The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
14. Pengangkatan Raja Felix


__ADS_3

"Istana Jatuh! Paman Kuangkat menjadi Raja sementara Kerajaan Elf!"


Tangan dan tubuh Pangeran Felix gemetar hebat. Tubuhnya terhuyung dan membentur dinding tembok.


"Istana jatuh hanya dengan sekali serangan?" gumamnya tak percaya. Pengawalnya ikut prihatin. Namun tak bisa berbuat banyak.


"Kumpulkan semua kepala pengawal kediaman ini!" perintahnya setelah memahami situasi genting negara itu. Pengawal berlari dan menghilang dengan cepat.


Pangeran Felix melihat ke teras, dimana istrinya berada. Dia tak bisa menemani wanita itu di sana. "Jaga nyonya!" perintahnya pada pengawal dan pelayan setia istrinya.


"Baik!" Keduanya menjawab serempak. Tak ada yang bertanya. Semua mengetahui bahwa negara mereka sedang genting. Dan kegentingan makin bertambah setelah tuan mereka menerima surat dari istana.


Felix bergegas turun ke ruang pertemuan besar di lantai bawah. Langkahnya panjang-panjang. Kalau sudah seperti itu, tidak tampak lagi jika dia sangat tua.


Hanya dalam tujuh menit, semua kepala pengawal kediaman itu telah berkumpul. Mereka sudah mendapat kabar tentang istana yang jatuh dan diangkatnya Pangeran Felix sebagai Raja sementara.


Pangeran Felix Ockhenlich menatap tujuh kepala pengawal yang menjaga kediamannya. Pria tua itu terdiam cukup lama. Setelah menghembuskan napas panjang, dia berdehem.


"Apakah kalian suah mendengar kabar dari istana?" tanya Felix.


"Berita jatuhnya istana dan pengangkatan Anda sebagai Raja!" jawab salah seorang.


Pangeran Felix mengangguk. "Sekarang kalian harusnya tahu apa yang mesti dilakukan, bukan?" tanya Felix.


Sebuah ketukan di pintu menghentikan diskusi di ruangan. Felix menunggu siapa yang ingin masuk. Pintu dibuka dan seseorang diantar penjaga masuk. Dia adalah bagian administrasi di kediaman itu. Datang dengan buku besar untuk mencatat peristiwa penting.


Pria berkaca mata itu duduk di samping kiri sang pangeran tua. Membuka buku besarnya yang mencatat sejarah penting negara dari waktu ke waktu. Tangannya memegang pena bulu dan siap untuk menyalin pesan yang dikirimkan oleh istana.


Felix menyerahkan kertas bergulung di tangannya, untuk dicatat secara resmi. Pria tua itu mencatas dengan tenang dan teliti. Semua diam menunggu.


Kemudian pena diletakkan dan dia berdiri. Pangeran Felix juga berdiri, diikuti para kepala pengawal yang hadir.


Pria itu memegang bukunya dan membacakan pengangkatan Pangeran Felix menjadi raja sementara, seperti yang diinginkan oleh keponakannya yang menjadi raja sebelumnya.


Para kepala pengawal itu berlutut dan bersumpah setia pada raja yang baru. Pria tua yang mencatat dan mengangkat Raja baru itu, merogoh kantong jubah panjangnya. Mengeluarkan sebuah kotak hitam yang selama ini menjadi tanggung jawabnya.


Kotak itu diletakkan di meja, kemudian dibuka di depan semua orang.

__ADS_1


"Kuserahkan duplikat stempel kerajaan pada raja yang baru. Dan kita harus segera mendapatkan stempel aslinya dalam waktu singkat!" ujarnya.


Felix mengangguk. Stempel berbentuk cincin berukir khas itu, langsung dipasangnya di jari.


"Kibarkan bendera kerajaan di menara!" perintahnya segera. Itu akan jadi pertanda bahwa Raja kerajaan itu berada di kediaman itu. Hal itu untuk mengantisipasi klaim dari bangsa manapun yang ingin menguasai keajaan tersebut. Selama masih ada Raja, maka artinya negara mereka masih ada!


Seorang kepala pengawal keluar untuk melaksanakan perintah.


"Kirikan pesan pada semua bangsawan tentang berita ini!" perintah Raja Felix pada pria tua yang barusan mengangkatnya menjadi raja.


"Baik, Yang Mulia," jawabnya. Dengan cepat beberapa pesan diulisnya di tempat itu.


Sementara itu, Raja Felix memberi instruksi untuk membuat penjagaan super ketat di kediamannya. Para pengawal itu harus memastikan bahwa semua jalur teleportasi telah terputus, agar tidak ada satupun musuh yang lolos ke atas.


