
Pangeran Levyn datang bersama dengan ibu dan neneknya. “Kakek, pesan untuk ayah sudah dikirimkan oleh nenek,” lapornya.
“Apakah Glenn sudah membalas?” tanya Raja Felix pada istrinya.
“Ya. Dia bilang akan menunggu Levyn datang. Aku sudah menandai tempat yang diberikan Glenn. Levyn tinggal mengikutinya dengan manteraku!” jawab istrinya.
“Bagus kalau begitu.” Raja Felix merasa tenang.
“Kapan dia akan pergi?” tanya Angel. Wajahnya menampakkan kekhawatiran yang nyata.
“Besok, sebelum hari terang. Agar para orc itu tidak melihat saat mereka melintasi langit,” jawab ayah mertuanya.
“Kau harus berhati-hati dan mendengarkan perintah ayahmu!” pesan Angel.
“Iya, Ibunda,” angguk pangeran muda itu, mencoba menenangkan kegelisahan ibunya.
“Sekarang, sebaiknya kita semua beristirahat lebih dulu. Persiapkan tenaga yang cukup. Karena besok adalah hari yang panjang,” ujar raja.
“Kami undur diri, Yang Mulia.” Dean berdiri dari duduknya. Raja Felix mengangguk.
Maka Dean dan Bangsa Cahaya mengundurkan diri kembali ke gudang, dimana pintu teleportasi mereka berada.
“Besok, bersikaplah bijaksana. Buat keputusan, setelah kau memikirkannya secara matang. Dan setelah bertemu Pangeran Glenn, maka dengarkan rencana yang dibuatnya. Jika setelah berdiskusi itu memang langkah yang tepat, kau harus mengikuti. Jangan sampai ada dua nakhoda dalam satu kapal!”
Dean menasehati Eric. Karena sekarang dia harus melepaskan putranya tanpa pengawasan Robert, Arjun dan Kakek Kang. Dia tahu putranya adalah orang yang baik dan penurut. Namun, Jiwa Leluhur yang menguasainya itu, bisa memberontak kapan saja. Itulah yang ditakutinya.
“Iya, Ayah,” sahut Eric patuh.
“Aku mempercayaimu, Eric. Dan lebih dari itu, negara ini mempercayakan Pangeran mereka padamu. Kau harus menjaga mereka berdua tetap aman dan menemukan putri Cristal secepatnya!” Dean kembali menegaskan hal itu pada putranya.
“Jangan sampai upaya bangsa kita tercederai karena ulahmu!” Dean menatapnya tajam.
“Astaga, Ayah. Jika tidak mempercayaiku, kenapa tidak mengirim Paman Robert ke sana? Biar aku di sini saja,” kata Eric kesal.
“Aku bukan tidak mempercayaimu. Kau tau yang kumaksud, kan?” Dean berkata serius.
Eric akhirnya tak membantah lagi. Dia tahu apa yang dimaksud ayahnya. Jiwa leluhur itu masih belum mampu dia taklukkan sepenuhnya. Bahunya jatuh, karena serba salah.
“Kau harus menguatkan jiwamu. Kuatkan hatimu! Hanya dengan cara itu dia bisa kau tundukkan. Dia tidak akan tunduk pada orang yang hati dan jiwanya lemah!” jelas Dean.
“Aku mengerti.” Eric mengangguk.
“Beristirahatlah sebentar. Kita akan membutuhkannya besok!” Dean menyentuh kalung di leher Eric dan memindahkan cukup banyak persediaan makanan serta air abadi dan beberapa obat di dalamnya.
Pukul lima pagi, istana Raja Felix sudah sibuk. Eric, Pangeran Levyn, Gerald dan Hakon akan pergi ke negeri Para Penyihir. Pangeran muda itu duduk di punggung Gerald dengan sedikit takut.
“Duduklah yang benar, agar dia bisa terbang dengan baik dan kau tidak jatuh,” saran Raja Felix. Dia sudah berpengalaman duduk di atas kedua naga itu.
