The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
30. Ultimatum Dean


__ADS_3

Keesokan hari, kepala keluarga Bangsa Cahaya berkumpul untuk mendaftarkan putra dan putri mereka yang akan diikutkan dalam tim ke Negri Dongeng.


Robert dibantu Arjun, mencatat para relawan. Keduanya senang, karena cukup banyak generasi muda Bangsa Cahaya yang ikut serta. Kemampuan unik mereka sangat dibutuhkan di medan yang sulit.


Kakek Kang datang mendaftar bersama Gerald. Nastiti dan Kang tak dapat lagi melarang keduanya untuk ikut serta.


Siang itu anggota tim yang mendaftar, dikumpulkan di depan rumah Dean, untuk mendapat sedikit nasihat.


Sofie sangat senang bisa berdiri di sebelah Eric. Busur panah warisan Ivy disandangnya di punggung.


Jason dan sepupunya Aila, putri Yoshie mendampingi Dokter Dimas yang akhirnya diijinkan ikut serta. Ditambah Evans putra Liam dan Laras. Keempat orang itu adalah tim medis dalam kelompok.


Ditambah dengan kelompok Bangsa Cahaya, maka terkumpullah dua puluh orang yang siap untuk berangkat.


"Hari ini kita mulai persiapan. Kalian persiapkan diri dan perbekalan pribadi. Yang lainnya akan disiapkan di sini," ujar Dean.


"Besok pagi, bersiaplah di sini!" Dean menuntaskan urusan hari itu. Memberi waktu pada anggota tim untuk bersiap dan berpamitan pada keluarga masing-masing.


"Bagaimana pasien itu?" tanya Dean pada Dokter Dimas.


"Sudah cukup sehat. Hanya saja, yang operasi kaki, kemungkinan akan butuh sedikit waktu lagi untuk dibawa," jawabnya,


Dean diam dan berpikir sejenak. "Coba tanya padanya. Apakah dia mau dirawat tinggal di sini saja dan menunggu perkembangan keadaan?"


"Jika menolak. Maka kau harus membawanya dalam kalung penyimpananmu," jelas Dean.


"Baik, akan kutanyakan." Dimas mengangguk mengerti.


"Persiapkan cukup obat-obatan, setidaknya untuk tim kita sendiri. Jika bisa membawa lebih untuk yang membutuhkan di sana, itu jauh lebih baik."


"Akan kami siapkan!" Dimas dan Jason menjawab cepat.


"Pergilah. Aku mau bicara dengan Robert, Arjun, dan Kakek Kang!" ujar Dean.


Setelah bagian medis itu pergi untuk membuat persiapan, Dean bergabung dengan Robert dan Arjun yang masih sibuk mencatat.


"Kakek Kang, Bisakah bergabung dengan kami, di sini?" undang Dean.

__ADS_1


"Tentu saja."


Kakek Kang berpaling pada Gerald. "Kau pergilah bersama mereka. Kakek akan berdiskusi dulu dengan Pemimpin Bangsa Cahaya."


"Oke."


Gerald menganguk dan pergi menemui Eric serta Sofie yang sedang berbincang seru dengan Hakon, putra kepala suku Cahaya dan Ubbe, yang menjadi murid pertama Aslan.


"Kakek Kang. Karena Anda adalah yang tertua dari mereka semua, dan karena pengalaman panjang Anda, aku sangat mengharap Anda menjadi pemimpin kelompok ini," kata Dean.


"Aku bersedia membimbing dan menjaga mereka semua. Hanya saja, kurasa Robert sangat mampu menjadi pemimpin perjalanan ini," tolaknya.


"Kenapa bukan Eric saja yang kita beri tanggung jawab ini?" usul Arjun.


"Aku setuju dengan Arjun. Kita sudah mulai tua. Sementara Eric harus kita persiapkan untuk menjadi pemimpin bangsa ini ke depannya. Ini latihan yang bagus baginya." Robert menambahkan.


"Aku juga setuju." Kakek Kang nimbrung. "Kami akan membimbingnya secara langsung di lapangan."


"Yah. Itu harus dimulai, Dean. Atau dia akan terus bermain seperti sekarang!" Arjun melihat anak-anak muda mereka sedang sibuk tertawa dan terbang saling berkejaran.


Dean memperhatikan putranya yang merupakan titisan leluhur bangsa Cahaya. Eric sangat berbeda dengan dua adiknya Dhara dan Zoella yang selalu serius akan sesuatu.


"Baiklah. Kita serahkan tanggung jawab ini padanya. Hanya saja, untuk mengerem tindakan sewenang-wenangnya, maka kalian semua haruslah menjadi penasehatnya selama perjalanan. Bagaimana?" Dean mengharapkan ketiga temannya itu menerima permintaannya.


