The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 108. Raja Penyihir dan Bangsa Cahaya 2


__ADS_3

“Apakah Anda bisa terbang melayang seperti ini?” Dimas


melayang di tempatnya berdiri, lalu terbang berkeliling di kamar sang raja.


Raja Penyihir itu menggeleng. “Saya memiliki ingatan-ingatan


dari leluhur saya. Hanya saja tidak pernah mencoba untuk terbang. Saya tidak


tahu caranya.”


“Mari saya bantu,” ujar Dimas. Didekatinya sang raja dan


memegang tangannya. Membawanya ke atas pelan-pelan. “Coba pikirkan saja kata


melayang!” anjurnya.


“Pada dasarnya, bangsa kita hanya perlu memikirkan lokasi


yang kita tuju, maka kita kan berada di sana dalam satu atau dua detik. Hanya


saja, itu berlaku saat kita berada di luar ruangan yang tidak punya hambatan


apapun di depannya,” jelas Dimas lagi.


“Benarkah?” sang raja sangat takjub.


“Cahayamu itu adalah cahaya dasar yang dimiliki oleh hampir


semua bangsa kita. Kebanyakan mereka memilih bekerja sebagai guru atau pengasuh


anak-anak cahaya. Umumnya mereka sangat penuh kasih sayang dan pintar,” jelas


Dimas sambil tersenyum.


“Sekarang, Anda bisa melayang sendiri!”


Senyum Dimas makin lebar tatkala dia berdiri menjauh dan


membiarkan sang raja melayang di atas tempat tidurnya.


“Ternyata aku juga bisa!”


Raja Penyihir sangat gembira. Tangannya terentang, untuk


menyeimbangkan diri. Dia tak percaya bagaimana Dimas mengajaknya mengobrol,


hingga tidak menyadari telah melayang sendiri.


“Terima kasih!”  ujar


sang raja senang.


“Hanya saja, ada hal yang ingin kutanyakan. Kenapa saat aku


melihat Eric, aku merasa takut? Dan juga saat melihat Anda, aku merasa lututku


goyah!” Raja benar-benar tak mengerti ada apa sebenarnya.


Masih dengan senyum di wajah, Dimas berkata. “Karena


sebelumnya, saya adalah Penguasa Bangsa Cahaya! Dan Eric adalah leluhur kita


semua!”


“Apa!”


Raja langsung kehilangan konsentrasi dan jatuh di atas tempat


tidurnya! Dia benar-benar shock sekarang. Buru-buru turun dari tempat tidur dan


bersimpuh, menunduk hormat di lantai.


“Maafkan aku, Penguasa!” Ampuni sikap tidak hormatku,”


ujarnya gemetar dan terbata.


“Berdirilah. Waktuku sudah lewat. Yang menjadi pemimpin


bangsa Cahaya sekarang adalah Dean, ayah Eric. Kami sedang menunggu  Eric dewasa dan mampu membimbing bangsa kita


kembali gemilang seperti dulu!” Dimas membantu raja itu bangkit dari duduknya.


“Saya ingin sekali membantu, tapi keadaan negara ini juga


sedang sangat sulit,” keluhnya.


“Biar saya coba bicarakan hal ini dengan Dean. Mungkin saja


dia punya solusi untuk menjaga negara ini tetap aman dari serbuan Orc, saat


penyerangan ke sana dilakukan,” kata Dimas.

__ADS_1


“terima kasih kalau begitu. Saya akan menuruti perintah Anda,


Penguasa,” ujar sang raja.


“Tidak! Jangan memanggilku seperti itu. Aku hanya seorang


dokter Dimas saat ini,” tolak Dimas tegas.


“Baiklah.” Raja Penyihir mengangguk.


“Karena aku akan menemui Dean, bisakah Anda berkomunikasi


lewat pikiran? Seperti itulah cara kami saling terhubung satu sama lain!”


Sekali lagi, sang raja menggeleng. “Saya tidak tahu tentang


itu,” akunya.


“Coba berkonsentrasi pada saya,” saran Dimas.


“Apa Anda bisa mendengar suara saya?” tanya Dimas lewat


pikirannya.


“Apa?” raja itu berteriak terkejut.


“Jangan berteriak. Coba jawab pertanyaan saya lewat pikiran


juga.” Dimas menggeleng.


Tampaknya, jiwa bangsa cahaya yang mendiami tubuh sang raja,


benar-benar sudah kelamaan tak bertemu teman sebangsa, hingga lupa cara


berkomunikasi lewat pikiran.


Dimas mencoba sekali lagi. “Apakah Glenn adalah keluarga


Anda?” tanyanya.


“Ya, Glenn adalah putra dari sepupu saya Putri Leonora dan Pangeran


Felix,” jawabnya dengan senyuman. Betapa sang raja merasa lega karena sekarang


bisa berkomunikasi dengan Dimas lewat pikiran.


