
"Pemimpin kami adalah pemimpin yang paling baik dan bijaksana yang pernah ada," jawabnya ringan.
"Akan tetapi, bagaimana dengan putranya. Kalian tak khawatir kalau dia mati?" taya Elf itu penasaran.
"Pemimpin pasti sudah tahu resikonya. Yang dilakukannya menunjukkan bahwa, meskipun putranya sendiri, tidak akan mendapat keringanan jika melakukan hal yang tidak sesuai harapan!" Ubbe mengangguk dengan yakin.
"Oh .... Dan kekuatan mereka sangat dahsyat. Saat mereka mengeluarkan kekuatan, seluruh tempat ini jadi terang. Tak heran kalian menyebut diri sebagai Bangsa Cahaya," pujinya kagum.
Ubbe mengangguk. "Beristirahatlah." Murid Aslan itu lalu keluar dari ruang perawatan.
"Ada apa di luar? Aku melihat sinar terang masuk dari jendela itu!" tunjuk Khort.
"Apa kau ingat Eric, pria tampan putra Pemimpin Bangsa Cahaya?" tanya Herdan,
"Yang datang dengan riang itu? Ada apa dengannya?" tanya Khort.
Dia sedang dihukum oleh ayahnya. Itulah cahaya yang kau lihat itu. Mengerikan!" Herdan menarik kedua bahunya untuk menunjukkan ekspresi kengerian di luar.
"Cahaya terang itu mengerikan?" tanya Khort ingin kejelasan.
"Bukan cahayanya. Tapi api yang membakar tubuhnya begitu besar dan terang, hingga cahayanya menerangi seluruh tempat di sini, seperti siang hari saja!"
"Dibakar? Bukankah dia bisa mati jika dibakar? Kesalahan besar apa yang dilakukannya hingga dihukum berat begitu?" Khort bertanya-tanya.
"Tak ada yang tahu apa yang terjadi. Itu rusan para tetua dan Pemimpin mereka." Herdan menghempas tubuh ke tempat tidur. Dia memikirkan sesuatu.
"Dan kau tahu? Setelah melihat kekuatan mereka, aku yakin kita bisa dengan mudah mengalahkan para Orc!" Herdan tersenyum senang.
"Benarkah? Bagus sekali. Perjalanan berat mencari mereka sangat sepadan dengan hasilnya nanti." Khort ikut senang. Dia optimis negaranya bisa segera dibebaskan dari cengkeraman Orc jika mendapat bantuan dengan kekuatan sebesar itu.
Di luar, Eric sudah menjerit-jerit dan berperang sendiri dalam balutan api merah, biru dan cahaya keemasan.
"Aku akan membalas kalian semua!" teriak jiwa leluhur murka. Cahaya biru keemasannya makin kuat dan hampir mengalahkan keuatan Dean, Indra dan Arjun yang menyerang bersamaan.
"Beraninya kau! Teriak Eric marah. "Sekali kau menyakiti mereka, aku akan bunuh diri dan kau tidak akan pernah hidup lagi!"
__ADS_1
"Sofie! Jika keadaan tak terkendali dan bangsat sialan ini mengacau, Kau harus membunuhku dengan panahmu!" Teriakan Eric menggelegar, mengalahkan geraman jiwa leluhur yang ingin menguasainya.
"Ambil panahmu, cepat!" perintah Niken pada putrinya.
"Tapi, Bu---"
"Di saat genting, jangan pernah membantah perintah atasanmu!" Niken menatap tajam.
Sofie terbang ke rumahnya untuk mengambil busur panah dahsyat warisan Ivy. Dia segera kembali dan mulai mengarahkan bidikan pada Eric. Tangannya gemetar dan jantungnya berdegup kencang.
"Tegapkan tubuhmu. Jangan pernah meragukan keputusan yang dibuat oleh atasan. Pahan?" Niken menegapkan tubuh Sofie yang gemetar. Gadis muda itu mengangguk.
Di dalam selubung cahaya kuat, Eric berusaha keras menguasai jiwa leluhur yang memberontak.
"Kalau kau tidak menyerah juga, maka aku yang akan membakarmu! Maka kau akan musnah dan tak akan pernah bisa bereinkarnasi lagi!" geram Kakek Kang. Dia mengarahkan mulutnya ke langit dan mengeluarkan api yang menyambar ke angkasa.
Cahaya biru jiwa leluhur itu mulai meredup saat merasakan panas api yang berbeda dari api Indra dan Arjun.
Tak lama kemudian, tubuh Eric jatuh di pelataran batu. Indra dan Arjun segera menghentikan api yang mereka keluarkan. Dean menangkap tubuh putranya yang sudah gosong.
