
Robert mengangguk. “Seperti kataku sebelumnya. Dia adalah orang terkuat di negeri kami. Tak ada yang bisa menandinginya!”
“Tidakkah menurutmu itu kemampuan yang sangat luar biasa? Dia bisa menciptakan banyak hal! Sungguh di luar nalar!” Raja merasa insecure terhadap Eric.
“Kami menyebutnya kekuatan memperbaiki alam!. Dulu Dokter Chandra juga memiliki kemampuan itu. Dan sekarang diturunkan pada Dimas, putranya. Tapi Eric membawa kemampuan itu melebihi pemikiran. Dia melakukannya sepuluh … atau mungkin dua puluh kali lebih cepat dari pada yang pernah dilakukan Dokter Chandra!” jelas Robert.
Raja Felix terpana mendengar kehebatan kemampuan Bangsa Cahaya. Bangsa Elf tidak punya kelebihan yang sangat menonjol seperti itu. Tentu, kecuali kecantikan dan ketampanan yang mengalir dalam darah mereka.
Eric datang mendekati Raja dan Robert. “Kurasa, tempat ini sudah cukup layak untuk dijadikan tempat pengungsian rakyat. Bagaimana menurut Anda, Yang Mulia?” tanyanya.
“Ini … ini surga bagi mereka!” Raja Felix tak bisa berkata-kata lagi.
“Baik, kalau begitu, sebaiknya kita keluarkan rakyat Anda,” ujarnya. Tangan Eic dan Robert mengibas. Kemudian keluarlah orang-orang yang telah mereka kumpulkan kemarin.
“Di mana ini?”
Suara-suara bingung terdengar. Kemudian mereka melihat Eric dan Robert sebagai orang terakhir yang mereka lihat, sebelum tiba-tiba berada di tempat asing yang tidak mereka ketahui.
“Kau! Kurasa kaulah yang melakukan ini pada kami!” mereka tampak marah dan maju bersama-sama.
“Apa kalian tidak melihat Raja Felix di sini?” tegur Robert dingin. Matanya menatap semua orang dengan tajam.
Orang-orang itu langsung terdiam. Mereka melihat seorang pria tua tampan dan berpakaian bangsawan berdiri di sebelah Robert. Mereka langsung membungkuk.
"Yang Mulia Raja."
“Aku yang meminta bantuan mereka untuk menyelamatkan kalian,” kata Raja Felix.
“Yang Mulia …!” Orang-orang itu langsung berjongkok di hadapan rajanya. Kemarahan pada Robert tadi, langsung lenyap.
“Sejak kemarin kami mencari tempat yang bagus untuk mengungsikan kalian dari kota. Tujuannya agar kalian tidak lagi mengalami kesulitan,” tambah Raja Felix lagi.
“Maafkan ketidak tahuan kami, Yang Mulia Raja,” kata mereka semakin merunduk dalam penuh penyesalan.
“Lihatlah tempat ini. Apakah kalian senang tinggal di sini?” Raja Felix menunjukkan lembah luas yang dipenuhi ladang gandum untuk sumber makanan mereka.
“Apakah ini mimpi? Masih adakah tanah negeri Elf yang tidak dikuasai Orc?” kata mereka tak percaya.
“Kita berada di pulau terapung,” jelas Eric.
Mereka menoleh pada anak muda yang semula mereka benci. “Benarkah?” Wajah-wajah itu tersenyum. Raja, Robert dan Eric puas melihat para rakyat itu merasa senang.
“Kalian bisa tinggal di sini. Hanya saja, kami tidak punya waktu untuk membangun rumah. Bisakah kalian mendirikan pondok-pondok sementara? Ada banyak kayu yang sudah kami siapkan di sana!” tunjuk Eric ke tepi hutan.
“Kami bisa melakukannya!” jawab mereka bersemangat.
“Bagus kalau begitu. Bangunlah pondok-pondok yang bisa menampung cukup banyak orang. Sebab kami akan menyelamatkan yang lain lagi dan memindahkan ke sini.” Robert menimpali.
