
Jangan Lupa kasih Like, komen dan vote ya. Terima kasih.
*****
Para prajurit utusan itu memperhatikan dengan jelas. Benar, ada dua orang Elf diantara oeang-orang yang tidak mereka kenal.
“Bukankah mereka yang diminta pergi oleh sang putri?” Pengawal Levyn menatap heran.
“Ya!” sahut Levyn. “Mereka berdua diminta untuk mencari teman ibunda,” tambahnya lagi.
“Mereka pergi ke laut di negeri Kurcaci Biru. Bagaimana bisa muncul di tempat yang sangat berlawanan arah?” gumam yang lain.
“Apakah mereka berjalan memutar, untuk bisa bertemu dengan teman-teman Putri Angel?”
“Sepertinya begitu,” timpal yang lain.
“Sudah! Masalah terpentingnya bukan itu. Mereka adalah orang-orang yang dibawa oleh Herdan dan Khort. Berarti mereka orang kita. Tapi sekarang mereka semua sedang tertidur pulas!” sergah Levyn.
“Dan sampai tengah hari panas begini, mereka terus saja tidur. Kalau tidak dibangunkan, maka akan terjebak selamanya di hutan ini,” kata pengawal Levyn.
“Tapi ini siang hari. Semua embun sudah menguap karena teriknya matahari!” timpal yang lain.
Levyn juga bingung bagaimana cara membangunkan mereka. Dia duduk di atas tanah kering. Neneknya tidak ada mengajarkan hal seperti ini padanya. Levyn berpikir keras.
“Leluhur, mereka adalah orang-orangku. Bagaimana caraku untuk membangunkan mereka?” batinnya.
Bahkan, meski sudah mencoba berkonsentrasi penuh, Masih tidak ada jawaban yang diterimanya.
Hari semakin tinggi. Orang-orang itu tak bisa dibiarkan terus seperti itu. Levyn membuka mata, bangun dan berdiri tegap. Tangannya menjangkau pisau tajam di pinggangnya. Kemudian berjalan ke tempat dua Elf itu tidur pulas.
Para prajurit pengawal mengikuti dengan rasa ingin tahu yang besar. Mereka berhenti saat Levyn berhenti di sebelah tubuh Herdan yang terbaring. Dengan yakin, Levyn melukai jarinya dan mengoleskan tetesan darahnya di dahi Herdan.
Darah itu meresap ke dalam kulitnya dan dia segera bangun dengan linglung. Terutama karena melihat semua teman seperjalanannya masih tidur pulas hingga lewat tengah hari.
“Hei!” pengawal Levyn menegurnya.
Herdan membalikkan badan dan menjadi lebih terkejut lagi melihat Levyn berdiri di sana.
“Pangeran!” serunya gembira dan langsung memberi hormat.
“Siapa mereka?”
Levyn kembali berjongkok di samping Khort. Dia mengoleskan sedikit darah di jari pada dahi Khort.
“Pangeran, apakah dengan itu Anda membangunkan saya?” tanyanya.
“Ya.” Levyn mengangguk.
__ADS_1
“Bisakah Anda membangunkan mereka semua? Mereka adalah utusan yang dikirim oleh teman Sang Putri untuk membantu negara kita,” jelas Herdan.
Khort akhirnya juga bangun. Sama seperti Herdan, dia sedikit bingung sebelum menyadari bahwa ada pangeran Levyn yang sebelumnya menjadi tuannya.
“Pangeran!” Khort memberi hormat. Wajahnya berseri-seri karena akhirnya bisa bertemu dengan pangeran itu lagi. Levyn mengangguk dan menerima hormatnya.
“Yang mana teman ibunda?” tanya Levyn.
Herdan berjalan ke arah Robert berbaring. “Ini Tuan Robert,” tunjuk Herdan. “… tapi pemimpin tim ini adalah Eric!” Khort menunjuk pemuda yang terbaring di dekatnya.
“Dia adalah putra pemimpin bangsa itu. Calon penerus negara mereka!”
Kemudian Herdan dan Khort mengenalkan orang-orang yang tidur itu satu per satu, beserta posisi dan kemampuan mereka masing-masing.
“Mereka bisa terbang?” tanya salah satu prajurit tak percaya.
“Andai kalian pergi ke negara itu, Kalian akan mulai terbiasa melihat mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan terbang!” jelas Herdan.
Levyn membuka kedua tangannya dan memikirkan ulang rencana dia sebelumnya yang hanya akan membangunkan beberapa orang saja. “Berarti aku harus melukai kesepuluh jari ini, untuk membangunkan mereka semua. Oh … jariku yang malang,” batinnya dengan sedih.
