
Eric hanya tersenyum. Diturunkannya kedua kuda mereka ke permukaan tanah berbatu, sekitar lima puluh meter dari tepi desa suku Beiduin. Rasanya tak cocok menyebut kumpulan beberapa rumah yang saling berjauhan itu sebagai kota.
Tak lama Dimas juga menyusul. “Apakah kalian tinggal di sini?” tanyanya.
“Ya. Kami tinggal di sini,” jawab Hasheem.
“Ayo, kita harus lihat ayahmu,” ajak Dimas.
“Bagaimana dengan yang lainnya?” tanya Hasheem ragu.
“Apakah mereka tidak tahu jalan pulang?” tanya Eric. Dia yang keheranan sekarang.
“Tentau saja tahu. Tapi---”
“Jika mereka tahu jalan, maka semua akan baik-baik saja. Tapi percuma aku membawamu dengan cepat kalau kau menunda melihat ayahmu!” kata Eric lagi.
“Baiklah. Ayo!” Hasheem menggebah kudanya dan melewati batas desa dengan cepat. Dia pergi ke sebuah tenda yang disangga kayu dan ditutupi dengan kulit domba yang saling sambug menyambung.
“Hasheem kembali!” seru seseorang dengan gembira.
Pria itu turun dari kuda, diikuti Eric dan Dimas. Mereka mengikutinya masuk untuk melihat keadaan ayahnya.
“Ayah!”
Hasheem mendekati tempat ayahnya dibaringkan. Pria tua itu tampak lemah. Dimas bergerak cepat. Sebuah stetoskop telah berada di tangannya.
“Katakan apa yang dialaminya!” kata Dimas. Dia tak menyadari bagaimana Hasheem dan beberapa anggota keluarga pria itu terkejut melihat Dimas menyibak sedikit pakaian di dada ayahnya dan menempelkan alat yang sama sekali tidak dia kenal.
“Dia seorang dokter di tempat kami.
“Dokter?” tanya Hasheem tak mengerti.
“Mungkin kalian menyebutnya sebagai tabib di sini. Tapi sedikit berbeda cara pengobatannya.”
“Oh, syukurlah kau menemukan tabib, Hasheem.” Seorang wanita yang lebih tua dari Hasheem mengusap matanya yang basah, dengan selendang di pundaknya.
Hasheen tak berkata apa-apa. Diperhatikannya Dimas yang sedang memeriksa dengan cara yang aneh. Yang membuat itu makin tercengang adalah alat-alat asing yang bisa tiba-tiba keluar begitu saja di telapak tangan pria itu. Entah dari mana, Hasheem tak tahu. Dia akan menanyakan hal itu nanti.
“Katakan padaku, apa yang telah dialaminya!” kali ini suara Dimas terdengar serius.
Eric mendekat. “Apakah kondisinya mengkhawatirkan?”
__ADS_1
“Ya!”
“Ayahku pernah bertarung dulu. Sebelumnya ada tabib yang akan datang ke sini untuk membantunya melewati masa-masa sulit. Tapi sudah sejak lama, sejak kami menerima kabar kalau tabib itu tewas karena membantu menyelamatkan mertuanya yang terbakar di dalam rumah.”
“Itu suami Yasmeen!” komentar Dimas.
“Ah, ya, kurasa istrinya bernama Yasmeen. Tapi, bagaimana kau tahu?” Hasheem keheranan.
“Karena kami dari tempat dia dan menolong ibunya yang terbakar itu. Dari dia juga kami diberi tahu tentang desamu dan dinding---”
Hasheem menghentikan ucapan Eric. Dia menggeleng, meminta Eric tidak membicarakan hal itu. Eric mengangguk mengerti.
“Jadi, apakah ayahku masih bisa diselamatkan?” tanya Hasheem yang melihat Dimas kembali mengeluarkan sesuatu di tangannya. Eric membantu mengangkat tubuh pria tua itu, agar air abadi bisa masuk ke dalam mulutnya. Hanya sedikit air yang berhasil diminunya. Selebihnya mengalir keluar dari sudut bibirnya yang terkatup rapat.
Eric tak punya pilihan lain selain membantu. Tangannya diletakkan di atas ubun-ubun ayah Hasheem. Ditekan merapat agar Hasheem tidak perlu melihat keanehan lainnya yang keluar dari tangan Eric.
Melihat mulut pria itu sedikit terbuka atas usaha Eric, dengan cekatan Dimas memasukkan air abadi ke mulut pria itu.
“Apakah itu air obat? Biar kubantu!” Hasheem bisa melihat kesulitan Dimas yang harus memegang tempat air dan menjaga alat di tangannya tetap berada di dada ayahnya.
Hasheem bisa melihat sinar kuning dan biru samar membias dari balik telapak tangan Eric yang menempel di kepala ayahnya. Dia tak tahu apa itu. Dan memang tak ingin tahu. Melihat kedua orang asing iru bekerja serius, dia tahu bahwa keadaan ayahnya sudah sangat gawat.
