
Eric dan rombongannya terbang menyusuri sungai, mengikuti arahan Robert.
“Sebentar!” Robert berhenti di dekat sebuah pohon besar dan rimbun di tepi sungai.
“Kulit dari batang pohon ini bagus untuk mengatasi rasa nyeri. Kukira kita mungkin akan membutuhkannya di sana,” jelas Robert.
“Baik, ambil sebagian untuk persediaan. Tinggalkan sisanya agar dia tetap tumbuh dnegan baik!” perintah Eric.
Robert, Dimas dan Jason memotong cukup banyak ranting pohon Willow untuk persediaan obat mereka. Sementara Eric memberi tahukan hal itu pada ayahnya.
“Oke. Aku tahu pohonnya. Aku akan menemukannya nanti,” kata Dean lewat pikirannya. “Jangan lupa beri tanda perjalanan kalian, untuk kususuri setelah memeriksa tempat untuk orang-orang ini tinggal,” tambah Dean lagi.
“Sudah kutandai sejak kami melewati sungai,” jawab Eric.
“Bagus. Berhati-hatilah. Buatlah keputusan setelah melalui pertimbangan matang,” pesan ayahnya.
“Ya, Ayah.” Jawab Eric.
“Kurasa ini cukup,” kata Dimas.
“Baik, kita lanjutkan perjalanan ini.”
Eric kembali membawa semuanya pergi mengikuti Robert.
“Wahh, pemandangan yang indah. Kenapa kemarin tidak meberi tahu kami?” protes Sofie. Bersama Aila, Icye, dan Red, mereka terbang ke sana ke mari di antara dedauan maple yang kemerahan.
Eric harus mengakui bahwa tempat dengan air terjun rendah itu memang sangat indah. Andai bukan mau pergi ke negara Elf, dia pasti ingin bermain sepuas hati di sana.
“Maafkan aku. Aku tidak teringat bahwa kalian mungkin akan senang bermain air hangat di sini.” Robert meminta maaf dengan tulus.
“Sudahlah. Bukankah kita juga terburu-buru kemarin? Yang dipikirkan Paman Robert hanya mencari jalan yang diingatnya saja.” Eric menengahi perselisihan kecil itu.
“Ayo berfoto dulu, biar kita bisa tunjukkan pada yang lain, keindahan tempat yang kita kunjungi ini,” kata Sofie lagi.
“Ayo kita foto!” ajak Eric cepat. Semua segera berkumpul di depan air terjun yang mengepulkan uap air, tepat di bawah kerindahan pohon maple yang indah.
“Yeayyy …!” teriak anggota tim itu senang.
Eric tersenyum. Sekarang semua sudah bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di kolam dengan dasar bebatuan warna-warni yang indah.
Ketika anggota tim ingin turun, suara lantang Sofie terdengar. “Stooop!”
Semuanya terhenti tiba-tiba. “Ada apa lagi?” tanya Eric heran.
“Dasar kolam ini indah sekali ….” Katanya denagn wajah berseri-seri.
“Sekarang kita harus bergerak cepat. Nanti kita nikmati kolam ini setelah urusan di negeri Elf selesai!” kata Eric kesal.
__ADS_1
“Aku ingin mengambil foto kolam ini sebelum kalian cemari!” kata Sofie ngotot.
“Oh, ya Tuhan. Come on Sofie, jangan kekanak-kanakan ….” Tegur Eric halus.
“Ijinkanlah dia mengambil foto kolam ini sejenak,” bujuk Dimas lembut.
“Oke! Lima menit!” Eric menyerah. Dia tak berdaya melihat wajah cemberut Sofie yang seperti ingin menangis.
Dengan cepat gadis itu mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa foto dari berbagai sisi. Semua anggota tim terbang di sana memperhatikan apa yang dilakukannya.
“Ayo ladies, kita foto sebentar!” panggil Sofie cepat. Dia harus punya kenang-kenangan di tempat seindah ini.
Icye, Aila, dan Red mendekat ke tempat yang ditunjukkan Sofie, sementara gadis itu meminta bantuan Dimas untuk mengambil foto mereka berempat.
Melihat gaya berfoto keempat wanita itu, siapa yang bisa marah pada mereka? Hati Eric juga luluh. Dan wajah semua orang juga tersenyum. Semudah itulah membuat wanita-wanita mereka bahagia.
“Sudah selesai?” tanya Eric lembut. Sofie mengangguk dan tersenyum manis. Wajahnya sangat cerah sekarang.
“Terima kasih, Eric,” ujar Sofie sambil mencium sekilas pipi pemuda itu.
Semua orang terkejut melihatnya. Kemudian tertawa, melihat wajah Eric yang memerah seperti buah jambu air yang matang.
“Kau …! Apa yang kau lakukan? Kau menodai kesucianku!” teriak Eric emosi.
“Hahaha ….” Suara tawa anggota lain meledak dengan ramainya.
“Sepertinya sebentar lagi Indra harus datang melamar Eric untuk mempertanggung jawabkan perbuatan putrinya!” kata Kakek Kang, yang disambut gelak tawa panjang anggota tim lain.
“Hahahaa ….”
“Awas kau! Aku akan melaporkanmu pada ayah!” kesal Eric.
