The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 75. Bertemu Pangeran Mahkota


__ADS_3

“Sebaiknya aku segera membawa kalian menghadap Pangeran Mahkota,” kata Levyn.


Eric mengangguk. “Di mana tempatnya?”


“Itu!” Levyn menunjuk sebuah pulau yang melayang di ketinggian.


“Kita harus berjalan sedikit ke post teleportasi. Hati-hati, banyak Orc berkeliaran di kota!” pesannya.


“Apa Orc bisa terbang?” tanya Eric lagi.


Levyn menggeleng. Dia lupa kalau ornag-ornag yang dibawa Herdan dan Khort bisa terbang semua. Sungguh, baru sekali ini dia merasa sangat insecure di hadapan belasan orang asing itu.


“Seperti apakah bangsa-bangsa yang ada di negeri ibunda dulu?” batin Levyn takjub. Tak heran ibunya nekad menyuruh dua orang pengawal itu pergi mencari.


”Bawa mereka ke atas sana!” perintah Eric.


“Kakek Kang bagaimana?” tanya Jason. Gerald, Evan dan Ubbe juga masih berada di penyimpanan Eric.


“Di atas saja,” sahut Eric.


Maka semua anggota tim itu bersiap naik. Para Elf itu mereka pegang dan bawa melayang di udara. Tapi mereka tak berani berteriak, meskipun ngeri. Khawatir jika itu akan mengundang perhatian Orc yang selalu berkeliling kota. Tak butuh waktu lama hingga mereka mendratkan kaki di permukaan tanah.


Melihat ada ornag asing yang tiba-tiba muncul di atas tanah kediaman Pangeran Elf itu, beberapa pengawal sang pangeran mahkota, menodongkan tombak dan pedang mereka.


“Hei, ini aku. Aku sudah kembali,” kata evyn, menenangkan para prajurit itu.


Bukan salah para prajurit itu juga jika tetap menodongkan senjata mereka pada Levyn. Pria di depan yang mirip pangeran mereka itu tiba-tiba muncul di tempat yang jelas-jelas buka tempat teleportasi.


“Jangan mengira bisa menipuku! Sang pangeran baru pergi menjalankan perintah kemarin. Tangkap mereka!” perintah salah seornag dari para prajurit pengawal itu. Para bawahannya langsung menyerang ke arah Levyn.


Dan itu membuat tiga pengawalnya maju dengan sikap marah. “Apa kau mau mati? Beraninya mencoba melukai Sang Pangeran!”


Orang itu terkejut. Dia sudah lama tak melihat Herdan -pengawal Putri Angel- ada di tempat itu. Ada pula Khort yang ikut melindungi Levyn, selain salah satu pengawal yang biasa mereka lihat. Sekarang pimpinan penjaga itu menjadi ragu dengan kesimpulannya sendiri.


“Ke mana Yang Mulia mengirim Anda kemarin?” tanyanya.


“Ke hutan sihir, untuk mencari bahan makanan!” jawab Levyn lantang.


“Sementara ini, hanya Anda yang kami ijinkan beretmu Yang Mulia!” kata kepala penjaga. Dia harus berhati-hati membuat keputusan.

__ADS_1


“Ada apa denganmu? Apa Kau kira Orc akan bisa menyamar jadi setampan aku?” kesal Levyn.


Para prajurit pengawal jadi merasa ragu. Rasanya hal itu memang tak mungkin terjadi. Orc selalu bertubuh besar. Bahkan meskipun mereka adalah darah campuran dengan suku bangsa lain, tubuh mereka yang besar tetap dapat dikenali. Tapi pria tampan yang mirip Levyn itu bertubuh langsing dan halus layaknya para Elf bangsawan.


“Apa mungkin Orc belajar ilmu sihir, agar bisa menyamar seperti kita?” celetuk salah satu prajurit.


“Oh, Ya Dewa! Kalian membuang-buang waktuku saja!” geram Levyn. Dia sudah mengeruahkan perintah agar para pengawalnya menaklukkan para prajurit itu.


Semua sudah saling berhadapan, termasuk juga orang-orang yang dipilih oleh sang pangeran mahkota untuk menemani Levyn. Mereka juga sangat kesal diperlambat melapor.


“Biar kubereskan!” kata Hakon. Dia berdiri di depan Herdan, menghadapi para prajurit pengawal.


“Siapa Kau!” tanya pemimpin pengawal itu tak senang. Dia menghunuskan pedang tajamnya pada Hakon.


“Kau terlalu berisik sejak tadi.” Hakon mengangkat tangannya ke udara dan memutarnya beberapa kali.


Para prajurit penjaga itu terkejut saat tubuh mereka semua diikat oleh sesutau yang tak terlihat, menjadi satu. Mereka tak bisa bergerak sama sekali. Mau membuka ikatan juga tak bisa, karena tali pengikatnya tidka terlihat sama sekali.


“Apa yang kau lakukan!” pemimpin penjaga itu berteriak marah. Tapi mereka tak bisa bergerak. Pedang dan tombak jatuh berserakan di tanah.


