ada yang bisa membantunya?” tanya Glenn cemas.
“Berarti dia terpapar sangat parah, hingga bisa sampai pingsan seperti itu. Namun, tadi Aila sudah membantu menyembuhkan bagian dalamnya. Dia tidak akan kenapa-kenapa lagi. Tinggal tunggu dia pulih saja,” jelas Hakon.
“Ayah, Aila pingsan!” lapor Eric.
“Sebentar ayah ke sana,” balas Dean.
Eric memperhatikan tubuh Aila yang memang dipenuhi cahaya bintang cemerlang. Dia belum pernah melihat cahaya seperti itu muncul dari tubuh Jason ataupun Aila. Tidak juga dari Yoshi atau Yabie. Dilihatnya pria asing bersayap putih besar yang masih lemah dan terbaring di tanah, ditolong oleh Hakon.
“Apa yang terjadi?” Dean melayang di ketinggian dan melihat banyak orang terbaring di bawah sana.
“Ayah!” panggil Eric senang.
Dean mengamati Aila yang dipeluk Eric. “Apa yang terjadi padanya?” tanya Dean tajam.
“Bukan aku!” Eric menolak dijadikan tertuduh.
“Pria itu memeluk Aila hingga begini!” Eric masih menuduh pria asing bersayap yang kini ikut terbaring.
__ADS_1
Dean melihat dengan keheranan pada pria itu. “Siapa Kau? Apakah Kau bangsa The Fallen Angel?” tanya Dean.
“Aku bangsa Peri!” jawab orang itu.
Dean terdiam. Dia tak terlalu mengerti bangsa-bangsa di tempat ini. “Maafkan aku. Jika di tempat kami, orang sepertimu kami sebut bangsa The Fallen Angel! Seperti juga Aila!” jelas Dean.
“Apa kau membantu cucuku, tadi?” tanya Dean lagi. Pria itu mengangguk.
“Aku berterima kasih padamu untuk itu. Namun, lain kali berhentilah melakukan cara seperti ini. Tubuh kalian tak bisa melakukan pengobatan dengan cara membagi kekuatan begini. Kau sangat lemah sekarang. Sangat berbahaya jika melakukannya di saat yang tidak tepat. Kau bisa langsung tewas diserang musuh!”Dean menasehati.
“Gadis itu cucumu?” tanya pria itu tak mempedulikan nasehat Dean yang lain.
“Ya!” Dean mengangguk
“Apa Kau juga Bangsa The Fallen Angel?” tanyanya ingin tahu.
Dean menggeleng. “Bukan! Aku bangsa Cahaya. Adik perempuanku menikahi bangsa The Fallen Angel. Lalu lahirlah anak-anak mereka. Ibu Aila –Yoshi- merupakan campuran bangsa Cahaya dan bangsa The Fallen Angel!” Dean menjeda kalimatnya.
“Yoshi menikahi manusia, kemudian lahir Aila dan Keanu adiknya. Dari empat cucuku, tiga orang menekuni ilmu pengobatan!” beber Dean.
“Menikah campur, tapi dia tetap memiliki sayap?” gumam pria itu.
“Itu artinya gen The Fallen Angel yang ada dalam darah mereka lebih kuat dari pada campurannya. Menurutku, penjelasan itu lebih masuk akal.” Dean tersenyum.
“Apa dia sudah menikah?” tanya pria itu berani.
“Ayah! Apa yang kalian bicarakan?” Eric memanggil. “Sebaiknya bawa Aila pulang agar bisa dirawat di rumah.”
Dean mengangguk dan berdiri. Pria asing itu menahan tangannya. “Aku Koen. Aku bangsa The Fallen Angel terakhir di tempat ini. Bolehkah aku menikahi cucumu Aila? Aku telah lama mencari pasanganku,” ujarnya berani.
Dean terdiam lalu menatap pria itu serius. “Kalau begitu, pertahankan nyawamu! Lalu minta dia pada kedua orang tuanya setelah perang ini usai! Aku ada di negara Elf untuk sementara waktu.”
Senyum tipis dan kata-kata Dean seperti semangat baru bagi Koen. Dia langsung duduk dengan tegak dan mengangguk hormat. “Terima kasih.”
