
Dean menoleh ke arah jalanan menuju rumah Robert. Eric sedang berjalan dari sana. Dia bisa melihat kilau biru samar di mata putranya yang kadang hilang, kadang muncul.
Dean mengambil duduk di kursi kayu panjang, menunggu Eric tiba.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya lewat pikiran.
Tak lama Eric sampai dan mengambil duduk di sebelahnya. "Tentang yang ayah katakan tadi siang," katanya serius.
"Kau tidak senang karena dilarang pergi?" tanya Dean sambil memperhatikan pria muda yang wajahnya sangat mirip dengannya naun sangat keras kepala.
"Apa ayah sungguh menyayangiku?" tanyanya serius.
"Karena terlalu menyayangimu lah. Makanya aku terlambat mendisiplinkanmu!" ketus Dean.
Dean merobah posisi duduknya menghadap tepat pada sang anak. "Kau lihat kedua adikmu. Apakah aku memanjakan mereka seperti memanjakanmu? Meski mereka sangat sedih, tapi aku tidak ragu mengirim mereka jauh ke Kanada, ke tempat nenek dan kakekmu. Hanya agar mereka bisa mandiri dan mendapatkan ilmu yang lebih tinggi dari sekedar tinggal di sini!"
"Sementara kau hanya menghabiskan waktu bermain dan terbang ke sana kemari! Aku menghibur diri dan mengira satu saat kemampuan sejatimu akan muncul dan membimbingmu menuju jalan yang seharusnya! Memimpin Bangsa kita ke masa gemilang!" kata Dean keras.
"Kenapa ayah sangat terobsesi dengan kegemilangan masa lalu? Bukankah dengan begini saja kita sudah hidup damai dan bahagia?" Suara Eric mulai naik. Dia jengkel terus didesak untuk membuat Bangsa Cahaya menjadi lebih maju lagi.
"Karena, jika bangsa kita maju, maka anak-anak mudanya bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik dari sekedar menanam gandum ataupun menggembala kambing!" Dean menatap mata Eric tajam.
"Agar setiap anak bisa sekolah dengan lebih baik, tanpa perlu tinggal jauh di bumi seperti adik-adikmu, ataupun anak-anak yang disekolahkan Arjun di India!" Dean tengah karena emosinya.
Eric diam dan menunduk. "Maafkan aku. Aku mengira ayah terobsesi pada masa lalu," kata Eric lirih.
"Masa lalu bangsa kita yang gemilang, bisa kita jadikan patokan. Aku merasakan bagaimana suasana sekolah yang teratur pada masa itu. Keteraturan, ilmu, serta guru-guru yang menjadi perhatian Pemimpin Cahaya masa itu, membuat Bangsa kita menjelma menjadi Bangsa besar dan punya pengetahuan luas. Apa yang salah jika kita ingin maju dan bangkit?"
Eric diam mendengarkan kata-kata ayahnya. Dia sangat menyadari bahwa dirinya kerap membuat Dean emosi. Tapi entah kenapa, dia sangat senang jika berhasil melakukan kebalikan dari apa yang diinginkan ayahnya.
Dean menarik baju Eric ke arahnya. Eric terkejut melihat mata ayahnya bersinar keemasan. Tangan pria itu sudah mendarat telak di dadanya dan dia merasakan hangat, kemudian panas di dada.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau berusaha keras mengendalikan putraku? Apa kau lupa kalau kau seharusnya sudah ribuan tahun tewas dan terjebak di dalam gua batu? Dan setelah kami mengasihanimu dan membiarkan Eric menampungmu, kau ingin memberi pengaruh buruk pada putraku?"
"Indra, Arjun, Robert, ke sini!" panggil Dean.
Dalam sekejap empat pria datang ke tepi kolam. Kakek Kang juga ikut serta karena diajak Arjun.
"Bantu aku memberi pelajaran pada makhluk tidak tahu diri yang ingin menguasai putraku!" kata Dean di kepala mereka.
Indra dan Arjun mendekat. Keduanya mendekatkan tangan mereka yang berwarna biru dan merah di dada Eric.
