
"Kenapa kau menyusulku? Kau harusnya kembali dan menjaga ibu!" tegur Levyn saat pengawal itu berdiri saling membelakangi punggung dengannya.
"Kita harus kembali, Pangeran!" bujuk pengawal itu sambil melesatkan pedangnya ke arah Orc yang ingin menyerang mereka berdua.
"Aku mau ke tempat Paman Raja!" kata Levyn keras kepala.
"Saya sudah dari sana dan Anda tak ada!" tegur pengawal itu sedikit kesal.
"Aku terjebak di sini! Setelah mereka disingkirkan, kita akan menuju ke tempat Paman!" Levyn melompat, menghindari gada yang dilayangkan oleh Orc di depannya. Sambil melompat tinggi dia menusukkan pedang di bahu Orc. Hal itu justru membuat situasinya jadi sangat buruk.
Orc itu berputar0putar kesakitan dan berusaha mengibaskan pedang yang menancap di bahunya. Sementara pangeran muda itu tak bisa menarik pedangnya dengan mudah. Jadi dia ikut terbang dan terombang-ambing ke sana kemari, mengikuti putaran Orc yang terluka.
Pengawal sang pangeran segera membantu menghentikan gerakan gila Orc sial itu. Dengan tusukan bertenaga tepat di dada, dia mengakhiri nyawa Orc. Perlahan gerakan gilanya berhenti, dan dia berdebum jatuh ke tanah.
Pangeran Levyn melompat lincah, menghindar jadi tertimpa tubuh Orc raksasa itu. Kemudian dia menarik pedangnya dengan keras. Orc itu masih mengeluh sebentar, sebelum nyawanya terbang dari badan.
"Ayo kita pulang!" Pengawal menarik tangan Levyn.
"Apa kau tidak memahami perkataanku? Aku mau ke istana!" teriaknya marah. Idak mengerti kenapa pengawalnya tak bisa memahami ucapan sederhana.
"Di sana sedang berbahaya. Lagi pula, pintu teleportasi sudah ditutup sejak satu jam yang lalu!" Pengawal itu menahan emosi saat menjelaskan hal itu.
"Apa!" Pangeran muda itu memutar biji matanya ke sana-kemari, Ciri khas jika dia sedang berpikir, mencari akal ataupun membuat rencana yang biasanya akan berakhir buruk!
"Ini bukan permainan, Pangeran. Anda harus menyelamatkan diri!" pengawal itu kembali membujuk.
__ADS_1
"Aku harus menemani Paman Raja!" Levyn ngotot! Apa kau tahu jalan lain ke sana?" tanyanya tak mau menyerah.
Pengawal itu mulai kesal. Seorang Orc kembali menemukan mereka yang duduk berlindung di balik semak bunga. Pengawal itu tak punya pilihan lagi. Dengan cepat dia memukul tengkuk Levyn yang langsung membuatnya pingsan.
"Maafkan saya!" Pengawal itu kembali mengangkat tubuh Levyn dan membawanya lari. Dengan membawa beban, maka pengawal itu tak bisa membawa Levyn lompat tinggi dan berayun dari dahan ke dahan. Jadi dia hanya bisa berlari dengan lebih ringan saja, seperti melompat jauh di jalan berbatu.
Di belakang mereka, Orc yang tadi melihat persembunyian keduanya, ternyata terus mengejar. Dia mungkin dapat melihat bahwa pria yang digendong adalah orang penting. Dia ingin mengambil kesempatan untuk mendapat tawanan berharga. Jadi dia bisa mendapatkan penghargaan lebih baik dari komandan perang.
Jalanan kota yang mereka lalui sekarang sudah diisi oleh para tentara dan petugas keamanan yang sedang bertarung melawan Orc. Para penghuni kota bersembunyi di rumah masing-masing.
Pengawal itu berhenti dan berlindung di balik bangunan yang ada di persimpangan. Dia harus menghindari pandangan mata Orc yang mengejar, agar post teleportasi mereka tidak diketahui musuh.
"Kenapa kalian berkeliaran?" Seorang tentara menegur.
"Aku justru sedang menuju pulang. Tapi, ada Orc yang terus mengikuti. Bisakah kau menahannya sebentar?" tanya pengawal itu pada tentara yang menegur.
"Kediaman Pangeran Glenn!" Pengawan itu menunjukkan wajah Levyn yang sedang pingsan.
"Sang Pangeran pingsan!" ujar mereka.
"Aku tidak tahu, apakah post teleportasi itu masih dibuka. Karena pertarungan sudah sampai ke sana. Tapi, kami akan menahannya, agar tidak mengikuti kalian!" kata salah seorang diantaranya.
"Baik, Terima kasih!" Pengawal itu memintas jalan dari samping toko, agar tidak terlihat oleh Orc yang sedang mencari keduanya.
Dia terus berlari dan meninggalkan banyak pertarungan sengit di sepanjang jalan. Tugasnya saat ini adalah menyelamatkan ahli waris kerajaan. Dia tak dapat memikirkan pertarungan atau membantu tentara lain. Negara dalam keadaan genting. Maka para ahli waris harus diselamatkan lebih dulu.
__ADS_1
Satu belokan lagi, maka tempat teleportasi itu akan terlihat. Tapi, seperti kata tentara tadi. Pertarungan sengit memang sudah mencapai tempat ini. Dengan itu. Satu hal menjadi jelas. Gerbang teleportasi pasti sudah ditutup!
Pengawal itu berusaha maju dan mendekat sedikit demi sedikit. "Kalian mau apa? Ayo masuk! Sangat berbahaya di luar situ!" kepala seorang kurcaci biru, menyembul dari balik lubang kecil di batang pohon.
"Aku harus membawanya ke atas!" Pengawal itu menunjuk ke arah kediaman Pangeran Glenn.
"Apakah dia Pangeran Levyn?" kurcaci itu tak percaya begitu saja.
Pengawal mengangguk dan memutar tubuh, agar kurcaci itu dapat melihat wajah Levyn yang terkenal tampan.
"Masuk dulu!" Kepala kurcaci itu menghilang dari lubang kecil di batang pohon. Kemudian sebuah pintu terbuka tepat di depan si pengawal yang sebelumnya sama sekali tidak melihat ada pintu di sana!
"Kalian tidak bisa naik. Eleportasi itu sudah ditutup sejak tadi, saat seorang Orc memaksa untuk naik. Itu sebabnya terjadi pertarungan sengit di sini!"
"Aku harus menyelamatkn sang Pangeran." Pengawal itu bergumam. Dia memikirkan berbagai kemungkinan.
"No! Kau tidak bisa menaruhnya di sini! Tepat di depan mata para Orc!" bantah si kurcaci, seperti dapat membaca pikiran pengawal Levyn.
"Apa kau punya saran lain yang mungkin aman dan jauh dari pengawasan para Orc?" tanyanya.
"Hanya ada satu jalan dari sini," jawab kurcaci itu dengan sangat yakin.
"Di mana?" tanya pengawal itu.
"Di luar pembatas tanah para Elf.
__ADS_1
Mata pengawal itu membulat. "Maksudmu, aku harus membawanya kehutan sihir? Itu bunuh diri!" tolak pengawal itu cepat.
*******