"Pesan siap dikirim, Yang Mulia!" ujr pria itu menunjukkan semua lembaran pesan serupa yang akan digulung dan dikirimkan dengan burung ke setiap kediaman bangsawan.


"Kirimkan juga ke negara tetangga dan putriku di Negeri Para Peri!" perintahnya.


"Baik!" Pria itu kembali membuat catatan lain untuk negara tetangga.


Raja Felix menganggukkan kepala mengijinkan. Mereka kembali membahas situasi terkini di kerajaan.


"Menurut kami, semua yang terjadi ini sudah direncanakan oleh raja Orc. Tidak mungkin Putri Cristal diculik tanpa rencana. Mereka bisa menduga, bahwa Pangeran Glenn akan pergi mencari putrinya jika hilang. Itu akan membuat Yang Mulia Putra Mahkota harus menghadapi musuh sendirian di utara!"


Seorang kepala pengawal mengatakan apa yang telah mereka diskusikan sebelumnya. Raja Felix mengangguk mengerti.


"Lanjutkan!" perintahnya.


"Raja Orc itu pasti sudah menduga bahwa untuk pengawalan Pangeran Glenn, Raja akan mengirim pasukan besar pergi bersamanya." Kepala pengawal itu menjeda kalimatnya.


Pengawal lain melanjutkan. "Maka artinya, jumlah prajurit yang tersedia di ibukota berkurang banyak! Dan mereka harus bisa menaklukkan istana dalam semalam, sebelum pasukan Pangeran Glenn Ataupun Putra Mahkota kembali dan mengepung mereka!"


"Kirimkan kabar pada Glenn dan Putra mahkota tentang hal ini!" perintah Raja Felix.


"Baik, akan saya lakukan!" seorang pengawal berdiri dan keluar.


Raja Felix menatap kepala pengawal yang tersisa. "Menurut kalian, apa tujuan akhir Raja Orc melakukan semua ini?"

__ADS_1


"Kerajaan Penyihir sudah lebih dulu mereka kuasai. Tadinya saya pikir, itu satu kebetulan belaka, karena mereka memang berbatasan langsung. Namun, sekarang saya meragukan kesimpulan itu." Seorang pengawal mengatakan isi pikirannya.


"Betul!" sambar yang lain.


Raja Felix mengalihkan pandangannya pada yang barusan bicara. "Katakan!"


"Raja Orc pasti sudah mempelajari hubungan kekerabatan antara Elf dan Para Penyihir. Sangat dekat, mengingat Nyonya, eh, Permaisuri adalah keturunan Raja Bangsa Penyihir. Mereka menduga dengan menekan Bangsa Penyihir, kita akan langsung bereaksi dan membantu."


"Sayangnya, berita jatuhnya kerajaan itu, baru kita terima saat Sang Putri sudah berangkat. Jadi mereka merubah rencana. Menculik Putri Cristal, untuk mempercepat tercapainya tujuan." Pengawal lain menyambung.


"Analisa kalian sangat dalam. Aku akan memikirkan cara untuk mengusir para Orc itu angkat kaki dari sini, secepatnya!" ujar Raja Felix.


"Pertemuan ini selesai. Lindungi istana ini sekuat tenaga!" perintahnya.


Para pengawal itu kembali ke pos dan meneruskan informasi baru itu pada bawahan masing-masing.


Di teras atas istana baru itu, Nyonya kediaman berusaha bertahan dan terus mengirimkan mantera perlindungan ke kediaman Pangeran Glenn. Tubuhnya yang makin menua, membuatnya lelah lebih cepat.


Raja Felix naik kembali ke kamarnya dan mendapati istrinya masih berdiri teguh di teras. Dia menghampiri dengan khawatir. "Jangan memaksakan dirimu," bisiknya lembut.


Istrinya tak mengacuhkan. Wanita itu sedang mengumpulkan awan pekat di atas kediaman Glenn agar hujan dapat turun dan mematikan api yang membakar habis kediaman putranya.


*


*


Di tempat lain, di sebuah tempat persembunyian, seorang pria muda melihat dengan sedih asap yang membumbung dari kediaman Pangeran Glenn.


"Harusnya aku mendengar saranmu untuk langsung pulang!" sesalnya sedih. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Post teleport dikuasai para Orc.


"Bagaimana keadaan ibu?" lirihnya cemas. Pengawalnya tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia sudah memeriksa ke seluruh kota, saat Pangeran Levyn pingsan dan diikatnya di dahan pohon di perbatasan negara itu dengan Hutan Sihir.


"Seluruh kota sudah dikuasai para Orc. Bahkan bendera di post teleport istana sudah mereka ganti!" cerita pengawal itu.


"Apakah itu artinya negara ini sudah jatuh?" tanya Levyn takut.


**********

__ADS_1


__ADS_2