The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 85. Kemampuan eric


__ADS_3

Gerald mendekat. “Ada banyak pohon buah-buahan di sini,” kata Gerald. Dia menyodorkan beberapa buah pada raja dan pengawal.


“Ambil sedikit untuk kebutuhan istana dan para pengawal. Sisanya biarkan untuk persediaan rakyat yang akan kita tinggalkan di sini,” kata Eric.


“Oke!” Gerald kembali melesat ke dalam kegelapan.


“Sayangnya, mata tuaku tak bisa lagi melihat jernih di kegelapan.” Raja Felix sedikit kecewa.


“Itu hal yang saya tak bisa bantu,” kata Eric dengan menyesal. “Andai bulan sedang terang, maka keindahan ini akan sangat sempurna,” tambahnya.


Jason dan tabib sudah sampai. “Pangeran Mahkota sudah tiba di istana. Dan sekarang ikut ke sini!” lapornya.


“Apa?” Sang raja terkejut.


“Kakek!” sebuah suara memanggil dari atas. Ada sesosok makhluk yang luar biasa besar, melintas di atas Eric dan Raja Felix.


“Kakek Kang terlalu besar. Dia tak bisa turun di sini, kecuali menghancurkan sesuatu,” komentar Eric.


“Siapa Kakek Kang?” tanya raja.


“Kakek buyutnya Gerald!” jawab Jason.


“Oh …!” Raja itu tak bisa lagi berkata-kata. Hatinya jadi semakin ingin mengunjungi negeri Bangsa Cahaya.


“Jason, waktu kalian memetik bahan obat, hanya sampai matahari terbit. Setelah itu kau bawa tabib kembali ke istana. Ingat, pulanglah saat matahari belum terlalu terang, agar Orc tidak dapat mendeteksi apapun!” pesan Eric.


“Baik!” Jason dan tabib menjawab bersamaan.


“Yang mulia, sebaiknya kita segera kembali ke istana,” ajak Eric.


Gerald, kita harus segera kembali!” seru Eric keras.


“Gerald!” Kakek Kang ikut memanggil.


“Ya! Aku kembali!” balas Gerald dari balik pepohonan. Dia jalan tertatih.


“Kau kenapa?” tanya Eric heran.


“Aku sedang menelilingi pohon buah dan memetik untuk persediaan istana. Lalu kakiku menabrak pohon dan aku jatuh,” kata Gerald. Eric menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Yang Mulia, sebaiknya Anda ikut bersama Kakek Kang dan Pangeran Mahkota..” Eric menyimpan Gerald, lalu menarik sang raja dan pengawalnya pergi.


Melihat semua orang sudah pergi dari sana, Jason mengajak tabib mulai bekerja.


“Sekarang saatnya mengumpulkan bahan obat!” ajak Jason dengan semangat. Mereka menggunakan pelita untuk memeriksa tanaman yang akan dipetik.


“Wah, lembah ini penuh dengan herba!” kata tabib istana kegirangan. Keduanya bekerja dengan giat. Memetik harta karun yang sudah cukup umur. Dan membiarkan yang lainnya tetap tumbuh lestari.


“Jika tempat ini akan dijadikan pemukiman, bukankah semua kebun herba ini bisa rusak?” Tabib istana terkejut. Dia merasa bahwa kebijakan itu akan sangat disayangkan dan merugikan negara mereka suatu hari.


“Yah, sangat disayangkan memang. Tapi, pertimbangan Raja dan Eric juga demi menyelamatkan nyawa banyak orang,” katanya.


“Benar-benar dilema.” Tabib kembali menggelengkan kepala.


“Apakah di istana tidak ada kebun herba? Kau bisa menanam sebagiannya di sana, agar tetap terjaga,” saran Eric.


“Aku punya kebun kecil. Nanti akan kutambah dengan bibit baru yang belum kumiliki,” angguk tabib itu setuju. Mereka kembali bekerja.


***


Di istana. Raja Felix dan Pangeran Mahkota akhirnya bisa bertemu setelah sekian lama. Mereka berpelukan haru.


“Sudah … sudah. Aku tahu kau sangat cemas dengan keluargamu. Aku merencanakan memindahkan rakyat ke pulau yang tadi kau lihat. Kita akan memindahkannya secara bertahap. Setelah mereka aman, aku berpikir untuk menyelidiki istana lama. Mencari tahu tentang orang tua dan keluargamu ayng lain!” kata Raja Felix.


“Itu juga karena kita kedatangan tamu seperti mereka. Jika tidak, mana mungkin bisa memikirkan cara untuk menyusup masuk ke sana, sementara teleportasinya mereka yang kuasai.” Raja Felix menggeleng.


“Ya. Mereka membawa harapan baru untuk kita.” Pangeran mahkota setuju.


