The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 54. Pengobatan Silvia 2


__ADS_3

Sofie yang tiba-tiba dikeluarkan, terbengong melihat dua pria di depannya bergerak bersama. “Aku di mana? Aku siapa?” katanya kebingungan.


“Ivy!” bentak Eric. Itu suara leluhur. Sofie terkejut.


“Ya, Leluhur!” sahutnya takut.


“Gunakan kekuatan penyembuhanmu padanya!” perintah Eric lagi.


Sofie melihat seseorang yang wujudnya mengerikan, berada dalam lingkaran cahaya Eric dan Dimas. Dia mengerti sekarang. Dengan segera tangannya bergerak, membuat pola yang seirama dengan Eric dan Dimas. Lingkaran cahaya lain kembali mengelilingi tubuh Silvia yang kali ini tidak menunjukkan perlawanan sama sekali.


Yasmeen dan Ameera menyaksikan sendiri bagaimana ibu mereka terbang dan terangkat dari tempat tidurnya. Mereka hanya bisa membelalak, menyaksikan hal yang diluar nalar keduanya.


“Mereka bisa terbang …,” desis Ameera tak percaya.


“Tubuh mereka bercahaya warna-warni!” timpal Yasmeen.


“Andai kita bertemu mereka saat itu. Suamimu tidak akan---”


“Itu sudah takdirku,” potong Yasmeen


“Apakah ibu bisa sembuh dengan cara ini?” Ameera meragu.


“Aku tidak tahu. Tapi karena cara pengobatan kita tidak berhasil, apa salahnya membiarkan mereka mencoba? Tidak ada ruginya juga, jikapun tak berhasil,” kata Yasmeen.


“Yah … setidaknya kita sudah mengusahakannya.” Ameera akhirnya mengangguk setuju.


Tak lama semua cahaya mulai meredup dan putaran angin berkurang intensitasnya. “Panggilkan Jason dan Aila!” perintah Eric.


“Apa? Siapa?” Yasmeen gugup karena tiba-tiba diberi perintah.


“Panggilkan Jason dan Aila, keponakanku!” ulang Eric. Sinar di matanya mulai meredup. Dimas dan Sofie juga mulai limbung. Namun keduanya masih mencoba menstabilkan posisi Silvia agar tidak jatuh dari ketinggian.


Yasmeen berlari ke tempat para tamunya berkumpul. Dari kejauhan dia sudah berteriak. “Eric memanggil Jason dan Aila, keponakannya!”


“Apa?” Arjun dan Robert terkejut. Seketika Jason dan Aila muncul di depan Yasmeen, membuat wanita muda itu terkejut dan mundur beberapa langkah, hingga jatuh terduduk.


“Ada apa?” Jason yang tiba-tiba dikeluarkan dan melihat wajah tegang timnya, jadi cemas.


“Di mana paman Eric!” Aila ikut bersuara.


“Ikut denganku!” Yasmeen sudah berdiri dan segera berjalan ke kamar ibunya.


Yang mengikuti langkahnya bukan hanya Jason dan Aila, tapi semua anggota tim tak mau ketinggalan. Mereka cemas jika terjadi sesuatu pada Eric dan Dimas.


Sampai di sana, yang terlihat adalah tiga orang yang bergelimpangan di lantai.


“Eric!” Robert dan Arjun langsung mengejar. Hakon tak mau ketinggalan.


“Apa yang terjadi?” Yasmeen menjadi bingung.

__ADS_1


“Ketiganya tiba-tiba jatuh di lantai dan tak sadarkan diri!” kata Ameera dengan mata kebingungan.


“Ya, Tuhan!”


Yasmeen menjadi amat sangat takut jika terjadi hal yang buruk pada tamu asingnya. Dia bisa lihat kekuatan mereka semua. Tak dapat dibayangkan jika orang tua Eric dan Sofie yang masih muda itu, datang dan menuntut balas.


“Menyingkir!” Robert memberi tempat pada Jason untuk mengobati Eric. Sementara Aila mengobati Dimas. Keluarkan air abadi!” perintah Arjun.


Tanpa menghiraukan kebingungan Yasmeen dan Ameera, orang-orang bangsa Cahaya itu sigap mengeluarkan berbotol-botol air dan menyirami Eric, Dimas serta Sofie. Robert juga menyirami tubuh Silvia yang kini tidak lagi ditutupi pembatas. Kain pembatasnya sudah porak poranda entah ke mana.


“Apakah … apakah air ini akan berguna?” Yasmeen mendekati Robert.


“Ya. Biasanya air ini kami gunakan sebagai pengobatan pertama untuk penyakit apapun,” jawab Robert.


“Biar kubantu menyirami ibu,” Ameera menawarkan bantuan.


Robert menyerahkan dua botol air abadi lagi ke tangan dua tabib wnaita itu. “Basahi seluruh tubuhnya!” jelas Robert.


“Baik!” Kali ini Yasmeen tidak ragu untuk melakukannya. Karena dia telah melihat bagaimana tamunya juga menyirami tiga orang yang mengobati Silvia hingga basah di mana-mana.


“Cahaya lembut Jason dan Aila, mempercepat pemulihan kondisi Eric serta Dimas. Mereka segera sadar. Dan meminta Jason serta Aila gantian membantu Sofie.


“Apa yang paman lakukan!” Aila mendelik marah. Aku akan mengadukan ini pada ibu dan kakek!” ancamnya.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.” Eric tersenyum dan meletakkan tangannya di kepala Aila.


