The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 100. Perjanjian Tanah Tak Bertuan


__ADS_3

Eric juga terkejut melihat begitu banyaknya pasukan Orc di tempat itu. “Bukankah mustahil jika mereka semua adalah pasukan yang dipukul mundur?” desisnya.


“Kita tak tahu seberapa luas negara Elf. Namun, menurutku memang mustahil jika sebanyak ini yang keluar dari sana!” timpal Gerald.


“Apa maksudmu, mereka mungkin sudah didorong mundur sebelum sore, dan melaporkan hal itu pada rajanya?” tanya Hakon.


“Itu mungkin saja terjadi,” kata Eric dengan yakin.


“Lihat itu!” tunjuknya pada bendera-bendera perang yang berkibar di antara para pasukan yang sednag beristirahat itu.


“Kurasa, mereka sedang menunggu pagi untuk menyerang balik!” tambahnya.


“Ayah,” panggil Eric lewat pikirannya.


“Ya, bagaimana perkembangan di sana?” sahut Dean.


“Ada banyak hal tak terduga terjadi di sini. Membuat gerakan kami jadi sedikit terhambat. Akan tetapi, semua Orc di negara penyihir sudah kami habisi. Beberapa yang terluka dan lari ke sini juga sudah dibersihkan!” lapor Eric.


“Bagaimana dengan putri Elf itu?” tanya Dean lagi.


“Seorang Orc mengatakan kalau dia dibawa ke istana Orc untuk dipersembahkan pada rajanya! Tapi bukan itu hal yang paling genting,” kata Eric.


“Oh, lalu apa lagi?” tanya Dean ingin tahu.


“Kami sedang berdiri di perbatasan negara Penyihir dengan Tanah tak bertuan. Dan sejauh mata memandang, hanya terlihat Orc semata!” lapor Eric.


“Sebanyak itu?” tanya Dean tak percaya.


“Apakah seluruh Orc sudah didorong keluar dari negara Elf?” tanya Eric.


“Ya! Kami mendorong mereka keluar hingga perbatasan!”


“Tampaknya, mereka sudah melapor ke negaranya dan rajanya mengirim pasukan tambahan untuk membalas!” komentar Eric.


“Nanti akan kuminta Arjun memeriksa keadaan di perbatasan dari ketinggian.” Ujar Dean.


“Kukira, aku bisa menghabisi setengah pasukan itu malam ini!” ujar Eric.


“Jangan! Jika mereka berkumpul di sana, pasti juga sedang beristirahat untuk menyerang besok. Maka kita juga harus mengumpulkan tenaga agar fit untuk hai besar esok hari!” cegah Dean.

__ADS_1


“Apa tugasku sekarang?” tanya Eric.


“Bicaralah dengan Pangeran Glenn. Bawa tentara negara Penyihir untuk menjaga perbatasan mereka bersamamu,” ujar Dean.


“Ayah, Kau tak tahu betapa sangat memprihatinkan keadaan negara ini. Lebih dari 90 persen rakyatnya musnah! Jangan tanya tentara yang hanya tinggal dua puluhan di istana!” keluh Eric prihatin.


“Apa!” Dean sangat terkejut mendengarnya. Bukankah itu artinya negara itu sangat kosong sekarang?”


“Kami menemukan belasan rakyat yang selamat dan bersembunyi. Hanya itu yang tersisa! Tak sampai seratus orang, sejauh ini. Rakyat penyihir semuanya dipasangi alat beracun. Jika mereka melawan dengan sihir, maka alat itu akan langsung menyebarkan racun dan menewaskan mereka,” ujarnya sedih.


“Sungguh biadab!” geram Dean.


“Baiklah, bagaimanapun juga, pergi laporkan dulu hal ini pada Pangeran Glenn. Setidaknya mereka mungkin akan berusaha untuk mempertahankan istana itu bersama-sama. Jadi kalian bertiga bisa fokus menjaga perbatasan. Aku akan mengirimkan bantuan lain ke sana, besok pagi!”


“Baik, Ayah,” sahut Eric.


“Hakon, Kau kembalilah ke istana Penyihir. Laporkan yang terjadi di sini. Aku mendapat perintah dari ayah untuk menjaga perbatasan ini. Kemungkinan Orc akan menyerang negara Elf besok pagi!” perintah Eric.


“Baik! Aku akan segera kembali ke sini sebelum pagi!” balas Hakon. Pria itu melesat pergi dan meninggalkan Eric serta Gerald di perbatasan.


“Ayo kita menunggu lebih ke dalam. Tugas kita malam ini hanya mencegat setiap Orc yang memasuki negara ini. Langsung kita habisi saja!” geram Eric.


***


Di istana Elf, keadaan sedang berkabung. Raja dan Permaisuri kerajaan Elf ternyata sudah tewas dibunuh oleh para Orc. Yang lainnya terluka parah akibat melawan dan tak mau menyerah. Keadaan mereka sangat memprihatinkan, karena tak ada tabib dan pengobatan yang diapat selama sekian lama.


