
“Yang mulia, kita juga harus menjaga perbatasan yang
terhubung ke negara jajahan Orc di dekat pantai!” Seorang mentri lain
mengingatkan.
“Kalau begitu, kirim tambahan tentara untuk mmenjaga
perbatasan itu juga!” perintah sang raja.
“Baik! Akan segera saya kirim!” Menteri pertahanan berpamitan
dan keluar dari ruang pertemuan.
“Yang lain, bersiagalah. Jangan lupakan untuk menambah ransum
para tentara!” perintah raja lagi.
“Baik, Yang Mulia.”
Pertemuan itu bubar sudah. Meninggalkan sang raja yang
semakin risau memikirkan putra satu-satunya yang kini cedera parah di mata.
“Kau terlalu bandel. Tak mau mendengar larangan!” kesalnya.
“Sekarang bagaimana caranya membujuk ibumu yang terus menangis sejak tadi?”
***
Di negara Peri. Berita dari perbatasan Tanah tak bertuan juga
dibahas dengan serius di istana.
“Bagaimana pendapat kalian dengan kabar ini?” tanya raja
cemas.
Para mentrinya juga ikut cemas. Selama ini mereka sudah
menunjukkan sikap tidak peduli dengan negara Elf. Ternyata negara itu memiliki
sekutu yang bahkan sangat kuat. Lebih kuat dari para Peri yang sebenarnya tidak
punya banyak kelebihan.
“Panggilkan adikku ke sini!” perintah sang raja, karena
ruangan itu sunyi senyap.
“Baik, Yang Mulia!” Pelayan pribadi raja segera berlari
keluar ruangan untuk mengundang sendiri Pangeran Taksa ke pertemuan.
Tak lama adik sang raja datang menghadap dengan jejak
kekhawatiran di matanya. “Hamba di sini, Yang Mulia,” ucapnya sopan dan
menunduk untuk menghormati sang kakak.
“Ada banyak prajurit yang terluka saat terjadi perang antara
Elf dengan para Orc. Dan sepertinya, Pangeran Mahkota Elf akan tetap maju
menuju negara Orc untuk merebut Putri Cristal. Dan satu hal lagi, putramu
hilang dan belum ditemukan hingga kini. Para pengawalnya juga tidak mengetahui
keberadaannya---“
“Apa!”
Raja langsung mengirim
tatapan tajam karena ucapannya dipotong.
“Maafkan, Yang Mulia. Hamba sangat terkejut.” Pangeran Taksa
tertunduk, menyadari kelancangannya.
“Baiklah. Aku memanggilmu untuk memberimu kesempatan pergi ke
perbatasan dan membawa pasukan. Bagaimanapun juga, prajurit yang terluka tidak
aka dapat membantu banyak. Sekalian Kau bisa mencari Karl. Aku tak ingin ada
salah paham antara kita!” Raja itu menekankan kalimat itu.
“Yang Mulia, hamba tidak punya pasukan.” Sang pangeran
bingung, bagaimana akan pergi.
“Istana akan menyiapkan seratus orang untuk membantumu!”
putus sang raja.
“Mentri peperangan, sediakan seratus prajurit untuk menemani
adikku pergi ke perbatasan itu!” perintah sang raja.
“Baik. Akan segera saya siapkan!” Sang mentri langsung pergi.
“Apakah ada tugas lain untuk hamba lakukan Yang Mulia?” tanya
Pangeran Taksa.
“Karena menurut pasukan di lapangan, di Tanah tak bertuan
sudah tidak ada Orc. Maka kurasa kau boleh bergabung dengan pasukan Elf, kalau
mau. Tapi jangan pergi melewati Tanah tak bertuan. Aku tak mau Kau juga hilang!
Tugas utamamu mencari Karl!” pesan sang raja.
“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya undur diri untuk bersiap!”
Pangeran Taksa juga pergi dengan cepat.
“Siapkan perbekalan untuk mereka!” perintah raja lagi.
“Baik!”
Pertemuan singkat itu berakhir dengan banyak pertanyaan di
kepala para mentri. Bagaimana raja mereka berubah sikap pada adiknya yang
__ADS_1
biasanya sangat dia benci.
“Mengirim Pangeran Taksa ke medan perang dengan alasan
mencari putranya dan Tanah tak bertuan yang sudah aman, adalah alasan cerdas untuk
menyingkirkannya. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padanya di sana? Bahkan
putranya juga tidak diketahui keberadaannya!” Para menteri berbisik-bisik saat
keluar dari ruangan.
