The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 45. Serangan Balasan


__ADS_3

“Majuuuu!” Teriak pemimpin pasukan.


Para prajurit Elf itu maju serentak. Berlari menuju garis perbatasan negara, berupa tebing selebar dua puluh meter. Di depan sana, beberapa Elf sudah berjaga dan dengan sigap Menembakkan tali-temali ke tebing negara Elf. Para penjaga dari bangsa peri membantu agar tali yang ditembakkan dengan panah itu, benar-benar berhasil tersangkut di pohon dengan baik.


Lalu beberapa prajurit melompat ke seberang dengan tali. Mereka berayun melintasi atas tebing tinggi, tanpa mengenal takut. Satu-persatu pasukan Elf sudah kembali ke negaranya di tebing seberang.


Di depan sana, para Orc tidak menyadari gerakan satu pasukan besar di belakangnya. Para Elf tanpa basa-basi, langsung saja menghajar mereka.


“Hajar!” teriak mereka bersahutan. Suara penuh semangat yang tak putus-putus itu, menimbulkan kengerian di hati pada Orc.


Pertarungan hebat tak terhindarkan lagi. Beberapa Orc mulai menyadari dari mana para tentara itu muncul. Namun, pasukan yang berkumpul sudah makin banyak, hingga tak ada pilihan selain bertarung habis-habisan.


Di pinggir kota, dari ladang kupu-kupu, pertarungan sengit dikuti oleh penduduk sekitar. Mereka bahu-membahu menghajar setiap Orc yang sulit untuk ditaklukkan.


“Seraaaang!” teriak pimpinan pasukan itu.


Tak ayal para prajuritnya langsung muncul seperti hantu, hingga ke jantung kota. Mereka benat-benar menusuk para Orc tepat di jantung kota negara Elf. Mereka tak mengira akan ada pasukan Elf yang mencapai pusat kota.


Perlawanan yang diberikan Orc, tak main-main. Banyak lokasi strategis yang harus mereka pertahankan di situ. Hanya saja, perhitungan awal mereka yang keliru, telah menjadi titik lemah yang dimanfaatkan oleh para Elf.


“Majuuuu!”


Bendera perang sang Putra Mahkota seketika naik dan mengejutkan. Tak hanya bagi para Orc yang telah salah mengantisipasi, tapi juga para prajurit Elf yang dipimpinnya.


“Yang mulia turun ke gelanggang!” teriak para prajurit Elf kelabakan.


“Amankaaan!” perintah pimpinan pasukan lain.


Adalah tidak mudah bergerak melindungi yang mulia, saat mereka harus menghadapi para Orc yang tak juga tak kenal takut.


Putra Mahkota bertarung habis-habisan. Dia tak mau diminta untuk menunggu di belakang. Pangeran Levyn akhirnya berhasil mendekat dan berdiri di sebelah, untuk mendampinginya. Putra Mahkota awalnya terkejut.


Namun, kemudian setelah menyadari kehadiran saudaranya, dia tersenyum bangga. Keduanya saling menjaga satu sama lain. Pengawal pribadi mereka bekerja sama membantu menumbangkan para Orc yang tak mau menyerah. Target utama Putra Mahkota adalah menguasai lokasi teleportasi menuju kediaman Pangeran Glenn.

__ADS_1


“Rebut lagi tempat teleportasi itu!” perintah Putra Mahkota.


“Siaaap!” sahut para pengawal dan prajurit di sekitarnya.


Di sisi lain kota, para prajurit yang malam sebelumnya terluka dan sudah diobati oleh para peri pohon, kembali bergabung. Sekarang mereka menjadi lebih bersemangat saat melihat panji-panji perang sang Putra Mahkota yang sekarang dibawa terbang oleh para peri pohon yang kecil mungil. Panji perang berwarna merah darah, hitam dan keemasan itu diarak hingga ke tengah kota, untuk menyemangati semua pasukan serta penduduk yang ikut melakukan perlawanan.


Dari ketinggian, Angel dan para penjaga kediaman yang selamat, terkejut melihat suar meledak di udara.


“Apa yang terjadi?” tanyanya tak mengerti.


Seorang penjaga memeriksa dengan teropong yang terselip di balik baju. Dia memeriksa keadaan kota di bawah kediaman.


“Aku melihat panji-panji perang sang Putra Mahkota!” serunya senang.


"Berarti sang Putra Mahkota kembali dari perbatasan dan membalas para Orc itu,” yang lain menyimpulkan.


“Apa kau melihat putraku?” tanya Angel penuh harap. Dia sangat mengkhawatirkan putranya yang tidak juga kembali sejak kemarin.