__ADS_1
“Baik! Sudah saatnya berangkat. Sebentar lagi matahari akan terbit!” kata Dean.
“Lewati saja langit wilayah Negara Peri. Jadi kalian bisa lebih cepat dan aman!” pesan Raja Felix sekali lagi.
“Baik, Kek!” sahut Levyn.
Eric melayang naik, diikuti Hakon. Lalu Gerald mengikuti mereka. “Aku pergi, Kek,” pamit Gerald. Kemudian ketiganya terbang di langit gelap negara Elf. Kakek Kang mengawasi hingga bayangan mereka hilang dari pandangan.
Lalu Robert mulai bersiap juga. Wulfric dan beberapa prajurit pilihan, disembunyikannya. Dia akan terbang cepat ke istana itu di saat gelap. Dan mendarat di tempat ayng sudah disebutkan oleh Wulfric.
“Aku berangkat!” ujar Robert. Dia melayang sebentar di atas istana, lalu terbang ke arah istana utama.
“Aku juga turun ke pintu teleportasi. Pasukan yang bersamaku, sudah menunggu di bawah,” kata Arjun. Raja dan Dean mengangguk mengijinkannya.
“Sofie … Eric, Robert, dan Arjun sudah di posisinya. Kau dan pasukan di sana, bersiaplah!” Dean mengirim pesan lewat pikiran pada Sofie yang bergabung dengan pangeran mahkota.
“Baik, akan kusampaikan pada pangeran mahkota!” jawab Sofie.
Di istana, Kakek Kang, Dimas, Jason dan Aila juga bersiap siaga. Mereka harus membantu para korban dengan cepat. Semuanya sudha dibekali dengan obat yang cukup. Dan tabib istana masih terus membuat obat luka-luka, dibantu oleh para petugas kesehatan istana.
“Bawa korban yang parah ke sini, untuk diobati!” perintah Dean pada Dimas, Jason dan Aila. Ketiganya mengangguk.
“Ingat! Bantu mereka dengan kemampuan medis, bukan dengan dengan esensi jiwa kalian! Karena jika terjadi sesuatu pada kalian berdua, aku tak akan berani pulang ke sana! Aku akan sangat bersalah pada nenekmu!” Dean menekankan hal itu pada Jason dan Aila.
“Baik, Kek. Kami mengerti!” angguk keduanya.
“Sudah dimulai. Mari kita ke sana!” ajak Dean.
“Kurasa, ini waktunya aku mengirimkan surat untuk dua negara tetangga kita!” ujar raja. Dia pergi ke arah berbeda, diikuti oleh penasehat istana.
***
Cahaya pagi mulai terlihat di ufuk, saat empat pemuda itu melintas di atas langit negara Para Peri. Mereka melesat cepat. Eric dan Hakon meninggalkan jejak cahaya di belakang mereka. Namun, mereka berdua tak bisa melesat dengan kecepatan cahaya, karena Gerald tidak bisa terbang secepat itu. Jadi Eric dan Hakon harus menyesuaikan dengan kecepatan Gerald.
“Kenapa area di bawah ini terlihat lebih putih?” tanya Gerald.
“Aku tidak tahu. Tapi negeri Para Peri memang selalu diselimuti kabut. Seperti sebuah misteri,” jawab Pangeran Levyn.
Pangeran itu melihat ke arah bawah. Dia ingin tahu, seperti apa sepupunya Karl sekarang. Tapi tentu saja dia terlalu tinggi untuk bisa melihat ke balik kabut yang menutupi area Negara Peri.
“Berapa lama lagi kita sampai?” tanya Hakon.
“Bersabarlah. Wilayah Negara Peri bukannya kecil!” kata Levyn.
“Kita lihat saja kabut di bawah. Jika sudah habis, maka itu artinya sudah masuk negara lain.” Eric menengahi.
“Betul! Maka kita akan segera sampai di negara Para Penyihir!” Levyn mengangguk.