“Akan kami lakukan!” jawab orang-orang itu serempak.
“Bagilah tim yang akan mengumpulkan bahan makanan, dan yang akan membangun pondok-pondok,” pesan Raja Felix.
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia,” jawab mereka patuh.
“Yang Mulia, ada beberapa orang sakit bersama saya. Saya butuh herba untuk mengobati mereka,” kata pemilik toko herba.
“Carilah lebih dulu herba yang ada di sini. Nanti kami akan kirimkan tabib untuk membantu di sini,” janji Raja Felix.
“Terima Kasih, Yang Mulia!” para rakyat itu kembali membungkukkan badan di hadapan rajanya.
“Kami harus kembali ke istana. Jangan lupakan satu hal. Tempat ini adalah pulau terapung. Jangan pergi ke tepian, nanti jatuh!” pesan Raja Felix.
“Akan kami ingat, Yang Mulia.”
Raja Felix dan Eric serta Robert sudah bersiap untuk kembali. Tapi sang raja masih ingin menyampaikan sesuatu. “Untuk sementara, tak ada jalur teleportasi di sini. Agar Orc tidak bisa mengganggu,” kata raja.
“Oh ….” Para rakyat itu sedikit bingung dengan penjelasan itu. Jika tak ada teleportasi, bagaimana tiga orang itu sampai di tempat ini?
“Kami pergi!” Eric menyembunyikan sang raja. Lalu bersama Robert, melesat secepat kilat ke pulau terapung, istana Raja Felix.
Orang-orang itu terkejut. “Apa kalian lihat yang tadi itu?
“Ya, Sang Raja tiba-tiba hilang dan mereka juga langsung hilang di depan mata kita!” timpal yang lain.
“Dua orang asing itu meninggalkan cahaya merah dan biru di tempatnya berdiri, sebelum hilang!” kata yang lain.
“Mereka orang-orang yang aneh. Dari manakah Sang Raja menemukan teman seperti itu?” tanya salah seorang dari mereka.
“Apa kau lupa kalau Raja Felix adalah pangeran yang sangat suka mengembara ke negeri asing? Dia pasti punya banyak teman. Dan dia telah meminta bantuan pada teman-temannya!” jelas yang lain.
“Dia benar. Aku dulu pernah berkhayal juga bisa berkelana ke negeri-negeri asing seperti Pangeran Felix muda. Dia sangat taman dan terkenal dengan cerita perjalanan dan bahasa-bahasa ajaib yang dibawanya!” ornag-ornag itu saling mengangguk dan percaya.
***
Di istana, raja beristirahat sejenak, setelah kegiatan panjangnya di pulau terapung. Begitu pula Eric dan Robert. Di tempat Pangeran Mahkota, Arjun dan Hakon melakukan hal yang sama pada penduduk sekitar, atas perintah Pangeran Mahkota.
Sore hari, Pintu teleportasi bersinar terang. Gerald dan Fire menjaga di depan pintu. Berjaga jika ada orang tak dikenal datang.
Tak lama muncul Dean, dan Sofie. Keduanya merasa lega, karena yang datang adalah Pemimpin Bangsa cahaya.
Mata Dean segera tertumbuk pada putranya dan Robert yang tertidur di atas lempengan batu hitam yang dibawa Eric bersamanya. “Kenapa mereka?” tanyanya.
“Robert dan Eric baru kembali dari mengantar Raja Felix mencari tempat pengungsian bagi rakyat Elf. Menurut Robert, Eric mungin menguras sedikit tenaganya agar semua bisa segera selesai dan bisa digunakan.” Fire menjelaskan.
“Kalau begitu, biarkan mereka istirahat, dan kita juga lebih baik menunggu. Mungkin Raja Felix juga sedang beristirahat di kamarnya.” Dean memutuskan.
Fire dan Gerald mengangguk mengerti. Mereka biarkan Dean mencari temat istirahat sendiri bersama Dean dan Robert yang sedang tidur pulas.