“Aku tak ingin berkat apapun! Paman sedang kehabisan energi! Jangan melakukan hal bodoh lainnya!” omel Aila gemas.


“Harus!” Aila mengangkat jari telunjuknya ke depan Eric. Dan membuat pria itu tersenyum tak berdaya.


“Kalian dengar? Jika ingin minta bantuanku, mintalah ijin pada Aila lebih dulu!”


“Paman!” gadis itu cemberut. Tangannya menggenggam lengan Eric dan menyalurkan sedikit kekuatannya dengan ekstrim. Hanya sedetik, tapi berhasil membuat Eric terkejut dan mengaduh.


Eric langsung menangkap tubuh Aila yang melemah seketika. “Kenapa kau lakukan itu?” Sebotol air abadi seketika berada di tangannya dan segera diminumkan pada Aila.


“Aku hanya bercanda. Jangan membalasku dengan melakukan hal seperti ini lagi, oke?" ujarnya lembut. Aila mengangguk.


“Biar kubantu dia,” tawar Jason. Pria itu sudah meninggalkan Sofie yang akhirnya bisa sadar.


“Tidak. Kalian berdua, berbaringlah di depanku!” Itu suara leluhur.


Jason dan Aila tak berani membantah. Keduanya segera membaringkan diri tepat di depan Eric yang sedang minum air abadi dan menghabiskan satu botol dalam sekali tegukan.


Dua tangannya diletakkan di atas kepala kedua keponakannya. Sebuah cahaya asing lain berpendar dan segera menelusup ke dalam tubuh Jason serta Aila. Menyinari keduanya dengan lembut.


“Dia punya kekuatan lain!” Hakon yang lebih dulu bersuara. Yang lain menatap Eric dengan penuh kekaguman.


“Berapa banyak kekuatan yang dia sembunyikan selama ini?” desis Arjun.

__ADS_1


“Dia leluhur kita. Kemampuan kita semua sebenarnya diturunkan olehnya. Artinya, dia punya segala jenis kekuatan dan kemampuan yang dimiliki seluruh Bangsa Cahaya!” kata Robert yakin.


“Menakjubkan! Jika memang seperti itu, maka bangsa kita bisa kembali berjaya seperti masa lalu!” Arjun sangat bersemangat.


“Apakah kalian Bangsa Cahaya?” tanya Yasmeen yang mendengarkan dengan teliti.


“Ya!” Angguk Robert.


“Apakah ibuku juga bangsa Cahaya? Apakah dia juga bisa terbang seperti kalian tadi?” tanya Ameera penasaran. Dia tak pernah melihat ibunya terbang ataupun bisa bercahaya seperti tamu asing mereka.


“Tidak! Ibu kalian manusia biasa, seperti halnya manusia bumi. Seperti kalian juga!” jelas Robert.


“Sekarang dia bagian dari kita!” ujar Eric. Kedua tangannya sudah berhenti menyinari kepala Jason dan Aila.


“Apa maksudnya? Bukankah untuk itu kita harus memindahkan jiwa bangsa Cahaya yang sudah tiada?” Arjun tak mengerti maksud Eric.


“Aku memberinya sedikit dari bagian jiwaku. Itu cukup untuk membuat dia bisa bertahan dan pulih dengan sempurna!”


“Eric! Jadi itulah sebabnya kau jadi begitu lemah!” Robert menatap dengan tak senang.


“Jangan bermain-main dengan nyawamu!” Kami semua membutuhkanmu di masa depan!” Arjun ikut menegur anak muda yang selalu bersikap spontan itu.


“Jadi, sekarang ibuku memiliki kekuatanmu?” tanya Ameera memastikan.


Eric mengangguk. “Tapi hanya sedikit. Aku membagi hanya untuk mempertahankan nyawanya! Proses tadi sangat berat. Kondisinya sudah sangat buruk. Jika aku tidak menyokongnya, dia bisa saja tewas!”


Sekarang mereka mengerti kenapa Eric menyalurkan sedikit kekuatannya pada Silvia. “Kau memang panutan kami!” puji Hakon kagum.


“Jangan terlalu memujinya. Nanti dia besar kepala!” celetuk Sofie.


Yang lain tertawa. Ketengangan sudah mulai mencair, seiring pulihnya para Bangsa Cahaya. Sekarang perhatian mereka tertuju pada Silvia yang mengalami proses penyembuhan lebih lambat dari harapan.


Anggota tim itu berkumpul lagi di ruang tamu dan berdiskusi. “Penyembuhan Silvia cukup lambat,” ujar Robert.


“Itu karena luka dalamnya sudah sangat parah!” terang Dimas.


“Lalu bagaimana? Apakah kita akan meningglakan dia sebelum pulih benar?” Sofie ikut bicara.


“Bagaimana kalau kita buat pintu teleportasi dari sini ke dunia kita?” cetus Eric tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Robert.


"Di tempat kita ada rumah sakit. Biarkan Zoella yang merawatnya di sana." kata Eric.


“Kita harus minta persetujuan dari Yasmeen dan Ameera. Kita juga harus jelaskan tenang beberapa hal pada keduanya,” kata Robert.


“Selama mereka bisa menjaga rahasia kita, maka aku tak keberatan!” Arjun sudah menentukan posisinya.


“Rahasia apa lagi?” Yasmeen muncul dengan satu nampan penuh penganan di tangannya.

__ADS_1


 *******


__ADS_2