Perbincangan itu berakhir tengah malam. Setelah itu, sang pangeran kembali ke tempatnya, dengan harapan baru. Dia berharap besok atau lusa, Pemimpin Cahaya datang dan ikut memberi bantuan pemikiran. Apa yang harus dilakukan agar negeri mereka bisa kembali merdeka.


Sebelum langit terang, Eric, Robert dan Raja kembali pergi ke pulau terapung. Raja bersikeras untuk ikut. Dan sekarang dibawa terbang berdua oleh Eric dan Robert, karena Gerald harus beristirahat.


“Apakah kalian sudah akan mengeluarkan orang-orang itu?’ tanya Jason.


“Kenapa?” tanya Robert.


“Tempat ini penuh dengan tanaman obat. Bahkan banyak tanaman obat langka. Dan kami hanya bisa menjelajah bagian sini sjna. Bagian sana, sama sekali belum terjamah!” lapornya.


Raja jadi ikut berpikir. “Bisakah kita tunggu hingga hari terang, untuk membuat keputusan?” tanyanya pada Eric.

__ADS_1


“Bisa saja. Nanti, untuk kembali, Anda dan tabib harus masuk dalam penyimpanan kami, agar tidak terlihat oleh Orc.


“Maksudku, mungkin aku perlu menunjukkan pulau terapung lain sebagai alternatif, jika memang pulau ini sangat berharga seperti yang dikatakan Jason,” kata Raja.


“Memangnya ada berapa pulau terapung lagi yang negeri ini punya?” tanya Robert.


“Masih ada beberapa pulau besar dan kecil yang belum tersentuh!” jawab raja.


“Mari kita periksa yang terdekat,” kata Eric.


“Jason, kau bisa kembali bersama tabib sebelum hari terang,” perintah Eric lagi.


“Baik.” Jason menoleh pada tabib dan memegang tangannya. “Mari kita pergi!” Bayangan Jason segera lenyap dalam pandangan Raja Felix.


“Betapa cepatnya dia melesat. Sampai aku tak bisa melihat bayangannya,” komentar sang raja.


“Sekarang, kita yang harus pergi, mencari tempat lain!” Eric membawa sang raja dan melesat secepat kilat. Robert menyusul dari belakang. Kecepatan mereka meninggalkan bayangan cahaya asli tubuh mereka di langit yang mulai terpercik cahaya kuning matahari.


Eric melihat pulau terapung lain dan melayang di atasnya. Dia sudah bisa melihat keadaan sekitar dalam keremangan cahaya pagi. Ketiga orang itu tertegun melihat pemandangan indah di bawah sana.


“Sepertinya, tempat ini jauh lebih cocok dijadikan pemukiman sementara,” celetuk sang raja.


“Mari kita lihat dulu lembah itu. Apakah ada juga herba atau bagaimana. Jangan sampai negara kalian mengalami kerugian besar!” saran Eric.


“Kau benar!” Raja Felix setuju.


Eric dan Robert terbang perlahan sambil mengitari pulau kecil itu. Lalu turun tak jauh dari aliran sungai kecil. Sang raja sangat senang menapaki air jernih dengan ikan warna-warni di sana.


“Lebih baik keluar dari air, Yang Mulia. Kita belum menegnal tempat ini. Kami tak mau mengambil resiko,” Robert mengingatkan.


“Ah … ya. Aku tidak menyadari posisiku sekarang. Kukira aku masihlah hanya seorang pangeran saja.” Pria itu menggeleng dan keluar dari air dengan hati-hati. Kesenangannya yang sebentar tadi, harus diakhiri.


Eric telah kembali dari memeriksa sekelilingnya. Kemudian tangannya mengibas ke semua arah. Perlahan tapi pasti, beberapa tumbuhan muncul di atas tanah dan tumbuh dengan pesat.


Jangankan raja, Robert juga ikut tertegun melihatnya. Dia ingat kemampuan mempebaiki alam milik Penguasa Cahaya yang mendiami tubuh Dokter Chandra. Tapi Eric bisa melakukannya dengan kecepatan tak masuk akal.  Beberapa lahan pertanian tumbuh subur di lembah dekat sungai. TAk jauh dari hutan, pohon-pohonnya segera jatuh seperti habis ditebang. Lalu berubah menjadi papan-papan kayu siap pakai. Sementara di bekas hutan yang tadi gundul, tanaman-tanaman mudanya segera tumbuh pesat ke atas, kembali mengelilingi pulau terapung itu.


“Apa … apa ini? Apa kau yang melakukannya?” tanya raja pada Robert yang berdiri di dekatnya.


Robert menggeleng. Matanya menunjukkan kekaguman dan penghormatan pada Eric.

__ADS_1


“Dia?” raja terpana.


*****


__ADS_2