
Levyn yang dipanggil kakak sepupunya, segera naik dan menghadap.
“Yang Mulia,” katanya hormat.
“Duduk, Levyn. Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Pangeran Mahkota.
Levyn duduk dan siap untuk mendengarkan. DIperhatikannya postur kakak sepupunya yang biasanya sangat gagah dan berwibawa itu. Sekarang terlihat banyak pikiran.
“Levyn, kau ada di bawah. Kau sangat tahu keadaan negara kita sekarang, kan?” kata sang pangeran membuka pembicaraan.
Levyn mengangguk. Dia tak ingin memotong ucapan sang pangeran.
“Kita kekurangan makanan. Rakyat apa lagi. Aku tidak tahu, kapan terkahir kali mereka makan dengan cukup!” kata sang pangeran lagi. Levyn kembali mengangguk.
“Barusan ibumu bilang, tempat di balik hutan sihir yang dulu mereka huni, memiliki banyak bahan makanan. Dia memintaku mengutus beberapa orang pergi mengambilnya ke sana untuk suplai kita dan rakyat agar tidak kelaparan.” Pangeran Mahkota mengamati ekspresi Levyn. Mencari celah jika pria muda itu mungkin tidak setuju rencana tersebut. Tapi dia harus menelan kecewa.
“Benarkah?” tanya Levyn dengan wajah gembira.
“Bisakah aku juga ikut ke sana? Mungkin saja aku bisa membantu mereka!” Levyn sangat antusias dengan rencana itu.
Sang Pangeran Mahkota mengeluh dalam hati. Ibu dan anak sama-sama tidak peduli pada nyawanya sendiri. Sekarang dia harus apa? Tak ada lagi alasan mengabaikan permintaan Angel.
Setelah menghela napas panjang, akhirnya sang pangeran mengangguk. “Untuk itulah kau kupanggil,” katanya.
“Benarkah itu? Aku diijinkan ikut?”
Dia merasa amat sangat gembira. Biasanya ibu dan keluarga kerajaan sangat ketat terhadapnya. Tidak boleh ini, tidak boleh ke situ dan sebagainya. Kali ini dia dipanggil dan diberi tugas. Bukankah itu sangat keren? Terlebih lagi, diutus pergi ke tempat dari mana ibunya berasal. Dia sangat tak sabar dan ingin tahu, seperti apa dunia itu.
“Kau tahu tentang hutan sihir?” tanya sang pangeran.
__ADS_1
Levyn berpikir sejenak. “Emm yah …. Seperti cerita yang biasa kita dengar di pasar atau di manapun. Bahwa hutan itu memiliki kekuatan sihir yang dahsyat. Siapapun yang memasukinya dan bermalam di sana, jika tidak terbangun hingga hari berganti, maka dia akan hilang selamanya!” kata Levyn mencoba mengingat cerita rakyat negara itu.
Pangeran Mahkota mengangguk. Cerita itu benar. Tapi itu hanya sebagian dari kebenaran yang kita tahu. Masih banyak misteri yang belum terungkap, karena banyak orang menghindari tempat itu.”
Levyn mengangguk setuju dengan kata-kata sepupunya.
“Hanya keturunan bangsa penyihir yang bisa melewati tempat itu dengan selamat, akibat perjanjian ribuan tahun lalu. Biar kujelaskan sedikit. Dahulu kala, hutan sihir itu termasuk dalam wilayah kekuasaan negara penyihir. Sampai kemudian, seorang penyihir yang sangat kuat dan dianggap membahayakan keseluruhan negara penyihir, muncul.”
“Ramalan itu sedikit demi sedikit terbukti saat anak itu semakin besar. Akhirnya istana memutuskan untuk mengasingkannya ke hutan terpencil agar tidak menimbulkan celaa bagi rakyat lainnya. Sejak itu, hutan terpencil itu menjadi semakin kuat. Tapi dia tak pernah mengganggu siapapun keturunan bangsa penyihir yang melewati tempat itu, sebagai bentuk penghargaan atas leluhurnya.”
“Seperti itukah ceritanya?” Levyn sangat terkejut. Dia tak ada mendengar kisah yang sangat mengharukan itu di luar kediamannya.
“Itulah yang ernah dikatakan nenekmu saat aku kecil dulu,” kata sang pangeran.
“Oh, nenek memang berasal dari sana. Tak heran dia punya kisahnya sendiri yang rakyat Elf tidak tahu.” Levyn mengangguk-angguk mengerti.
