The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
23. Dean Dan Robert


__ADS_3

💙 Ini pasti bab yang sangat ditunggu-tunggu para penggemar Dean. Happy Reading 💙


"Aku mau bertemu dengan Paman Dean. Di mana dia?" tanya Yabie begitu melewati pintu teleportasi. Wajahnya terlihat sangat tegang.


"Kalau tidak di rumah, pasti di kebun," jawab seorang penjaga yang ada di gua.


Tanpa mengatakan apapun, Yabie langsung terbang keluar dari gua.


"Dia sangat tergesa-gesa. apakah ada berita penting?" Seorang pria lain muncul dan menyapa penjaga sebelumnya.


"Tidak tahu. Semoga saja bukan berita buruk!" timpalnya.


"Paman! Ada hal genting! Di mana kau?" Yabie memanggil Dean dengan pikirannya.


"Aku sedang menemani Robert membantu persalinan kuda. Ke sini saja!" sahut Dean.


"Ya!" Yabie langsung melesat ke deretan kandang kuda yang rapi. Tempat itu ada diantara tempat pacuan dan lapangan dimana mereka merumput dengan bebas.


"Paman!" panggil Yabie begitu sampai di istal.


"Aku di sini!" sahut Dean. Suara ringkik kuda yang kesakitan terdengar sayup dari kandang paling ujung. Yabie langsung melesat cepat ke sana.


"Paman! Ada berita penting! Untuk Paman Robert juga!" seru Yabie bahkan sebelum wajahnya muncul di depan Dean dan Robert.


Dean menoleh sekilas. Dia dapat melihat bahwa ekspresi Yabie tegang. Maka itu pasti sangatlah penting.


"Sebelum kau bicara, bantu kuda ini, agar dia bisa melahirkan," potong Dean, melihat keponakannya itu sudah membuka mulut untuk bicara lagi.


"Apa?" Yabie kebingungan.


"Bantu kuda ini. Dia sedang kesakitan. Sudah beberapa jam begini. Dia bisa mati kalau tak bisa diatasi segera!" jelas Robert.


"Oh, baiklah." Yabie meletakkan tangannya di perut kuda, seberkas sinar menyelusup ke dalam perut kuda, memberinya ketenangan dan memudahkan Dean serta Robert untuk mengeluarkan bayinya yang sudah terjebak di jalan lahir.


Mereka skeptis bayi kuda itu selamat tapi bagaimana pun, bayi itu tetap harus dikeluarkan, atau induknya bisa ikut mati!


Setelah berusaha setengah jam, akhirnya bayi kuda itu berhasil dikeluarkan. Dan seperti dugaan, dia memang tewas dalam perjalanan lahirnya yang berat. Yabie mencoba membantu, tapi ikut menggeleng.


Seorang pekerja dipanggil untuk mengurus kuda yang lelah dan kesakitan, serta menguburkan bayi kuda yang malang itu.

__ADS_1


"Ada kabar apa sampai kau begitu panik?" Tanya Dean. Mereka sekarang berjalan menyusuri beragam pohon buah yang menaungi pinggir jalan.


"Hai, Yabie!" sapa Eric yang melintas cepat. Dia terbang berkejaran dengan seorang gadis cantik berambut cokelat.


Yabie menoleh ke belakang, dan kedua orang itu sudah hilang entah ke mana.


"Aku mendapat pesan dalam botol yang ditujukan pada Paman Robert." Sebuah botol kaca tiba-tiba muncul di tangannya.


Robert mengambilnya dengan keheranan. "Masih ada saja orang yang mengirim pesan pakai botol!" Dia terkekeh geli. Ketiganya sudah sampai di kediaman Dean yang besar dan megah.


"Biasanya pesan seperti itu dikirimkan lewat laut!" timpal Dean tersenyum.


"Bagaimana kalian tahu itu lewat laut?" Yabie terheran-heran.


Dean dan Robert makin terkejut. Mereka hanya berkelakar tadi. "Maksudmu, pesan ini kau dapatkan di pantai?" tanya Dean memastikan.


Yabie menggeleng. "Bukan seperti itu. Nelayan menemukan pembawa pesannya pingsan di pantai!" Yabie meluruskan pemikiran Dean.