Tapi dia tak punya pilihan lagi. Hari sudah makin sore. Lagi pula, tak mungkin negara tempat asal ibunya akan mengirim orang-orang tak penting ke negaranya.
Satu per satu Bangsa Cahaya dibangunkan. Dan mereka semua jadi terkejut saat menyadari bahwa telah terjebak hingga sore di hutan sihir. Teori tetesan air pohon maple itu tak berguna. Karena sore itu, mereka bisa lihat semua pohon itu berdiri jauh dari tempat mereka terbaring!
“Kenapa mereka berdua tidak bisa bangun?” tanya Levyn keheranan.
“Kemampuan kita pulih!” Sofie berseru senang melihat dua teman mereka sudah disimpan.
“Hari sudah sore. Sebaiknya
kita segera keluar dari hutan, sebelum malam, agar tida ada konsekweksi untuk Gerald dan Kakek Kang!” Ujar Eric.
“Perjalanan ke negeri kami, masih harus melewati satu malam lagi. Selain itu, kami sebenarnya sedang mencari arah lorong maple tempat tadi kalian masuk!” Pangeran Levyn menolak ide Eric.
“Lorong itu sudah hilang. Tadi
malam kami tidur persis di lorong maple. Tapi siang ini lorong itu berubah jadi hutan!” jelas Eric.
“Apa yang kau cari di sana? Apa Angel mengutusmu untuk melakukan sesuatu?” tanya Robert.
“Ibunda memintaku mencari bahan makanan untuk rakyat!” kata Levyn.
“Kami punya banyak. Jadi, mari kita kembali secepatanya. Nyawa mereka sangat penting!” ujar Robert.
“Tetap saja, kita masih harus bermalam lagi,” sanggah Levyn.
Eric memiringkan kepalanya pada Arjun. Pria itu segera melompat terbang dan semua kuda para Elf itu ikut hilang.
__ADS_1
“Hei, apa yang kau lakukan!” protes pengawal Levyn.
Seiring itu, Semua anggota tim itu terbang ke atas. Robert memeluk Levyn dan membawanya terbang bersamanya. Semua prajurit itu juga dibawa naik melewati puncak pohon. Mereka yang semula sangat takut, akhirnya melihat dengan takjub pemandangan di ketinggian itu.
“Itu negara Elf!” tunjuk Robert.
Pulau-pulau melayang itu terlihat nyata dari atas pucuk-pucuk pohon.
“Cepat!” teriak Eric.
Dia melesat cepat ke tempat ayng ditunjukkan oleh Robert. Sebentar lagi langit akan
kemerahan. Kakek Kang dan Gerald harus bisa keluar dari hutan sebelum langit senja memerah.
“Aaaaa ….”
Pangeran Levyn terkejut dibawa melesat cepat. Semua bayangan pohon di bawah kakinya berubah dari bayangan kelabu semata. Dalam satu menit, mereka telah mencapai tembok pembatas dua wilayah.
“Sekarang kita harus melewati aliran air di bawah sana.” Robert menunjuk terowongan kecil yang dialiri kali kecil yang jernih.
Eric tidak menunggu lama. Dia telah terbang dan langsung melewati terowongan kecil itu untuk tiba di bagian negara Elf.
“Apa kalian bisa bangun?” Eric memeriksa kalung penyimpanannya dan menemukan bahwa Gerald dan Kakek Kang sudah terbebas dari pengaruh hutan sihir. Hatinya jadi lega.
Anggota tim lain menyusul keluar dari terowongan. Mereka menempuhnya dengan berjalan kaki.
“Bagaimana mereka?” tanya
Dimas pada Eric.
“Baru bangun,” jawab Eric.
“Oh, syukurlah.”
Anggota tim itu senang
mendengar bahwa dua naga itu sudah pulih setelah melewati terowongan perbatasan. Sekarang mereka beristirahat di perbatasan itu sejenak. Tempat itu belum bisa dikuasai oleh bangsa Orc. Jadi Levyn tidak khawatir sama sekali untuk berhenti di sana.
“Terima kasih sudah
menyelamatkan kami. Aku Eric,” ujar Eric memperkenalkan dirinya secara resmi pada Levyn.
“Aku senang kalian datang ke
sini untuk membantu. Teman Herdan, juga teman kami,” ujarnya dengan senyum kaku.
“Mereka hanya belasan orang. Bagaimana bisa membantu di sini?” pikir Levyn
__ADS_1