"Bawakan air abadi!" teriaknya cepat. Dikeluarkannya lempengan batu dan menyusunnya hingga membentuk meja, tempat tubuh Eric dibaringkan.
Dean menyirami seluruh tubuh Eric dengan air abadi hingga basah kuyup. Dokter Dimas mendekat. Tangannya menyentuh eric dan memeriksanya dengan cepat. Semua orang melihat dan berharap mendapat jawaban yang melegakan.
Setelah memeriksa dengan seksama, akhirnya Dimas mengangguk. Semua yang sebelumnya tegang, akhirnya merasa lega. Sofie jatuh terduduk di tanah. Perlahan busur yang diangkatnya jatuh tergeletak juga dekat dengan kakinya. Dia menangis sambil memeluk Niken.
Namun kemudian dia mengangkat wajah dengan marah dan melesat cepat ke tempat Eric. Dipukulnya bahu pria muda itu. "Jangan pernah lagi memintaku untuk membunuhmu! Aku membencimu!" teriaknya keras.
Indra menenangkan putrinya. "Ayo ... biarkan Dokter Dimas mengobatinya. Setelah dia sembuh, kau boleh memarahinya lagi."
Sebuah cahaya putih berkilauan menyelubungi tubuh Eric. Dean terus menyirami tubuh putranya tanpa bicara. Asap halus putih keluar perlahan dari tubuhnya yang panas dan disirami air abadi.
"Kalian bisa kembali untuk beristirahat. Kita akan berkumpul di pagi hari untuk memulai perjalanan," Robert meminta penghuni lain untuk kembali ke rumah masing-masing.
Satu jam berlalu, tubuh Eric sudah kembali pulih. akan tetapi, dia masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Dia sudah lebih baik. Kau bisa istirahat untuk persiapan esok hari," kata Dean Pada Dimas.
"Baiklah. Biarkan dia memlihkan diri dalam istirahatnya." Dokter DImas mengangguk.
Dean memindahkan Eric ke dalam rumah dan membaringkannya di tempat tidur. Widuri menangisinya dan melihat marah pada Dean yang sudah menghukum putranya sekeras itu.
Zoella memeriksa keadaan kakaknya. "Dia baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir. Dia akan segera bangun," katanya untuk meredakan kecemasan sang ibu.
Widuri memutuskan untuk tidur disamping Eric, sambil terus menggenggam tangannya khawatir.
Dean hanya menggeleng dan mengembuskan napas panjang. Kasih sayang Widuri yang berlebihan membuat putranya itu jadi terlalu manja.
Keadaan dunia kecil Bangsa Cahaya kembali tenang di penghujung malam. Kemudian mulai riuh saat ayam berkokok di pagi hari, pertanda hari baru telah dimulai lagi.
Dean melihat Eric sudah pulih sepenuhnya. DIa tidur dengan nyaman dalam pelukan Widuri. Tangan Dean menepuk lembut kaki putranya. "Tidakkah kau sudah terlalu besar untuk terus memeluk ibumu seperti itu?" tegurnya sambil tersenyum.
Eric dan Widuri terbangun dan mengerjapkan mata.
"Bagaimana kalau Sofie tahu bawa kau begitu kolokan saat di rumah?" ejek Dean.
"Jangan mulai memancing keributan di pagi hari, Dean! Biarkan dia istirahat dengan nyaman setelah apa yang terjadi semalam!" ketus Widuri tak senang.
"Bagaimana aku tidka tibut, kalau kau tidak memelukku semalaman, malah memeluk anak badung ini!" balas Eric sewot.
"Ahh ... Pagi-pagi buta sudah melihat drama. Bikin perutku mual saja!" gerutu Dharra. Gadis manis itu ngeloyor turun ke lantai bawah diikuti oleh Zoella yang tertawa kecil.
Eric tersenyum senang mendapat pembelaan. Dia memeluk Widuri lebih lama, untuk membuat ayahnya semakin jengkel.
Dean menarik tangannya agar menjauh dari Widuri. "Kau bau. Pergi mandi, sana!" perintahnya kesal.
"Hahahaa ... ayah harusnya tahu bahwa aku adalah cinta sejati ibu. Ayah tak akan pernah bisa mengalahkanku!" katanya sambil berjalan pergi, penuh kemenangan.
"Anak ini benar-benar selalu memancing emosiku!" gerutu Dean. Tangannya sudah terulur untuk memeluk Widuri. Tapi istrinya itu masih cemberut. Menolak untuk dipeluk. Matanya menyorot tajam.
"Sayang ... aku harus mendisiplinkan jiwa leluhur agar tidak membuat putra kita salah jalan." Dean mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi malam.
__ADS_1
"Aku tak mau dengar!" Widuri bangkit dan keluar dari kamar.
*******