
Para mengawal negara penyihir itu terkejut melihat kemampuannya. Semuanya saling pandang,
“Kenapa? Tak jadi pergi?” tanya Eric tajam.
“Oh, maaf, kami hanya terkejut. Mari ikuti saya!” ujar Ketua Pengawal itu.
Glenn dan Eric mengikuti arahan orang itu. “Hakon, Gerald, berhati-hatilah di sini. Lindungi Levyn dan semuanya. Aku tidak mempercayai mereka sama sekali!” kata Eric sambil berlalu.
“Baik!” sahut Gerald dan Hakon bersamaan. Kedua orang itu bersiaga di dekat Levyn.
Perlahan, sebuah selubung cahaya melingkupi tubuh Eric dan merambat ke Glenn. Keduanya berjalan bersama dalam lindungan bola cahaya putih cemerlang.
Pengawal yang tiba-tiba melihat cahaya terang dari belakang, berbalik dan terkejut. “Apa yang terjadi, Pangeran?” tanyanya heran.
“Aku melindunginya darimu!” kata Eric jujur.
Orang itu diam sebentar, tapi tak mengatakan apapun. Dia kembali berjalan dan Eric serta Glenn mengikuti lagi dari belakang.
“Kenapa Kau seperti itu?” bisik Glenn pada Eric.
“Aku tidak mempercayainya,” jawab Eric berbisik juga,
“Tapi aku sudah lama mengenalnya. Dia orang baik.
“Entahlah. Sampai terbukti firasatku salah, aku akan terus melindungimu!” jawab Eric tak peduli. Glenn tak berbantahan lagi.
“Jalan ke mana ini?” tanya Glenn. Menurutnya, itu bukanlah jalan menuju kamar raja.
“Yang Mulia Raja kami pindahkan ke ruangan lain, demi keamanannya,” jawab pria itu datar. Kemudian melanjutkan langkahnya. Glenn dan Eric saling pandang.
“Kau benar, dia memang sedikit agak aneh!” bisik Glenn.
“Menurutku, jiwanya sudah tak ada bersamanya!” bisik Eric lagi.
“Apakah ada yang mengendalikan jiwanya? Ini berbeda dengan rakyat yang diberi alat beracun di dada,” batin Glenn. Setelah turun ke lantai bawah yang tak pernah dikunjungi Glenn, akhirnya mereka sampai juga di sebuah ruangan yang redup karena kekurangan cahaya alami, juga lampu penerang.
Di depannya, dalam keremangan, Glenn bisa melihat seseorang duduk di singgasana yang posisinya lebih tinggi dari lantai. Tapi dia tak bisa melihat dengan jelas.
“Yang mulia, ini Pangeran Glenn telah sampai,” lapor Ketua Pengawal itu.
“Telah sampai?” Glenn dan Eric saling pandang. “Berarti Anda memang mereka nantikan,” bisik Eric.
“Selamat datang Glenn. Aku sudah lama menunggumu,” kata orang di singgasana itu.
“Siapa Kau?” tanya Glenn lantang. “Di mana Paman Rajaku!” seru Glenn.
“Aku pamanmu!” Orang di singgasana itu berjalan turun dari tempatnya dan berdiri di dekat sinar lampu.
Glenn dan Eric terkejut melihatnya. “Kau mungkin terlihat mirip. Tapi kau jelas bukan pamanku. Di mana kalian sembunyikan putriku!” teriak Glenn marah.
“Aarggghhh ...!” Orang itu berteriak marah.
__ADS_1
"Di mana penyihir sialan itu! Kemampuan macam apa ini! Baru satu orang yang datang, sudah bisa melihat perbedaannya! Hukum mati dia!” perintahnya marah.
Dua pengawal menyeret seorang pria paroh baya ke dalam ruangan. Glenn terkejut melihatnya. Pria itu adalah guru sihir di istana, yang dulu mengajari ibu Glenn dan juga dirinya setiap kali datang ke istana ini.
“Paman guru, apa yang terjadi padamu?” tanyanya cemas.
Pria itu menoleh ke arahnya. “Kenapa Kau ke sini? Kami menahan para monster ini agar tidak menyerang ke sana!” pria itu terkejut melihat Glenn di situ.
“Aku mencari putriku yang dikirim menikah ke sini. Tapi hilang di perjalanan!” jawab Glenn.
“Aku tidak ada melihat putrimu di istana ini. Tapi biar kuperiksa sebentar ....” Pria itu memejamkan mata dan menggumamkan sesuatu. Tak lama dia menggeleng. “Cristal tak ada di sini!”
“Oh, sungguh pertemuan guru dan murid yang sangat mengharukan,” kata pria yang tadi berdiri di bawah cahaya. Sekarang tubuhnya sudah kembali seperti semula. Tubuh seorang Orc yang meraksasa.
“Eric, bisakah kau membebaskan guruku? Kita bisa mendapat banyak informasi darinya,” kata Glenn.
“Mudah sekali!”
Eric menjentikkan jari. Dua cahaya biru melesat menerjang dua pengawal yag memegang guru sihir istana itu. Melihat hal itu, Glenn langsung membawa pria tua itu bersamanya. “Aku akan membawamu keluar, Paman Guru,” kata Glenn.
Glenn tidak menyadari apa yang dilakukan Eric. Semua pengawal yang mendekat dibidiknya dengan api biru, hingga tak seorang pengawalpun yang selamat di sana.
“Hahaha ... kau hebat sekali! Belum pernah aku bertemu bangsa sepertimu! Aku akan mengatakan ini pada sang raja. Agar dia menaklukkan kerajaanmu juga!” kata Orc itu sombong.
“Dalam mimpimu!” bentak Eric.
