
Buah kecapi buah mangga
Kalau diberi like dan komentar, author sukaaa
Buah pir makanan raja
Hari Senin, saatnya Vote ya kaka
*******
“Dokter tidak memeriksa dengan cara ini,” kata Silvia.
“Itu karena aku tak bisa menggunakan stetoskop padamu, jika bersembunyi seperti ini,” jelas Dimas.
“Beruntung aku juga belajar cara pemeriksaan seperti in dari seorang tabib terkenal. Aku jadi bisa menggunakan ilmu itu sebagai alternatif pemeriksaan seperti saat ini.
“Kau sangat pandai bersilat lidah. Jadi sekarang katakan, apakah kau bisa menyembuhkan penyakitku?” tanya Silvia ketus.
“Penyakitmu banyak dan kau biarkan berlarut-larut. Kita harus mengobatinya satu persatu. Untuk langkah pertama, aku berikan air berkhasiat ini padamu. Ini bukan hal besar juga sebenarnya. Hanya sekedar pereda haus dan sakit tenggorokan, karena kudengar suaramu serak. Jika kelamaan tidak diobati, nanti malah lebih parah!”
Dimas menyodorkan sebotol air abadi ke balik tirai di depannya. Silvia mengambil dan mengamati botol di tangannya.
“Aku ingin kau minum air itu sekarang. Agar aku bisa melihat hasilnya beberapa menit ke depan!” perintah Dokter Dimas.
“Kau lebih mirip tukang obat di pasar-pasar!” ketus Silvia.
“Air itu sudah terbukti ampuh meredakan haus dan suara serak!” kata Dimas serius.
Silvia tertawa. “Semua air memang untuk meredakan haus," katanya.
"Baiklah, akan kuminum!” Silvia membuka botol dan meneguk isinya. Rasa segar meluncur di tenggorokannya, meninggalkan rasa nyaman di dalam mulut.
***
Di luar, Robert berbicara serius dengan dua tabib wanita itu. “Kita harus bicara. Hanya dengan kejujuran, kami bisa menyelamatkan ibumu!”
“Tak ada yang perlu dikatakan!” tolak dua tabib itu.
“Artinya, kalian tidak ingin Silvia sembuh!” tuduh Robert. Kepalanya mendekat ke wajah salah satunya dengan ekspresi menyelidik. “Apakah kalian bukan putri kandungnya?”
“Aku putri kandung ibu!” salah seorang menunjuk dirinya dengan cepat.
Robert melihat pada wanita yang lebih tua. “Kau pasti bukan putri Silvia!” katanya langsung.
“Jangan membuat perselisihan di antara kami!” bentak wanita yang lebih tua itu.
“Kulihat, kau juga yang lebih sering menolak ide-ideku!” Robert terus menekan tabib itu.
__ADS_1
“Itu karena kakak yang paling sering kena marah jika memaksa untuk memeriksa ibu!” wanita yang lebih muda membela kakaknya.
“Boleh kutau nama kalian? Dengan begitu, lebih mudah bagi kita bicara,” kata Robert.
“Aku Yasmeen*), dan ini adikku Ameera,” jawab tabib wanita yang lebih tua.
“Baik, kalian sudah tahu bahwa namaku Robert. Tapi sebenarnya aku bukan ketua tim ini. Ketua tim kami ada bersama rombongan kami tadi,” jelas Robert.
“Di mana mereka?” tanyanya setelah tidak melihat Eric, Hakon dan Arjun.
“Mungkin ada di ruang penerimaan tamu. Ayo,” Ameera mengajak Robert pergi. Sementara Yasmeen tetap menunggu Dimas di depan pintu ruangan Silvia.
Benar saja, dari balik sebuah pintu yang terbuka, terdengan suara bincang-bincang Eric dengan Arjun dan Hakon. Mereka terdengar sangat santai.
“Paman Robert!” Eric menyapa saat melihat Robert masuk ruangan.
“Aku rasa ada yang harus kita diskusikan,” ujar Robert sembari ikut duduk.
“Apakah tentang orang yang mencari Paman?” tanya Eric. Dia mulai serius.
“Ya. Dia memang salah seorang dalam timku dulu. Silvia!” jelas Robert.
“Oh, jadi yang dikatakan ayah bahwa Paman Leon bertemu salah seorang dari kalian, namun enggan ikut pergi bersamanya. Apakah dia?” tanya Eric.
“Ya, itu dia. Namanya Silvia,” tegas Robert.
“Ada apa? Apakah terjadi sesuatu padanya?” tanya Eric serius.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya selama bertahun-tahun ini. TApi dia sakit parah sekarang. Dimas mencoba memeriksa, apakah bisa merawatnya atau tidak,” lapor Robert.
“Kita tak bisa berlama-lama di sini ….” Eric berpikir keras setelah menoleh pada Arjun dan Hakon yang angkat tangan, tanda tak ingin ikut campur dalam pembuatan keputusan.
“Kenapa kalian angkat tangan? Bukankah seharusnya kita berdiskusi untuk membuat keputusan?” sungut Eric sebal.
“Diskusi itu jika kita semua berkumpul, termasuk dua orang Elf itu!” Arjun beralasan.
“Jika kita keluarkan yang lainnya, bukankah akan mengejutkan seisi kota kecil ini!” Suara Eric menggema di pikiran Arjun. Terdengar sangat kesal. Arjun hanya tersenyum.
