The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 110. Pangeran Taksa


__ADS_3

“Yang mulia, kita juga harus menjaga perbatasan yang


terhubung ke negara jajahan Orc di dekat pantai!” Seorang mentri lain


mengingatkan.


“Kalau begitu, kirim tambahan tentara untuk mmenjaga


perbatasan itu juga!” perintah sang raja.


“Baik! Akan segera saya kirim!” Menteri pertahanan berpamitan


dan keluar dari ruang pertemuan.


“Yang lain, bersiagalah. Jangan lupakan untuk menambah ransum


para tentara!” perintah raja lagi.


“Baik, Yang Mulia.”


Pertemuan itu bubar sudah. Meninggalkan sang raja yang


semakin risau memikirkan putra satu-satunya yang kini cedera parah di mata.


“Kau terlalu bandel. Tak mau mendengar larangan!” kesalnya.


“Sekarang bagaimana caranya membujuk ibumu yang terus menangis sejak tadi?”


***


Di negara Peri. Berita dari perbatasan Tanah tak bertuan juga


dibahas dengan serius di istana.


“Bagaimana pendapat kalian dengan kabar ini?” tanya raja


cemas.


Para mentrinya juga ikut cemas. Selama ini mereka sudah


menunjukkan sikap tidak peduli dengan negara Elf. Ternyata negara itu memiliki


sekutu yang bahkan sangat kuat. Lebih kuat dari para Peri yang sebenarnya tidak


punya banyak kelebihan.


“Panggilkan adikku ke sini!” perintah sang raja, karena


ruangan itu sunyi senyap.


“Baik, Yang Mulia!” Pelayan pribadi raja segera berlari


keluar ruangan untuk mengundang sendiri Pangeran Taksa ke pertemuan.


Tak lama adik sang raja datang menghadap dengan jejak


kekhawatiran di matanya. “Hamba di sini, Yang Mulia,” ucapnya sopan dan


menunduk untuk menghormati sang kakak.


“Ada banyak prajurit yang terluka saat terjadi perang antara


Elf dengan para Orc. Dan sepertinya, Pangeran Mahkota Elf akan tetap maju


menuju negara Orc untuk merebut Putri Cristal. Dan satu hal lagi, putramu


hilang dan belum ditemukan hingga kini. Para pengawalnya juga tidak mengetahui


keberadaannya---“


“Apa!”


Raja langsung  mengirim


tatapan tajam karena ucapannya dipotong.


“Maafkan, Yang Mulia. Hamba sangat terkejut.” Pangeran Taksa


tertunduk, menyadari kelancangannya.


“Baiklah. Aku memanggilmu untuk memberimu kesempatan pergi ke


perbatasan dan membawa pasukan. Bagaimanapun juga, prajurit yang terluka tidak


aka dapat membantu banyak. Sekalian Kau bisa mencari Karl. Aku tak ingin ada


salah paham antara kita!” Raja itu menekankan kalimat itu.


“Yang Mulia, hamba tidak punya pasukan.” Sang pangeran


bingung, bagaimana akan pergi.


“Istana akan menyiapkan seratus orang untuk membantumu!”


putus sang raja.


“Mentri peperangan, sediakan seratus prajurit untuk menemani


adikku pergi ke perbatasan itu!” perintah sang raja.


“Baik. Akan segera saya siapkan!” Sang mentri langsung pergi.


“Apakah ada tugas lain untuk hamba lakukan Yang Mulia?” tanya


Pangeran Taksa.


“Karena menurut pasukan di lapangan, di Tanah tak bertuan


sudah tidak ada Orc. Maka kurasa kau boleh bergabung dengan pasukan Elf, kalau


mau. Tapi jangan pergi melewati Tanah tak bertuan. Aku tak mau Kau juga hilang!


Tugas utamamu mencari Karl!” pesan sang raja.


“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya undur diri untuk bersiap!”


Pangeran Taksa juga pergi dengan cepat.


“Siapkan perbekalan untuk mereka!” perintah raja lagi.


“Baik!”


Pertemuan singkat itu berakhir dengan banyak pertanyaan di


kepala para mentri. Bagaimana raja mereka berubah sikap pada adiknya yang

__ADS_1


biasanya sangat dia benci.


“Mengirim Pangeran Taksa ke medan perang dengan alasan


mencari putranya dan Tanah tak bertuan yang sudah  aman, adalah alasan cerdas untuk


menyingkirkannya. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padanya di sana? Bahkan


putranya juga tidak diketahui keberadaannya!” Para menteri berbisik-bisik saat


keluar dari ruangan.


