The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
15. Bantuan


__ADS_3

Di tempat lain, di sebuah tempat persembunyian, seorang pria muda melihat dengan sedih asap yang membumbung dari kediaman Pangeran Glenn.


"Harusnya aku mendengar saranmu untuk langsung pulang!" sesalnya sedih. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Post teleport dikuasai para Orc.


"Bagaimana keadaan ibu?" lirihnya cemas. Pengawalnya tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia sudah memeriksa ke seluruh kota, saat Pangeran Levyn pingsan dan diikatnya di dahan pohon di perbatasan negara itu dengan Hutan Sihir.


"Seluruh kota sudah dikuasai para Orc. Bahkan bendera di post teleport istana sudah mereka ganti!" cerita pengawal itu.


"Apakah itu artinya negara ini sudah jatuh?" tanya Levyn takut.


Pengawal itu menggeleng. "Kerajaan kita pernah mengalami hal yang sama, puluhan tahun lalu. Itu sebabnya ada aturan yang melarang semua pangeran pergi perang. Agar di saat genting, ada yang bisa segera mengambil alih dan membuat negara kita tetap berdiri!"


"Dan aku sudah begitu merepotkan dengan semua siap keras kepalaku!" sesalnya sambil memukul kepalanya sendiri.


"Saya yakin, Yang Mulia Raja pasti sudah membuat keputusan sebelum dirinya dikalahkan oleh Orc!"


"Kira-kira, siapa yang dipilih untuk menggantikan Paman Raja?" tanya Levyn.


"Putra Mahkota dan Pangeran Glenn di luar kota. Di kota ini hanya ada Anda dan Pangeran Felix. Dibandingkan Anda, rasanya Yang Mulia Raja akan lebih condong memilih Pangeran Felix sebagai pengganti!" jawab pengawal itu jujur.


"Kakek?" Mata Levy tak percaya. Tapi melihat anggukan sungguh-sunguh pengawalnya, akhirnya dia diam.


"Pangeran Felix pernah menjadi Raja sementara, saat Raja yang sekarang belum cukup matang untuk memerintah." Pengawal itu menjeda kalimatnya. Seperti sedang mengingat sejarah dengan tepat.


"Kakek Anda sudah berpengalaman untuk melaksakan tugas sebagai seorang raja!"


"Bukankah ada bangsawan lain yang juga punya posisi bagus di istana. Bahkan Paman penasihat kerajaan juga adalah keluarga bangsawan!" Levyn mencoba memikirkan kemungkinan raja lain, selain kakeknya.


"Yang lain belum punya pengalaman mengatasi situasi genting! Juga merupakan keluarga jauh. Lingkar terdekat Anda adalah Pangeran Felix, keluarga Bibi anda di Kerajaan Peri, dan Keluarga Kerajaan Penyihir!"


"Mereka sangat jauh!" gerutunya.


"Tidak mudah untuk bertemu akhir-akhir ini. Terutama putra bibiku yang lebih suka tinggal di hutan!"


Levyn menggeleng. Tak mungkin juga mereka yang menggantikan Raja Elf.


"Pangeran, bukankah anda memiliki kemampuan sihir seperti Pangeran Glenn?" tanya pengawal itu sambil terus mengamati sinar kemerahan di langit, tempat kediaman Pangeran Glenn.


Levyn mengangguk "Maksudmu?"


"Bisakah Anda mengumpulkan air dan menyiramkannya ke atas sana?" tunjuknya ke arah kediaman itu.

__ADS_1


"Aku belum semahir ayah!" katanya tak yakin. Tapi Levyn tetap berdiri dari duduknya. Kedua tangannya terangkat ke atas, seiring mantera yang terucap. Perlahan namun pasti, air sungai di depan mereka naik dan terus terangkat ke atas langit, menuju kediaman yang terbakar hebat.


Seperti sebuah komando, semua air kolam di kota juga ikut naik ke langit. Bersama-sama menuju ke arah kediaman Pangeran Glenn.


Pengawalnya terkejut. Dia pernah melihat hal yang serupa dilakukan Pangeran Glenn. Akan tetapi, yang dilihatnya kali ini, lebih dari itu.


Di kota, para Orc yang sedang merayakan kemenangan, terkejut melihat air naik ke udara. Hal itu sedikit mengkhawatirkan. Kekuatan sihir akan lebih sulit diatasi. Karena mereka mengandalkan kelebihan fisik.


*


*


Angel menatap sedih ke arah rumah yang kini tinggal bara api. Lebih sedih lagi saat melihat para pelayan wanitanya mengalami luka bakar di mana-mana. Mereka butuh tenaga medis segera. Karena dia yakin, ruangan obat pasti juga sudah habis dilalap si jago merah.


Pengawalnya dan prajurit penjaga pos teleportasi telah berusaha semampu mereka mengobati luka bakar.


"Nyonya, posisi kita terjepit saat ini. Sekeliling kita sudah terbakar habis," lapor pengawalnya.