“Mari dengarkan apa ceritanya dulu. Baru kita pikirkan jalan terbaik. Lagi pula, Dokter Dimas belum selesai memeriksa. Mungkin saja tangan ajaibnya mampu menyelesaikan penyakit puluhan tahun itu!” putus Eric.
Robert menoleh pada Ameera. “Anda dengar sendiri. Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Ada hal lain yang harus segera kami kerjakan. Itu menyangkut ribuan nyawa!” jelas Robert.
Ameera terkejut mendengar bagaimana seriusnya urusan tamu jauhnya itu. “Apa yang bisa kubantu?” tanyanya.
“Dia siapa?” tanya Eric keheranan.
“Ini putri Silvia, namanya Ameera,” Robert memperkenalkan.
__ADS_1
“Oh, baiklah. Nona Ameera, Bagaimana kalau Anda ceritakan apa yang sebenarnya telah dialami oleh ibumu. Agar kami punya alasan yang cukup kuat untuk tinggal sedikit lebih lama dan membantunya!” tegas Eric.
Hakon sampai melihat dengan kagum pada Eric yang biasanya hanya bercanda dan bermain saja. Arjun mengetuk dahi Hakon pelan. “Kau terpesona padanya? Itulah aura seorang pemimpin, yang ingin kita asah dan keluarkan dari dirinya!” bisik Arjun. Hakon hanya mengangguk.
“Saya harus tanya pendapat Kak Yasmeen tentang ini,” elak Ameera.
“Siapakah Yasmeen bagi ibumu?” tanya Robert. Dia tak terlalu senang pada wanita itu, karena sangat sulit untuk bekerja sama.
“Jangan salah menyangka. Dia sangat menyayangi ibu, seperti ibu sangat menyayanginya. Tanpa pengorbanannya, aku dan ibu mungkin sudah terlantar di gurun!” Ameera menunduk sedih.
Orang di ruangan itu saling pandang. Tapi Eric cepat memperbaiki suasana. “Tidak apa. Kita tunggu Dokter Dimas kembali dan bawa kakakmu Yasmeen. Hanya dengan jujur, baru kami bisa membantu!” tegas Eric.
Ameera mengangguk. Dengan segera dia meminta para pelayan kediaman itu melayani tamu-tamunya sementara menunggu pemeriksaan Dimas selesai.
Satu jam kemudian, Dimas selesai dengan pemeriksaannya. Dia diantarkan Yasmeen ke tempat teman-temannya berkumpul. Ameera membisikkan apa yang dikatakan Eric padanya.
“Baik, sekarang semua yang berkepentingan sudah berkumpul. Kuharap Dokter Dimas bisa mengatakan pada kami, tentang keadaan pasiennya.
“Aku sudah berjanji merahasiakan apapun yang kulihat,” kata Dimas.
“Tak perlu mengatakan detailnya. Tapi aku perlu masukan, sebelum membuat keputusan. Apakah akan membiarkanmu mengobatinya, atau kita tinggalkan dan pergi mencari negara Elf. Dibanding satu pasien yang sangat rahasia, aku akan lebih mementingkan rencana perjalanan ini. Ada banyak nyawa yang dipertaruhkan jika kita salah membuat keputusan!” tegas Eric.
Dimas terdiam. Dia merasa sangat kesulitan. Robert bisa melihat hal itu. Maka hanya ada satu orang yang bisa mengungkapkan hal ini. Matanya menatap tajam pada Yasmeen.
“Yasmeen, sebaiknya Kau katakan apa yang terjadi sebenarnya. Keteranganmu penting untuk mencari cara pengobatan yang tepat oleh Dokter Dimas. Penting juuga bagi ketua tim kami dalam membuat keputusan!” Robert mendesak.
Eric akhirnya menoleh pada tabib wanita yang seorang lagi. “Dia siapa?” tanyanya.
“Kak Yasmeen adalah kakak tiriku!” Ameera yang menjawab.
“Oke! Sekarang, kau harus ceritakan yang terjadi!” perintah Eric.
“Atau, kami akan melanjutkan perjalanan besok pagi!” ancamnya.
“Bukankah katamu dokter ini bisa menyembuhkan ibuku?” Mata Yasmeen menatap nyalang pada Robert, penuh tuduhan sebagai pria yang tak bisa dipegang kata-katanya.
“Aku bisa menyembuhkannya!” Dimas menjawab cepat. “Tapi itu butuh waktu.”
“Kau dengar itu? Dimas bisa menyembuhkan ibumu. Dia mampu! Tapi tak bisa melanggar aturan bahwa rencana perjalanan harus diputuskan oleh pemimpin tim!” Robert menunjuk Eric.
Yasmeen melihat penuh permusuhan pada Eric dan makin jengkel melihat pria yang seusia Ameer itu menggeleng.
“Kau ingin menyembuhkan ibumu, tapi tak ingin mengatakan apapun tentang apa yang terjadi?" Eric tertawa mengejek.
"Nona, kami tidak meminta bayaran untuk pengobatan ini, karena ibumu teman Paman Robert. Bagian dari kelompok kami. Teman seperjalanan ayah dan ibu kami semua. Tapi Anda terlihat sangat tidak bisa bekerja sama! Aku rasa, Kau tidak benar-benar menyayanginya!” kecam Eric pedas.
*****
__ADS_1
Keterangan: *) Nama Yasmeen bisa ditemukan dalam kisah Mustafa di novel PARA PENYINTAS.