__ADS_1
Keempatnya masih terus terbang di langit pagi. Sinar matahari yang kuning keemasan terlihat sangat cantik.
“Apakah kalian sering melihat sinar matahari yang ecantik ini?” tanya Levyn.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Gerald.
“Karena kalian bisa terbang. Bisa melihat sinar matahari terbit tanpa ada halangan sama sekali!” ujar Levyn sedikit iri.
“Yah … kebanyakan jam seperti ini aku sangat sibuk membantu ibu dan ayahku. Kami punya ladang pertanian yang sangat luas. Aku punya seorang kakak perempuan dan adik lelaki. Dan kami semua harus bekerja membantu ayah dan ibu untuk mengelola tempat itu.” Gerald tiba-tiba merasa rindu dengan tempat tinggalnya yang indah.
“Alangkah menyenangkan,” kata Levyn iri. Meski dia tak tahu seperti apa bekerja di ladang pertanian, tapi menurutnya, itu pastilah sangat seru.
“Jika perang usai dan negara kalian damai lagi, Kau bisa datang dan bermain ke tempatku. Akan kuajak kau ke laut yang sangat indak dan menikmati buah kelapa segar!” kata Gerald bangga.
“Tentu saja! Kuharap aku bisa pergi ke sana. Andai dulu ibunda mengutusku ke sana, mungkin aku sudha bisa melihat negara kalian yang luar biasa itu,” sesal Levyn.
“Hei, kabut di bawah sudah hilang!” seru Hakon. Dia berhenti dan melayang di tempat itu
“Kenapa kau berehnti di sana? Negara Para Penyihir masih di depan sana!” tunjuk Levyn.
Eric, Hakon dan Gerald mengikuti arah tangan Levyn menunjuk. “Aku melihat langit membentang di sana,” kata Eric.
“Betul! Tak ada apa-apa di sana. Ini sangat aneh!” timpal Hakon.
“Kurasa, langit negara Para Penyihir juga dilindungi dengan semacam sihir. Apa kau tahu cara memasukinya?” tanya Gerald.
“Ah, aku lupa!” Levyn menepuk dahinya. Dia menyadari tiga temannya tak bisa melihat perbatasan udara negara Para Penyihir seperti dirinya. Lalu dia duduk dengan tenang dan memejamkan mata. Mulutnya menggumamkan mantera serta tangan kanannya bergerak-gerak mengikuti irama ucapannya.
Setelah dia selesai melakukannya dan membuka mata, perlahan kabut yang menutupi pandangan ketiga temannya hilang.
“Benar-benar negara yang aneh,” kata Gerald.
“Menurutku, ini bentuk pertahanan negara yang kuat. Sama seperti kabut yan gmenutupi langit negara peri. Hal ini membuat pesawat pengintai ataupun satelit tidak dapat menembusdan mencuri rahasia negara dari ketinggian!” komentar Eric.
“Ini bukan Bumi, Eric!” sanggah Gerald dan Hakon tertawa geli.
“Ah, ya … aku lupa. Tapi, pada dasarnya, hal seperti itulah yang mendasari pembuatan pelindung itu. Apa kau ingat bagaimana kubah yang dulu menutupi wilayah kediamanmu?” tanya Eric pada Gerald.
“Ah, iya, aku mengerti. Seperti kubah yang masih dipertahankan kakek dan ayah untuk menutupi kompleks makam para kaisar!” Gerald mengangguk paham.
“Apa itu Bumi?” tanya Levyn.
Dia mendengarkan percakapan Eric dan Gerald dengan kepala kosong. Dia tak bisa membayangkannya. Terlebih lagi tadi Eric mengatakan tentang pencurian rahasia negara dari ketinggian. Bagaimana caranya?
“Nanti akan kubawa kau ke sana. Agar kau bisa melihat luasnya dunia ini!” janji Eric sambil tersenyum.
“Sekarang tunjukkan arah mana yang harus kita tuju, untuk menemui ayahmu!” katanya mengingatkan.
__ADS_1
*****