Kali ini dia melesatkan cahaya warna-warni yang bertubi-tubi pada Orc itu. Tapi Orc muda itu sangat lincah dan berhasil menghindari setiap senjata cahaya yang terbang seperti anak panah.
“Dia Jenderal Utama yang menaklukkan kerajaan ini. Dia diberi kekuasaan untuk menguasai negara kami,” jawab guru sihir itu sedih.
“Aahh! Jangan sombong, anak muda! Aku akan mebalasmu!” Orc itu murka setelah beberapa cahaya Eric berhasil melukai tubuhnya.
Dia mengeluarkan senjata gada besar dan mengejar Eric sambil mengangkat gada berduri itu di atas kepala.
‘Hah ... dasar primitif!”
Eric mengibaskan tangan dan gada itu hancur berkeping-keping hanya karena mengenai angin yang dikibaskan Eric.
Sekali lagi Eric mengangkat tangan dengan gerakan ke atas, lalu ke bawahg. Di sana, Orc raksasa itu melayang naik ke udara sebentar, sebeum tubuhnya terbanting keras dan meretakkan lantai istana!
“Si-siapa temanmu itu?” guru sihir itu gemetar tubuhnya melihat kemampuan Eric mengalahkann Orc, bahkan tanpa menyentuh!
“Mereka bangsa lain. Istriku meminta bantuan teman dari dunianya saat Orc menyerang negara kami,” kata Glenn.
“Mereka menyerang ke sana?” pria tua itu terkejut.
“Ya. Sehari setelah penculikan putriku, mereka menyerang ke sana dan menjatuhkan kerjaan dalam semalam!”
“Sialan! Bukankah mereka sudah berjanji tidak akan mengganggu negara lain jika kami menyerah! Aarhhh ...!” Guru sihir itu murka.
Tangannya bergerak-gerak dan merapal mantera. Glenn menjauh sedikit. Tidak tahu apa yang dilakukan oleh gurunya itu.
__ADS_1
Perlahan tempat itu kembali benderang dan bentuk aslinya yang buruk terlihat. Itu bukanlah ruang istana yang indah. Tapi hanya ruang bawah tanah yang diberi ilusi. Glenn tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi gurunya masih belum selesai juga.
Sementara itu, pertarungan Orc dan Eric terjeda sejenak ketika cahaya terang muncul. Orc itu berteriak marah dan memaki guru penyihir.
“Apa kau malu dengan wajah burukmu itu, hingga tempat ini harus dibuat temaram?” ejek Eric pedas.
“Tutup mulutmu!” teriak Orc itu marah.
Keusilan Eric muncul. “Sebaiknya kau bercermin sedikit, biar tahu diri!”
Tangan Eric bergerak cepat, lalu muncul banyak cermin di sekeliling Orc. Membuat dia murka dan marah. Menoleh ke mana pun, wajahnya yang buruk terus terlihat.
“Kubunuh Kau!” Dia melompat marah ke arah Eric. Kali ini sebuah pisau ukuran sedang digenggannya kuat. Dia berniat untuk membunuh pemuda jahil di depannya itu.
“Ini yang kutunggu. Jadi aku tidak perlu merasa bersalah membunuhmu karena membela diri!”
Eric mengangkat tangannya dan selarik cahaya merah pekat, muncul. Eric mengarahkan tangannya pada Orc yang sedang berlari ke arahnya. Cahaya Merah Eric seperti sinar laser besar yang membelah tubuh Orc itu dengan mudahnya.
“Mengerikan!” desis Glenn. Dia sudah biasa pergi berperang. Tetap saja, hal seperti tadi terasa mengerikan baginya.
“Aku sudah membereskannya. Mau ke mana lagi, kita?” tanya Eric.
“Sebentar, guruku sedang melakukan sesautu. Tidak tahu apa yang telah dilakukannya sebelumnya.
Tiba-tiba tubuh guru tua itu jatuh dan ambruk ke lantai.
“Aku menyembunyikan Raja dan kerabat istana di menara. Kau cari dan selamatkan mereka. Tapi putrimu tak ada di sini. Aku sudah mencari ke seluruh sudut istana ini. Kemungkinan mereka membawanya ke negara Orc.” Pria itu tersengal-sengal. Wajahnya mulai membiru.
“Anda diracuni!” seru Glenn terkejut. Tangannya membuka jubah gurunya dan menemukan alat yang sama seperti yang telah dilihatnya.
“Bagaimana kau mengetahuinya?” tanya guru itu dengan suara lemah.
“Semua rakyat juga diracuni Orc! 90 persen rakyat negeri ini musnah!” kata Glenn sedih.
“Monster itu tak menepati janji!” geram guru tua itu.
“Minum ini,” kata Eric sambil menyodorkan air abadi.
Pria itu menurut. Beberapa saat kemudian, gumpalan darah hitam keluar saat dia batuk. Kemudian darah segar mengikuti.
“Racun Anda berhasil dinetralisir!” kata Glenn gembira.
Eric tak mengatakan apa-apa. Dicabutnya alat besi yang ditempel di dada guru tua. Darah merembes keluar dari luka-luka yang ada. Perlahan cahaya putih lembut bertahan di atas luka beberapa lama, kemudian menyebar dan menyelubungi tubuh pria itu.
“Kau mengobatinya?” Glenn ingat melihat cahaya yang sama saat Gerald bilang kalau Eric sedang mengobati dirinya sendiri di hutan.
Kemudian cahaya itu menghilang. “Anda akan baik-baik saja. Habiskan air itu agar semua racun keluar!” pesan Eric.
“Terima kasih, bantuanmu, Anak Muda.”
“Sekarang, mari kita selamatkan paman raja!” ajak Glenn.
__ADS_1
*****