
“Tidak, jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku Eric
saja. Aku tak ada bedanya dengan semua bangsa Cahaya lainnya. Bukankah begitu,
teman-teman?” tanya Eric pada Hakon dan Gerald. Keduanya mengangguk dengan
cepat.
Glenn mundur sedikit karena anggukan kepala Gerald yang besar
dan hampir mengenainya.
“Kau menakuti mereka, Gerald,” tegur Eric.
“Oh, baiklah ....” Gerald kembali ke bentuk manusianya,
seorang permuda tampan.
Sekali lagi, orang-orang itu terkejut dan mundur melindungi
Glenn, sambil mengacungkan pedang lagi.
“Tenang saja. Gerald sangat baik. Dia tak berbahaya sama
sekali, kecuali kita memusuhinya!” kata Levyn menenangkan. Para pengawal
ayahnya kembali berwajah lega.
“Jadi, kau datang menyusul dengan menaiki punggung temanmu?
Tidak sopan!” tegur Glenn.
“Lalu aku harus bagaimana? Aku kan tidak bisa terbang seperti
mereka!” Levyn membela diri.
“Kalau begitu, ucapkan permintaan maaf dan terima kasih,
setelahnya!” Glenn tetap pada pendiriannya.
“Kau dengar itu, Gerald? Maafkan aku sudah menaikimu tadi.
Dan terima kasih untuk pengalaman terbangnya. Tadi menyenangkan sekali,” ujar
Levyn dengan wajah cerah.
“Itulah gunanya teman,” balas Gerald. “Bagaimanapun juga, kau
yang menyelamatkan nyawa kami di hutan sihir itu. Jadi tak perlu minta maaf
atau berterima kasih,” tambahnya lagi.
“Ah, mari kita duduk. Kalian pasti lelah di perjalanan,” ajak
Glenn.
Setelah perkenalan singkat dan menikmati sarapan, Eric
kembali pada tujuan utama perjalanan mereka. “Apakah posisi putri Anda sudah
diketahui?”
“Kami masih mencari petunjuk. Kadang seperti ada petunjuk ke
satu tempat. Kami mengejarnya. Tapi ternyata tak ada apapun. Rasanya seperti
sedang dipermainkan! Tapi entah oleh siapa,” keluh Pangeran Glenn.
“Apakah Ayah belum sampai di ibukota negara Penyihir?” tanya
Levyn.
Semua desa dan kota yang kami temui, hanya diisi dengan mayat
penduduk yang tewas. Dada para penyihir itu dipasangi besi beracun oleh Orc. Saat
pertama datang, masih kami temukan yang hidup. Belakangan, tak ada lagi desa
yang berpenghuni. Entah apakah semuanya sudah tewas, atau mereka mengungsi.”
Glenn menceritakan pengalaman perjalanan mereka.
“Apakah ibu kota Penyihir sudah jatuh?” tanya Eric.
“Kami sudah sampai di desa kecil terakhir sebelum ibukota.
Desa itu dipenuhi Orc. Hanya Orc yang hilir mudik dari dan ke desa itu. Tak ada
bangsa lain. Di mana-mana penjaganya berkeliling. Kami sudah mengelilingi hampir seluruh desa
__ADS_1
yang mengelilingi ibu kota. Semuanya dikuasai Orc!”
“Jadi ayah tak bisa masuk ke sana?” tanya Levyn. Glenn
mengangguk.
“Tempat kita sekarang ini juga tak jauh dari desa terdekat ke
ibukota. Kami bersembunyi di hutan agar tidak ketahuan. Dan biasanya selalu
berpindah setiap hari. Mencoba mencari celah ataupun informasi tentang ibukota.”
“Jadi, ibu kota penyihir itu tak jauh lagi? Kita bisa
memeriksa keadaannya dari udara pada malam hari, ujar Eric.
“Kenapa tidaka kita periksa sekarang saja? Bukankah keadaan
inisudah tak bisa ditunda lagi. Ibu kota Elf sedang perang. Jangan sampai informasi
di sana terdengar ke sini ataupun sampai ke negaranya. Mereka bisa menjadikan
putri Elf sebagai sandera!” kata Gerald.
“Apakah tidak ada yang mencari ke negara Orc?” tanya Hakon
heran.
“Setengah tim ini pergi mencari ke sana. Kami selalu
berkomunikasi tiap minggu. Tapi mereka juga belum menemukan jejak yang pasti.
Apa lagi menyelinap ke negara Orc sangat sulit.” Glenn menggeleng dengan cemas.
“Jadi, bagaimana tindakan kita? Tak ada penduduk yang bisa
diajak kerja sama. Hanya kita saja ...,” keluh Eric.
Bukankah kita saja juga cukup?” kata Gerald.
Eric mendengus. Dia paham maksud Gerald. Naga itu ingin
bermain-main di ibu kota penyihir.
“Tidak semudah itu. Jika mereka menyembunyikan putri Elf di
sana, bagaimana? Jika masih ada rakyat penyihir, atau raja dan keluarganya,
pertimbangan.