Dean berjalan meninggalkannya dan mendekati Eric. Disentuhnya Aila, dan gadis itu langsung menghilang. Koen terkejut melihatnya. Hanya saja, melihat semua orang bersikap biasa, kekhawatirannya pun lenyap.
“Pangeran,” panggilnya perlahan. Glenn mendekati Karl yang masih belum bangun juga.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Dean.
“Pangeran kena cahaya biru itu, lalu pingsan dan belum sadar hingga sekarang.” Koen menjelaskan dengan khawatir.
“Dimas, bisakah kau memeriksa seseorang di sini?” panggil Dean.
“Baik, aku akan ke sana!” sahut Dimas.
__ADS_1
Sementara menunggu, Glenn memperkenalkan dirinya. Juga memperkenalkan Karl pada Dean.
“Siapa yang perlu diperiksa?” tanya Dimas begitu menjejakkan kaki di tanah.
“Itu, keponakan Pangeran Glenn,” tunjuk Dean.
Dokter itu langsung memeriksa keadaan Karl dengan teliti. “Sejauh ini, keadaannya baik. Mungkin dia sangat terkejut dengan cahaya yang meledak tadi. Atau, matanya mengalami masalah,” duga Dimas.
“Lalu bagaimana?” Koen menjadi cemas.
“Di negeri kami, kalian bisa memeriksa kesehatan ataupun mata dengan lebih baik,” saran Dimas setelah menoleh pada Dean.
“Di mana negeri kalian? Aku akan membawanya ke sana.” Koen sudah bertekad untuk menyembuhkan Karl yang menjadi tanggung jawabnya.
“Negeri mereka sangat jauh. Sementara itu, keadaan kita sekarang sedang menghadapi perang. Jika Kau tidak keberatan, bawa dia ke istana Elf dan dirawat oleh tabib istana sementara waktu,” saran Glenn.
“Baik, saya akan mengantarnya ke sana!” Angguk Koen.
“Biar aku yang mengantar.” Gerald menawarkan bantuan.
“Pergilah!” Dean memberinya persetujuan.
Gerald langsung berubah menjadi seekor naga muda. “Kalian berdua bisa naik ke punggungku!”
Walaupun tak mengira Gerald berubah bentuk seperti itu, tapi Koen segera mengangkat Karl dan naik ke punggung Gerald. Dia memang sedang tidak punya cukup tenaga untuk bisa berpindah secepat biasanya. Gerald langsung mengangkasa dan pergi dari sana.
“Sekarang, bisakah kita pikirkan bagaimana mencari keberadaan putriku Cristal? Tanya Glenn.
“Lebih baik kita rembukkan bersama Pangeran Mahkota. Kami di sini hanya membantu saja,” jawab Dean. Glenn mengangguk.
“Bagaimana dengan kerajaan Penyihir?” tanya Dean lagi.
Glenn menunduk sedih dan menggeleng. “Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih hidup di negara ini,” ujarnya lesu.
“Menurut hemat saya, jika kita ingin menyerang negara Orc, maka harus ada tentara penyihir yang menjaga perbatasan negara mereka agar tak ada lagi Orc yang kabur ke sini saat kita masuk ke sana!”
Glenn terdiam mendengar pemikiran Dean. Hal itu memang ada benarnya. Jika tak dijaga, maka para Orc justru masuk ke negara ini saat lari dari perang. Hanya saja, negara Penyihir bahkan tidak lagi punya rakyat yang bisa menjaga perbatasan mereka yang sangat panjang itu.
“Aku akan kembali menemui Paman Raja dan mengatakannya. Semoga ada jalan keluar dari masalah rumit ini,” Angguk Dean.
“Ayah, bagaimana dengan perbatasan negara Orc dan Tanah tak bertuan? Hanya ada Sofie yang menjaga perbatasan itu!” lapor Eric.
“Kita akan bahas hal itu dengan Pangeran Mahkota. Kau bantu Sofie lebih dulu,” perintah Dean.
“Baik, Ayah.” Eric langsung melesat terbang ke tempat Sofie.
__ADS_1
“Dean, kukira aku akan mengantar Pangeran Glenn ke istana Penyihir. Mungkin ada yang butuh bantuan di sana.” Dimas menawarkan dirinya.
“Pergilah.” Dean mengijinkan.