
“Apakah Anda bisa terbang melayang seperti ini?” Dimas
melayang di tempatnya berdiri, lalu terbang berkeliling di kamar sang raja.
Raja Penyihir itu menggeleng. “Saya memiliki ingatan-ingatan
dari leluhur saya. Hanya saja tidak pernah mencoba untuk terbang. Saya tidak
tahu caranya.”
“Mari saya bantu,” ujar Dimas. Didekatinya sang raja dan
memegang tangannya. Membawanya ke atas pelan-pelan. “Coba pikirkan saja kata
melayang!” anjurnya.
“Pada dasarnya, bangsa kita hanya perlu memikirkan lokasi
yang kita tuju, maka kita kan berada di sana dalam satu atau dua detik. Hanya
saja, itu berlaku saat kita berada di luar ruangan yang tidak punya hambatan
apapun di depannya,” jelas Dimas lagi.
“Benarkah?” sang raja sangat takjub.
“Cahayamu itu adalah cahaya dasar yang dimiliki oleh hampir
semua bangsa kita. Kebanyakan mereka memilih bekerja sebagai guru atau pengasuh
anak-anak cahaya. Umumnya mereka sangat penuh kasih sayang dan pintar,” jelas
Dimas sambil tersenyum.
“Sekarang, Anda bisa melayang sendiri!”
Senyum Dimas makin lebar tatkala dia berdiri menjauh dan
membiarkan sang raja melayang di atas tempat tidurnya.
“Ternyata aku juga bisa!”
Raja Penyihir sangat gembira. Tangannya terentang, untuk
menyeimbangkan diri. Dia tak percaya bagaimana Dimas mengajaknya mengobrol,
hingga tidak menyadari telah melayang sendiri.
“Terima kasih!” ujar
sang raja senang.
“Hanya saja, ada hal yang ingin kutanyakan. Kenapa saat aku
melihat Eric, aku merasa takut? Dan juga saat melihat Anda, aku merasa lututku
goyah!” Raja benar-benar tak mengerti ada apa sebenarnya.
Masih dengan senyum di wajah, Dimas berkata. “Karena
sebelumnya, saya adalah Penguasa Bangsa Cahaya! Dan Eric adalah leluhur kita
semua!”
“Apa!”
Raja langsung kehilangan konsentrasi dan jatuh di atas tempat
tidurnya! Dia benar-benar shock sekarang. Buru-buru turun dari tempat tidur dan
bersimpuh, menunduk hormat di lantai.
“Maafkan aku, Penguasa!” Ampuni sikap tidak hormatku,”
ujarnya gemetar dan terbata.
“Berdirilah. Waktuku sudah lewat. Yang menjadi pemimpin
bangsa Cahaya sekarang adalah Dean, ayah Eric. Kami sedang menunggu Eric dewasa dan mampu membimbing bangsa kita
kembali gemilang seperti dulu!” Dimas membantu raja itu bangkit dari duduknya.
“Saya ingin sekali membantu, tapi keadaan negara ini juga
sedang sangat sulit,” keluhnya.
“Biar saya coba bicarakan hal ini dengan Dean. Mungkin saja
dia punya solusi untuk menjaga negara ini tetap aman dari serbuan Orc, saat
penyerangan ke sana dilakukan,” kata Dimas.
__ADS_1
“terima kasih kalau begitu. Saya akan menuruti perintah Anda,
Penguasa,” ujar sang raja.
“Tidak! Jangan memanggilku seperti itu. Aku hanya seorang
dokter Dimas saat ini,” tolak Dimas tegas.
“Baiklah.” Raja Penyihir mengangguk.
“Karena aku akan menemui Dean, bisakah Anda berkomunikasi
lewat pikiran? Seperti itulah cara kami saling terhubung satu sama lain!”
Sekali lagi, sang raja menggeleng. “Saya tidak tahu tentang
itu,” akunya.
“Coba berkonsentrasi pada saya,” saran Dimas.
“Apa Anda bisa mendengar suara saya?” tanya Dimas lewat
pikirannya.
“Apa?” raja itu berteriak terkejut.
“Jangan berteriak. Coba jawab pertanyaan saya lewat pikiran
juga.” Dimas menggeleng.
Tampaknya, jiwa bangsa cahaya yang mendiami tubuh sang raja,
benar-benar sudah kelamaan tak bertemu teman sebangsa, hingga lupa cara
berkomunikasi lewat pikiran.
Dimas mencoba sekali lagi. “Apakah Glenn adalah keluarga
Anda?” tanyanya.
“Ya, Glenn adalah putra dari sepupu saya Putri Leonora dan Pangeran
Felix,” jawabnya dengan senyuman. Betapa sang raja merasa lega karena sekarang
bisa berkomunikasi dengan Dimas lewat pikiran.
