The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 103. Perang Besar 1


__ADS_3

“Ayah, para Orc sudah mulai bersiap di sini,” lapor Eric.


“Ya. Ayah di sini sedang mengamati juga,” jawab Dean. “Sofie sedang menuju ke arahmu untuk membantu menjaga di sana!”


“Baik!” jawab Eric. Matanya mencari keberadaan Sofie dalam keremangan pagi.


Dua ratus meter di pinggir hutan perbatasan, Glenn dan pasukannya juga sudah bersiaga bersama Hakon. Mereka akan menghabisi Orc mana pun yang lolos dari pengawasan Eric dan Gerald.


Menururt Eric, mereka akan mencegat Orc yang sudah memasuki 100 meter hutan perbatasan. Dengan begitu, negara Orc masih belum akan cepat menyadari bahwa negara Penyihir sebenarnya sudah lepas dari cengkeraman Orc.


Fokus perang hari ini adalah negara Elf melawan Orc. Jangan sampai mereka juga menyerang negara Penyihir, Karena negara ini sudah nyaris kosong tak berpenghuni! Tak ada lagi tentara dan rakyat yang bisa melindungi wilayah ini.


“Kau di sana, rupanya!” Terdengar suara Sofie. Eric menoleh dan tersenyum lebar melihat gadis itu terbang menghampirinya.


“Bagaimana peperangan di sana kemarin?” tanya Eric ingin tahu.


“Mengerikan!” jawab Sofie pendek. Dia tak ingin mengingat hal itu lagi. “Bagaimana keadaan di sini?” Sofie balik bertanya.


“Mengerikan!” sahut Eric kalem. Dia tengah asik mengawasi para Orc yang sekarang sudah berbaris menuju negara Elf.


“Mereka sudah mulai!” seru Eric. Matanya mengawasi alat-alat perang milik Orc yang berupa menara tinggi dan besar, didorong menuju perbatasan negara Elf.


“Alat apa itu!” Eric terus mengawasi dengan seksama. “Sepertinya aku tahu. Itu pelontar bom kuno! Dari mana mereka mempelajari alat seperti itu?”


Sofie ikut mengawasi sambil mendengarkan ocehan Eric. “Kau benar. Seperti alat-alat perang abad pertengahan di bumi!” komentarnya.


“Entah apakah ada manusia bumi yang datang ke negara itu, atau memang mereka sangat pintar. Bagaimanapun juga, kita harus mengantisipasi dampak kerusakan besar yang terjadi karena alat itu!”


Eric mengambang tinggi di udara. Sekarang dia bisa melihat seluruh area Tanah tak bertuan. Tangannya bergerak sedemikian rupa. Sofie bahkan tidak mengerti apa yang dilakukan oleh temannya itu. Dia hanya mengawasi saja dari perbatasan negara Penyihir.


Tak lama Eric kembali dengan senyum jahil di wajahnya. Dia kembali mengawasi para Orc yang sudah semakin dekat dengan perbatasan Elf. Para Elf sudah berdiri di atas tembok perbatasan yang dibangun Dean dalam semalam.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” tanya Sofie.


“Sedikit permainan!” jawab pemuda tampan itu enteng.


Langit telah benderang. Para Orc telah memasang bola api pada alat pelontar. Ada delapan alat pelontar berbaris di depan tembok perbatasan negara Elf. Baik jenderal negara Peri maupun jenderal Kurcaci biru, Mengamati dengan ngeri apa yang akan dialami oleh negara Elf.


Perlahan langit yang semula cerah, berubah mendung dan gelap dengan cepat. Para Orc itu juga mengamati langit yang tampak tak bersahabat. Gelegar petir yang sabung menyambung, menggentarkan hati siapapun yang mendengar. Tak pernah mereka melihat awan dan petir berda serendah itu. Tepat di atas Tanah tak bertuan.


“Apa yang terjadi?” tanya Glenn heran. Mereka di hutan merasakan angin kencang menggyangkan dedaunan.


“Kurasa Eric bermain-main lagi!” Hakon menggeleng.


“Ah ... seperti hujan yang terjadi di atas ibukota Penyihir?” tebak Glenn. Hakon mengangguk.


“Mari kita lihat! Kurasa tak akan ada peperangan hari ini!” Wajah Glenn setengah tertawa dan sedikit lega.


“Ayo! Dan kalian lebih baik tunggu di sini sebentar!” kata Hakon pada Randall dan bawahannya.


