The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 104. Perag Besar 2


__ADS_3

Maka ratusan anak panah melesat ke arah tiga orang bangsa Cahaya itu.


Eric melihat itu dengan sedikit kesal. Awan petir yang dipanggilnya seperti diabaikan. Makan dia melesat tinggi dan berdiri di tengah-tengah Tanah tak bertuan.


Sementara Robert maju untuk melindungi tiga remaja itu dengan kubahnya, Eric telah memasang kubah cahaya besar menutupi seluruh Tanah tak bertuan.


Yang mengherankan, entah bagaimana, awan-awan gelap tadi berada di dalam kubah itu dan kembali melesatkan petir-petir, menghanguskan siapa saja yang berada dalam jalur turunnya.


Bahkan panah-panah yang masih terus dilontarkan, akan berbalik setiap kali mengenai dinding kubah cahaya dan melesat mengenai para prajurit Orc. Mereka kocar-kacir berlarian. Namun, tak bisa keluar dari kubah yang dibuat Eric. Para prajurit itu seperti menabrak dinding tak terlihat dan terlontar lagi ke belakang.


“Kita dikurung!” teriak mereka panik.


Sekarang mereka meraba-raba dinding tak terlihat, tapi terasa oleh tangan mereka.


Seorang prajurit Peri melambaikan tangan mengejek ke arah prajurit Orc yang tak bisa menembus dinding itu. Mereka tertawa terpingkal-pingkal, membuat para Orc di depan perbatasan negara Peri itu, murka.


“Mereka menggunakan sihir! Gunakan pisau tajam untuk membuka tabir ini!” perintah seorang Orc yang mungkin pangkatnya lebih tinggi di situ.


Maka Orc yang terdepan mengeluarkan pedang besar mereka dan menggores dinding cahaya itu, agar dia terkoyak. Sayangnya, itu bukan sembarang dinding. Mereka tak akan pernah bisa keluar dari selubung cahaya yang dibuat Eric, jika bukan dibuka sendiri oleh pria itu.


***


Di tempat lain, di pinggir hutan perbatasan negara Peri dan Penyihir. Pangeran Karl, pengawal dan semua bawahannya hanya duduk-duduk santai. Tak ada apapun di situ.


“Tempat ini terlalu sunyi. Kurasa peperangan besar pasti tengah terjadi di Tanah tak bertuan!” celetuk salah seorang penajag perbatasan.


“Sayangnya, kita tak bisa melihat peperangan terbesar ini seumur hidup. Selamanya kita hanya akan menjadi penjaga hutan saja!” kesal yang lain.


“Mari kita ke ujung perbatasan tanah Penyihir saja kalau begitu!” saran yang lain.


“Yaa! Kau benar. Tempat itu adalah tebing tinggi. Kita bisa tetap mengawasi tempat ini dari sana, dan juga melihat bebas ke Tanah tak bertuan!” Yang lain setuju.


“Minta ijin dulu pada Komandan!” saran yang satu.


“Biar aku yang minta ijin.” Seseorang pergi pergi ke tempat Karl yang tengah berbaring malas.


“Komandan, Kami akan pergi memeriksa garis perbatasan,” katanya meminta ijin.


“Pergilah!” sahut Karl. Mereka memang tak ada pekerjaan selain berkeliling dan kembali duduk lagi di situ.

__ADS_1


Prajurit itu kembali ke teman-temannya. “kita harus pergi bergantian! Jangan sampai ketahuan kalau pergi menonton perang!” bisik orang itu.


“Oke!” angguk teman-temannya setuju.


Maka pergilah empat orang lebih dulu ke arah ujung perbatasan negara itu yang berada di tebing. Mereka sudah bertahun-tahun di sana. Sangat mengetahui seluk-beluk tempat itu hingga yang terkecil.


Empat orang lain pergi memeriksa ke arah lain. Yang tersisa, berjaga di tempat itu dengan tak sabar.


Karl sendiri juga tak sabar dengan kesunyian itu. “Aneh sekali perbatasan negara Penyihir terasa begitu tenang dan sunyi. Apa mungkin mereka mengirim semua Orc pergi berperang ke negara Elf?” gumam Karl.


“Mungkin saja mereka merasa negara Penyihir sudah ditaklukkan dan aman sepenuhnya. Jadi tidak membutuhkan penjaga di perbatasan sini!” jawab pengawalnya.


“Bagaimana kalau kau bawa aku ke sana sebentar, untuk melihat?” bujuk Karl. Dia tahu kelebihan pengawalnya itu.


“Aku bosan sekali!” gerutu Karl yang tak mendapat respon dari pengawalnya.


“Ya sudah! Aku pergi lihat sendiri saja!” gerutu Karl kesal.


“Pengawal itu membuka mata dan terkejut melihat Karl benar-benar berjalan ke arah perbatasan dua negara yang hanya sejarak sepuluh meter dari tempat mereka beristirahat.


“Tunggu! Itu berbahaya! Biar kutemani!” Pria itu bangkit dari duduk dengan kesal. Pangeran muda itu sedang dalam fase memberontak dan tidak sabaran. Dia harus melindunginya dari akibat tindakan yang kuranf dipikir.


