The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 114. Mengantar Cristal


__ADS_3

 Dua orang bangsa Cahaya itu terbang meninggalkan kota besar yang sedang dilanda bencana petir dahsyat buatan Eric. Tak akan ada seorang pun di dalam kubah besar itu yang bisa selamat.


Dan sepanjang jalur perjalanan menuju ke perbatasan Tanah tak bertuan, Eric dan Thorn melemparkan serangan. Meimbulkan kebakaran di mana-mana, membuat rakyat Orc itu panik. Hanya saja mereka tidak mengetahui siapa musuh yang mesti dihadapi.


Di kota terdekat dengan perbatasan, perang berlangsung sangat dahsyat.  Eric dan Thorn berhenti di atas kota. “Tampaknya kau harus kembai seorang diri ke istana Elf. Yang penting, konfirmasi dulu siapa dia dan obati segera!” perintah Eric serius.


“Kau mau apa?” tanya Thorn.


“Apa tak kau lihat kalau mereka butuh bantuan? Jangan sampai bangsa Elf juga musnah seperti bangsa Penyihir!” tegas Eric.


“Tetapi, Kau sendiri sudah mengeluarkan energi yang sangat besar sejak kita pergi!” bantah Thorn.


Eric mengeluarkan sebotol air abadi dan langsung meminumnya. “Aku sudah segar sekarang!” ujarnya acuh.


“Itu hanya sementara, Eric!” Thorn masih mencoba mencegah pria itu. Namun Eric sudah terbang menjauh.


“Kau kembali! Itu perintahku!” teriakan Eric terdengar di kepala Thorn.


“Sial! Aku akan kembali dan membantumu!” balas Thorn. Dia langsung melesat cepat meuju istana Elf.


***


Di belakang medan pertempuran, Dean sedang menghadapi pria yang mengaku sebagai pangeran negara Peri.


“Jadi, Karl itu putramu?” tanya Dean.


“Ya. Apakah Anda ada melihatnya?” Tanya Taksa.


“Glenn memintaku untuk mengantarnya ke tabib istana Elf. Dia terluka saat melihat perang pagi tadi,” jawab Dean.


“Benarkah dia bertemu dengan Glenn?” Taksa masih tak percaya.


“ya. Putramu melihat peperangan itu di tanah Para Penyihir. Glenn melihat pengawal membawanya. Pengawal itu juga terluka dan mereka diantar orangku ke istana untuk perawatan.


“Apakah Glenn kembali istananya?” tanya Taksa.


“Tidak! Pangeran Glenn sedang menjaga garis perbatasan negara Penyihir dengan negara Orc!”


Dean melihat ke angkasa. “Hei, Kau mau ke mana?” tegur Dean lewat pikirannya.


Bangsa Cahaya yang tak lain adalah Thorn, berhenti terbang. Anak muda itu melihat ke bawah dan melihat pemimpinnya yang melambaikan tangan yang bercahaya keemasan. Dia turun dan menunduk hormat pada Dean setibanya di tanah.


“Pemimpin, saya diperintahkan Eric untuk kembali ke istana Elf, mengantar putri Cristal!” jawab Thorn.


“Kalian menemukannya? Syukurlah!” Dean sangat gembira. “Tapi, apa maksudmu ingin memastikan?” tanya Dean keheranan.


“Karena wanita itu terlihat sulit diajak bicara!” sahut Thorn.


“Aku mengenal Cristal. Biarkan kulihat!” ujar Taksa.


“Kapan Anda terakkhir kali melihatnya?” tanya Dean.

__ADS_1


“Saat dia usia lima tahun!” jawab Taksa percaya diri.


Dean tersenyum tipis. Dia sudah besar. Bukankah mungkin saja dia berubah?” bantah Dean.


“Cristal punya tanda lahir di bahu kiri! Itu tak mungkin berubah, kan?” Taksa memberikan argumen.


“Baiklah. Tunjukkan putri itu padanya!” perintah Dean pada Thorn.


Thorn mengeluarkan Puteri Cristal yang tiba-tiba menjadi terkejut melihat suasana sekitarnya. Gadis itu menjerit panik dan mencoba melarikan diri.


“Merepotkan!” kesal Thorn. Dia mengejar Cristal dan membungkusnya dengan selubung cahaya putih. Membuat pelariannya langsung terhenti dalam sepuluh meter.


“Dia sulit diajak bicara. Sukanya berteriak!” jelas Thorn. Dean akhirnya mengangguk mengerti kenapa Eric dan Thorn tak memiliki informasi yang cukup tentang gadis itu.


Meskipun berada dalam selubung cahaya, ekspresi ketakutan Cristal masih tampak jelas. “Siapa kalian!” teriaknya keras. Namun, tak ada seorang pun yang mendengar teriakannya.


“Aku mau lihat bahumu!” Taksa menunjuk bahunya sebagai bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan wanita di dalam selubung cahaya putiih yang tak dikenalnya itu.


Gadis di dalam selubung itu seperti mengerti apa yang ingin dilihat oleh pria di depannya. Sepertinya pria itu mengenalinya, meski dia sendiri tidak ingat. Perlahan tangannya menyingkap kain penutup bahu yang dikenakannya. Dia memiringkan tubuh dan menunjukkan tanda itu pada Taksa.


“Itu dia! Tanda seperti bintang di bahunya! Dia memang Cristal!” Taksa sangat yakin dengan ingatannya.


“Baiklah. Dia akan dibawa ke istana Elf! Apa Anda ingin pergi bersamanya dan menemui Karl?” tanya Dean.


“Saya mendapat tugas dari raja untuk menjaga perbatasan ini.” Sangat jelas Taksa merasa ragu. Dia ingin mengetahui keadaan Karl. Namun, tugas tak mungkin ditinggalkan!