“Raja Felix. Sekarang beliau adalah Raja Felix. Raja


memperbaiki penyebutan sang raja.


“Apa? Saya tidak mengetahui hal itu. Mengerikan sekali!”


“Kami baru mengetahuinya petang kemarin, setelah perang di


ibukota usai.”


Dimas mengangguk dan berpamitan . “Baiklah, saya tidak boleh


terlalu  lama di sini. Kabar dari sini akan saya sampaikan pada Dean. Semoga dia


punya solusi untuk melindungi negara ini.”


“Cepat sekali ... kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya sang


raja.


“Jika Anda sudah kembali pulih, maka Anda bisa terbang dan


menyusul kami ke perbatasan. Atau mengunjungi istana Elf.” Dimas menunduk dan


melangkah keluar. Banyak yang harus dikerjakan sekarang ini, sebelum para Orc di


istana menyadari apa yang terjadi di Tanah tak bertuan.


“Pangeran Glenn, saya harus kembali ke perbatasan dan bicara


dengan Dean. Apakah Anda ingin tetap di sini, atau kembali ke perbatasan?”


tanya Dimas.


“Saya akan kembali dan bergabung dengan para pengawal saya,”


jawab Glenn yakin. “Sebentar saya berpamitan pada Paman Raja.” Glenn langsung


menghilang ke dalam kamar.


Dimas turun ke lantai bawah istana yang sekarang sudah dalam


keadaan sunyi sepi itu. Istana itu seperti bangunan tua tak berpenghuni. Orc


benar-benar telah membantai banyak orang, di mana pun dia menjejakkan kaki.

__ADS_1


Tak lama Glenn kembali dan mengangguk pada Dimas. “Mari kita


pergi!”


“Kalian berhati-hatilah. Kami usahakan untuk menjaga para


Orc tetap di perbatasan. Namun lebih baik sembunyikan istana ini dengan sihir


seperti sebelumnya!” saran Glenn pada guru sihir.


“Baik!” jawab guru sihir itu.


Glenn dan Dimas langsung pergi. Meninggalkan Levyn dan guru


sihir di depan taman istana, melihat mereka terbang tinggi.


“Andai bangsa kita juga bisa terbang seperti bangsa Cahaya.


Kita bisa lihat banyak pemandangan indah dari ketinggian. Aku suka sekali pengalaman


terbang dengan mereka saat di negara Elf,” komentar Levyn.


“Sekarang, bantu aku untuk membuat sihir pelindung istana,”


kata Guru sihir.


“Baik!” Levyn mengangguk patuh. Dia senang mempelajari ilmu


sihir baru dari guru sihir istana.


***


“Bukankah itu bawahanmu?” tunjuk Dimas ke arah bawah.


“Ya, itu mereka. Saya bisa turun di sini saja,” sahut Glenn.


“Tunggu sebentar di sini. Saya akan melaporkan apa yang saya


lihat di sini, dan mendengarkan keputusan rapat,” Dimas berpamitan.


“Jangan lupa untuk mencari putriku Cristal!” Glenn


mengingatkan.


“Tentu saja. Memang untuk itulah kami datang ke sini,” angguk


Dimas. Dia berpamitan lagi. “Saya pergi!”


Dokter itu terbang tinggi dan menuju perbatasan Elf dan Tanah


tak bertuan yang sepi setelah jadi ladang pembantaian oleh Eric dan Arjun.


Di tempat penjagaan, Eric dan Sofie duduk santai seperti


tak ada yang terjadi di tempat itu. Setiap kali ada Orc yang melewati


perbatasan, Eric akan langsung mengurungnya dalam kubah kecil, lalu


menjentikkan cahaya merah atau biru yang langsung membunuh Orc itu tanpa


memperdengarkan suara sedikit juga.


“Bukankah itu terlalu mudah?” gerutu Sofie. “Lalu kapan giliranku?”


kesalnya.


Di perbatasan Kurcaci biru, Keadaan pangeran yang mengalami


kebutaan itu sangat mengkhawatirkan Jenderal penanggung jawab di sana. Hingga


pangeran itu langsung dikirim pulang ke istana.


Sementara itu, di perbatasan negara Peri, para prajurit


mereka mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Nyaris semua prajurit


terluka matanya hingga ada yang mengeluarkan darah. Tak kurang para jenderalnya


juga ikut menderita. Mereka kembali ke pos penjagaan perbatasan dan dirawat


oleh tabib di desa kecil itu.


“Bukankah suatu keberuntungan bagi sang pangeran, tidak


ditugaskan di perbatasan Tanah tak bertuan!” komentar penduduk yang melihat


prajurit di pasukan baru itu menderita kebutaan.


“Orang yang jahat, akan mendapatkan balasannya!” kata mereka


dengan sinis.

__ADS_1


__ADS_2