"Bukankah itu bagus?" kata Angel. "Para Orc di sisi lain tidak akan bisa ke sini!" tambahnya.


Pengawalnya mengangguk. "Hal buruknya adalah, jika ada Orc naik dan muncul di sini, mereka akan langsung menemukan Anda!" kata pengawal itu khawatir.


"Baik!" Pengawal itu mengangguk. Untuk sementara, mereka bisa menjaga pintu teleport sambil mengumpulkan tenaga baru.


Para pelayan wanita ada yang duduk, bahkan berbaring di rumput dengan merintih halus, menahan sakit.


"Aku melihat awan gelap di langit. Dewa berpihak pada kita. Semoga hujan segera turun dan dapat mengobati luka-luka kita," celotehnya.


Semua mereka menatap penuh harap pada awan gelap yang memayungi tempat itu. Suara petir menggelegar mulai terdengar. Tak lama, air yang seperti dicurahkan dari langit, tumpah dengan derasnya di semua tempat.


Para pelayan itu basah dengan cepat. Salah seorang memegang perutnya. Ada ranting pohon dengan beberapa daun jatuh bersama air.


"Kurasa, ini bukan air hujan. Awan tidak akan menyimpan ranting pohon di dalam gumpalannya!" katanya heran.


"Menurutmu, siapa yang membantu kita?" tanya pelayan lain. Dia memperhatikan dengan lebih seksama. Awan di atas, masih terus bergesekan hingga menimbulkan petir. Dan memang belum menurunkan airnya.


"Pangeran Levyn bisa mengendalikan air dan angin, bukan?" salah seorang pelayan berkata setengah berteriak, karena gembira.


"Kau benar! Artinya, sang Pangeran baik-baik saja di bawah sana. Dia hanya tidak bisa kembali. Karena pintu teleport ditutup!" Para pelayan itu merasa harapan mereka kembali tumbuh.


Angel juga merasa sedikit tenang sekarang. "Tak apa dia berada di bawah, asalkan tetap aman," batinnya penuh harap.

__ADS_1


"Lalu siapa yg mengirim awan tebal itu?" tanya pelayan lain.


"Yang bisa ilmu sihir, hanya keturunan Bangsa Penyihir. Kau tahu itu." Temannya memberi petunjuk.


Mereka memikirkan siapa yang mungkin membantu mereka lagi.


"Nyonya Tua!" teriak Ronda parau, diantara rasa nyerinya.


"Kau benar. Pasti Nyonya Tua!" para pelayan mengangguk senang. Ibunya Pangeran Glenn pasti sedang membantu mereka saat ini.


Tak lama, air deras tadi berganti dengan hujan yang turun konstan di semua tempat.


"Ini baru air hujan!" ujar mereka lega. Meskipun basah kuyup, namun mereka senang. Perlahan api padam.


Hanya saja, hal itu bisa dimanfaatkan oleh para Orc untuk mencapai post teleportasi dan berusaha merebutnya lagi.


Waktu istirahat sudah usai. Para pengawal yang hanya segelintir itu, kembali berdiri dan bersiaga.


Tak butuh waktu lama. Suara teriakan Orc menggema di seberang bangunan yg tinggal puing. Matanya menyala, melihat post itu belum dapat dikuasai kelompoknya. Terutama melihat para wanita justru berkumpul di tempat itu.


Dengan berteriak kencang, memberi aba-aba pada teman-temannya, dia lari melintasi bangunan yang masih menyisakan bara di bawah tumpukan kayu hitam.


Angel sudah menggenggam pedang kecilnya. Para pelayan yang masih bisa duduk, ikut menghunus pedang, untuk membantu pengawal yang tersisa.


Namun tanpa diduga, kilatan petir sambar menyambar ke arah tiga Orc yang sedang berlari menuju post teleport.


"Akhh!"


"Awww!"


Mereka menjadi bulan-bulanan sambaran petir yang terus mengejar tanpa ampun. Meskipun memiliki tubuh yang sangat kuat, namun sambaran petir bukanlah lawan yang bagus. Ditambah lokasi mereka berdiri yang ternyata masih panas membara.


Perlahan mereka kalah. Hanya seorang yang berhasil melintasi reruntuhan bangunan rumah dan sampai di depan para pengawal. Kedatangannya langsung disambut dengan hunjaman pedang tajam.


Tak bisa mengelak karena luka-luka bakar yang didapat, ditambah tusukan pedang dari keroyokan pengawal, Orc itu tumbang juga.


Angel mendekati Orc yang tak berdaya, setelah kedua tangan serta dadanya ditusuk pengawal.


"Kau menghancurkan rumahku. Tak ada ampunan untukmu!" Setelah mengatakan hal itu, pedang pendeknya ditusukkan ke leher Orc. Raksasa itu melotot tak percaya, hidupnya berakhir di tangan seorang wanita!


*****

__ADS_1


__ADS_2