***


“Aku harus mencari putra kita,” ujar Pangeran Taksa. Tidak


mudah membujuk istrinya yang terus menagis setelah mendapat kabar tentang


hilangnya Karl di perbatasan.


“Bagaimana kalau ini hanya alasan Yang mulia untuk


menyingkirkan kalian berdua?” tanya istrinya di  antara isak tangis.


“Berhenti berprasangka buruk. Kalau aku tidak dipanggil, kita


tidak akan tahu apa yang terjadi pada Karl!” tegur sang suami.


“Tetaplah di rumah dan doakan semuanya baik-baik saja.


Mungkin Karl hanya tersesat masuk ke hutan negara Penyihir yang tak dikenalnya.


Perbatasan kita itu tidak terlalu jelas. Tak ada pagar pembatas sama sekali.


Aku kan pernah ke sana, kau ingat?” Sang suami berusaha menjernihkan pikiran


istrinya.


“Aku harus segara ke istana dan melihat pasukan yang disiapka


raja,” pamitnya seraya memeluk istri tercinta.


“Berhati-hatilah. Jika terjadi hal yang buruk, jangan ragu


untuk bergabung dengan pasukan Pangeran Mahkota Elf. Dia akan membantumu!”


pesan istrinya.


“Aku tahu itu. Jika tak bisa menemukan Karl sendiri, aku akan


menemui mereka dan meminta bantuan Pangeran Mahkota Elf untuk mencarinya.”


Putri Valxina mengangguk dan melepas kepergian suaminya


dengan kecemasan  di dada.


Di istana, seratus prajurit sudah siap untuk berangkat.


Perbekalan juga sudah siap. Pangeran Taksa terlihat gagah di atas kuda.  Setelah memeriksa para prajurit. dia


mengangkat pedang dan memberi aba-aba.


“Berangkat!”


Makan seratus orang berkuda itu perlahan keluar dari halaman


Meninggalkan debu tanah yang mengepul naik ke udara.


***


Di Tanah tak bertuan.


Panji perang Pangeran Mahkota Elf sudah sampai di depan


perbatasan negara Orc. Namun, sang pangeran sendiri tertahan di tengah-tengah


pasukan. Dia masih berbincang dengan jenderal Kurcaci Biru.


“Jika memang ingin ikut bergabung, sebaiknya tolong bantu


jaga area perbatasan negeri kalian dengan negara Orc. Kami tidak ingin mereka


melarikan diri masuk ke wilayah lain karen aperang ini,” jawab Pangeran Mahkota.


“Area perbatasan kami sudah dijaga. Raja juga sudah mengirim


pasukan tambahan untuk memperkuat penjagaan. Kukira, kami masih punya cukup


tenaga untuk mempersiapkan ransum pasukan Anda. Juga menjaga di bagian belakang,”


ujar sang jenderal.


Pangeran Mahkota tersenyum. “Itu terdengar sangat baik. Terima


kasih karena telah memikirkannya.”


Jenderal Kurcaci Biru lega, karena akkhirnya mereka bergabung


dengan pasukan Elf. Meskipun bergabung di belakang, tapi itu bukan masalah. Bantuan


konsumsi saat perang, memang hal urgent yang tak boleh diabaikan.


Maka sejak itu, para prajurit kurcaci masuk ke tanah tak


bertuan dan langsung menyiapkan panci besar untuk memasak.


“Kapan kita akan masuk menyerang?” tanya Dean.


“Begitu matahari tenggelam, kita masuk ke perbatasan!” tegas


sang pangeran mahkota.


Dean melihat langit yang sebentar lagi akan senja. Tak lebih


dari satu jam, peperangan akan dimulai. Dia mengabarkan hal itu pada semua


bangsa Cahaya yang berjaga di tempat masing-masing.


“Kalian sudah siap?” tanya Dean pada Robert dan Arjun yang


akan berada di garis depan.


“Ya. Tinggal menunggu koando saja.”


Dean mengangguk mendengar jawaban Robert. Dia menemui Eric

__ADS_1


dan Thorn yang duduk bersama  Sofie.


“Kalian sudah siap?” tanya Dean pada ketiganya.


“Sudah!” sahut Eric percaya diri.


“Nanti, coba periksa tepat-tempat tersembunyi di istana Orc


dan temukan putri Cristal. Paling mudah mengenalinya jika kau melihat


telinganya yang berbeda!” tambah Dean.


