
Para prajurit kurcaci juga mengalami nasib yang sama. Mengalami kebutaan sesaat dan hanya bisa melihat warna hitam semata, meskipun sedang membuka mata.
Di bawah pohon, dimana Glenn bersembunyi, terdengar jeritan terkejut dan kata-kata buta yang keluar dari mulut beberapa orang.
“Randall! Apa kalian di sana?” panggil Pangeran Glenn dari atas pohon. Dia juga mengalami kebutaan saat itu, karena tak sempat berpaling dan menutup mata.
“Ya, bawahan Anda ada di bawah. Mari saya bawa ke bawah,” ajak Hakon. Hanya dia dan Gerald yang bisa melihat saat ini. Karena mereka sudah mengetahui apa yang akan terjadi dan menutup mata tepat waktu.
Ada banyak korban yang merasa matanya sakit dan panas. Mereka sungguh tak menduga kalau cahaya saja bisa melukai hal paling penting bagi mereka.
“Eric, panggilkan Aila atau Jason ke mari. Banyak yang matanya terkena cahaya biru di sini!” panggil Hakon.
“Baik!” sahut Eric dari atas Tanah tak bertuan.
“Siapa Kalian!” Gerald menahan dua orang berjubah yang melesat cepat di perbatasan mereka.
“Kami berasal dari wilayah negara Peri. Tadi memeriksa ke sini dan melihat peperangan di Tanah tak bertuan. Tapi cahaya biru itu melukai mata Pangeran Karl. Saya harus membawanya ke tabib!”
“Karl? Apakah dia putra saudariku Valxina?” tanya Glenn yang juga masih menutup mata, meski sudah diberi air abadi.
“Ya! Apakah Anda Pangeran Glenn?” tanya pria berjubah.
“Ya! Bawa saja dia ke sini, biar diobati. Nanti teman-temanku akan memanggil tabib untuk memeriksa. Aku juga mengalami hal yang sama,” jawab Glenn.
“Baik. Terima kasih, Pangeran!” Pria berjubah itu membawa Pangeran Karl yang ternyata pingsan terkena cahaya itu.
“Siapa yang sakit?” Itu suara Aila. Hakon melihat gadis cantik itu melayang di udara, di atas mereka.
“Aila!” panggilnya. “Di sini banyak yang terluka. Bahkan ada yang sampai pingsan!” lapor Hakon.
Seorang gadis cantik dengan rambut putih indah tergerai, turun mendekati Hakon. Dia memberikan beberapa botol obat. “Oleskan di mata mereka dan biarkan sampai matanya terasa dingin!” pesannya.
Hakon dan Gerald bekerja cepat, mengobati bawahan Glenn yang terus merasa matanya sakit dan panas.
“Tolong keponakanku. Dia sepertinya kena cukup parah!” tunjuk Glenn yang mulai bisa melihat meskipun samar.
“Ini obat oles untuk Anda.” Aila menyerahkan sebotol obat mata pada Glenn. Setelah itu mendekati Karl.
Pengawalnya menatap Aila tak berkedip. Dia memperhatikan Aila seperti menelisik dan wajahnya bertanya-tanya.
“Apakah dia putra Anda?” tanya Aila yang merasa sedikit risih.
“Oh ... bukan! Ini Pangeran Karl dari negara Peri. Aku pengawal pribadinya. Tolong selamatkan dia!” pinta pria itu.
“Baringkan dia di tanah!” perintah Aila.
Gadis itu segera menyiramkan sedikit air abadi di mata Karl dan memberinya minum dengan beberapa tegukan. Kemudian menyerahkan botol itu pada si pengawal.
__ADS_1
“Anda juga harus meminumnya agar luka yang sedikit itu bisa sembuh sempurna,” perintah Aila.
Gadis cantik itu lalu memegang kepala Karl dan sebuah cahaya putih lembut, samar-samar menyelubungi Karl dan mengobatinya.
“Cahaya itu ... cahaya itu mirip cahaya yang dimiliki Eric!” tunjuk Glenn.
“Paman Eric? Dia hanya punya cahaya biru keemasan!” bantah Aila.
“Paman?” Glenn menggelengkan kepalanya.
“Nenek Aila dan ayah Eric bersaudara!” jelas Hakon.
“Ternyata seperti itu ....” Glenn akhirnya mengangguk mengerti.
“Aila!”
Gerald dengan cepat melompat saat melihat tubuh Aila hampir ambruk setelah dia selesai mengobati Karl. Tapi pengawal Pangeran Karl melesat lebih cepat dan menahan tubuh gadis cantik itu dalam pelukannya. Perlahan sayap yang biasanya disembunyikan Aila, muncul dan makin nyata.
“Dia kelelahan. Pasti banyak yang terluka saat perang kemarin!” kata Hakon.
Dengan cepat dikeluarkannya sebotol air abadi terakhir yang dimilikinya. Disodorkannya air itu ke mulut Aila untuk diminum. Meski air itu sudah habis, Aila tetap memejamkan mata.
Mata pengawal Karl basah oleh linangan air mata. Dia menatap Aila dengan penuh perasaan. Gerald melihat air mata pria itu jatuh.
“Jangan khawatir. Aila hanya butuh istirahat. Nanti dia akan pulih kembali,” hibur Gerald.
Glenn terkejut. Bangsa Cahaya juga terkejut. “Dia ... dia Bangsa The Fallen Angel!” gumam Hakon lirih.