“Nah, karena itulah kau kupanggil. Sebagai keturunan bangsa penyihir, maka kau bisa melewati hutan itu dengan aman. Kau sangat kuandalkan untuk menjaga utusan kita tetap hidup pergi dan pulang nanti!” kata Pangeran Mahkota akhirnya.
Pangeran Mahkota tersenyum dan menepuk pundaknya. “Aku sangat mengandalkanmu. Semoga kita bisa bertahan hingga kau kembali dan membawa banyak makanan untuk rakyat!”
Levyn melompat dan memeluk kakak sepupunya. “Terima kasih. Aku merasa Kau menganggapku sudah dewasa, sekarang, bukan? Terima kasih.” Matanya basah karena haru.
“Sebelum pergi, temui ibumu lebih dulu. Dia mungkin akan memberi tahu banyak hal tentang tempat asalnya. Aku akan mempersiapkan orang-orang yang pergi!”
Pangeran Mahkota merasa lega. Levyn sama sekali tidak takut ataupun menolak. Tampaknya dia memang sudah mulai dewasa. Pangeran muda yang dulu hanya bersenang-senang, sekarang kegirangan diberi tugas untuk menyelamatkan rakyat.
“Kurasa, akulah yang terus menganggap dia sebagai adik kecilku. Padahal dia sudah tak sabar untuk mengepakkan sayap dan terbang tinggi,” gumam sang pangeran.
“Tugas ini bagus untuk dia membuktikan diri sebagai pangeran berharga negara Elf,” komentar penasehatnya.
__ADS_1
“Ya … dia sudah sangat tidak sabar menunggu moment ini.” Sang pangeran tersenyum tipis. Hatinya menjadi sedikit ringan karena sebagian beban pikirannya telah terangkat.
Di tenda yang seadanya itu, Angel tinggal bersama dengan para pelayan yang makin hari makin terlihat kurus dan pucat. Levyn sedih meliihat keadaan ibunya yang memprihatinkan. “Ibu,” sapanya lembut.
“Oh, Kau sudah datang. Duduklah!” perintahnya.
Levyn duduk di tepi dipan kayu kecil tempat ibunya beristirahat. Dia menunggu dengan sabar.
“Apa Yang Mulia sudah memberimu perintah?” tanya Angel. Levyn mengangguk.
“Ibu sudah membicarakan ini dengan nenekmu lebih dulu. Jadi dia mengirimkan surat ini tadi pagi. Kau bacalah pesannya. Itu akan membantumu melewati hutan sihir dengan aman dan bagaimana menangkal sihir itu jika dia datang mengujimu.” Kata Angel.
Levyn membaca pesan neneknya. Itu bukan pesan yang singkat. Karena berisi banyak mantera yang seharusnya dia hapalkan. Tapi karena sudah dituliskan snag nenek, maka dia bisa membacanya sebelum mampu mengahapal. Akhirnya dia tahu kenapa ayahnya bisa selalu lolos saat melewati tempat itu. Levyn mengangguk.
“Aku sudah membacanya. Akan kubawa surat nenek untuk kuhapalkan di jalan,” kata Levyn.
Angel mengangguk. “Sekarang bagian pentingnya. Tugasmu adalah megambil stock makanan yang berlimpah di tempat itu. Ada banyak oat liar di sana. Sebagian juga ada yang kami tanam, ….”
Angel menjelaskan semua yang harus dilakukan agar bahan makanan itu bisa didapat dengan mudah. Levyn mengangguk mengerti.
“Sekarang, pergilah. Kelangsungan negara ini bergantung padamu!” Angel menepuk pundak Levyn.
Hatinya sangat berat. Tapi dia harus melepaskan anak terakhirnya ke tempat yang dia sendiri tidak tahu, akan seperti apa sekarang. Mungkin saja tempat itu sudah berubah jauh. Harapannya pada dua pengawal yang dia kirim untuk mencari Robert sudah menipis. Mereka sudah sebulan lebih tidak kembali. Negara Elf sudah sangat kacau sekarang.
“Aku berangkat, Bu,” pamit Levyn.
“Ya. Berhati-hatilah di jalan. Ingat, kami waktu itu sampai bermalam dua malam di hutan sihir. Jadi, tempat menuju dunia lain itu, pasti sangat jauh dari perbatasan hutan sihir dengan negara Elf,” pesan Angel.
Levyn mengangguk, memeluk ibunya sebentar dan keluar tenda. Langkahnya mantap. Dia sudah teguh untuk pergi melaksanakan tugas.
__ADS_1
“Pangeran, Anda dipanggil menghadap Yang Mulia,” kata seorang pengawal. Levyn mengikutinya.
*****