
“Apakah dunia yang kalian lalui itu sangat kecil?” tanya Kakek Kang.
“Menurutku tidak juga. Kami bisa melihat bukit-bukit lain saat berada di dekat danau beku,” jawab Robert.
“Kalau begitu, optimislah. Mungkin saat ini kita berada di sisi lain danau beku itu,” ujar Kakek Kang bijak.
“Kau ada benarnya. Kalau begitu, mari istirahat. Besok kita pemeriksa lagi.” Robert memberi instruksi.
Tim itu beristirahat dengan tenang. Tempat sempit yang diisi oleh banyak orang, menambah kehangatan ruangan.
Pagi yang sangat sejuk, membangunkan mereka lebiawal. Bahkan kehangatan perapian tidak bisa bersaing dengan udara dingin yang datang dari puncak gunung.
Setelah sarapan sederhana, tim bersiap-siap untuk berangkat.
“Bagaimana dengan Eric?” tanya Arjun pada Robert.
“Mari kita lihat bagaimana sikapnya,” Robert mengangguk. Arjun mengeluarkan Eric. Sekarang pria tampan itu tak lagi banyak bicara.
“Bagaimana keadanmu sekarang?” Sofie betanya dengan cepat.
“Aku baik-baik saja,” Eric masih lebih banyak diam.
“Apa kau sudah mengerti dengan kata perintah?” tanya Robert lagi.
“Aku mengerti,” Eric patuh.
“Kau harus memikul tanggung jawab yang diberikan padamu! Hanya pria yang bertanggung jawablah yang layak disebut pria sejati!” kata Robert tegas. Eric mengangguk lagi. Dia sangat patuh sekarang.
“Jangan khawatir. Kami akan membimbingmu menjalankan tugas pertama ini,” Arjun melunakkan ketegangan antara kedua orang itu.
“Terima kasih,” sahut Eric.
“Sekarang mari kita diskusikan langkah selanjutnya.” Robert tak memberi Eric kesempatan berkelit lagi. Anak muda itu kembali mengangguk patuh.
Mereka berkumpul untuk mendengarkan pendapat dan masukan dari anggota tim yang ada.
“Menurutku, kita harus memeriksa lagi area ini. Sepertinya hutan salju ini sangat luas. Tadi pagi aku mencoba naik lebih tinggi, untuk bisa mengira-ngira lokasi kita. Dan sejauh mata memandang, semua adalah hamparan salju putih yang dipenuhi pohon sejenis!” ujar Hakon, mewakili teman-teman satu timnya.
“Bagaimana kalau anggota kita dibagi dalam beberapa kelompok. Kita menyisir bagian kanan, kiri dan bagian depan!” Evan mengusulkan.
Robert, Arjun dan Kakek Kang mengangguk mendengar usulan-usulan bagus para pemuda itu.
“Menurutku, itu ide yang sangat bagus. Mengingat dunia ini sangat luas. Agar kita bisa memeriksa keseluruhannya, maka tim dibagi jadi empat. Bagian depan dan arah kiri. Lalu bagian depan serta yang arah kanannya. Dengan begitu, seluruh area bisa sekalian kita periksa tanpa terlewat!” kata Eric.
Dimas tersenyum simpul. Eric cukup cerdas. “Aku setuju dengan Eric.” Dengan cepat dia memberi dukungan.
“Yang tidak bisa terbang, lebih baik kembali ke tempat penyimpanan!” Eric langsung membuat keputusan. Evan dan Ubbe mengangguk setuju. Mereka memang tak bisa terbang. Lebih baik masuk ke tempat penyimpanan, ketimbang disuruh berjalan kaki di tengah salju.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kami?” Herdan menunjuk dirinya dan Khort.
“Apa kalian bisa terbang seperti burung?” tanya Icye dengan mimik ingin tahu.
“Apa kalian terbang seperti burung?” tanya Herdan heran.
“Kami terbang seperti ini!” Fire, seorang pemuda suku Cahaya langsung melesat naik dan mengambang dekat dengan puncak pohon pinus.
“Sangat Hebat!” Khort langsung memuji.
“Kami tidak bisa terbang,” Herdan menjadi lesu. Dia sebenarnya sangat ingin melihat seperti apa dunia yang dipenuhi warna putih dan udaranya sangat dingin ini.
“Apa kau bisa terbang?” tanya Herdan pada Jason yang sebelumnya dikenalnya sebagai tabib.
“Lihat!”
Jason langsung mengepakkan sayap putihnya
lebar-lebar dan mengelilingi tempat itu. Sepupunya Aila, putri Yoshie, mengikutinya, menunjukkan kemampuan mereka.
“Mereka seperti burung,” gumam Khort takjub. Sayap kedua saudara sepupu itu besar, putih dan indah.
Mendengar hal itu, Gerald cicit Kakek Kang ikut terbang menyusul kedua temannya itu.
“Dia berbeda!”
“Lalu, mereka berdua itu, apa?” tanya Herdan masih
tidak mengerti bangsa-bangsa yang ikut serta dalam tim itu.
