The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 78. Raja Felix


__ADS_3

Para penjaga itu pasrah. Bagaimana mau menjelaskan keterkejutan saat merek tiba-tiba melihat orang asing mendarat begitu saja di tembok pagar istana? Apa mereka jatuh dari langit?


“Ini … ini bahan makanan yang sangat banyak. Tergambar jelas bahwa dia terharu melihat bahan makanan itu.


“Ini sedikit bantuan untuk istana, para prajurit dan rakyat sekitar,” kata Eric.


“Kami ingin membuat pembicaraan dengan Raja Felix, jika memang masih membutuhkan bahan pangan yang lain.” Robert menimpali.


“Oh, tentu saja. Mari kita masuk ke dalam,” ajak kepala pengawal istana dengan ramah.


“Kalian, bawa semua bahan makanan ini ke dalam istana. Sang Raja harus melihatnya lebiih dulu, sebelum dibagikan!” perintahnya tegas.


“Baik!” jawab para penjaga itu lega. Mereka sudah tergiur melihat berkeranjang-keranjang buah ranum yang mengusik rasa lapar.


“Di mana binatang mengerikan tadi?” tanya penjaga yang semula pergi mengantar surat.


“Dia berubah jadi manusia!” bisik temannya.


“Benarkah?” penjaga itu tak percaya.


Sekarang, bagaimana cara mereka menjelaskan tentang keanehan itu? Sudah tak ada bukti bahwa mereka makhluk asing yang mungkin berbahaya!


***


“Sang Putri, kamar Anda akan segera disiapkan,” ujar kepala pengawal.


“Tak perlu. Biar pelayanku yang melakukannya. Kami akan istirahat di sana malam ini.


“Robert, aku sangat lelah. Jadi kau kutinggal dulu, ya,” pamit Angel. Robert mengangguk.


“Dan untuk bertemu Sang Raja, mungkin beliau sedang istirahat. Bisakah anda menunggu sedikit lebih lama? Anda semua bisa beristirahat di sini dengan nyaman,” ujar Kepala pengawal.


Eric saling pandang dengan Robert sebelum mengangguk setuju. “Terima kasih,” kata Eric. Dia berusaha memahami bahwa hari memang sudah larut malam. Semua orang sudah beristirahat.


“Mari kita istirahat juga,” perintah Eric pada anggota timnya.


“Baik!” jawab Sofie, Gerald, Jason, Ubbe dan Fire. Mereka mengambil duduk di sofa-sofa empuk istana itu.


Kepala pengawal pergi. Dia ingin melihat apakah sang raja sudah tidur atau masih terjaga. Dua orang pengawal pribadi raja dan ratu masih duduk di depan pintu. Memeriksa siapapun yang ingin masuk ke kamar.


“Apakah Yang Mulia Raja sudah tidur?” tanya Kepala Pengawal sambil berbisik.


“Ada apa?” tanya pengawal pribadi itu.


“Yang Mulia Pangeran Mahkota mengirim surat serta utusan. Yang Mulia Putri Angel juga ikut bersama mereka.” Kepala Pengawal itu menyerahkan surat pada pria di depannya.


“Sang Putri datang? Bagaimana dia bisa ke sini? Pasti mereka melewati rintangan berat untuk sampai di sini,” kata pengawal pribadi itu prihatin.

__ADS_1


“Kau tunggu sebentar."


Pengawal pribadi itu mengetuk pintu dengan irama kode yang hanya mereka yang paham. Tak lama keluar dari dalam, pelayan pribadi Sang Ratu.


“Ada keperluan mendesak apa?” tanyanya dengan suara rendah.


“Ada surat dari Pangeran Mahkota, bersama Putri Angel dan juga beberapa utusan,” jelas pengawal pribadi itu.


“Yang Mulia baru saja berangkat tidur.” Pelayan itu jadi sedikit ragu. Apakah harus membangunkan atau membiarkan urusan ini hingga besok pagi.


Kepala Pengawal Istana mendekat. “Utusan itu membawa banyak bahan makanan. Mereka juga akan membicarakan bantuan dalam hal lain jika Sang Raja membutuhkan,” katanya menjelaskan.


“Bahan makanan? Mereka membawa bahan makanan?”


Pengawal pribadi dan pelayan itu sangat terkejut mendengarnya. Mereka sudah kehabisan bahan makanan. Jadi, hanya bisa makan sangat sedikit, satu kali sehari untuk bertahan hidup!


Pelayan itu mengambil surat Pangeran Mahkota dari tangan Pengawal pribadi raja. “Bawakan sedikit makanan untuk Sang Ratu!” katanya pedas sebelum masuk ke dalam kamar dengan hati-hati.


“Aish … kenapa aku tak mengingat hal itu.”


Kepala pengawal menepuk dahinya, merasa sangat bodoh. Seluruh istana sudah kekurangan makanan beberapa hari belakangan. Dia langsung lari kembali ke ruangan, dimana para tamu itu beristirahat.


Dilihatnya mereka semua sudah tertidur dengan santai. Tak ada yang protes meskipun dilayani sekedarnya. Kepala pengawal itu sangat kagum pada utusan yang tidak macam-macam. Dia mengambil beberapa buah yang matang untuk dibawa ke kamar Sang Raja.