"Tentu saja. Dia adalah masa depan Bangsa ini. Kami akan menjadi pemasehatnya!" Robert setuju setelah melihat kedua teman yang lain juga mengangguk setuju.


"Terima kasih."


"Eric, ke sini!" panggil Dean lewat pikirannya.


Eric menoleh ke dalam rumah, dimana Ayah dan tiga orang tua lain berbincang. "Aku dipanggil ayah. Kalian main saja," pamitnya pada yang lain.


"Ada apa Ayah?" Eric duduk di sebelah Arjun.


"Kami sudah memutuskan untuk menjadikan Kakek Kang sebagai pengawal tim. Robert dan Arjun sebagai panglima, dan kau sebagai pemimpin perjalanan ini! Mereka akan menjadi penasehatmu. Jadi kau harus mendiskusikan setiap langkah dengan mereka bertiga, sebelum dieksekusi!"


"Apa? Pemimpin tim? Aku jadi anak buah saja lah!" tolaknya tak suka.

__ADS_1


"Tidak! Sudah cukup semua penolakanmu selama ini. Kami sudah menuruti jiwa bebasmu selama ini. Ini adalah syaratmu jika ingin ikut serta ke sana!" tegas Dean.


"Kenapa aku pakai syarat, sementara yang lain tidak? Ini pemaksaan, Ayah." Eric tak senang.


"Kau didorong untuk mengambil alih tanggung jawab atas dua puluh anggota tim saja, menolak. Bagaimana bisa menjadi pemimpin Bangsa Cahaya di masa depan?" Kakek Kang menatapnya tajam.


"Aku tidak mau jadi pemimpin Bangsa Cahaya! Aku mau bebas, tidak mau disibukkan hal-hal yang merepotkan seperti itu!" tolaknya keras.


"Kalau begitu, maka segala kebebasanmu kucabut! Dan kau tidak bisa ikut dalam tim. Kau boleh pergi!" Dean berkata dengan ekspresi dingin. Dia sangat jengkel melihat kebadungan putra sulungnya itu.


Eric pergi dengan wajah kusut. Dia melesat terbang entah ke mana.


"Hah ... tidak berubah sama sekali!" Kakek Kang menggelengkan kepala.


"Persis seperti lima tahun yang lalu saat diminta untuk menggantikan Kepala Suku Cahaya yang baru meninggal. Dia juga menolak!" Robert mengembuskan napas berat.


"Sikap leluhur yang bebas telah menguasainya. Hanya saja, jika tak kita arahkan sejak sekarang, maka dia akan berakhir sama dengan leluhur Bangsa Cahaya!" Arjun menutup wajahnya.


"Jadi, siapa yang akan kita angkat jadi pemimpin tim?" tanya Dean tak sabar.


"Yang paling berpengalaman dan bertanggung jawab adalah Hakon, putra kepala Suku." Kakek Kang mengutarakan pendapatnya.


"Kakek Kang sangat jeli. Pria itu sudah mengambil bagian dalam mengatur suku Cahaya sejak ayahnya naik, menggantikan kakeknya." Arjun menimpali dengan cepat.


"Aku setuju!" Robert mengangguk.


"Baik. Besok kita umumkan. Sekarang aku mau memeriksa persiapan yang sudah dilakukan Indra dan Niken." Dean berdiri dari duduknya dan keluar.


"Kuharap Dean tidak terlalu kecewa dengan Eric," Arjun bergumam melihat Dean terbang ke arah pertanian.


"Sungguh berat baginya dan bagi kita juga. Penguasa Cahaya, sebelum meninggalnya telah berwasiat agar Eric menggantikan Dean memimpin Bangsa Cahaya menuju kegemilangan kembali." Robert bicara pada dirinya sendiri.


"Wasiat itu membuat kita tidak mempersiapkan kandidat lain, karena takut menyalahi keinginannya." Kakek Kang menimpali.


"Bukankah Dokter Dimas ikut serta dalam tim? Bagaimana kalau dia juga kita persiapkan sebagai calon pemimpin alternatif, jika Eric tetap bersikukuh menolak tongkat estafet yang disiapkan?" tanya Arjun lagi.


Robert menggeleng. "Sejak Dokter Chandra meninggal, meskipun kekuatanannya diturunkan pada Dimas, sepertinya kekuatannya dalam keadaan hiberbasi. Dia tak terlalu aktif. Yang menonjol adalah DImas sebagai Dokter yang sama hebat dengan ayahnya!"

__ADS_1


"Sungguh memusingkan memikirkan perilaku Eric!" gerutu Kakek Kang.


********


__ADS_2