“Mereka keponakanku. Hanya saja, sebagai keturunan campuran Bangsa Cahaya dan The Fallen Angel. Sayap bisa disembunyikan jika tidak digunakan. Hanya saja tidak bisa dilepaskan,” jelas Eric.
“Mereka bisa kok terbang tanpa sayap seperti halnya Bangsa Cahaya.” Sofie menimpali.
“Kalian begitu banyak bangsa, tapi bisa bersatu dan saling mendukung. Mengirim utusan untuk bangsa kami yang bahkan belum kalian kenal. Itu luar biasa!” Herdan menunduk.
“Kami tidak akan menunda perjalanan kalian. Kami bersedia disimpan seperti mereka!” tunjuk Khort ke arah Evan dan Ubbe. Tak perlu berkecil hati. Bahkan masih ada juga orang biasa seperti mereka yang ikut serta dalam perjalanan itu.
“Baik, mari kita bagi tim kecilnya.”
Arjun membagi tim. Hakon mengawasi empat bawahannya suku Cahaya, menjadi tim yang memeriksa bagian kiri. Robert menyimpan Ubbe di penyimpanan dan membawa empat suku Cahaya lainnya, memeriksa bagian kanan.
Lalu Kakek Kang mengawasi Gerald, Jason dan Aila, memeriksa bagian depan kiri. Sementara Arjun menyimpan Evan, bersama dengan Eric, Sofie, dan Dokter Dimas yang juga menyembunyikan dua pria Elf itu, menjadi tim yang memeriksa bagian depan kanan.
“Mari kita lanjutkan perjalanan!”
Eric menyetujui pengaturan Arjun. Empat tim itu langsung naik ke permukaan dan melihat sekeliling. Eric menunjukkan arah tugas mereka.
__ADS_1
“Jika ada sesuatu yang menarik dan dirasa penting, langsung kabari lewat pikiran!” pesannya.
“Baik!” jawab mereka semua. Berbicara lewat pikiran adalah keahlian bawaan Bangsa Cahaya. Itu akan memudahkan komunikasi antar tim yang ada.
“Jalan!”
Eric melesat cepat, meninggalkan anggota timnya. Sofie segera menyadari dan menyusulnya sambil tertawa.
“Kau tidak memberi aba-aba!”
Dimas dan Arjun mengikuti kedua muda-mudi itu sambil memeriksa sekitar mereka. Tim lain juga sudah bergerak sesuai arah tugas masing-masing.
Satu jam berlalu cepat. Mereka sudah terbang sangat
jauh dari tempat berangkat pagi itu. Namun, dari informasi yang didapatkan dari seluruh tim, belum ada informasi yang mungkin bisa jadi petunjuk.
“Lanjutkan pemeriksaan hingga jam makan siang. Saat itu kita berkumpul lagi, untuk mendiskusikan langkah selanjutnya!” Eric mengirim perintah lewat pikirannya.
Tim itu kembali berkumpul saat Eric memutuskan untuk beristirahat siang. Mereka lantas menyiapkan makan siang seadanya, sambil mendengarkan diskusi para pimpinan tim.
“Sebaiknya kita lanjutkan pemeriksaan dengan cara tadi. Lebih cepat dan lebih luas area yang kita lihat,” ujar Hakon.
“Ya. Lebih banyak mata yang memeriksa, bukankah jauh lebih teliti?” tambah Gerald.
“Baiklah. Satu hari ini, kita lakukan hal itu dulu.Semoga ada perkembangan baru di perjalanan ke depan nanti,” angguk Eric setuju.
Empat tim kembali melanjutkan pemeriksaan mereka di hutan pinus bersalju itu. Hutan itu benar-benar hanya diisi satu jenis pohon saja.
“Hei! Aku menemukan sekelompok serigala!” seru Hakon senang.
“Rasanya baru kali ini aku menemukan orang yang senang telah menemukan kelompok serigala.” Arjun menggeleng heran.
Tim itu akhirnya berhenti dan kembali berkumpul. Kali ini mereka menuju lokasi dimana Hakon memeriksa. Dan mereka terkejut.
“Ya Tuhan,” gumam Dimas dengan mata melotot.
"Serigala sebanyak itu, dan kau sangat bahagia menemukannya!” Kakek Kang terheran-heran.
“Bukankah kata Robert, hutan yang dulu dia datangi ada serigalanya?” Hakon jadi serba salah. DIkiranya dia sudah benar, itu sebabnya dia sangat senang tadi.
“Ya, aku memang bilang begitu. Hanya saja, di awal-awal kami di sini, tidak melihat serigala sebanyak ini. Kecuali saat kami akan menyeberang ke dunia kecil tepi pantai!” Mata Robert berbinar.
“Benar! DInding pembatas antar dunia salju dengan dunia tepi pantai itu adalah dinding cahaya hijau kebiruan. Ayo coba cari!” Robert jadi bersemangat.
“Jadi, aku benar?” Hakon menjadi kikuk sendiri, hingga pundaknya ditepuk Icye. Gadis itu tersenyum dan mengangkat jempol untuk memujinya.
*****
__ADS_1