The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
26. Perintah Dean


__ADS_3

"Tolong! Aku menemukan seseorang terapung di tengah laut!" teriak Gerald.


Beberapa pekerja klinik segera berlari menuju naga muda yang sudah mereka kenal itu. Dengan cepat menggotong papan kayu yang menjadi penyelamat pria yang tidak mereka kenal.


"Panggil Nyonya, cepat!" perintah yang satu pada temannya. Wanita berpakaian putih bersih yang disuruh segera berlari mencari Calya, pemilik klinik keseehatan di Kota Pelabuhan.


"Nyonya, seekor naga muda membawa seseorang yang terapung di laut!" ujar wanita itu dari depan pintu ruangan.


Calya dan pasien itu menoleh. "Dari laut?" ujar mereka serempak. Gadis itu mengangguk cepat sebagai jawaban.


Calya berdiri. "Kau gantikan aku memeriksa perkembangannya. Biar aku ke sana melihat pasien baru itu!" pesannya sambil berjalan ke pintu.


"Baik, Nyonya," Gadis itu mengangguk patuh. Dia menggantikan memeriksa kemajuan kesehatan pasien yang juga ditemukan terdampar di laut.


"Apa mungkin itu temanku?" tanya Herdan ingin tahu.


"Aku tidak tahu," jawab gadis perawat itu.


"Apakah telinganya sepertiku?" tanya Herdan lagi. Kali ini dia menunjukkan bentuk telinganya yang berbeda,


"Aku tidak tahu." Gadis tu kembali menggeleng. "Aku tidak sampai melihatnya sudah disuruh mencari Nyonya Calya," sahutnya.


"Kau benar. Yang paling utama adalah menyelamatkannya lebih dulu." Pasien Elf itu setuju. Rasa penasarannya ditekan, berharap jika itu adalah temannya dan dapat diselamatkan oleh para tabib di klinik itu.


"Dia mengalami luka parah. Kurasa aku akan butuh bantuan Dokter Dimas. KAlian bersihkan dan siapkan ruangan operasi! Pasang infus dan oksigen untuk menjaga nyawanya!" Setelah memberi beberapa instruksi, Calya keluar. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan.


"Anda mencari siapa, Nyonya?" tanya perawat wanita muda yang berpapasan.


"Di mana putraku, Jason?" tanyanya.


"Di kebun obat, Nyonya," jawab gadis itu.


"Panggilkan, cepat!" perintahnya. Gadis itu segera berlari ke kebun obat yang tadi dikatakannya.


Calya menunggu Jason di ruangannya. Dia menulis sebuah surat untuk Dokter Dimas.


"Ibu mencariku?" seorang pria muda yang tampan dan berambut keperakan, muncul terengah-engah di depan pintu.


"Ya!" jawab Calya tanpa menoleh. Surat yang ditulisnya belum selesai.


"Serahkan surat ini pada Dkter Dimas sekarang. Katakan kita mengharapkan dia bisa memimpin operasi itu." Surat diserahkan pada putranya.


"Baik, Bu." Jason menyimpan surat di saku baju dan segera mengeluarkan sayap dan terbang tinggi. Dia harus pergi ke Dunia Cahaya untuk menemui Dokter Dimas.


"Hai, Jason!" Sebuah teriakan keras memanggilnya di udara.


"Hai Gerald. Dari mana kau?" tanya Jason pada naga muda kemerahan yang sedang terbang menuju ke kediamannya itu.


"Aku baru dari kediamanmu, mengantarkan seseorang yang terapung di laut!" jawab Gerald.

__ADS_1


"Apakah dia yang ingin dioperasi ibu?" gumam Jason.


"Operasi? Apakah kondisinya sangat parah?" tanya Gerald prihatin. Dia hanya tahu pria itu pingsan di atas papan kayu. Tidak tahu bahwa dia butuh sebuah operasi.


"Aku tidak tahu," sahut JAson.


"Kau mau ke mana?" ttanya Gerald, melihat temannya berbelok ke arah kediaman di tebing.


"Mau ke Dunia Cahaya mencari Dokter Dimas," jawab Jason.


"Aku ikut!" seru Gerald.


"Ayo!" keduanya terbang bersama lagi.


*


******


"Jadi bagaimana?"


Robert, Dean dan Indra masih mendiskusikan cara pergi ke sana.


"Mau bagaimana lagi. Jika memang tak ada cara lain, maka kita memang harus kembali ke titik di mana semua ini bermula," jawab Dean.


"Kalian sudah sangat tua. Bagaimana mau melewati tempat yang mengerikan itu!" Widuri dan Niken tak setuju.


"Kalau begitu, biarkan yang muda pergi!" Indra memberi ide.


"Kenapa kau sangat ingin pergi?"