Dimas mengangkat wajahnya ke arah Eric. Dia menderita usus buntu yang parah! Yang lainnya butuh pengecekan lain. Dimas meminta persetujuan. Hasheem ikut mengarahkan harapannya pada pria muda itu. Kemudian Eric mengangguk.
“Keluarkan semua keluargamu dari tenda. Tak ada yang bisa melihat apa yang terjadi di sini!” kata Eric tegas.
Hasheem melihat kesungguhan mimik kedua tamu asingnya itu. Dia berbalik dan memberi perintah.
“Laila, keluarkan semua orang dari tenda ini dan tidak boleh ada yang bisa masuk, sampai aku mengijinkan!” perintahnya.
Wanita yang lebih tua tadi terkejut. “Tapi ….”
“Lakukan sekarang!” tegas Hasheem dan membalikkan badan lagi. Artinya, siapapun harus menjalankan perintahnya. Laila pergi dan mengeluarkan semua anak kecil dari tenda. Tempat itu sunyi, kecuali di luar terdengar kasak-kusuk.
Dimas mengeluarkan peralatan operasinya. Jason dan Aila tiba-tiba muncul, mengejutkan Hasheem.
“Hasheem, fokuslah!” Dimas menjentikkan jarinya untuk menarik perhatian Hasheem. Pria itu kembali memperhatikan Dimas.
“Ayahmu sakit di sini. Dugaanku sakit usus buntu. Entah berapa lama hal ini diabaikan, dan akan separah apa akibatnya aku tidak tahu. Sangat ajaib melihatnya masih bisa bertahan sampai sekarang!”
“Ya, perutnya kena kena senjata suku lain saat pertarungan. Sepertinya senjata stumpul, hingga tidak menimbulkan bekas luka. Tapi rasa sakitnya tak bisa disembuhkan!” jelas Hasheem.
__ADS_1
Aila dan Eric sudah berada di posisinya. Jason menyiapkan peralatan operasi buat Dimas. Termasuk obat dan anestesi.
Dimas bergerak cepat. Dia melakukan anestesi lokal dan mnyerahkan pada eric dan Aila untuk membantu meredakan rasa sakit yang lain. Sebuah pisau kecil dan tajam dengan cepat menggores perut ayah Hasheem, Membuatnya mengerang dan menutup mata sejenak.
“Lap!” kata Dimas. Tapi Hasheem tak memberikan kasa putih yang dipegangnya.
“Hasheem!” tegur Dimas. “Kita harus bekerja sama. Ini harus cepat dilakukan, ayahmu sudah tak berdaya!” kata Dimas tegas. HAsheem mengangguk mengerti.
Lap di sini dan setiap kali darah keluar!” pesan Dimas.
“Ya.” Hasheem mengangguk dia harus kuat, agar ayahnya bisa ditolong oleh tabib dari negeri asing ini.
Di luar, sisa rombongan sudah tiba. Beberapa mereka ingin melihat ketua suku, tapi dilarang oleh Laila.
“Apakah kalian sedang melakukan sesuatu?” tanya Robert ke pikiran Eric.
“Ya. Dimas sedang melakukan operasi usus buntu!” Jangan ijinkan siapapun masuk!” perintah Eric.
Robert mengatakan pada Arjun dan Hakon apa yang terjadi. Sekarang mereka dudung di depan tenda, menghalangi siapapun yang mendekat.
“Kenapa kalian duduk di sini?” tanya anggota suku lain.
Menjaga tenda. Bukankah sudah dikatakan bahwa tak ada yang boleh masuk kecuali diijinkan oleh Hasheem!” kata Robert.
Tak ada yang berdebat lagi. Semua anggota suku itu melanjutkan aktifitas mereka setelah perjalanan jauh itu. Laila membawakan tiga cangkir teh untuk Robert, Arjun dan Hakon yang ternyata adalah tamu Hasheem.
Menjelang sore, Hasheem keluar dari tenda. Wajahnya amat sangat pucat. Laila segera mendapatinya. “Bagaimana?” tanya khawatir.
“Biarkan ayah istirahat setelah pengobatannya. Dan siapkan jamuan untuk para tamuku ini. Mereka telah menyelamatkan ayah kita!” katanya.
“Biar kulihat dulu!” Laila bersikeras.
Hasheem menahan tangannya. Tabib di dalam sedang beristirahat dan mengawasi ayah. Kau siapkan makanan. Mereka sangat kelelahan dan kehabisan tenaga!” katanya tegas.
“Baiklah ….” Laila mengangguk patuh. Dia segera pergi untuk menyiapkan makanan yang sebenarnya sudah dia buat sejak tamu-tamu itu datang.
“Apakah Dokter Dimas berhasil mengobati ayahmu?” tanya Robert saat Hasheem ikut duduk di depan tenda bersama tiga tamu asingnya.
“Pengobatan yang mengerikan dan baru pertama kali kulihat,” kata Hasheem.
*****
__ADS_1