
Dimas dan Robert saling memandang tak mengerti. Mereka lalu menoleh pada Eric, meminta penjelasan.
“Makanya kukatakan mari kita bicarakan dengan serius!” Eric berjalan ke ruang tamu yang sekarang berubah jadi tempat istirahat mereka. Yang lain mengikuti langkahnya. Robert, Dimas dan Ubbe sangat berharap informasi yang diberikan Yasmeen akurat.
“Jadi, tolong ceritakan tentang apa yang kau dengar itu,” pinta Robert.
Yasmeen mengulang lagi apa yang sebelumnya sudah dikatakannya pada Eric.
“Apa kau tahu desa apa itu?”
“Tidak begitu tahu. Tapi suamiku bilang, dia berkuda ke arah matahari terbit selama dua hari perjalanan. Desa pertama yang ditemui ada di rentangan tangannya. Kemudian dia akan melayani pasien selama sehari di sana. Baru melanjutkan jalan menuju desa berikutnya yang berjarak sehari perjalanan lagi,” kata Yasmeen.
“Desa kedua itu yang mengatakan melihat dinding cahaya di langit?” desak Dimas.
“Ya! Penduduk desa itu yang mengatakan hal itu lima tahun lalu. Tidak tahu apakah mereka masih ada di sana, atau sudah pergi mengembara ke tempat lain!”
“Apa maksudmu mereka mengembara?” tanya Eric.
“Mereka suku Beiduin, suku pengembara!” jelas Yasmeen lagi.
“Ah … jadi, bisa jadi dinding cahaya yang mereka lihat itu bukan berada di desa kecil itu!” Arjun menyimpulkan.
“Hei! Bukankah kita bangsa petualang. Kenapa tidak kita cari tahu dulu ke sana? Jika memang mereka suka mengembara, maka cerita mereka mungkin saja tersebar ke desa-desa kecil yang mereka singgahi di timur itu!” Mata Sofie berbinar-binar.
“Aku bisa merasakan jiwa petualanganmu meronta-ronta!” ejek Eric.
Sofie cemberut. “Memangnya kau tidak tertarik untuk mencari ke sana?” tanyanya.
“Bagiku, kali ini bukanlah permainan yang biasa kita lakukan di pulau misterius di kota pelabuhan! Kita sedang mengemban misi mencari dunia Elf! Dan itu harus secepatnya ditemukan!” tegas Eric.
Sofie hanya bisa menunduk sambil memanyunkan bibirnya. Tapi anggota tim lain tampaknya setuju dengan pendapat Eric. Mereka harus menemukan jalan yang tepat agar tidak menghabiskan waktu percuma.
“Kita berangkat malam ini!” putus Eric, setelah menimbang sebentar.
“Lebih baik kalian berjalan pagi hingga sore. Jalan malam hari masih sangat berbahaya di gurun ini!” cegah Yasmeen.
“Kenapa?” tanya Sofie.
“Masih banyak kelompok perampok yang berkeliaran, menyergap kafilah yang kemalaman dan tidak terlalu terlindungi,” jelas tabib itu.
“Jangan khawatirkan mereka. Kekuatan satu orang saja bisa membereskan satu kelompok perampok itu.” Ubbe mengatakan itu dengan ekspresi serius. Yasmeen ingin tak percaya, tapi wajah Ubbe tidak seperti orang yang sedang berbohong.
“Tapi dua teman kalian masih belum sadar,” Yasmeen kembali menahan Tim Eric.
“Apa kalian mengkhawatirkan kami?”
Suara Jason terdengar dari luar ruang tamu. Tak lama dua orang yang dikhawatirkan tadi, sudah masuk dan duduk berkumpul dengan yang lainnya.
“Bagaimana dengan luka kalian?” Yasmeen mencoba melihat dahi Jason.
__ADS_1
“Tidak ada luka,” Aila memeriksa dahi Jason.
“Sungguh air ajaib. Aku tak tahu dari mana kalian mendapatkan air seperti itu. Tapi harus kuakui bahwa itu sangat hebat sebagai pengobatan pertama yang sederhana.”
“Itu air milik Bangsa Cahaya. Sumber airnya berasal dari bintang yang sangat jauh dan sekarang sudah musnah!” Robert menjelaskan.
“Bintangnya hancur, tapi airnya masih ada?” Yasmeen bingung.
“Karena satu dari ribuan mata airnya berhasil diselamatkan oleh ayahnya!” Robert menunjuk pada Eric.
"Apakah ayahnya orang penting dalam kelompok kalian?" bisik Yasmeen.
"Ya, dia pemimpin Bangsa Cahaya saat ini. Nanti akan diteruskan oleh Eric, putranya!" Robert ikut bersuara lirih.
“Baik, sekarang sudah sore. Mari bersiap untuk pergi!” Itu perintah Eric.
Semua anggota tim bersiap untuk berangkat sore itu. Eric masih memeriksa penjaga dan petugas teleportasi.
Memberi beberapa pesan, sebelum meninggalkan mereka.
“Dean memberikan ini untuk persediaan kalian di sini!” Robert mengeluarkan sangat banyak daging segar di hadapan Yasmeen. Wanita muda itu terkejut.
“Banyak sekali,” katanya.