Dyah sedikit kesal, membayangkan Robert bertemu Angel. Dari begitu banyak anggota keompok mereka, kenapa Robert yang dicari? Kenapa bukan Ayahnya, atau Indra atau Niken?


Karena aku yang mengetahui jalan menuju ke sana," kata Robert.


"Karena Robert adalah pemimpin kelompok kami," Indra ikut menjernihkan persoalan. Tapi Dyah masih saja cemberut. Membuat Niken dan Widuri tersenyum geli.


"Apakah Angel itu sangat cantik?" Dyah masih penasaran.


"Ya, dia sangat cantik. Kau tau, dia dulu adalah artis di indonesia. Dan setelah melewati penyucian sebelum menikah dengan Glenn, Angel menjadi amat sangat cantik. Seperti peri yang diceritakan dalam dongeng," kata Niken.


"Andai saja kameraku waktu itu tidaaaaaak tenggelam di laut ...."


"Sudahlah ... tak perlu lagi diingat-ingat," hibur Indra.


"Yah ... tapi memang sangat disayangkan," Robert menimpali. "Tak ada bukti otentik tentang keberadaan dunia itu!"


"Kakek!" Suara teriakan terdengar tapi orangnya belum kelihatan.


Dean tersenyum. Dia sudah tahu siapa yang memanggilnya. "Jason!" sapanya dengan senyum lebar saat putra Yabie itu muncul di ambang pintu.

__ADS_1


"Ada apa kalian bermain sejauh ini? Apa kau sudah meminta ijin ibumu?" Widuri mulai cerewet.


"Ibu yang menyuruhku ke sini," jawab Jason.


"Oh, duduklah. Ada apa?" Dean menarik kursi untuk dua tamunya. "Bagaimana kabatmu, Gerald?"


"Kabar baik, Paman!" Tadi aku menemukan seseorang terapung di laut. Jadi aku mengantarnya ke klinik Tabib Calya. Sekarang Jason diminta menemui DOkter Dimas." Gerald menjelaskan.


"Orang terapung di laut? Apakah dia Elf yang hilang?" tanya Robert.


"Aku tidak tahu. MAkhluk apakah Elf itu?" tanya Gerald.


"Apakah telinga mereka panjang seperti ini?" Niken memberi contoh gerakan pada telinganya.


"Sepertinya begitu," angguk Gerald.


"Itu pasti dia!" Robert sudah yakin.


"Ayo kita cari Dokter Dimas!" ajaknya. Jason langsung berdiri, mengikuti Robert.


"Aku pergi dulu, Nek, Kakek. Nanti aku akan mampir untuk menikmati makan siang buatan nenek yang lezat!" teriaknya nyaring.


"Ya!" balas Widuri, meskipun Jason sudah tidak kelihatan lagi.


"Kita kembali pada diskusi tadi. Kupikir memang benar bahwa Robert harus ikut serta, untuk memandu jalan paling ringkas ke sana."


Dyah mau angkat bicara tapi tangan Dean yang terangkat menghentikannya. Dyah tidak bisa membantah, ataupun melawan keputusan Dean yang menjadi pemimpin Bangsa Cahaya.


"Kita kirimkan anak-anak kita yang sudah cukup usia dan paling punya kemampuan, untuk pergi membantu di sana," kata Dean. Matanya melihat tiga wanita di situ yang mulutnya merong-merong, karena keberatan anak-anak mereka pergi ke medan perang.


"Aku setuju!" Indra langsung menyetujui keputusan Dean.


"Hei, mereka juga anak-anakku. Kau belum minta pendapatku!" protes Niken sewot.


"Ini perintahku! Apa ada yang masih ingin membantah?" Dean menatap tajam semua yang ada di situ. Merekalah sekarang tim inti yang tersisa di Dunia Cahaya.


Tiga wanita yang memang keberatan, tidak lagi dapat membantah.


"Sore nanti kita kumpulkan semua anak-anak! Itu tugasmu, In," kata Dean pada Indra.


"Baik, akan kusampaikan juga pada Arjun *¹) dan Liam!" angguk Indra cepat.


Dean mengangguk dan diskusi siang itu selesai.


Petang hari, semua penghuni Dunia Cahaya, bahkan Liam dan Kang datang dengan membawa seluruh keluarganya. Kakek Kang yang melihat begitu banyak orang melintas di dunianya menuju Dunia Cahaya, ikut juga ke sana karena penasaran. Yabie dan Yosie tak ketinggalan.


Dean membuka pertemuan. "Apakah semua orang sudah hadir di sini?"


*****

__ADS_1


¹) Arjun adalah putra Sunil. Setelah Sunil tiada, kemampuannya diturunkan pada putranya. Hanya saja, dia tetap tinggal di Bumi (India) bersama keluarga besar Sunil.


__ADS_2