“Dunia kecil kita akan menyelenggarakan pernikahan tak lama lagi.” Kakek Kang kembali mengomentari. Eric mendengus sebal dan berbalik.
“Lanjutkan perjalanan!” perintahnya dengan suara ketus.
Robert turun ke air diikuti yang lainnya. Lelucon tadi segera mereka lupakan. Karena sekarang adalah saatnya untuk serius dan berhati-hati. Tubuh mereka segera basah terendam air kolam yang hangat.
Kolam air hangat yang sangat nyaman,” komentar mereka. Beberapa orang menyempatkan diri untuk menenggelamkan diri agar kepalanya ikut basah. Kakek Kang dan Gerald mengubah diri mereka menjadi manusia biasa dan ikut masuk ke air. Dua orang Elf juga menyusuri air kolam yang hangat. Uap air mengepul ke udara, menciptakan kabut yang mengandung banyak rahasia.
Robert dan Eric telah mencapai ke balik tebing batu. Pria muda itu melihat lorong maple di balik batu itu. Itu jelas merupakan pintu ke dunia lain. Karena secara logis, tak mungkin ada pohon maple sebanyak itu tumbuh di dalam batu!
“Kita masuk ke sana! Itu jalan menuju hutan sihir!” kata Robert.
“Wow! Jalan taman yang cantik, celetuk Red. Dia selalu menyukai benda apapun yang berwarna merah.
Gadis bangsa Cahaya ini jika ingin menggunakan kemampuannya, maka tubuhnya akan berubah menjadi merah seluruhnya. Lalu memancarkan cahaya merah bahkan dari sela kulit. Hingga membentuk bola cahaya yang memancarkan aliran listrik berwana merah. Siapapun yang tersengat ujung listrik itu, hanya akan berakhir tewas ataupun meledak! Bertolak belakang dengan Icye yang memiliki kemampuan es yang membekukan.
__ADS_1
Dua Elf sudah dipanggil maju. Dia harus ada di depan, unutk menunjukkan jalan yang mungkin dikenalinya nanti.
“Aku tidak ingat ada jalan yang dikelilingi pohon seperti ini di hutan sihir!” kata Herdan.
“Dugaanku, ini mungkin jalan penghubung antar dua dunia. Seperti kalau kita melewati teleportasi!” kata Robert. Karena, saat kami lelah dan tertidur di lorong, saat terbangun, pohon yang berdiri lurus ini berubah jadi mengelilingi kami di tengah hutan!” tambahnya
“Mungkin seperti itu.” Eric ikut mengangguk setuju.
“Tetaplah hati-hati. Tak ada satupun dari kita yang memiliki sihir untuk menangkal hal-hal seperti itu.” Kakek Kang memperingatkan. Eric mengangguk.
“Mari kita lanjutkan perjalanan ini!”
Itu adalah komandonya. Jadi, Robert naik ke darat lebih dulu, diikuti dua orang Elf, Eric dan yang lainnya. Sekarang mereka sudah berada di lorong pohon yang sangat panjang, hingga ujungnya tak terlihat.
“Jalan ini membuatku takut,” bisik Aila pada Jason. Tangannya memegang kuat lengan sepupunya itu. Mereka jalan berdampingan, mengikuti langkah anggota tim lain. Di belakang, Arjun dan Hakon menjaga semua anggota agar tidak ada yang tertinggal.
Kakek Kang berusaha melihat ke samping kiri dan kanan, berusaha menembus rahasia di balik jejeran pohon. Tapi, mata rahasianya yang biasanya bisa melihat apa yang tersembunyi, saat ini jadi tak berfungsi. Dia merasa seperti orang buta yang berjalan.
“Bagaimana kalau kalian terbang saja? Mungkin bisa lebih cepat sampai di ujung sana,” saran Khort.
“Kau benar.” Eric mengangguk setuju. “Kita terbang saja, untuk mepersingkat waktu!” perintahnya.
Namun, wajahnya langsung berubah pucat. Kemudian terdengar komentar anggota tim lain.
“Aku tidak bisa terbang!” kata mereka bingung.
Lain juga mengutarakan hal yang sama. “Aku juga!”
“Tempat ini membuat kita tak bisa terbang!”
“Hutan sihir ini menekan kemampuan kita, menjadikan kita sama seperti manusia biasa!” Robert terkejut. Tapi Eric justru memikirkan hal lain.
“Tidakkah ini berbahaya? Bagaimana dengan teman-teman yang kita simpan di penyimpanan?” tanya Eric cemas. Semua terkejut mendengarnya.
“Coba keluarkan dulu,” saran Robert. Eric mencoba mengeluarkan Evan dan Ubbe dari penyimpanannya. Dia menggeleng.
“Komunikasiku dengan mereka juga terputus!” kata Eric.
“Aku juga tak bisa menembus pikiranmu!” angguk Robert.
“Tak seorang pun dari kita memegang senjata fisik. Jika terjadi sesuatu, maka kita hanya akan jadi mangsa!” Dimas menimpali.
“Aku juga tak bisa berubah jadi naga, di sini!” kata Gerald. Kakek Kang berulang kali mencoba merubah dirinya, tapi tak bisa. Mulutnya juga tak bisa mengeluarkan api.
Herdan melihat sekitar. “Tempat yang sangat berbahaya!”
*****
__ADS_1