The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
25. Naga Muda Gerald dan Lyman


__ADS_3

Yabie dan Aslan pergi lebih dulu. Mereka harus bertemu pria Elf pengantar pesaan itu.


"Apa kau pernah bertemu yang seperti itu sebelumnya?" tanya Aslan pada Yabie, di perjalanan mereka.


"Tidak. Baru sekali ini aku bertemu dengan bangsa itu," jawab Yabie jujur.


"Ka sudah kembali? Bagaimana hasilnya?" tanya Calya, istri Yabie.


"Belum ada hasil apapun. Aslan ingin bertemu dengan pembawa pesan itu," Yabie langsung melangkah ke belakang klinik, diikuti Aslan.


Calya membiarkan keduanya masuk. Dia perg mengurusi hal lain.


"Aku Aslan. Siapa namamu?" tanya Aslam begitu bertemu.


"Aku Herdan," jawab pria itu. Dia tak nampak lemah lagi, seperti yang diceritakan Yabie sebelumnya.


"Begini, Herdan. Pemimpin kami, Dean mengutusku untuk mencari jalan menuju ke negaramu, agar bisa membantu. Bolehkan aku memegang kepalamu, sebentar?" tanya Aslan sopan.


"Kurasa memang harus mencari jalan lain. Lautan di balik dinding cahaya itu sangat bahaya. Seorang temanku hilang entah ke mana," katanya khwatir.


Saya sudah meminta semua penduduk di sini yang tinggal di pantai, untuk melporkan jika bertemu orang lain yang terdampar." Yabie mencoba menenangkan.


"Jadi, boleh aku memeriksa sebentar?" tanya Aslan lagi. Pria Elf itu menggangguk.


Aslan memeriksa ingatan Herdan dengan meletakkan telapak tangannya di kepala pria itu. Yabie bisa melihat ba Aslan sedang serius dan matanya terpejam.


Lima menit Aslan memeriksa, hingga keningnya mengerut. Tangannya perlahan ditarik dari kepala Herdan. Pria itu ta mengerti cara kerja di dunia yang dikunjunginya itu.

__ADS_1


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Yabie.


Aslan menggeleng. "Dunia kalian sangat tertutup dan misterius. Aku tidak bisa memperkirakan di mana kira-kira titik kordinatnya."


Yabie menggeleng tak puas. Pandangannya beralih pada Herdan. "Dapatkah kau ceritakan di mana tepatnya tempat tinggal kalian itu?" tanya Yabie penasaran.


"Kerajaan kami berada diantara Negara Peri dan Kurcaci Biru. Tempat yang indah dan damai, dimana segala bangsa bisa tinggal dan hidup damai bersama. Kecuali Orc, tentu saja," jawabnya dengan bangga


Aslan menggeleng. Menurutnya, pengetahuan di tempat para Elf itu berbeda dengan dunia mereka yang sudah semakin maju setelah teknologi bumi dibawa masuk ke Dunia Cahaya, yang mencahayai sekitarnya.


"Apakah di sana ada jalur teleportasi?" tanya Aslan. Dia harus mencari jalan lain untuk mengetahui titik teleport yang bisa jadi acuan.


"Ada. Kami menggunakan teleportasi dari kediaman, menuju kota ataupun negara lain." jawab Herdan.


"Bagus! Kami butuh titik teleportasi itu untuk mencapai tempatmu, dari sini!" Yabie dan Aslan bersemangat. Mereka mendapat titik terang sekarang.


Aslan kecewa. Yabie menepuk dahinya kesal. "Lalu, bagaimana kita bisa ke sana?" gumamnya.


"Sudah malam, aku harus kembali dan melaporkan ini pada Dean." Aslam berpamitan.


"Bagaimana denganku? Bagaimana dengan Robert? Aku harus ikut jika kalian pergi ke sana," ujrnya tak sabar.


"Robert ada di Dunia Cahaya. Jika kau sembuh, kau akan dibawa ke sana," kata Yabie menenangkaya.


"Aku pergi!" kata Aslan.


*

__ADS_1


*


Pagi hari, dua putra Kang, Gerald dan Lyman pergi ke pantai untuk mencari seafood yang diinginkan ibunya (Nastiti). Keduanya terbang bebas di udara terbuka. Melihat pulau misterius dimana mereka tinggal, dari atas udara. Pulau yng semula merupakan hutan lebat seluruhnya, dengan dunia-dunia kecil dalam kubah cahaya, kini sudah berubah rapi dan lebih bersahabat dengan manusia.


Penduduk kota bisa berburu lagi di hutan, sampai batas terjauh yang ditetapkan Yabie sebagai batas aman. Rakyat menghormati keputusan pemimpin kota. Kota mati yang semula tertutup, selubungnya sudah dibuka oleh Kakek Kang. Hanya saja, Kang tidak melakukan hal itu di tempatnya, karena masih mempertahankan kompleks makam Kaisar yang dijaganya.


"Kau cari di sebelah sana, aku di sebelah sini. Dalam setengah jam, kita lihat siapa yang mengumpulkan lobster dan cumi-cumi terbanyak!" tantang Lyman.


"Siapa takut!" Kakaknya Gerald, mengangguk dengan bersemangat.


Kedua naga muda itu terbang berputar di udara beberapa kali, sebelum menceburkan diri mereka ke dalam laut dalam. Sesekali kepalanya menyembul sambilmenunjukkan hasil tangkapan, dan tertawa gembira.


"Sudah banyak nih. Ayo ke pantai dan memetik buah kelapa!" ajak Gerald. Jika tidak diingatkan, maka Lyman akan terus bermain di pantai hingga sore.


Tanpa menunggu kata-kata kakaknya hingga selesai, Lyman sudah terbang keluar dari air dan menuju pantai berpasir.


Gerald mengejar adiknya, berlomba menuju pantai. "Hei, lihat itu! Tunjuk Lyman ke tengah laut. Sesuatu mengapung di tengah laut, berayun ke sana-sini, dimainkan ombak.


Gerald lagsung terbang ke sana untuk melihat. Dia kemarin mendengar percakapan Yabie dan Robert dengan kedua orang tuanya.


"Seseorang mengapung di laut!" kata Lyman yang sudah menyusul.


"Kau pegang semua hasil laut ini dan bawa pulang. Aku bawa dia ke klinik di kota!" perintah Gerald.


"Kenapa kau selalu memerintahku?" kesal Lyman. "Karena kau adikku. Jadi, segera pulang dan kabarkan pada ayah apa yang kita temukan ini!"


Gerald menyerahkan semua hasil tangkapannya pada Lyman. Kemudian langsung mengangkat papan yang menjadi tempat berbaring orang asing itu. Dia membawanya langsung ke klinik Calya di puncak bukit.

__ADS_1


******


__ADS_2