Penjaga itu kembali melihat ke bawah, untuk mencari keberadaan Pangeran Levyn. Kemudian dia menggeleng.


“Lalu bagaimana kau bisa mengenali panji perang sang Putra Mahkota? Tanya seorang pelayan Angel tak puas.


“Panji itu diarak terbang ke seluruh kota. Kurasa, itu dilakukan oleh para peri pohon,” jawab penjaga itu.


“Sudah … tak perlu kita ributkan. Berdoa saja, agar serangan balasan sang Putra Mahkota membawa hasil dan negara kita kembali tenteram.” Angel menengahi perselisihan pelayan dan penjaganya.


Pertarungan di sisi perbatasan negara Peri, sedikit lebih mudah. Karena Para Orc tidak mengantisipasi kedatangan pasukan dari sana. Pasukan Orc yang menjaga tidak terlalu banyak. Dalam satu jam, pos perbatasan itu berhasil dikuasai oleh para Elf. Para Peri datang untuk menjaga, agar prajurit Elf bisa lanjut maju ke tengah kota.


Dua serigala putih yang mengikuti pasukan itu, bertarung dengan ganas. Setiap Orc yang mereka keroyok, tak ada yang bentuknya utuh lagi. Mereka menggigit dan menyabik kulit serta daging Orc, hingga yang menjadi target, menjerit-jerit ngeri. Tapi, tak ada sekerat daging pun yang mereka telan, melainkan dibuang dan dilemparkan ke seluruh area pertarungan. Orc yang mereka serang akan tewas karena kehabisan darah dan daging dalam arti yang sebenarnya.


“Itu benteng istana. Kuasai titik teleportasi istana!” teriak pemimpin pasukan Elf.


“Serbuuuuu!” teriak para prajurit itu bersemangat.

__ADS_1


Sebagian melontarkan panah untuk melumpuhkan prajurit Orc yang melindungi benteng istana area bawah itu. Kemudian parusan yang menggunakan pedang maju menggantikan serangan panah. Mereka adalah prajurit terlatih dan mampu bergerak sangat lincah, melompati tubuh Orc yang mulai bergelimpangan di jalan-jalan kota.


“Lapor Jenderal, mereka datang menyerang.” Seorang prajurit melaporkan situasi setelah berlari dan menerobos masuk ruangan.


Jenderang perang pasukan Orc yang sedang melakukan pembicaraan dengan para pimpinan pasukan di atas istana, terkejut mendapat laporan perlawanan prajurit Elf, tepat di jantung kota.


“Pertahankan benteng bawah istana ini!” Wajahnya memerah menahan amarah.


“Apa kalian tahu siapa yang memimpin serangan?” tanyanya tak senang.


“Panji perang sang Putra Mahkota diarak hingga ke depan benteng!” jawab prajurit itu.


Jenderal itu terkejut dan langsung berdiri dari duduknya. “Pertemuan ini berakhir. Kalian turun dan berjuanglah mempertahankan apa yang sudah kita capai sejauh ini!” perintahnya.


“Siap!”


Para pimpinan pasukan yang hadir segera membubarkan diri dan menuju pintu teleportasi. Mereka harus kembali ke pos masing-masing dan memimpin pasukannya melawan pasukan sang Putra Mahkota.


“Bawakan aku kepala Putra mahkota itu!” teriak jenderal perang Orc dengan kemarahan yang nyata. Dia marah karena telah salah mengantisipasi kedatangan pasukan besar dan ditakuti itu.


Di kediaman Raja Baru, Felix Ockenlishe, tak kalah tegang. Meskipun pintu teleportasi di bawah belum berhasil dikuasai Orc, namun mempertahankannya sungguh tak mudah. Pasukan cadangan sang Raja makin berkurang karena banyak yang gugur.


Pertarungan di tempat itu tidak berhenti sejak malam sebelumnya. Karena para Orc juga terus mendesak untuk menguasai pusat teleportasi lebih cepat, agar bisa menaklukkan sang Raja Baru.


“Yang Mulia, Pasukan Putra Mahkota telah tiba di ibukota. Panji perangnya berkibaran ke seluruh negeri!” lapor penjaga istana.


“Benarkah?” tanyanya tak percaya.


“Begitulah kabar yang dikirimkan dari pasukan penjaga di bawah,” jawab penjaga itu lagi dengan mimik gembira tak ditutupi.


Cahaya di wajah Raja Felix kembali, setelah mendapat kabar bahwa pasukan Putra Mahkota sudah tiba dan melakukan perlawanan di kota dan seluruh negeri.


“Syukurlah! Semoga Dewa membantu langkahnya dan mengembalikan negara ini ke tangan kita.”

__ADS_1


*****


__ADS_2