Sedikit keraguan menggayuti hatinya. Jadi digigitnya lebih dulu buah yang ada di tangannya itu. Matanya langsung berseri-seri mendapatkan rasa buah yang sangat nikmat. Diambilnya yang lain dengan senang hati, lalu pergi.


Dua pengawal itu meragu melihat buah ditangan.


“Tenang saja. Buah ini aman dan masih sangat banyak di bawah sana. Mereka bilang itu juga untuk rakyat di sekitar sini,” jelas Kepala pengawal. Setelah itu, barulah dua pria lain itu berani itu mencicipi.


Pelayan Sang Ratu keluar. Dia melotot marah melihat tiga pria itu sudah makan lebih dulu, sebelum Sang Raja.


“Aku hanya ingin memastikan bahwa buah ini tidak beracun,” kata Kepala pengawal membela diri.


Pelayan Raja beralih meloto pada dua pria pengawal pribadi itu. Ingin tahu apa alasan mereka ikut makan juga.


“Kami lapar,” jawab mereka menunduk. Pelayan itu menggelengkan kepala, menyerah untuk berdebat. Kemudian dia menoleh pada Kepala Pengawal.


“Yang Mulia Raja akan turun dan menemui mereka. Jadi, pastikan mereka sudah siap.


“Ta-tapi, mereka sudah tidur di sana. Tampaknya sangat kelelahan,” kata Kepala Pengawal itu gugup.


“Tidak apa. Biar aku lihat ke sana.” Tiba-tiba Raja Felix keluar dari kamarnya dengan pakaian kebesaran.


“Yang Mulia, hanya ini makanan yang bisa langsung dimakan. Yang lain harus diolah lebih dulu,” kata Kepala pengawal, menunjukkan buah-buahan di atas meja.


Raja Felix mengangguk. “Berikan pada Sang Ratu!” perintahnya. Lalu dia berjalan. Kepala pengawal dan seorang pengawal pribadinya mengikuti.

__ADS_1


“Di mana menantuku?” tanyanya.


“Ada di kamarnya bersama para pelayannya,” jelas Kepala pengawal.


“Mari lihat ke sana, lebih dulu.” Raja Felix pergi ke kamar putranya Glenn. Di sanalah kamar Angel jika datang dan bermalam di istana ini.


Dari jauh, Raja melihat seorang pengawal duduk di samping pintu kamar Angel.


“Yang Mulia!”


Herdan terkejut melihat Sang Raja melangkah ke sana. “Bagaimana keadaan menantuku?”


“Sang Putri sedikit tidak sehat, jadi tadi diminta PAngeran Levyn untuk pindah ke mari dan beristirahat,” jawab Herdan.


“Besok akan kuminta tabib memberikan sedikit obat untuknya,” kata Raja Felix prihatin.


“Sebenarnya, utusan yang datang bersama saya itu, ada membawa dokter, tabib dan ahli pengobatan juga. Dan Sang Putri sudah diberi sedikit ramuan penambah tenaga saat di kediamannya.


“Oh, bagus kalau begitu,” angguk raja.


“Tadi katamu, kau yang bersama utusan itu? Bisa kau jelaskan?” tanya Raja.


“BIsa, Yang Mulia. Silakan Anda duduk lebih dulu. Penjelasannya agak panjang,” kata Herdan sambil mendorong kursi yang tadi didudukinya.


Raja Felix duduk dan siap mendengarkan.


Maka Herdan mulai menceritakan perjalanannya bersama Khort, pengawal Pangeran Levyn setelah mendapat tugas dari Angel. Semua kesulitan dan rintangan saat pergi hingga berhasil kembali, meskipun waktunya jadi lewat sangat lama.


“Jadi, mereka adalah teman-teman menantuku? Yang dulu juga datang ke sini?” Sang Raja tak percaya. Herdan mengangguk.


“Dokter yang dulu merawat Yang Mulia sudah tiada. Tapi putranya juga datang ke sini. Dia juga seorang dokter. Ada juga tabib dan banyak tenaga ahli yang dipiliih oleh pemimpin mereka untuk membantu disini,” jelas Herdan lagi.


“Aku ingat dokter tua itu. Ah … sekarang dia sudah tiada.” Sang Raja menggelengkan kepalanya kecewa.


“Tak apa. Aku masih bisa bertemu putranya dan berterima kasih padanya. Baiklah, aku akan menemui mereka sekarang,” kata raja.


“Ah, ada yang lupa saya tanyakan,” sela Kepala pengawal.


“Tentang apa itu?” tanya Sang Raja ingin tahu.


“Tadi kalian tidak datang melalui pintu teleportasi. Lalu bagaimana kalian bisa sampai di sini?” Kepala pengawal itu mulai menyadari keanehan yang sejak tadi dia pikirkan.


“Kami terbang dari kediaman Pangeran Glenn ke sini,” kata Herdan dengan jelas dan terang. “Di negeri itu, banyak sekali yang bisa terbang,” tambahnya lagi.


“Apa!” Tiga orang di depannya berseru dengan terkejut.


******

__ADS_1


__ADS_2