
Di luar tenda.
Eric mengeluarkan semua orang yang masih disimpannya. Meskipun sore tadi sudah melihat bagaimana dua orang hilang di hadapannya, Levyn masih belum terbiasa melihat kemampuan Eric.
“Pantas saja dia menjadi calon penerus bangsa mereka. Dia sangat hebat,” ujar Levyn dalam hati.
“Cari lokasi luas untuk tempat mengumpulkan bahan makanan!” perintah Eric pada Hakon. Hakon menoleh pada Levyn. Bukanakah pangeran muda itu yang lebih mengerti?
Menyadari tatapan semua orang menagrah padanya, Levyn akhirnya mengangguk. “Ayo!” katanya.
Utusan Bangsa Cahaya mengikuti langkahnya.
“Jason, aku butuh kau meracik obat di sini!” kata Dimas dalam pikiran Jason.
“Baiklah.” Jason meninggalkan barisan yang mengikuti Levyn dan measuk ke tenda.
“Butuh obat apa?” tanyanya pada Dimas.
Pangeran mahkota itu sangat terkejut melihat seorang pria muda lain tiba-tiba masuk dan bertanya seperti itu. “Siapa yang memanggil dan meminta obat padanya?” pikirnya heran.
“Coba kau ikut periksa, agar tahu obat yang tepat,” kata Dimas.
Pangeran mahkota semakin heran melihat keduanya bicara. “Apakah dokter ini yang memanggilnya? Aku tidak mendengar dia memanggil seseornag,” batin sang pangeran.
Jason datang mendekat dan meletakkan telapak tangannya di atas dada sang pangeran mahkota. Ketika sebuah cahaya muncul dari telapak tangan pria itu, sang pangeran refleks menjauh dan menghindar.
“Tidak apa-apa, Yang Mulia. Memang seperti itu caranya memeriksa. Dia seorang calon tabib dan ahli obat di tempat kami,” jelas Robert.
“Oh, sangat berbeda dengan tabib di negara ini,” kata pangeran mahkota itu dengan senyum sumbang. Wajahnya yang tadi memucat, kembali normal lagi.
“Tidak ada yang serius. Yang mulia hanya kurang asupan makanan yang bervitamin. Kita bisa memberinya sedikit minuman pemulih tenaga,” kata Jason.
Dimas mengangguk setuju. “Kau buat seperti itu saja.”
Jason mengulurkan tangannya ke hadapan sang pangeran mahkota. “Kebetulan aku sudah membuat beberapa. Jadi silakan Anda coba, Yang Mulia.”
Pangeran Mahkota kembali terkejut melihat sebuah benda yang tak dikenalnya tiba-tiba muncul di atas telapak tangan pria tabib itu.
“A-apa itu?” tunjuknya terkejut pada botol di tangan Jason.
“Di tempat kami, ini adalah botol obat.” Jason membuka tutup botol dan menyerahkannya pada sang pangeran.
“Botol obat sih, botol obat. Tapi bagaimana dia bisa muncul tiba-tiba?” gerutu sang pangeran mahkota dalam hati. Tangannya memegang botol yang diberi Jason. Dia melihat pada Dimas. Dokter dan Robert mengangguk, menyuruhnya minum.
“Oh, baiklah. Sebelumnya mereka juga punya cara pengobatan yang aneh pada Paman Felix,” pikirnya. Dengan cepat dia meminum air obat di dalam botol kecil itu.
“Baiklah. Karena obat pertama sudah diminum, kurasa sekarang Anda butuh pengisi perut. Kami tidka punya makanan matang. Tapi punya bebrapa buah yang kami bawa dari negeri kami.”
Robert menyerahkan bebrapa apel untuk dimakan oleh sang pangeran mahkota.
“Tidak apa-apa. Berikan saja pada para prajurit dan juga bibiku,” tolaknya.
“Kami membawa cukup bahan makanan untuk seisi kota!” ujar Dimas menenangkan.
“Benarkah? Syukurlah … terima kasih. Kita harus membagikannya kepada rakyat yang kelaparan. Orc melarang semua penduduk keluar mencari bahan makanan. Mereka akan membunuh siapapun yang ketahuan!” geram pangeran mahkota.
Robert dan Dimas saling pandang. Tidak menyangka kalau keadaan di negara Elf sudah seburuk itu.
