
Kelima orang itu tertarik dengan kuat setelah melewati celah dinding antar dimensi itu.
Brukk!
Mereka jatuh dan mendarat dengan keras di permukaan miring berbatu. Menggelinding beberapa kali, sebelum berhenti di sebuah dinding kayu yang setengah roboh serta lapuk.
"Aduh ... punggung tuaku," keluh Robert.
Eric terkekeh mendengarnya. Pria muda itu segera berdiri sambil mengibaskan debu dan dedaunan kering yang menempel di pakaiannya.
"Kurasa kita salah masuk. Tempat ini kering kerontang, tanpa ada salju sebutirpun!" katanya sambil melihat ke sekitar mereka.
Teman-temannya segera mengangkat kepala dan ikut mengamati sekitar. Mereka tercengang. Tempat itu begitu tandus dan panas.
Robert ikut berdiri dan mengamati dengan lebih seksama. Mereka berada di ketinggian, seperti sebuah bukit batu kecil.
"Tak ada pepohonan, apa lagi salju," desisnya bingung.
"Lalu, bagaimana selanjutnya? Apakah kita tersesat?Apa perlu kita keluar lagi dari celah dimensi di atas sana dan mencari celah lain?" tanya Arjun.
Dia berusaha menggali ingatan O. Namun tak ada ingatan tentang tempat penuh salju seperti yang diceritakan ayahnya dulu.
Eric melihat ke arah dinding pembatas antar dimensi yang mereka masuki sebelumnya. DIa terbang dan mendekati tempat itu. Angin cukup kencang masuk dan mendorongnya menjauh.
Dengan terbang mengelilingi tempat itu, Eric memeriksa sedikit lebih jauh dari tempat semula.
"Kalian di sini dulu.Biar kulihat situasi dari atas," ujar Robert, menyusul Eric.
"Bagaimana, Paman?" tanya Eric setelah keduanya selesai memutari tempat itu.
'Tempat yang sangat gersang. Bahkan jika aku ingin menduga bahwa ini adalah tempat yang sama, namun di musim panas, tetap terasa tak massuk akal!" geleng Robert.
"Kenapa tak masuk akal?" tanya Eric.
"Karena, kalau hanya sedang perubahan musim, hutan pinus yang lebat itu tak akan hilang dan menjadi hutan gundul begini!"
Robert membentang tangan untuk menunjukkan situasi sekitar yang memang sama sekali tak ada pepohonan, apa lagi jejak hutan!
"Paman benar. Apakah kita masuk ke dimensi lain lagi?" duga Eric.
"Aku kira begitu. Bagaimana pun juga, masih masih misteri dunia ini yang belum bisa kita pecahkan," angguk Robert.
Robert dan Eric kembali berkumpul dengan Arjun, Dokter Dimas dan Hakon.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Arjun tak sabar.
"Kami menduga, kita masuk ke dimensi yang lain lagi," jawab Robert.
'Kalau begitu, kita keluar lagi saja ke atas langit Indonesia. Lalu, mencari celah dimensi ataupun jalur teleportasi lain yang seharusnya ada di antara Singapura dan Indonesia," usul Arjun.
"Aku sudah mencoba mendekati lubang yang kita masuki tadi." Eric menggeleng.
"Anginnya terlalu kencang dan mendorong kita menjauh dari sana!" tambahnya lagi.
"Ah ... ada-ada saja. Seakan menyuruh siapapun yang masuk, tak akan bisa keluar lagi!" gerutu Dimas.
"Lalu, langkah apa yang akan kita ambil?" tanya Hakon.
"Mari kita coba dulu. Jika benar tak bisa, berarti harus mencari jalan lain!" Dimas berdiri. Dia bertekad untuk bisa menembus lubang dimensi yang tadi mereka lewati.
Dengan cepat tubuhnya sudah melesat naik ke atas. Teman-temannya mengikuti. Mereka saling berpegangan, untuk bisa mengatasi dorongan angin yang masuk dari langit bumi.
"Maju bersama!" Arjun memberi komando. Empat temannya melesat bersama menuju celah lubang itu.
"Ahh ...."
Mereka didorong kembali. Namun, tak menyerah dan berdiri serta mencoba menerobos celah itu lagi.
"Aduh!" kelima orang itu kembali jatuh dan bergulingan di tebing bukit yang kering kerontang.