“Raja Felix. Sekarang beliau adalah Raja Felix. Raja
memperbaiki penyebutan sang raja.
“Apa? Saya tidak mengetahui hal itu. Mengerikan sekali!”
“Kami baru mengetahuinya petang kemarin, setelah perang di
ibukota usai.”
Dimas mengangguk dan berpamitan . “Baiklah, saya tidak boleh
terlalu lama di sini. Kabar dari sini akan saya sampaikan pada Dean. Semoga dia
punya solusi untuk melindungi negara ini.”
“Cepat sekali ... kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya sang
raja.
“Jika Anda sudah kembali pulih, maka Anda bisa terbang dan
menyusul kami ke perbatasan. Atau mengunjungi istana Elf.” Dimas menunduk dan
melangkah keluar. Banyak yang harus dikerjakan sekarang ini, sebelum para Orc di
istana menyadari apa yang terjadi di Tanah tak bertuan.
“Pangeran Glenn, saya harus kembali ke perbatasan dan bicara
dengan Dean. Apakah Anda ingin tetap di sini, atau kembali ke perbatasan?”
tanya Dimas.
“Saya akan kembali dan bergabung dengan para pengawal saya,”
jawab Glenn yakin. “Sebentar saya berpamitan pada Paman Raja.” Glenn langsung
menghilang ke dalam kamar.
Dimas turun ke lantai bawah istana yang sekarang sudah dalam
keadaan sunyi sepi itu. Istana itu seperti bangunan tua tak berpenghuni. Orc
benar-benar telah membantai banyak orang, di mana pun dia menjejakkan kaki.
__ADS_1
Tak lama Glenn kembali dan mengangguk pada Dimas. “Mari kita
pergi!”
“Kalian berhati-hatilah. Kami usahakan untuk menjaga para
Orc tetap di perbatasan. Namun lebih baik sembunyikan istana ini dengan sihir
seperti sebelumnya!” saran Glenn pada guru sihir.
“Baik!” jawab guru sihir itu.
Glenn dan Dimas langsung pergi. Meninggalkan Levyn dan guru
sihir di depan taman istana, melihat mereka terbang tinggi.
“Andai bangsa kita juga bisa terbang seperti bangsa Cahaya.
Kita bisa lihat banyak pemandangan indah dari ketinggian. Aku suka sekali pengalaman
terbang dengan mereka saat di negara Elf,” komentar Levyn.
“Sekarang, bantu aku untuk membuat sihir pelindung istana,”
kata Guru sihir.
“Baik!” Levyn mengangguk patuh. Dia senang mempelajari ilmu
sihir baru dari guru sihir istana.
***
“Bukankah itu bawahanmu?” tunjuk Dimas ke arah bawah.
“Ya, itu mereka. Saya bisa turun di sini saja,” sahut Glenn.
“Tunggu sebentar di sini. Saya akan melaporkan apa yang saya
lihat di sini, dan mendengarkan keputusan rapat,” Dimas berpamitan.
“Jangan lupa untuk mencari putriku Cristal!” Glenn
mengingatkan.
“Tentu saja. Memang untuk itulah kami datang ke sini,” angguk
Dimas. Dia berpamitan lagi. “Saya pergi!”
Dokter itu terbang tinggi dan menuju perbatasan Elf dan Tanah
tak bertuan yang sepi setelah jadi ladang pembantaian oleh Eric dan Arjun.
Di tempat penjagaan, Eric dan Sofie duduk santai seperti
tak ada yang terjadi di tempat itu. Setiap kali ada Orc yang melewati
perbatasan, Eric akan langsung mengurungnya dalam kubah kecil, lalu
menjentikkan cahaya merah atau biru yang langsung membunuh Orc itu tanpa
memperdengarkan suara sedikit juga.
“Bukankah itu terlalu mudah?” gerutu Sofie. “Lalu kapan giliranku?”
kesalnya.
Di perbatasan Kurcaci biru, Keadaan pangeran yang mengalami
kebutaan itu sangat mengkhawatirkan Jenderal penanggung jawab di sana. Hingga
pangeran itu langsung dikirim pulang ke istana.
Sementara itu, di perbatasan negara Peri, para prajurit
mereka mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Nyaris semua prajurit
terluka matanya hingga ada yang mengeluarkan darah. Tak kurang para jenderalnya
juga ikut menderita. Mereka kembali ke pos penjagaan perbatasan dan dirawat
oleh tabib di desa kecil itu.
“Bukankah suatu keberuntungan bagi sang pangeran, tidak
ditugaskan di perbatasan Tanah tak bertuan!” komentar penduduk yang melihat
prajurit di pasukan baru itu menderita kebutaan.
“Orang yang jahat, akan mendapatkan balasannya!” kata mereka
dengan sinis.
__ADS_1