“Kami harus melapor pada Yang Mulia. Jadi kau diam saja di sana sebentar!” ketus Herdan. Dia mempersilakan Levyn dan Eric untuk melanjutkan perjalanan.


Levyn berjalan cepat ke tenda kakak sepupupunya yang sederhana. Pengawal penjaga tenda itu terkejut. Terutama melihat Levyn tidak datang sendiri. Mereka belum tahu apa yang terjadi di pinggir pulau terapung itu.


“Yang Mulia, Pangeran Levyn datang melapor,” kata penjaga itu.


“Levyn? Dia kembali? Suruh masuk!” Pangeran Mahkota yang baru saja ingin membaringkan diri, duduk kembali.


“Yang Mulia,” sapa Levyn penuh hormat.


“Apakah ada rintangan yang membuatmu kembali?” tanya Pangeran Mahkota. Dia sedikit kecewa, tapi hutan itu memang tidak bisa diprediksi.


“Bukan, aku bertemu dengan dua Elf yang diutus ibunda untuk mencari teman dari negara asalnya!” lapor Levyn.


“Benarkah? Apakah mereka berhasil menemukannya?” tanya Pangeran Mahkota gembira. Harapannya kembali


tumbuh. Levyn mengangguk.


“Ya, Negara mereka mengutus beberapa orangnya ke sini, untuk memmbantu kita,” jelas Levyn lagi.

__ADS_1


“Oh, syukurlah. Meskipun hanya beberpa orang, tidak apa-apa. Kita memang sangat membutuhkan tenaga dan pemikiran baru,” angguk sang pangeran mahkota senang. Levyn mengangguk setuju pendapat itu.


“Bawa mereka ke sini,” perintah Pangeran Mahkota. Levyn mengangguk dan keluar dari tenda.


Pangeran Mahkota melihat dua tiga pria asing mengikuti Levyn masuk tenda. Menuurutnya, mereka pastilah pemimpin dari utusan yang dikirim. Hingga matanya melihat seseornag yang seperti pernah dilihatnya.


“Yang mulia, saya Robert, teman seperjalanan Putri Angel saat ke sini.” Robert sedikit membungkukkan badan.


“Ah, akhirnya aku ingat. Kau pria yang selalu bersama dengan dokter itu, bukan? Kau pemimpin mereka!” Pangeran Mahkota sangat senang. Robert mengangguk dan tersenyum.


“Ini Eric, pemimpin tim kami. Dia adalah calon penerus pemimpin bangsa kami,” Dan ini putra dari Dokter Chandra. Namanya Dokter Dimas,” jelas Robert.


Pangeran Mahkota sedikit terkejut melihat Eric. Pria tampan dan gagah itu masih sangat muda. Meskipun begitu, karena dia adalah calon pemimpin masa depan bangsa mereka, artinya kedudukan pria itu sama dengannya, sebagai putra mahkota. Jadi dia harus bersikap hormat juga.


“Selamat datang, selamat datang Pangeran. Sungguh tidak disangka negara Anda mengirimkan Putra Mahkotanya untuk membantu kesulitan kami,” ujar sang putra mahkota.


Eric merasa kikuk mendapat panggilan putra mahkota. “Panggil saja aku Eric. Aku bukan putra mahkota. Negara kami bukanlah kerajaan,” katanya dengan senyum sumbang dan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Oh, maafkan ketidak tahuanku. Selamat datang Eric. Selamat datang dokter,” ralat pangeran mahkota cepat.


“Pengawal, ambilkan kursi untuk tamu!” seru sang pangeran mahkota.


“Saya rasa tidak perlu,” cegah Eric cepat. “Kami datang untuk membantu. Jadi mari langsung kita kerjakan saja.” Kata Eric.


“Dok. Tolong periksa Yang Mulia. Aku merasa dia tak cukup sehat. Rawat dia dulu, lalu---”


“Baik!” Dimas bersama Robert mendekati sang pangeran mahkota untuk memeriksa kesehatannya.


Eric menatap Levyn. “Kau bilang kalian butuh bahan makanan, mari kita keluar dan bantu aku,” kata Eric lagi.


Levyn kebingungan. Dia menoleh pada kakak sepupunya yang sudah pasrah diperiksa Dimas. Pria itu mengangguk mengijinkan Levyn pergi.


“Sepertinya dia biasa memimpin  dalam situasi sulit, ya?” ujarnya setelah Eric dan Levyn keluar.


Robert tertawa kecil. “Ayahnya menugaskan kami melatihnya jadi pemimpin masa depan. Itu sebabnya dia yang diutus ke sini.”


Pangeran mahkota itu mengerti. Melihat Eric masih muda, dia yakin pria itu masih harus belajar lagi. “Negara kami sedang dalam bahaya. Apa ayahnya tidak mencemaskan keadaan putranya?”


“Hahaha ….” Dimas dan Robert justru tertawa mendengarnya.

__ADS_1


“Tak ada yang berani menanggung resiko membuatnya marah.” Robert menggeleng.


Pangeran mahkota itu tercenung mendengarnya. “Seberapa hebat dia?”


__ADS_2