“Baik, kami akan mengatur semuanya dengan baik. Anda bisa memulihkan tenaga lebih dulu.” Robert mengangguk dan beranjak pergi. Tiba-tiba seseornag masuk dengan buru-buru.
“Yang Mulia!” serunya panik. Lalu terkejut melihat Robert, Dimas dan Jason ada di tenda.
“Siapa kalian!” Pria itu mengeluarkan pedangnya dan langsung dihunus pada Robert yang berdiri paling depan.
“Hei, dia teman kita. Coba perhatikan pria itu. Dialah yang disuruh bibi Angel cari untuk membantu kita!” kata sang pangeran dari tempatnya berbaring.
__ADS_1
“Anda juga butuh minuman obat ini,” kata Jason sambil menyodorkan botol obtanya pada penasehat pangeran mahkota.
Pria itu menoleh pada tuannya. Dan sang pangeran menunjukkan botol obatnya yang sudah kosong. “Itu bagus untukmu!” katanya.
Pria itu akhirnya menerima obat yang disodorkan. Kemudian Robert menambahkan denagn dua buah apel ke tangannya, sebelum melanjutkan perjalanan merek ayang tertunda.
“Yang Mulia?” Pria itu segera mendekati tuannya dengan khawatir.
“Kenapa Anda langsung meminumnya?” katanya menyesali.
“Buang kecurigaan itu. Mereka memang diutus untuk membantu. Mereka bawa banyak bahan makan untuk seisi kota,” kata sang pangeran.
“Minum obatmu dan makan buah yang mereka berikan. Setelah memulihkan tenaga, kita bisa susun rencana baru,” perintahnya.
“Baik, Yang mulia.” Penasehat itu menurut. Dia duduk di kursi dan mengunyah apelnya sambil mengawasi sang putra mahkota.
Di luar tenda
Pangeran Levyn bersama beberapa prajurit sibuk menata dan menghitung semua bahan makanan yang ditumpuk menggunung di lantai bekas rumah Glenn. Semua orang bergembira dan segera membagikan buah-buahan yang bisa segera mereka konsumsi.
“Levyn!” Angel muncul bersama para pelayannya. Wajahnya sangat khawatir dan bingung.
“Ibunda,” sahut pangeran muda itu sambil tersenyum. Diambilnya apel paling ranum dan diberikan pada ibunya.
“Buah dari mana ini?” tanya Angel. Kemudian matanya melihat tumpukan bahan makanan yang menggunung di tengah-tengah bekas rumahnya. “Dari mana ini semua?” tanyanya keheranan.
“Dibawa oleh teman ibu yang dijemput Herdan,” kata Levyn.
“Herdan? Di mana dia?” tanya Angel.
“Saya di sini, Yang Mulia Putri.” Herdan membungkuk hormat. Di sebelahnya ada Khort yang juga memberi hormat.
Angel sungguh tak percaya yang dilihatnya. “Kalian menemukannya? Kalian menemukan Robert?” tanya Angel tak sabar.
Sebuah suara mengejutkan Angel. Matanya membelalak melihat seseorang yang sangat diharapkannya, telah berdiri di depannya. “Robert … akhirnya aku bertemu denganmu lagi ….” Katanya lirih. Air mata mengalir begitu saja di pipinya.
Levyn datang dan memeluk ibunya. Menahannya agar tidak jatuh. Tubuh itu begitu kurus dan berdiri dengan gemetar. “Mari duduk dulu. Ibu harus istirahat,” kata Levyn.
“Ijinkan aku memeriksanya,” kata Dimas. Dia maju dengan cepat dan memeriksa Angel.
“Dia Dimas putra Dokter Chandra.” Robert menjawab pertanyaan yang dilayangkan Angel lewat matanya.
“Pu-putra Dokter Chandra? Apakah kalian berhasil pulang?” tanya Angel terkejut.
“Ya. Istriku adalah kakaknya, putri Dokter Chandra.” Robert duduk mendekat dengan Angel.
“Ikutilah nasehat Dimas. Pulihkan kesehatanmu dulu. Nanti kita bicarakan yang lainnya,” Robert menenangkan Angel yang semakin menangis. Wanita itu mengangguk patuh.
Robert berdiri dan membiarkan Dimas serta Aila menemani Angel.
“Kirimkan juga bahan makanan untuk nenek dan kakekmu. PAsukan mereka di sana yang paling kesulitan, karena berada tepat di tengah kota,” perintah Angel pada Levyn.