***
“Aku harus mencari putra kita,” ujar Pangeran Taksa. Tidak
mudah membujuk istrinya yang terus menagis setelah mendapat kabar tentang
hilangnya Karl di perbatasan.
“Bagaimana kalau ini hanya alasan Yang mulia untuk
menyingkirkan kalian berdua?” tanya istrinya di antara isak tangis.
“Berhenti berprasangka buruk. Kalau aku tidak dipanggil, kita
tidak akan tahu apa yang terjadi pada Karl!” tegur sang suami.
“Tetaplah di rumah dan doakan semuanya baik-baik saja.
Mungkin Karl hanya tersesat masuk ke hutan negara Penyihir yang tak dikenalnya.
Perbatasan kita itu tidak terlalu jelas. Tak ada pagar pembatas sama sekali.
Aku kan pernah ke sana, kau ingat?” Sang suami berusaha menjernihkan pikiran
istrinya.
“Aku harus segara ke istana dan melihat pasukan yang disiapka
raja,” pamitnya seraya memeluk istri tercinta.
“Berhati-hatilah. Jika terjadi hal yang buruk, jangan ragu
untuk bergabung dengan pasukan Pangeran Mahkota Elf. Dia akan membantumu!”
pesan istrinya.
“Aku tahu itu. Jika tak bisa menemukan Karl sendiri, aku akan
menemui mereka dan meminta bantuan Pangeran Mahkota Elf untuk mencarinya.”
Putri Valxina mengangguk dan melepas kepergian suaminya
dengan kecemasan di dada.
Di istana, seratus prajurit sudah siap untuk berangkat.
Perbekalan juga sudah siap. Pangeran Taksa terlihat gagah di atas kuda. Setelah memeriksa para prajurit. dia
mengangkat pedang dan memberi aba-aba.
“Berangkat!”
Makan seratus orang berkuda itu perlahan keluar dari halaman
Meninggalkan debu tanah yang mengepul naik ke udara.
***
Di Tanah tak bertuan.
Panji perang Pangeran Mahkota Elf sudah sampai di depan
perbatasan negara Orc. Namun, sang pangeran sendiri tertahan di tengah-tengah
pasukan. Dia masih berbincang dengan jenderal Kurcaci Biru.
“Jika memang ingin ikut bergabung, sebaiknya tolong bantu
jaga area perbatasan negeri kalian dengan negara Orc. Kami tidak ingin mereka
melarikan diri masuk ke wilayah lain karen aperang ini,” jawab Pangeran Mahkota.
“Area perbatasan kami sudah dijaga. Raja juga sudah mengirim
pasukan tambahan untuk memperkuat penjagaan. Kukira, kami masih punya cukup
tenaga untuk mempersiapkan ransum pasukan Anda. Juga menjaga di bagian belakang,”
ujar sang jenderal.
Pangeran Mahkota tersenyum. “Itu terdengar sangat baik. Terima
kasih karena telah memikirkannya.”
Jenderal Kurcaci Biru lega, karena akkhirnya mereka bergabung
dengan pasukan Elf. Meskipun bergabung di belakang, tapi itu bukan masalah. Bantuan
konsumsi saat perang, memang hal urgent yang tak boleh diabaikan.
Maka sejak itu, para prajurit kurcaci masuk ke tanah tak
bertuan dan langsung menyiapkan panci besar untuk memasak.
“Kapan kita akan masuk menyerang?” tanya Dean.
“Begitu matahari tenggelam, kita masuk ke perbatasan!” tegas
sang pangeran mahkota.
Dean melihat langit yang sebentar lagi akan senja. Tak lebih
dari satu jam, peperangan akan dimulai. Dia mengabarkan hal itu pada semua
bangsa Cahaya yang berjaga di tempat masing-masing.
“Kalian sudah siap?” tanya Dean pada Robert dan Arjun yang
akan berada di garis depan.
“Ya. Tinggal menunggu koando saja.”
Dean mengangguk mendengar jawaban Robert. Dia menemui Eric
__ADS_1
dan Thorn yang duduk bersama Sofie.
“Kalian sudah siap?” tanya Dean pada ketiganya.
“Sudah!” sahut Eric percaya diri.
“Nanti, coba periksa tepat-tempat tersembunyi di istana Orc
dan temukan putri Cristal. Paling mudah mengenalinya jika kau melihat
telinganya yang berbeda!” tambah Dean.