Sofie duduk di depan gudang bahan makanan dan melihat area belakang istana yang sepi.
“Aku tak melihat Jason,” katanya.
“Dia membantu tabib istana sejak pagi. Kurasa dia juga mungkin tertidur di sana, karena bekerja mencari tanaman obat semalaman.” Gerald duduk di sebelah Sofie.
__ADS_1
“Langit sore di sini sangat indah dan anginnya lumayan kencang,” katanya sambil merapikan rambut panjangnya yang berkibar-kibar ditiup angin.
Gerald tak menanggapi. Pikirannya sepertinya pergi ke tempat lain. “Aku merindukan dunia kita yang hijau di mana-mana,” katanya.
“Semoga urusan di sini bisa cepat selesai,” timpal Sofie. Gerald mengangguk setuju.
“Kau mau?” Sofie menawarkan apel segar pada Gerald.
Pria itu dengan cepat menyambutnya. “Kami sudah kehabisan bahan makanan di sini,” katanya jujur, lalu memakan apel itu dengan lahap.
Kepala Pelayan Istana datang mendekat pada kedua orang itu. Yang Mulia Raja, mengundnag kalian semua datang ke ruang makan, untuk makan malam,” ujarnya.
“Oh? Baiklah. Akan saya bangunkan yang lainnya,” kata Sofie.
Gadis itu masuk dan menyampaikan pada Dean yang ikut memejamkan mata di sebelah Eric. “Paman Dean, Raja mengundang untuk ikut makan malam,” lapor Sofie.
Dean membuka matanya dan melihat ke arah Eric serta Robert.
“Biarkan mereka istirahat!” pesannya setelah berdiri.
“Baik!” sahut fire.
“Ini makan malam untuk kalian!” Dean mengeluarkan makanan yang dibawanya dari dunia mereka.
“Terima kasih, Pemimpin,” ujar fire senang.
“Jason, apakah Kau sudah makan? Pemimpin Dean membawakan makanan. Datanglah ke gudang sini dan makan bersama kami!” panggil Fire.
“Benarkah? Ayu akan ke sana. Jangan habiskan makananku!” pesan Jason.
Sofie mengantar Dean ke ruang makan, mengikuti langkah kepala pelayan istana. Langit di luar sudah mulai gelap, tapi istana itu terang benderang.
Sampai di sana, meja makan panjang itu sudah terisi oleh beberapa orang. Namun, sang raja belum tiba. Orang-orang itu melihat Dean dengan beribu pertanyaan. Karena mereka belum pernah melihat pria tampan itu sebelumnya.
“Yang Mulia Raja, tibaaa …!” seru penjaga, memberi tahu orang-orang yang diundang makan. Semua berdiri dari duduk, termasuk Dean dan Sofie.
Mereka membungkuk hormat pada orang-orang yang masuk ke ruangan. “Duduklah,” ujarnya.
Raja, Ratu dan Angel ikut duduk. Pandangan ketiganya jelas mengarah pada Sofie dan Dean yang terus tersenyum melihat Angel masuk.
“Dean?” tanya Angel ragu.
“Apa kabar Angel?” tanya Dean ramah.
“Oh, ya Tuhan …. Kau tak berubah sama sekali!” Angel sangat gembira bertemu Dean lagi. Lalu dia menoleh pada Raja Felix.
“Ayah mertua, ini adalah Dean. Teman seperjalananku yang terpisah di hutan salju.” Angel memperkenalkan Dean pada Raja Felix.
Dean berdiri dan membungkuk hormat. “Salam hormat, Yang Mulia,” sapa Dean.
Raja Felix sangat berhati-hati untuk menjawab salam Dean. Dia ingat gadis di sebelah Dean adalah yang pergi untuk menyampaikan pesan pada Pemimpin Bangsa Cahaya. Matanya mengarahkan pertanyaan pada Sofie.
__ADS_1
Akhirnya Sofie ikut berdiri dan memperkenalkan Dean. “Yang Mulia, saya perkenalkan, ini Dean Pemimpin Bangsa Cahaya.”
*****