"Pengantar pesan? Apakah dia seperti kami?" tanya Robert dan Dean heran. Keduanya berpandangan. Siapa yang mungkin mengirimi mereka pesan lewat laut di tempat Yabie?


Keduanya segera terkejut dengan jawaban di kepala. Robert langsung membuka botol dan membuka kertas pesan. Ada tulisan tangan di atas kertas tebal yang dibuat secara tradisional.


"Apakah pembawa pesan itu selamat?" tanya Robert. Dia langsung berdiri dari duduk.


"Ya. Dirawat di klinik istriku!" sahut Yabie.


"Bawa aku ke sana!" Robert memutuskan.


Yabie menoleh pada Dean, meminta pendapat. Pamannya mengangguk setuju. Jadi mereka bisa pergi. "Ayo!"


Tak lama seorang pria muda kembali, dia sedang gembira. Di belakangnya berjalan seorang gadis muda cantik yang juga tertawa riang.


"Barusan aku melihat Yabie. Ke mana lagi dia?" tanya pria muda itu.


"Kembali ke Kota Pelabuhan dengan Robert," jawab Dean.


"Bagaimana dengan ibumu? Apakah kakinya yang terkilir sudah sembuh? tanya Dean pada gadis muda di depannya.


"Ayah sedang menjaganya. Ibu tak mau ditinggal sedetikpun!" gadis itu menggeleng.

__ADS_1


"Begitulah mereka. Kau tidak tahu saja betapa cintanya Indra pada Niken." Suara wanita menyambung dari arah tangga.


"Lalu bagaimana dengan ibu dan ayah?" Eric menimpali. Mendengar cerita mereka sebelum menikah, selalu sangat menyenangkan baginya. Seperti cerita dongeng saja.


"Tak perlu tanyakan lagi bagaimana cinta ibumu. Lihat saja hasilnya. Kau dan dua adik kembarmu itu!" Dean terkekeh geli.


"Ooo ... Jadi Kau tidak mencintaiku?" Mata Widuri mendelik pada Dean yang disambut derai tawa dua anak muda itu.


"Di mana kedua adik nakalmu itu?" Widuri melayangkan pandang ke halaman, namun yang dicarinya tak ada di sana. Tidak pula di kolam dekat air terjun.


"Mereka ke tempat Kakek Kang!" sahut Eric cuek.


"Tidak kau temani?" Dengan kaget, Dean dan Widuri bertanya bersamaan. Mata keduanya membeliak lebar.


"Ya ampun!" Eric seperti tersadar. Dia langsung melesat pergi entah ke mana, disusul oleh gadis cantik yang menjadi temannya itu.


Dean dan Widuri menggeleng melihat sifat putranya yang mudah teralih pada sesuatu dan melupakan hal penting lain yang sedang dikerjakannya.


"Mereka itu seperti tak terpisahkan. Apa perlu kita nikahkan saja?" tanya Widuri.


"Apa kau sudah ingin punya cucu dan jadi nenek?" tanya Dean heran.


"Apa kalian melihat Robert?" Seorang wanita ayu, berdiri di depan pintu. Dia adalah Dyah Wardani, putri Dokter Chandra yang akhirnya menikah dengan Robert.


"Dia pergi dengan Yabie untuk mengurus sesuatu di Kota Pelabuhan," jawab Dean.


"Oh, pantas saja tadi di istal tak kelihatan." Dyah mengangguk. Yang penting dia tahu dimana suaminya berada.


"Ada urusan apa?" tanya Widuri sambil menuangkan minum untuk mereka bertiga.


"Robert mendapat pesan dalam botol kaca. Pesan dibawa seseorang yang terdampar di pantai sana," sahut Dean. Dia sedang memikirkan sesuatu sekarang.


"Kuno sekali. Pesan dari siapa itu?" timpal Dyah penasaran.


"Angel!" sahut Dean.


"Angel?" tanya Widuri tak percaya.


"Angel? Siapa Angel?" Dyah makin penasaran. Wajahnya mulai tak enak dilihat.

__ADS_1


******


__ADS_2