“Bagaimana jika itu bukan Putri Cristal!” bantah Eric.
“Wajahnya mirip Angel dan Glenn. Kau pasti bisa membedakan,
ataupun menanyakan hal itu pada orang lain yang punya telinga seperti itu.
Selama mereka bukan pengkhianat, maka mereka pasti akan membantu!” tegas Dean.
“Baik, Ayah.” Eric tak mau berdebat lagi.
Suara hiruk pikuk mulai terdengar makin ramai. Beberapa prajurit
yang sebelumnya duduk di tanah, sekarang sudah mulai berdiri dan bersiap.
“Kalian harus menerobos masuk saat kekacauan dimulai. Dan
jangan lupa untuk melaporkan apa yang terjadi!” pesan Dean.
“Baik!” Eric, Thorn, dan Sofie juga ikut berdiri dari duduk
dan bersiap.
Gelap sudah jatuh. Arjun juuga sudah kembali dari mengamati
wilayah Orc dari ketinggian. Negara itu terlihat tenang dan wajar. Seperti
tidak ada yang terjadi. Entah apakah memang sewajar yang terlihat, atau sekedar
jebakan. Arjun melaporkan semua yang dilihatnya pada Pangeran Mahkota.
‘Biarkan saja. Kita sudah bersiap. Apakah mereka ingin menjebak,
kita juga tak masalah, selama kewaspadaan ditingkatkan! Kita tak bisa menunda
lagi,” ujar sang pangeran.
“Baik. Saya akan kembali ke posisi,” pamit Arjun. Sang pangeran
mengangguk, lalu menginspeksi barisan pasukannya dari atas kuda.
“Kalian sudah siap untuk membalas dendam?” teriak sang
pangeran dengan suara keras.
“Siaaap!” sahutan terdengar gegap gempita.
“Periksa senjata dan perbekalan masing-masing! Kita tak akan
pulang sebelum membumi hanguskan negara Orc dan menahan rajanya!” tambah Pangeran
Mahkota lagi.
“Yeaaayy!” seru mereka serempak. Semua prajurit itu
mengangkat senjata masing-masing ke angkasa, dengan penuh semangat.
“Aku merinding mendengar gemuruh suara mereka,” komentar
Robert.
Arjun yang juga memperhatikan pasukan itu, mengangguk setuju
dengan pendapat Robert. “Mereka sudah siap untuk mati, membela negaranya! Bagaimana
kita bisa mendekripsikan orang-orang yang bersemangat untuk pergi mati?” ujar
Arjun dengan suara tercekat.
Robert melirik Arjun yang tiba-tiba melankolis. Bahkan pria
yang punya kekuatan sangat dahsyat itu, tetap memiliki hati yang lembut.
“Seperti itulah seorang prajurit. Siap mati untuk negaranya,
dimana dan kapanpun. Sebuah kehormatan bagi mereka, jika tewas dalam perang!”
timpal Robert.
“Sebentar!” Jenderal Kurcaci Biru melompat beberapa kali dan
dengan cepat tiba di depan Pangerab Mahkota Elf.
“Kami sudah menyiapkan ramuan rahasia negara kami untuk
kalian. Minumlah sebelum berangkat. Agar kalian makin bersemangat!” ujarnya
seraya menyodorkan sebuah kendi tanah liat.
Pangeran Mahkota langsung mengambil kendi itu. “Aku telah
mendengar cerita tentang ramuan rahasia yang sangat diandalkan oleh prajurit
Kurcaci Biru saat berperang. Membuat mereka bersemangat dan jadi sekuat banteng
di medan perang. Terima kasih untuk kebaikan Anda. Saya harap Anda bisa menjaga
garis belakang. Jangan biarkan satu Orc pun yang lolos dan masuk ke negara kita
lagi!”
Pangeran Mahkota lalu meneguk isi kendi dalam beberap
tegukan. Kemudian dia terbatuk-batuk. “Tak kukira rasanya sangat pahit dan
pedas. Terima kasih!” ujarnya lagi.
Para prajurit yang disodori cangkir oleh para kurcaci, ikut
meminum ramuan rahasia para kurcaci itu.
“Kalian siap?” seru Pangeran lagi.
“Siaaapp!” suara gemuruh menyahuti teriakannya.
__ADS_1
Pangeran Mahkota membalikkan kudanya ke arah perbatasan
negara Orc. Diangkatnya tangan ke atas dan mengacungkan pedang. “Berangkat!”