Pangeran Mahkota amat sangat marah mengetahui berita itu. Hal itu membuatnya menginstruksi untuk menghabisi semua Orc yang tertinggal di belakang! Keganasan dan semangat para tentaranya mengejutkan Arjun dan Sofie. Mereka menjadi sangat sibuk menjaga keselamatan para tentara dari Orc yang mengamuk putus asa.


“Habisi semua yang tertinggal!” perintahnya garang.


Para tentara itu semakin bersemangat, seperti mendapatkan suplemen tambahan. Mereka menyerang tanpa ampun.


Sebelum pukul tiga siang, semua Orc sudah kabur meninggalkan negara Elf. Tak ada yang tersisa. Bahkan Jenderal utama yang paling berkuasa di sana tewas mengenaskan setelah jadi bulan-bulanan kemarahan tentara Elf.


“Ya Tuhan,” desis Sofie.


Gadis itu yang mengawasi dan menjadi tenaga back up, bergidik ngeri melihat kebrutalan balas dendam tentara sang pangeran mahkota. Sekarang para tentara itu beristirahat di tanah perbatasan.


Raja Felix sudah mengirimkan surat peringatan pada dua negara tetangganya. Meminta mereka menjaga perbatasan masing-masing, karena negara Elf sedang memukul mundur tentara Orc. Dia tidak akan peduli lagi jika kedua negara tetangga itu mendapatkan imbas buruk dari serangan para Elf pada Orc. Karena mereka juga tak pernah mau membantu saat negara Elf kesulitan.

__ADS_1


Di istana, Raja Felix mendiskusikan langkah mereka selanjutnya. Banyaknya tentara yang tewas dan terluka juga menjadi perhatian sang raja.


“Eric mengatakan bahwa di Tanah tak bertuan, telah diisi sepenuhnya oeh para Orc! Menurut saya, mereka sedang mengisi tenaga untuk penyerangan esok pagi. Mungkin dini hari nanti akan ada serangan di perbatasan!” lapor Dean.


“Ya Tuhan ....” Robert menggelengkan kepala.


“Memangnya seberapa besar negara Orc? Bagaimana mereka bisa punya tentara begitu banyak?” tanya Arjun. Bagaimanapun, mereka tetaplah orang asing yang tak mengetahui seberapa luas wilayah masing-masing negara di sini.


“Wilayah mereka memang lebih luas dari wilayah empat negeri lainnya. Karena menurut cerita lama, mereka sudah menaklukkan wilayah paling ujung yang terjepit dan berbatasan dengan laut ganas. Tak ada yang selamat dari negeri ini. Mereka sudah musnah.


Dean prihatin. Tampaknya, itu juga yang coba dilakukan Orc di negara para Penyihir. Dean menceritakan apa yang dikatakan putranya. Membuat yang hadir menunduk sedih. Jika mereka terlambat mengirim Eric, maka negara Penyihir juga akan menyusul musnah!


“Jadi bagaimana kita menghadapi mereka?” Raja Felix menatap para jenderalnya.


“Saya kira, satu pasukan harus disisakan untuk menjaga istana. Yang lainnya harus berada di perbatasan. Kita harus menjaga mereka tetap berada di tanah tak bertuan. Yang berani masuk, habisi!” ujar seorang jenderal.


“Bagaimana kalau kita serang saja mereka di Tanah tak bertuan?” usul Dean.


“Tidak bisa! Ada aturan tertulis yang telah disepakati bersama, bahwa tidak boleh ada penyerangan terhadap siapapun di Tanah bebas itu!” bantah salah seorang jenderal lain.


“Bukankah dari cerita Anda sebelum-sebelumnya, para Orc sering menyerang orang-orang yang melintasi perbatasan? Apa salahnya kita juga melakukan hal yang sama seperti mereka?” tanya Dean heran.


“Sampai sekarang negara Orc tidak mengakui itu sebagai urusan negara. Mereka mengatakan bahwa itu hanya urusan kriminal biasa! Jadi menyarankan yang akan melewati tanah itu, membawa cukup pasukan pengaman agar tidak dirampok!” Raja Felix menjelaskan.


“Licik sekali! Dan sekarang mereka beristirahat di tempat itu dengan tenang!”Dean menjadi kesal sendiri menyadari ketidak adilan yang terjadi.


“Mereka boleh beristirahat di sana. Kita pun boleh beristirahat di sana, kalau berani!” Raja Felix terkekeh dan menggelengkan kepala muak.


“Kita bisa balas menyerang mereka di sana, jika mereka memulainya!” ujar penasehat istana.


“Hemmm ....” Dean berpikir keras mendengar itu.


“Eric,” panggil Dean.


“Ya, Ayah,” sahut Eric yang sebelumnya sudah hampir tertidur.


“Jangan menyerang para Orc di tanah tak bertuan! Itu melanggar perjanjian. Tapi kau bisa membalas, jika mereka yang memulainya!” pesan Dean.


Mata Eric jadi terbelalak. “Apakah ayah sedang menyuruhku untuk berbuat nakal?” pikirnya bingung.

__ADS_1


__ADS_2