The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 53. Pengobatan Silvia


__ADS_3

Jangan lupa kasih Like ya kak. Terima kasih.


*****


 Wajah Yasmeen yang memerah, membuat Ameera menyadari bahwa kakaknya sedang menahan emosi.


“Kalian jangan menghakiminya! Sudah kukatakan. Dialah satu-satunya penolong kami!” Ameera bersuara keras. “Kalau kalian memang tidak mau membantu tanpa membuka luka lama, maka lebih baik kalian pergi saja!”


Eric dan anggota timnya terkejut mendengar kata-kata gadis itu.


“Kau salah mengerti, Nona. Menceritakan hal yang terjadi bukan untuk membuka luka lama yang disimpan kakakmu. Tapi untuk menentukan asal penyakit dan tindakan perawatan yang tepat!” Dimas membela timnya.


“Tapi kalau kalian enggan mengatakan apapun, ya sudah. Kami hanya bisa membantu sekedarnya. Sebab kami masih harus pergi menolong pihak lain yang bersedia mengatakan masalahnya dengan jujur!”


Ameera terdiam mendengar kata-kata Robert. Dia ingin ibunya bisa sembuh. Tapi dia juga tak ingin luka hati Yasmeen kembali terbuka.


“Akan kukatakan!”


Tim Eric terkejut. Itu suara Yasmeen. “Kalau begitu, mari kita bicarakan!’ kata Eric cepat.


“Saat itu, aku sudah menikah dengan putra tabib yang sebelumnya merawat ibu dengan luka bakarnya. Mertuaku bilang, luka bakarnya sangat parah. Entah berapa lama ibu terpapar matahari gurun hingga kulitnya terbakar, seperti meleleh. Ayahku menemukannya dan mengantar ke tempat tabib. Ibu dirawat berbulan-bulan di kediaman tabib hingga sembuh. Setelah itu, ayah menjemput dan membawanya ke kediaman kami, untuk menjadi guru dan pengasuhku,” Yasmeen berusaha mengingat cerita lama.


“Kemudian dia menjadi ibuku. Merawat dan menjagaku. Banyak hal terjadi, tapi kasih sayangnya tidak berubah. Bahkan kehadiran Ameera tidak melunturkan perhatiannya padaku. Hingga hari aku cukup umur untuk menikah. Aku dinikahkan dengan pilihanku sendiri. Putra tabib yang merawat ibu. Setelah itu aku pindah ke sini.” Yasmeen menunduk.


“Biar aku yang lanjutkan, Kak,” kata Ameera. Yasmeen mengangguk.

__ADS_1


“Setelah ayah meninggal karena sakitnya tak bisa diobati tabib, kehidupan kami mulai sulit. Ibu tiri kami selalu mengganggu. Sampai suatu hari, rumah kami dibakar. Aku sedang ke pasar dan hanya ada ibu sendiri di kediaman. Aku tak bisa membuka pintu yang mereka kunci!” Ameera menunduk.


“Saat itu, Kak Yasmeen dan suaminya datang berkunjung. Melihat api menjalari rumah. Suami dan beberapa orangnya membantu memadamkan. Dia mendobrak pintu yang sudah terbakar. Membawa ibu keluar. Tubuh mereka berdua penuh dengan api.” Yasmeen makin menunduk, air matanya mengalir dalam diam.


“Aku mengerti!” putus Eric. “Suamimu tewas karena luka bakar, bukan?” Ameera yang mengangguk.


“Baik. Jadi, luka bakar Silvia karena kebakaran. Kemungkinan dia juga menghirup asap panas. Itu juga yang menjadi sebab luka dalamnya.” Dimas mulai mengevaluasi.


“Apa kau bisa mengobatinya?” tanya Robert.


“Apa kau bisa membantuku?” Dimas bertanya penuh harap pada Eric.


“Kalau kau memang bisa, tolonglah dia. Jika dia bisa sembuh lebih cepat, bukankah kita bisa segera melanjutkan perjalanan?” bujuk Arjun.


“Ayo kita lihat!” Eric berdiri. Dimas mengikuti.


Eric masuk tanpa pemberitahuan lagi. “Jangan!” cegah Yasmeen.


Tepat saat Dimas menyusul masuk, sebuah mangkuk melayang ke arah pintu. “Siapa yang lancang masuk tanpa ijinku!” teriak Silvia marah.


“Aku!” sahut Eric berani.


“Siapa Kau?” suara Silvia yang serak terdengar dingin.


“Aku putra Dean dan Widuri. Pemimpin tim ini. Namaku Eric!” Eric memperkenalkan diri.

__ADS_1


“Tak kukira kau sangat lancang!’


“Kau bisa mengadukan itu pada ibukuku nanti. Sekarang aku sedang tergesa-gesa untuk pergi. Sementara dua putrimu memintaku untuk menyembuhkanmu! Aku harus apa?”


“Apakah putra Dokter Chandra tak mampu mengobatiku?” Silvia tertawa mengejek.


“Bisa! Tapi langkahnya sangat lama! Sementara kami harus pergi secepatnya mencari negara Elf. Apa kau tahu tentang dinding cahaya atau semacamnya?” tanya Eric. Tangannya terus bergerak berputar-putar di depan dada. DI belakang, Dimas, Yasmeen dan Ameera terkejut melihat apa yang dilakukan Eric.


“Sstt!” Dimas berbisik pada keduanya.


“Seperti itulah cara dia memperbaiki sesuatu! JAngan katakan pada siapapun yang kalian lihat ini!” Mata Dimas menatap tajam, memperingatkan Yasmeen dan Ameera. Tapi keduanya terlalu terpukau dengan gerakan Eric.


“Apa yang terjadi di sini?” Silvia panik saat merasakan kesiur angin kencang berputar-putar di dekatnya. Cahaya terang biru dan keemasan mengisi kamar yang biasanya gelap gulita.


“Matikan lampunya!” teriak Silvia histeris.


“Itu bukan lampu, Ibu.” Ameera tak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Cahaya biru dan keemasan itu keluar dari tubuh Eric. Memutarinya seperti angin topan kecil. Mengurung tubuh Silvia di dalamnya.


“Tambahkan kekuatanmu, Dimas!” perintah Eric.


“Baik!” Dimas segera mengarahkan kedua tangannya yang memancarkan cahaya sebening cristal. Lalu seorang wanita gagah tiba-tiba muncul di dalam ruangan.


“Aahh!” Yasmeen dan Ameera terkejut.


“Ivy, bantu kami menyembuhkannya!” perintah Eric pada Sofie.

__ADS_1


*****


__ADS_2