“Baik, akan kuatur. Apa ibu bisa kutinggal sekarang?” tanya Levyn ingin tahu.
“Aku baik-baik saja. Ini karena ku terkejut melihat mereka datang. Oh Tuhan, Syukurlah ….” Kata Angel lagi.
Eric mendengarkan masukan dari Levyn. Bahwa raja mereka juga sedang dikepung dan kekurangan bahan makanan.
“BIar aku membawa sebagian bahan makanan ke sana bersama Dimas. Kesehatannya mungkin saja memburuk,” kata Robert.
“Bisakah kalian membawa ibundaku ke sana? Aku akan merasa tenang jika dia ada di sana,” harap Levyn.
“Tanya padanya,” kata Robert.
“Kalau aku yang meminta, ibu tidak mau mendengarkan. Beberapa hari yang lalu, ibunda juga sudah dibawa ke sana untuk pengobatan luka bakarnya. Tapi dia kembali lagi ke sini bersama semua pelayan itu, setelah merasa sembuh!” kesal Levyn.
__ADS_1
“Biar aku yang bicara,” kata Robert akhirnya. Dia kembali lagi ke tempat Angel.
“Aku akan ke tempat mertuamu. Kurasa kau harus ikut ke sana agar bisa hidup lebih baik,” kata Robert.
“Tidak. Ini rumahku. Aku akan tetap ada di sini meskipun rumahku sudah runtuh!” kata Angel bersikeras.
“Mereka mencemaskan kesehatanmu. Jika hidupmu baik, maka semua akan tenang dan bisa bekerja dengan fokus,” bujuk Robert.
“Tapi ini rumahku, Robert. Aku---”
“Ada aku di sini yang akan menjaga tempat ini dengan nyawaku,” kata Levyn.
“Tapi---“
“Apa kau tidak mempercayai putramu? Apa kau tidak mempercayai Pangeran Mahkota?” tanya Robert dengan pandangan yang dalam.
Angel akhirnya menunduk setelah kalah beradu pandang dengan Robert. “Baiklah,” katanya menyerah.
“Bagus. Bersiaplah, sembari aku menunggu pembagian bahan makanan ini,” kata Robert.
Eric, Arjun dan Hakon sibuk membagi bahan makanan.
“Bagaimana?” tanya Robert.
"Bahan makanan kita bagi dua. Satu bagian dikirim ke istana Raja Felix, untuk dibagikan pada rakyat sekitar mereka. Yang lain tinggal di sini, untuk dibagikan pada rakyat sekitar sini,” jelas Eric.
“Semua ini akan habis dalam sehari,” kata Robert lewat pikiran.
“Kita harus menghubungi ayah dan meminta bantuan pangan,” kata Eric.
“Tak mungkin membuat tempat teleportasi di sini,” kata Arjun.
“Sebaiknya kita pasang pintu teleportasi di istana Raja Felix saja,” saran Robert.
“Baik, kalau begitu. Aku akan ikut ke sana.” Eric sudah memutuskan.
“Aku dan Hakon yang berjaga di sini,” angguk Arjun.
“Aku sudah siap!” kata Angel. Beberapa pelayan wanitanya sudah mengikuti di belakang dengan tas-tas kain di punggung mereka.
Robert mengangguk pada Eric. “Tutup mata kalian,” pintanya.
“Kenapa?” tanya Angel heran.
“Kau percaya padaku?” Robert balik bertanya. Anggel menmgangguk dan menoleh pada para pelayannya.
“Tutup mata kalian!” perintahnya. Para pelayan itu mengikuti dengan patuh. Angel juga menutup matanya.
“Percaya padaku dan tenang saja,” kata Robert sebelum memasukkan semua wanita itu dalam kalung penyimpanannya.
Levyn kembali terkejut. “Di mana dia menyembunyikan semua orang dan bahan makanan ini? Apakah dia punya kantong ajaib?” pikirnya.
Ubbe dan bagian bahan makanan ikut disimpan oleh Eric. “Sofie, Gerald, Jason, dan Fire, kalian ikut denganku menjaga di istana yang lain!” perintah Eric.
“Baik!” jawab mereka serentak.
“Yang lain, tunggu di sini dan patuhi Arjun!” kata Eric.
“Baik!” sahut mereka yang tersisa.
“Mari kita pergi!” ajak Eric.
“Tunggu!” Asisten pangeran mahkota datang sambil berlari-lari.
*****
__ADS_1