“Bangsa apa?” tanya Glenn bingung. Sekarang cahaya kemilau muncul dari sayap pria itu dan menyelubungi seluruh tubuhnya yang memeluk Aila.
“Ingat tadi saat saya katakan bahwa nenek Aila bersaudara dengan ayah Eric?” tanya Hakon.
“Ya!” angguk Glenn.
“Kakek Aila adalah bangsa The Fallen Angel terakhir di dunia kami. Ibu Aila menikah dengan manusia biasa. Itu sebabnya kemampuan dia tak cukup kuat. Jika membantu terlalu banyak orang, maka kekuatannya sendiri yang tersedot. Membuat tubuhnya melemah, lalu dia akan pingsan. Perawatan yang tepat, akan segera memulihkan kondisi mereka,” beber Hakon panjang lebar.
“Ternyata di dunia kami juga ada seorang bangsa The Fallen Angel?” gumam Glenn tak percaya.
“Kurasa mereka berjodoh!” Gerald memperhatikan sikap pria itu pada Aila yang penuh kasih sayang.
***
Di arena perang, hanya Bangsa Cahaya yang berhasil menghindari cahaya terang itu tepat waktu. Mereka lalu mengamati keadaan di dalam kubah cahaya yang dibuat Eric.
Tempat itu dipenuhi kabut gelap. “Sepertinya kita harus menunggu beberapa saat sampai keadaan aman, baru membuka kubahnya.” Robert telah memeriksa sekeliling kubah bagian luar.
Eric menggerakkan tangannya kembali di atas kubah. Tak lama awan hitam yang makin besar akibat kumpulan kabut yang naik, menjatuhkan air hujan dengan deras. Seluruh tempat itu dibasahi agar kembali mendingin.
__ADS_1
Dalam lima belas menit, keadaan dalam kubah terlihat jelas. Tak ada apapun yang teringgal di sana, selain tanah yang menghitam akibat terkena ledakan api biru Arjun. Tempat itu telah berubah jadi tanah kematian!
Eric membuka selubung cahayanya dan membiarkan udara panas menguap naik ke angkasa.
“Sofie, bagaimana situasi di sana?” tanya Eric.
“Hanya beberapa ekor yang nekat berlari sebelum kubah cahayamu menutupi tempat itu,” jawab Sofie. Gadis itu melihat beberapa orang yang tewas di dekat kakinya. Sofie mencabut anak-anak panah berharganya dari tubuh-tubuh kaku itu. Diangkatnya tubuh-tubuh itu dan dilemparkan ke dalam bekas kubah tadi berada.
Eric melesat ke arah gadis itu dan melihat tujuh Orc tewas tak jauh dari Sofie. “Hebat!” komentarnya kagum.
Setiap anak panah yang keluar dari busur Sofie hanya akan berakhir di tubuh musuhnya. Anak-anak panah itu akan langsung menembus jantung. Membuat korban hanya akan berakhir mati!
“Bisakah kau menjaga setiap Orc yang masuk ke sini, tidak akan kembali ke negaranya lagi?” tanya Eric.
“Tentu!” Sofie mengangguk.
“Oke. Aku harus melaporkan hal ini pada ayah dan biar mereka memutuskantindakan selanjutnya!” jelas Eric.
“Pergilah. Aku akan berjaga di sini dan melaporkan padamu situasinya,” timpal Sofie lagi.
Eric memeriksa seluruh area perbatasan. Dia bisa lihat perbatasan negara Peri dan Kurcaci biru yang sepi. Jadi dia lanjut melapor pada ayahnya yang sedang sibuk membantu bangsa Elf. Banyak prajurit yang matanya sakit akibat ledakan cahaya biru terang milik Arjun.
“Ayah, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Eric setelah memberikan laporannya.
“Kembalilah ke pos-mu lebih dulu. Lihat apakah mereka ada yang butuh bantuan atau tidak,” perintah Dean.
“Baik.” Eric melesat kembali ke tempat dimana Gerald dan Hakon berada.
“Siapa dia?” tanya Eric. Di depannya ada seorang pria bersayap putih, mirip dengan sayap yang dimiliki Yoshie, Yabie dan dua keponakannya.
“Apa kau tak bisa menebak dia bangsa apa?” Hakon balik bertanya.
“The Fallen Angel? Bukan itu maksudku. Dia siapa? Kenapa bisa ada di sini?” Eric mengulang pertanyaannya.
“Dia pengawal dari Pangeran Peri.” Hakon menunjuk Karl yang masih pingsan.
“Apakah Aila tidak ke sini dan menolong kalian?” tanya Eric heran.
“Aila pingsan, karena terlalu banyak mengeluarkan energinya,” sahut Gerald.
“Apa? Di mana dia?” Eric mencari-cari dengan matanya, tapi tak menemukan gadis itu.
“Dipeluk oleh pria itu!” tunjuk Hakon.
Eric sangat terkejut Dan melesat cepat, mendorong pengawal itu hingga tubuhnya jatuh ke belakang. “Lepaskan Aila!” seru Eric marah.
Pria itu membuka matanya dan melihat Eric dengan pandangan bertanya-tanya.
__ADS_1
“Beraninya kau memeluk Aila tanpa permisi! Dia masih punya keluarga!” Eric meninju wajah pria itu tanpa ampun, hingga melepaskan pelukan sayapnya dari tubuh Aila.