Glenn dan para Elf lain mendengarkan pembicaraan keduanya
dengan perasaan lucu. Berpikir bagaimama anak-anak muda di depan mereka bisa
begitu sombong, ingin mengalahkan Orc dengan kemampuan sendiri.
Namun, Randal sudah tak tahan untuk mengomentari kesombongan
Gerald dan Eric. “Kami bisa lihat kalau kalian bisa terbang. Tapi perang bukan
hanya soal terbang. Butuh keahlian bermain pedang, panah, atau beladiri
lainnya. Kalian punya kemampuan apa?”
“Betul kata Randall. Jadi jangan bicara sombong, ingin
mengalahkan Orc hanya dengan kalian bertiga saja,” timpal yang lain.
“Apa kau bisa membunuh atau melenyapkan seisi kota?” ejek
yang lain.
“Bisa!” kata Gerald. “Dan Eric juga bisa! Sementara Hakon punya
kemampuan lain lagi,” Gerald menjawab dengan percaya diri.
Lalu tawa keras penuh ejekan terdengar. Eric pun merasa
tersinggung. Wajahnya memerah menahan amarah. Dia melayang di atas tanah dengan
mata bersinar biru terang. Tangannya juga mengeluarkan cahaya kebiruan yang
seperti nyala api.
Hakon dan Gerald terkejut. “Eric, ingat pesan ayahmu!” seru
Hakon.
Gerald langsung berubah jadi naga dan memandangnya dengan
__ADS_1
waspada sambil melindungi para Elf. “Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal
yang akan kau selali nanti. Mereka hanya tidak tahu, jadi abaikan saja!”
Glenn dan Levyn jadi terkejut melihat perkembangan yang
terjadi. Situasi bincang-bincang itu berubah cepat. “Ada apa?” tanya Glenn.
“Mereka menghinanya!” kata Hakon marah. “Jika dia tidak cepat
menyadari keadaan, maka kita akan habis! Dan keadaannya jadi bahaya!” tambahnya
lagi.
Glenn terkejut. Dia tak menyangka jika perbincangan kritis
tadi telah menyinggung perasaan Eric. Dia memang mendengar cemooh dari
bawahannya. Tapi biasanya itu terjadi sesama mereka dan untuk membuat suasana
ramai saja. Tapi Eric memasukkannya dalam hati.
“Eric, mereka hanya bercanda. Maafkan ketidak tahuan mereka!”
seru Glenn dengan sedikit ngeri melihat sinar biru terang tubuh Eric yang jelas menghangatkan
sekitarnya.
“Apakah tubuhnya menyimpan api?” tanyanya.
“Kita harus menghentikannya sekarang, karena tidak ada para
tetua yang bisa mengendalikannya di sini!” Hakon sangat cemas.
“Eric, Aku akan mengirimkan pesan pada Pemimpin, jika kau
tidak segera sadar!” Teriak Hakon. Dia ikut melayang, menyusul Eric yang naik
makin tinggi. Gerald menyusul di belakangnya.
Ketiga orang itu sudah melayang tinggi melewati puncak pohon
di hutan itu. Glenn menatap tajam para bawahannya. “Tidak bisakah kalian
melihat kenyataan bahwa ada bangsa lain yang lebih unggul dari kita?”
“Apa kau pernah melihat seperti apa kekuatannya?” tanya Glenn
pada Levyn.
“Tidak pernah. Tapi semua orang yang kuselamatkan di hutan
sihir itu, mengangkatnya jadi pemimpin dan patuh pada kata-katanya. Bahkan
paman Robert yang teman ibunda, mematuhinya!” jawab Levyn.
“Kalau melihat ketakutan dua temannya, ayah rasa, dia bukan dipatuhi
hanya karena dia seorang pangeran mahkota, tapi karena kemampuannya!” tegas Dean.
“Kakek juga hormat dan kagum padanya,” tambah Levyn.
“Kalian dengar itu? Jika keadaannya membaik, segeralah minta
maaf. Bangsa mereka sudah mengirimkan bantuan, tapi kalian justru
mentertawakan. Dan tak mungkin tim bantuan yang dikirim orang yang tak punya
kemampuan!” Glenn masih merasa kesal. Ta[i dia tak punya cara untuk mengatasi
masalah di atas.
“Eric, kau harus segera sadar. Kita tak bisa membuang waktu
percuma. Ayahmu dan yang lainnya sedang berjuang di negara Elf. Jangan sampai
mereka kecewa padamu!” Hakon kembali membujuk.
“Mereka sudah menghina bangsaku yang besar. Menganggap kita
tak punya kemampuan!” kata Eric dengan suara parau. Hakon dan Gerald saling
pandang. Itu jelas suara leluhur bangsa cahaya.
“Leluhur yang agung, mereka belum pernah melihat kehebatanmu,
tapi kita bisa buktikan nati, saat melawan para Orc. Kau harus menyimpan
kekuatan itu untuk ditunjukkan di hadapan mereka nanti! Agar bangsa kita tidak
__ADS_1
lagi diremehkan oleh bangsa lain!” bujuk Hakon.
“Aku tidak mau membantu mereka!” kata Eric.