"Panas ... panas!"
Eric berusaha melepaskan diri dari pegangan ketiga orang itu. Dia merasakan api muncul di dada dan membuat darahnya seperti mendidih.
"Kami tidak akan berhenti, hingga kau berhenti mencoba membuatnya melawan orang tuanya sendiri!"
"Dia akan mati jika kalian terus seperti ini!" Sebuah suara berat terdengar dari bibir Eric. Mata pria muda itu suah sepenuhnya berwarna biru keemasan. Jiwa leluhur itu melawan dan menolak untuk patuh.
"Kau pria tak bertanggung jawab pada masa itu. Keturunanmulah yang membuat Bangsa Cahaya menjadi besar. Jika kau tak mau berubah, maka lebih baik kau enyah dari kehidupannya!" teriak Dean marah.
Widuri dan Dhara turun dari rumah dan melihat dengan ngeri, apa yang dilakukan Dean, Indra serta Arjun.
Cahaya terang di tempat itu, menarik perhatian orang-orang lain. Dokter Dimas mendekat. Ada rasa khawatir di matanya, namun dia tak melakukan apapun.
"Ayah, jangan lakukan hal itu pada Eric. Tolong Paman, Kakek Kang, tolong Eric!" Sofie berteriak histeris.
"Jangan ikut campur urusan para tetua dan pemimpin!" Robert mengingatkan dengan tajam.
"Eric kesakitan!" ujarnya ngeri.
Di tepi kolam air terjun itu, seperti sedang ada api unggun. Tempat itu sangat terang dan berisik dengan suara jeritan Eric.
__ADS_1
Tubuhnya dibakar oleh Arjun dan Indra dengan api biru dan merah yang dialirkan secara konstan.
"Tidak!"
Sofie melepaskan diri dan melesat untuk menyelamatkan Eric. Namun Dokter Dimas tak kalah cepat menghadangnya.
Dengan tatapan tajam, Dokter Dimas mengingatkan. "Ini bukan lagi ranah kita, Ivy. Dia harus dibimbing dengan keras, agar tidak berbuat semaunya seperti masa lalu!"
Tangan Sofie dihela untuk menjauh dari tempat Dean.
"Eric, kau harus kuat dan menguasainya. Jangan biarkan dia yang menumpang hidup itu, menguasaimu!" Kakek Kang memberi semangat pada pria muda yang sedang disiksa oleh Arjun Dan Indra.
Widuri sudah terduduk di jalan setapak. Dia sangat mengerti apa yang dilakukan Dean adalah untuk kebaikan putra mereka. Namun sebagai ibu, kakinya tak mampu menopang tubuh melihat anaknya menjerit-jerit kesakitan.
"Aku di sini, ibu," ujar Zoella. Berusaha menenangkan tubuh Widuri yang gemetar ketakutan.
"Si-siap-kan air a-ba-di un-tuk ka-kak-mu!" perintah Widuri dengan suara bergetar.
"Kau jaga ibu, biar aku ambil tempat air abadi," kata Zoella pada Dharra adiknya. Gadis itu mengangguk mengerti.
Di sisi lain, pasien Elf yang sudah sehat, ikut keluar saat mendengar keributan dan semua perawat serta dokter keluar. Dia ternganga melihat tiga pria membakar seorang pria muda dengan tiga cahaya terang yang dahsyat.
"Apa yang terjadi? Apakah ada pengkhianat yang ketahuan dan dihukum?" tanyanya pada pria di sebelahnya.
"Itu Eric, yang sedang mendapat hukuman dari ayahnya!"
Pria yang menjawab itu menoleh ke arahnya. "Sebaiknya Ada beristirahat. Besok adalah hari yang panjang," sarannya.
"Ubbe, bawa dia kembali ke rumah sakit," printahnya.
"Baik, Guru!" seorang pria menggamit tangan pasien Elf itu untuk pergi. Mereka tidak perlu mengurusi hal yang bukan urusan mereka.
__ADS_1
"Tidakkah menurutmu Pemimpin kalian sangat kejam? Putranya disiksa sampai seperti itu!" katanya ngeri.
*******