Kilatan petir memancar mencari jalan menuju ke permukaan tanah. Para Orc kocar-kacir berlarian menghindar. Mereka memaki dan mengumpat para penyihir dan mempersalahkan jenderal yang menguasai negara Penyihir, karena ternyata ada rakyat penyihir yang bisa lolos dan melakukan sihir pemanggil petir!


“Sofie, Kau harus menjaga perbatasan Orc. Jangan biarkan siapa pun dari mereka lolos dan kembali ke istana mereka!” perintah Eric.


“Baik!”


Sofie sudah melesat ke area perbatasan negara Orc. Tugasnya adalah menghalangi informasi yang bocor dari area perang, sampai ke istana raja mereka.


“Bersiap!” teriak jenderal yang berdiri di depan alat pelontar api. Mereka harus terus bergerak sesuai jadawal, sebelum hujan turun.


“Lempar!” teriaknya. Maka semua alat serempak melemparkan batu berisi bahan bakar dan api ke arah tembok perbatasan negara Elf. Batu-batu itu beterbangan di udara.


Namun seseorang melesat naik dan melayang di atas benteng perbatasan itu. Tangannya mengembang dan seketika batu berapi itu membeku dan berjatuhan di tiga puluh meter depan benteng itu.

__ADS_1


Bukan hanya Orc yang tercengang. Para prajurit Peri dan Kurcaci biru juga terkejut melihat seseorang bisa melayang di atas benteng dan menghalangi serangan seorang diri.


“Itukah sebabnya mereka mampu mengusir Orc dalam sehari peperangan kemarin?” Satu Jenderal Peri benar-benar tak percaya dengan kemampuan negara Elf.


“Apa menurutmu mereka bangsa Elf?” tanya temannya.


“Mungkin penyihir yang menetap di sana. Kau tahu kan, kalau di negara itu, semua bangsa bisa tinggal!” jawab temannya.


“Kurasa Kau benar. Istri Raja Felix berasal dari negara Penyihir. Dia mungkin mengajarkan ilmu baru pada beberapa penyihir di negara itu, agar mereka bisa melawan Orc!”


“Masuk akal!” angguk temannya setuju. “Sangat hebat!”


“Sekarang jaga perbatasan kita! Jangan sampai para Orc itu melarikan diri dari arena, ke negara kita!” seru jenderal lain mengingatkan.


“Kalau begini, kita harus bekerja keras. Karena tak ada penyihir di sini!” kelakar yang lain. Tapi tak  ada yang menanggapinya.


“Isi peluru!” seru jenderal Orc. Dia harus terus berusaha agar bisa menjebol tembok penghalang negara Elf dan kembali masuk ke sana, untuk membalas dendam atas pembantaian tentara mereka kemarin.


“Bersiap!” teriaknya dengan suara menggelegar. Bawahannya sudah siap dengan bola api di pelontar.


“Lempaar!” teriaknya.


Maka batu-batu api itu beterbangan. Icye berhasil mengahalangi dengan membekukan lontaran pertama. Namun, kali  ini Orc bergerak lincah. Mereka terus melontarkan bola api tanpa henti. Cukup banyak yang lolos dari hadangan Icye.


Para Orc bersorak gembira. Mengira sebagian usaha mereka berhasil melewati halangan. Para prajurit Orc itu makin giat mengisi pelontar dengan batu api yang baru.


Di belakang Icye ternyata sudah berdiri berlapis Asgeir dan Turgot. Mereka membalikkan semua batu api itu ke arah Tanah tak bertuan. Membuat barisan tentara Orc di belakang harus menerima akibat yang sangat parah. Batu-batu api milik sendiri membunuhi tentara mereka yang siap untuk masuk menerobos tembok penghalang.


Keadaaan di sana amat sangat kacau. Suara jerit kematian terdengar di mana-mana. Sebelumnya mereka harus menghindari hunjaman petir. Sekarang ditambah dengan batu api yang ternyata membakar tentara sendiri.


“Hentikan!” teriak jenderal yang menggawangi alat pelontar itu. Dia baru menyadari apa yang dialami oleh pasukan di belakang mereka. Wajahnya memerah karena marah.

__ADS_1


Sekarang ada tiga orang berdiri di atas benteng perbatasan negara Elf. Merekalah biang keladi dari semua kekacauan yang dialami tentara Orc.


“Bidik mereka bertiga!” perintah jenderal pasukan pemanah.


__ADS_2