“Pergilah dengan orang saya. Sepuluh menit saja di saja, lalu kembali ke sini. Saya rasa itu waktu yang cukup untuk sekedar mengetahui keadaan Karl!” tawar Dean.


“Kau lihat sendiri, tak ada yang perlu dikhawatirkan di sini. Semua aman terkendali!” bujuk Dean.


Taksa melihat kesungguhan Dean. Dan dia lihat sendiri bagaimana orang-orang yang baru dikenalnya itu mampu terbang berseliweran ke sana-kemari.


“Baiklah! Saya akan beri instruksi lebih dulu pada pasukan sebelum pergi!” ujarnya sebelum membalikkan badan.


“Jadi, di mana kalian menemukannya?”  tanya Dean pada Thorn.


“Di istana Raja. Dia ada di dalam kamar selir,” jawab Thorn.


“Lalu apa yang dilakukan Eric? Kenapa dia tidak bersamamu?” tanya Dean heran.


“Di ibukota Orc, Eric menutupi kota besar itu dengan kubah. Lalu memasukkan beberapa anak petir di dalamnya,” jawab Thorn. Kemudian dia menyambung kembali penjelasannya.


“Di kota perbatasan itu, dia berhenti dan menyuruh saya kembali. Sementara dia sendiri ikut dalam kancah pertempuran. Di sana sedang sangat panas,” beber Thorn.


Dean mengangguk. Dilihatnya Taksa sudah berjalan kembali ke arah mereka berdua. “Kau antar dan tunggu dia sepuluh menit. Lalu bawa lagi ke sini!” perinath Dean.


“Baik, Pemimpin!” Thorn mengangguk hormat.


Taksa tiba dan melihat bahwa pria muda di depannya sudah mendapatkan perintah untuk berangkat.


“Saya sudah siap!” katanya.

__ADS_1


“Ayo!” Thorn segera menyentuh bahu Taksa dan membuatnya menghilang ke dalam penyimpanan.


“Saya undur diri, Pemimpin,” kata pemuda itu sopan.


“Segeralah kembali!” angguk Dean memberi persetujuan.


Maka Taksa segera melayang tinggi. Setelahnya, dia melesat cepat dari pandangan orang di Tanah tak bertuan.


Dean terbang tinggi mengawasi keadaan sekitar. Sesaat kemudian dia pergi ke kota perbatasan yang sedang berkecamuk perang besar.


“Eric, di mana Kau!” panggil Dean.


“Aku sedang sibuk, Ayah!” hanya itu jawaban yang diterima Dean. Membuat pria itu geleng-geleng kepala. Dia mengikuti jejak suara yang ditinggalakan Eric. Dan dia menemukan pria muda itu tengah bertarung dengan ganas.


Dean mendekati di ketinggian dan memperhatikan tanpa mengganggu. Putranya dikerubuti oleh beberapa Orc bertubuh besar. Namun Eric berhasil mengalahkan mereka sendirian.


Ada sedikti rasa terkejut di hati Dean melihat sebuah cahaya merah muncul dari tangan Eric. “Sejak kapan dia mendapatkan kemampuan itu?” pikirnya.


Sean melihat Eric sedang disibukkan oleh dua Orc di depannya. Semnetara ada Orc lain dari belakang, mendekat dengan mengayunkan  gada berduri  di tangannya.


“Jangan berlaku curang!” kesal Dean.


Diangkatnya Orc raksasa itu hingga melayang di angkasa. Dibiarkannya melihat bagaimana hancur negeri mereka sekarang. Orc itu menjerit-jerit, namun tak bisa juga turun dan menginjak tanah. Dia melayang begitu saja seperti selembar kapas. Takut jath, namun saat berusaha untuk turun, tetap tidak bisa.


“Kau harus melihat bagaimana kami memusnahkan negaramu, seperti kau memusnahkan banyak orang!”


‘Ayahm aku tahu itu ulahmu!” tegur Eric sambil tertawa. Anak muda itu sekarang berdiri di sisi Dean yang segera menyodorkan sebotol air abadi.


Eric langsung meneguknya dan tersenyum lebar. “Segar sekali. Rasanya aku siap untuk menghancurkan mereka menjadi debu, sekarang ini!” katanya penuh semangat.


“Tunggu dulu!” Dean menahan pundak Eric.


“Katakan kapan kau mengembangkan kemampuan cahaya merah itu?” tanya Dean.


“Saat aku pingsan saat mencari ibukota negeri Penyihir,” sahut Eric.


“Bagus sekali. Namun, Kau harus tetap berhati-hati. Jangan kuras habis energimu dalam satu hari. Perang itu selalu makan waktu panjang. Sisakan untuk besok!” nasehat Dean.


“Kalau begitu, mari kita selesaikan saja sekarang, lalu istirahat untuk besok lagi!” ujar Eric.


“Apa Kau tidak lihat kalau orang sednag berperang? Bagaimana mau menyelesaikannya?” ujar Dean.


“Panggil semua pasukan kita mundur. Lalu kurung kota itu dengan kubah cahaya. Paman Robert ataupun Paman Arjun bisa mengisi kubah itu dengan kekuatan mereka. Maka semuanya langsung selesai!” Eric menceritakan ide di kepalanya yang sejak tadi sudah diuji cobanya di kota-kota lain.


“Itu namanya pembantaian!” Dean tak setuju.


“Mereka juga membantai rakyat Penyihir hingga hanya tinggal belasan orang saja!” balas Eric ketus.


“Kau ingin membalas mereka dengan kebiadaban yang sama?” tanya Dean kritis.


“Bukan membalas kebiadaban, Ayah,” bantah Eric, “... tapi untuk menyelamatkan lebih banyak tentara Elf yang sudah kelelahan!”

__ADS_1


__ADS_2