“Jangan khawatirkan soal daging ini. Kami punya peternakan sapi yang luas dan tak akan habis dimakan hingga beberapa tahun ke depan!” Arjun hanya bisa tersenyum melihat keterkejutan di mata Yasmeen.
Orang-orang Yasmeen segera membawa daging-daging itu dengan suka cita.
“Semoga kalian diberi keberuntungan dalam perjalanan,” harap Yasmeen.
***
Di dunia kecil Bangsa Cahaya.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Niken menjaga Silvia yang dirawat di rumah sakit.
“Aku … aku tidak menyangka kita bisa berjumpa lagi.” Silvia kembali menangis dalam pelukan Niken.
“Sudah … tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kau sudah dalam perawatan ahli. Pulihkan dulu kesehatanmu. Setelah itu, kami akan menunjukkan dunia kecil yang kami tinggali ini.” Niken tersenyum dan menerangkan dengan sabar.
“Aku, aku menyesal tidak mengikuti ajakan Leon hari itu,” isak Silvia sambil menyeka air matanya.
“Apa kau tidak mecintai suamimu?” canda Niken.
“Bukan itu. Andai aku tahu bahwa kalian akan menemukan jalan kembali. Aku pasti akan mengikuti Leon.” Silvia menunduk.
“Kami juga tidak tahu. Kami hanya terus saja berjalan. Berusaha keras untuk pulang. Hingga beberapa orang dari kita, tewas dalam perjalanan.”
“Kami sudah mengabari Laras, Liam dan Nastiti. Kau bisa bertemu dengan mereka nanti. Sekarang aku harus memanen tanaman obat untukmu.” Niken berdiri.
__ADS_1
“Jangan khawatir. Aku sudah mengambilkannya untukmu, Sayang.” Indra muncul di depan pintu.
“Kalian sangat harmonis. Aku ikut bahagia untuk pernikahan kalian berdua.” Silvia tersenyum.
“Indra, apakah kau mengetahui dimana putriku?” tanya Silvia.
“Jangan kkhawatir. Biar kucari dan mengatakan bahwa kau menanyakannya. Sekarang, beristirahatlah.” Indra dan Niken meninggalkan Silvia sendiri.
“Ah, kau di sini rupanya. Ibumu mencari.” Niken menyapa Ameera yang berjalan riang dengan Dhara dan Arumi. DI belakang, Zoella mengiringi sambil tersenyum pada Niken dan Indra.
“Ibu mencariku?” Ameera berlari mencari Silvia.
“Bagaimana keadaan Silvia menurutmu?” tanya Niken pada Zoella.
“Kita terlambat mengobati. Jadi progressnya akan lebih lambat,” kata Zoella jujur.
“Tapi dia bisa pulih seperti sedia kala, kan?” desak Niken lagi.
“Jika ilmu pengobatan kita tak memadai, mungkin kita bisa sarankan dia untuk melakukan operasi plastik di bumi!” Zoella menemukan solusi mudah untuk Silvia.
“Hah, Kau ini! Makanya belajarlah lebih giat, agar kau bisa melakukannya di sini!” omel Niken.
“Baik, Bibi,” Zoella mengangguk dengan senyum tak lepas dari wajahnya.
“Aku mau memeriksanya dulu.” Pamit dokter muda itu, diikuti Arumi dan Dhara.
“Aku sangat berharap, makin banyak dokter di tempat kita ini,” kata Niken.
“Sabar. Putra Robert juga kan kuliah kedokteran. Nanti juga dia akan kembali ke sini dengan keahliannya.” Indra merasa optimis.
Di kamarnya, Silvia berbincang dengan putrinya. “Kau sudah melihat-lihat tempat ini?”
“Ya, bu. Tempat yang sangat indah. Dharra dan Sonny mengajakku berkeliling. Tempat yang sangat subur dan penuh dengan tanaman. Sangat berbeda dengan tempat tinggal kita!” Mata Ameera berbinar-binar.
“Kau suka tinggal di sini?” Silvia mengajuk hati putrinya.
“Bagaimana dengan Kak Yasmeen?” gadis itu menunduk sedih.
“Kita bisa ajak dia pindah juga,” kata Silvia.
Ameera menggeleng. “Kakak tidak akan mau. Rumah perobatan itu kan peninggalan mertua dan suaminya. Hanya kami berdua yang diandalkan penduduk untuk mengobati, jika mereka sakit.”
Silvia mengangguk mengakui bahawa apa yang dikatakan Ameera memang benar. “Kakakmu snagat menyukai ilmu pengobatan. Sayangnya dia belum belajar cukup lama. Mertua dan suaminya telah pergi lebih dulu.”
“Kata paman Dean, kami bisa belajar pada tabib di kota pelabuhan untuk menambah ilmu, kalau mau.” Mata Ameera kembali bersinar senang.
“Kalau kalian memang suka, maka pergilah belajar lagi.” Silvia mendukung keinginan kedua putrinya.
“Ibu mengijinkan?” Ameera tak percaya.
__ADS_1
“Kenapa tidak? Mencari guru perobatan tidaklah mudah. Jika memang ada tabib hebat di sini yang kalian bisa ambil ilmunya, maka pelajarilah. Pelajjari juga ilmu pengobatan modern agar bisa saling membantu dengan pengobatan tradisional!”
*****