The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 42. Kota di Gurun


__ADS_3

Dimas tidak mengelak. Dia membiarkan saja leluhur meletakkan tangan di atas kepalanya. Yang diingatnya adalah bagaimana papanya, almarhum Dokter Chandra dulu suka melakukan hal yang sama. Seperti itulah keluarga.


“Kau memang cucuku. Tapi aku tidak bisa bertoleransi dengan sikap yang seenaknya!” katanya tajam.


“Kami yang masih kurang mendidik anak-anak kami. Tolong maafkan mereka kali ini,” Dokter Dimas mengangguk hormat.


“Huh!” dengus Eric yang masih menyimpan kekesalan.


Meskipun begitu, tak lama tangan di atas kepala DImas ditarik juga. Cahaya biru keemasan itu perlahan meredup. Angin yang memutari tubuh Eric akhirnya berhenti. Dimas mengibaskan tangan agar semua debu yang terangkat, menghilang. Lalu dia memeluk tubuh Eric yang tidak berdaya.


“Beri dia air abadi!” perintahnya.


Robert langsung menyodorkan air yang ada di penyimpanannya pada Dimas. Dokter itu mengangsurkan botol air ke mulut Eric. “Minumlah.”


Dalam keadaan lemah, Eric merasakan air yang segar membasahi tenggorokannya. Perlahan-lahan matanya terbuka. Tampaklah wajah-wajah khawatir Arjun, Robert, Dimas dan dua keponakannya.


Tangan Aila yang sejuk memegang tangannya, mengalirkan kekuatan pemulihan, hingga dia bisa menyadari keadaan dengan cepat.


“Apakah aku mengacau lagi?” tanyanya penuh penyesalan.


“Tidak ….” Robert menggeleng. “… tapi kau harus berusaha keras menjadi lebih kuat, agar jiwa leluhur tidak terus-terusan menguasaimu dan menakuti semua orang!”


“Aku akan berusaha lebih keras,” angguknya.


Mata Eric melihat anggota tim lain berada di kejauhan. Dia sedih, tak bisa membayangkan bagaimana takutnya semua orang, hingga harus menjauh ketika jiwa leluhur menguasainya.


“Aku akan menaklukkannya!” katanya dengan tekad yang kuat.


“Bagus! Aku suka semangat dan tekadmu!” Robert menepuk pundak Eric.


“Kalian sudah bisa kembali ke sini!” Robert memanggil Hakon dan anggota tim lain untuk bergabung lagi.


Icye dan Gerald mendekat dengan takut-takut. “Maafkan aku,” kata Icye.


“Aku juga minta maaf, sudah menyebabkan hal ini,” ujar Gerald penuh sesal.

__ADS_1


“Hei … aku ini Eric. Jangan bersikap seperti itu. Bukankah kita biasa bermain bersama.” Eric tersenyum lebar untuk menenangkan dua temannya itu.


“Mari kita lanjutkan perjalanan ini.” Eric menatap Arjun, Robert dan Kakek Kang. Meminta pertimbangan mereka berdua.


“Saat aku menemani mereka ke sana, Feelingku mengatakan bahwa di sebelah sana ada kota,” ujar Kakek Kang.


“Karena kita sama sekali buta daerah ini, bagaimana kalau kita coba berjalan ke sana? Jika memang ada kota, bukankah kita bisa bertanya pada orang-orang?” saran Eric.


“Baiklah. Kita memang tak punya pilihan. Tidak baik juga jika terus berdebat di tempat panas seperti ini.” Arjun mendukung Eric.


“Baik, aku juga setuju. Bagaimana dengan kalian?” Dimas bertanya pada Hakon dan teman-temannya.


“Kami mengikuti saja rencana atasan,” jawab Hakon cepat. Anggota suku Cahaya mengangguk cepat tanda sependapat dengan Hakon.


“Ayo kita ke sana. “Tapi jangan terbang terlalu tinggi. Jika bertemu dengan orang lain, cobalah berjalan di atas pasir, atau melayang sedekat mungkin dengan permukaan,” saran Robert.


“Baik!: sahut yang lainnya cepat.


Anggota tim itu terbang ke arah yang disebutkan oleh Kakek Kang. Mereka tidak berani terbang terlalu tinggi, yang mungkin bisa menarik perhatian orang di kejauhan.


“Kakek Kang sangat hebat. BIsa meramalkan tempat ini!” ujar Jason.


“Aku bukan meramal. Aku mencium bau air di udara kering, dari arah sini. Itu sebabnya aku menduga ada kota,” jawab Kakek Kang rendah hati.


“Tunggu!” ujar Eric.


“Ada apa?” tanya Dimas yang berdiri di sebelahnya.


“Anggota tim kita sangat banyak. Tidakkah nanti mereka curiga, atau mungkin akan mengusir kita, takut jatah air mereka berkurang banyak?” kata Eric.


“Kau benar.” Arjun mengangguk. Tapi aku tidak melihatnya dari hal itu. Aku hanya takut Kakek Kang dan Gerald mengalami kesulitan jika masuk dalam bentuk seperti ini.”


Kakek Kang dan Gerald langsung berubah wujud menjadi manusia. Hanya saja, dengan begitu, maka mereka tidak punya kekuatan ataupun kemampuan terbang.


“Sebagian yang lain harus mau disimpan dalam kalung penyimpanan,” tambah Robert.

__ADS_1


Hakon kembali bergerak cepat menyembunyikan teman-temannya, hingga tinggal dirinya sendiri yang akan menemani Arjun, Robert, Dimas, dan Eric pergi ke kota di tengah gurun itu.


“Mari kita lanjutkan perjalanan!” Eric memimpin tim kecil mereka. Dengan mengenakan penutup kepala seperti halnya orang-orang yang mereka lihat saat lewat sebelumnya, mereka kembali berjalan kaki. Benar-benar berjalan kaki menuju gerbang kota.


“Berhenti!” penjaga gerbang memberhentikan Eric dan teman-temannya.


“Kalian dari kafilah mana?” tanyanya. Tangannya siap mencatat di kertas.


Eric kebingungan. Dia menoleh pada Dimas.


“Kami tersesat. Kami datang dari jauh. Tidak tahu jalan ke mana pun. Apakah nama kota ini?” tanya Dimas segera.


Penjaga itu tak percaya begitu saja dengan keterangan Dimas. Kemudian dia memeriksa satu persatu anggota tim itu. Dia bisa melihat mata Robert yang cokelat dan mata Eric yang kebiruan. Mereka berdua memang tampak asing.


“Siapa pemimpinnya?” tanya penjaga lagi.


Semua anggota tim menunjuk Eric. Penjaga itu terheran-heran. Bagaimana bisa seorang anak muda yang tidak tahu apa-apa bisa menjadi pemimpin dari orang-orang tua di depannya.


“Nama!” tanyanya.


“Eric!” sahut Eric.


“Silakan masuk. Tapi jika kalian berbuat onar, akan segera masuk dalam penjara!” penjaga itu memperingatkan.


“Terima kasih!” Tim itu berjalan melintasi pintu masuk. Mereka tercengang-cengang melihat kota kecil tang tampak luar biasa di dalam tembok kota.


“Sudah puluhan tahun perintah untuk mencari nama orang-orang ini. Tapi tidak juga kita temukan.” Penjaga itu mengeluh sambil melihat catatannya.


“Menurutku, mungkin teman-teman Nyonya Silvia itu sudah tewas di gurun yang ganas!” jawab temannya.


“Apa kau berani mengatakan hal itu padanya?” tantang temannya.


Penjaga yang satu lagi hanya menggeleng lesu.


******

__ADS_1


__ADS_2