“Kalian tunggu di sini!” perintahnya sebelum menghilang mengejar Karl.


“Kenapa mereka lama sekali?” yang lain juga tak sabar menunggu teman-teman yang pergi ke bukit.


Karl melangkah dengan hati-hati saat melewati perbatasan itu. Mengantisipasi jebakan yang mungkin dipasang para orc. Tapi tak ada apa pun. Tempat itu amat sangat tenang.


“Tidakkah di sini sangat sunyi?” katanya sendiri. Pengawalnya juga merasakan keanehan.


“Kurasa, aku mendengar keramaian di sebelah sana!”


Pengawal itu menyentuh Karl dan langsung menghilang dari sana. Kemudian berdiri di perbatasan Tanah tak bertuan. Karl tercengang melihat betapa ramainya Orc di tempat itu. Mereka berada di sebatang pohon, melihat hingga kejauhan.


“Ini akan jadi perang besar!” ujar Karl.


“Itu sebabnya kau harus selamat. Jadi mari kembali ke tempatmu!” ajak pengawalnya lagi.


“Aku tak akan melewatkan ini. Aku janji tidak akan mencampuri peperangan mereka. Kita hanya melihat saja dari sini!” bujuk Karl.

__ADS_1


Dan seperti itulah yang terjadi. Semua prajurit perbatasan bawahan Karl, akhir menonton peperangan aneh itu dari atas bukit tersembunyi, sementara komandan mereka mengintip dari atas pohon di perbatasan negara Penyihir, tak jauh dari tempat bawahannya bersembunyi.


Kembali ke arena peperangan yang sangat tidak seimbang. Eric masih asik tertawa melihat para Orc yang satu persatu terkena sambaran petir. Asap akibat tubuh gosong, mengepul dari berbagai tempat di dalam kubah cahaya.


Robert dan Arjun mendekati Eric. “Kau berbuat nakal lagi!” tegur Robert.


“Bukankah mereka yang mulai menyerang negara lain dari Tanah tak bertuan? Jadi kurasa tak masalah menahan mereka di sini!” Eric membela diri.


“Paman Arjun, tidakkah Kau kasihan melihat mereka begitu menderita? Kurasa, lebih baik beri mereka hadiah cahaya birumu yang indah! Lalu semua akan kembali tenang dan damai!” Wajah Eric terlihat polos dan menjengkelkan bagi Arjun.


“Itu namanya melakukan pembunuhan!” tolak Arjun.


“Mereka juga membunuh semua rakyat penyihir dan hanya menyisakan belasan orang saja yang kebetulan sedang tidak ada di tempat kejadian. Mereka bangsa pemusnah! Maka lebih baik dimusnahkan saja!”


Kali ini sikap Eric sangat tegas. Matanya menatap tajam. Entah bagaimana, Arjun tak dapat menolak perintah itu.


“Baiklah! Setelah ini, kau yang harus bertanggung jawab pada ayahmu!” kata Arjun memberi syarat.


“Oke!” Eric kembali tersenyum polos.


Arjun terbang mengikuti Eric. Pemuda itu harus menunjukkan bagian mana yang bisa digunakan Arjun untuk memasukkan cahaya birunya yang dahsyat.


“Di sini!” tunjuk Eric.


Arjun mengikuti dan meletakkan tangannya di sana. Mengumpulkan kekuatan yang berpusat di tangannya. Seberkas bola biru kecil muncul. Makin lama makin besar.


Dari tempatnya, Glenn terkejut. “Itu seperti cahaya milik Eric! Tidakkah itu bahaya?” tanyanya pad Hakon yang  berdiri di sampingnya.


“Paman Arjun mewarisi kekuatan itu dari ayahnya, Paman Sunil! Memang sangat dahsyat. Itu kekuatan terdahsyat yang pernah kulihat sebelum Eric kemarin juga memilikinya!” jelas Hakon.


“Tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi pada para Orc!”


“Hanya kematian!” timpal Gerald yang duduk santai di dahan pohon lain.


Para jenderal Peri dan Kurcaci biru jua bisa melihat kubah transparan yang mengurung Orc, kini berubah dari kebiruan di bawah cahaya matahari pagi.


“Apa yang akan terjadi sekarang?” kata mereka menebak-nebak.


Mereka sangat kagum dengan kemampuan sihir yang dimiliki rakyat Elf. Menurut mereka, itu adalah sihir yang sangat kuat. Jika saja negara Penyihir punya sihir sekuat itu, maka harusnya mereka tidak akan bisa ditaklukkan oleh Orc beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Tiba-tiba cahaya biru itu bersinar sangat terang dan menyilaukan mata. Mereka berpaling karena matanya tak sanggup melawan kilatan cahaya seterang itu. Terang yang membutakan. Beberapa saat, pandangan orang-orang menghitam seperti buta.


“Sangat bahaya!” Aduh ... apa mataku tidak akan bisa melihat lagi?” keluh Pangeran Kurcaci Biru dari atas benteng pertahanan negara mereka. Matanya terasa panas dan pedih.


__ADS_2