“Bagaimana jika itu bukan Putri Cristal!” bantah Eric.


“Wajahnya mirip Angel dan Glenn. Kau pasti bisa membedakan,


ataupun menanyakan hal itu pada orang lain yang punya telinga seperti itu.


Selama mereka bukan pengkhianat, maka mereka pasti akan membantu!” tegas Dean.


“Baik, Ayah.” Eric tak mau berdebat lagi.


Suara hiruk pikuk mulai terdengar makin ramai. Beberapa prajurit


yang sebelumnya duduk di tanah, sekarang sudah mulai berdiri dan bersiap.


“Kalian harus menerobos masuk saat kekacauan dimulai. Dan


jangan lupa untuk melaporkan apa yang terjadi!” pesan Dean.


“Baik!” Eric, Thorn, dan Sofie juga ikut berdiri dari duduk


dan bersiap.


Gelap sudah jatuh. Arjun juuga sudah kembali dari mengamati


wilayah Orc dari ketinggian. Negara itu terlihat tenang dan wajar. Seperti


tidak ada yang terjadi. Entah apakah memang sewajar yang terlihat, atau sekedar


jebakan. Arjun melaporkan semua yang dilihatnya pada Pangeran Mahkota.


‘Biarkan saja. Kita sudah bersiap. Apakah mereka ingin menjebak,


kita juga tak masalah, selama kewaspadaan ditingkatkan! Kita tak bisa menunda


lagi,” ujar sang pangeran.


“Baik. Saya akan kembali ke posisi,” pamit Arjun. Sang pangeran


mengangguk, lalu menginspeksi barisan pasukannya dari atas kuda.


“Kalian sudah siap untuk membalas dendam?” teriak sang


pangeran dengan suara keras.


“Siaaap!” sahutan terdengar gegap gempita.


“Periksa senjata dan perbekalan masing-masing! Kita tak akan


pulang sebelum membumi hanguskan negara Orc dan menahan rajanya!” tambah Pangeran


Mahkota lagi.


“Yeaaayy!” seru mereka serempak. Semua prajurit itu


mengangkat senjata masing-masing ke angkasa, dengan penuh semangat.


“Aku merinding mendengar gemuruh suara mereka,” komentar


Robert.


Arjun yang juga memperhatikan pasukan itu, mengangguk setuju


dengan pendapat Robert. “Mereka sudah siap untuk mati, membela negaranya! Bagaimana


kita bisa mendekripsikan orang-orang yang bersemangat untuk pergi mati?” ujar


Arjun dengan suara tercekat.


Robert melirik Arjun yang tiba-tiba melankolis. Bahkan pria


yang punya kekuatan sangat dahsyat itu, tetap memiliki hati yang lembut.


“Seperti itulah seorang prajurit. Siap mati untuk negaranya,


dimana dan kapanpun. Sebuah kehormatan bagi mereka, jika tewas dalam perang!”


timpal Robert.


“Sebentar!” Jenderal Kurcaci Biru melompat beberapa kali dan


dengan cepat tiba di depan Pangerab Mahkota Elf.


“Kami sudah menyiapkan ramuan rahasia negara kami untuk


kalian. Minumlah sebelum berangkat. Agar kalian makin bersemangat!” ujarnya


seraya menyodorkan sebuah kendi tanah liat.


Pangeran Mahkota langsung mengambil kendi itu. “Aku telah


mendengar cerita tentang ramuan rahasia yang sangat diandalkan oleh prajurit


Kurcaci Biru saat berperang. Membuat mereka bersemangat dan jadi sekuat banteng


di medan perang. Terima kasih untuk kebaikan Anda. Saya harap Anda bisa menjaga


garis belakang. Jangan biarkan satu Orc pun yang lolos dan masuk ke negara kita


lagi!”


Pangeran Mahkota lalu meneguk isi kendi dalam beberap


tegukan. Kemudian dia terbatuk-batuk. “Tak kukira rasanya sangat pahit dan


pedas. Terima kasih!” ujarnya lagi.


Para prajurit yang disodori cangkir oleh para kurcaci, ikut


meminum ramuan rahasia para kurcaci itu.


“Kalian siap?” seru Pangeran lagi.


“Siaaapp!” suara gemuruh menyahuti teriakannya.

__ADS_1


Pangeran Mahkota membalikkan kudanya ke arah perbatasan


negara Orc. Diangkatnya tangan ke atas dan mengacungkan pedang. “Berangkat!”


__ADS_2