"Dorongan anginnya terlalu kuat. Kita seperti menghadang angin topan!" timpal Dimas.
"Kita harus cari jalan lain kalau begini," cetus Eric.
"Sepertinya begitu. Semoga dunia ini berseblahan denga hutan salju yang waktu itu kami datangi," harap Robert.
"Bagaimana cara menemukan dinding cahaya lainnya?" tanya Hakon lagi.
"Kita cari setelah melihat bayangannya di langit, atau dia menunjukkan dirinya," jelas Robert.
"Ayo. Kita lihat sekitar tempat ini dulu. Setelah cukup informasi, barulah kita putuskan mau meneruskan langkah ke arah mana," Eric menyampaikan ide.
"Seperti itu juga bagus." Robert setuju.
"Mumpung masih pagi, sebaiknya kita periksa sekitar. Jika memang tak punya cara lain, nanti kita buat tempat beristirahat untuk malam hari." Arjun menambahkan.
Kelima orang itu terbang sedikit lebih jauh dari tempat mereka jatuh. Sejauh mata memandang hanya pemandangan gersang yang terlihat, tanpa sebatang pohon jua.
__ADS_1
"Aku mendengar suara air," kata Hakon. Tangannya menunjuk ke kiri. Bersama-sama mereka mencari suara air yang didengar oleh pria itu.
"Itu airnya!" Eric menunjuk sebuah air terjun kecil sekitaduratus meter di depan mereka.
"Di tempat itu masih tumbuh perdu," komentar Dimas.
"Bukankah itu pertanda bagus?" tanya Hakon.
"Entahlah. Hanya saja terasa aneh bagiku." Dimas kesulitan menjelaskan alasannya mengatakan hal itu.
"Mari kita lihat ke sana!" ajak Arjun.
Lima orang itu terbang melintasi ngarai dalam yang memisahkan tempat mereka dengan tebing dimana air terjun itu berada. Mereka terbang melintasinya dan terus mengarah jauh, mengikuti asal aliran air itu.
"Bukankah dengan air yang meir konstan begini, seharusnya bisa tumbuh pepohonan besar di sekitar sungai?" Dimas kembali mengatakan keheranannya.
"Kau benar. Aku baru menyadari hal itu. Di sini cuma ada perdu dan semak-semak rendah." Robert akhirnya mengerti dan makin mengawasi sekitarnya dengan lebih teliti lagi.
"Untuk disebut tanah tandus dan gurun juga tak sesuai. Tak ada pohon kaktus yang menjadi pertanda tanah kering." Eric menimpali.
"Menurutku, ada yang terjadi di tempat ini, hingga keadaannya jadi berubah begini." Dimas berhenti terbang lebih jauh. Dia mengambang di atas aliran sungat kecil yang jernih. Lalu turun untuk mendekat. Yang lain mengikuti.
"Tak ada penghuni ditempat ini. Tapi tak ada seekor pun ikan yang hidup di sungai." Dimas menggumam heran.
"Mungkinkah airnya beracun?" celetuk Hakon.
Dimas menciduk air dean tangan dan membauinya. "Tak ada bau apapun," katanya lagi.
Eric menahan tangan do itu sebelum mendekatkannya ke mulut. "Jangan coba-coba meminumnya!" cegah Eric tegas.
"Biar kucicipi sedikit!" Dimas bersikeras.
"Lihat ke dalam aliran sungai ini. Begitu jernih hingga kita bisa lihat bebatuan di dasarnya!" tujuk Eric.
"Makanya aku heran kenapa tak ada ikan. Biar kucicipi," katanya sekali lagi.
"Apa kau tidak mengerti, Dok? Bahkan lumut saja tidak dapat tumbuh di aliran sungai ini!" sergah Eric keras.
"Ah ....!" Dokter Dimas dan yang lain mulai menyadari keanehan air sungai itu. DIa berdiri di atas sebongkah batu besar di tengah sungai dan melihat ke seluruh sungai. Memang tak ada satu juga lumut ataupun tanaman air yang hidup di baah permukaan air.
"Menyingkir dari sana!" Robert yang mengawasi dari ketinggian, berteriak keras.
Empat temannya langsung melesat tinggi, untuk menghindari apapun yang sedang diperingatkan oleh Robert.
__ADS_1
"Ya Tuhan ...!"
******