The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 92. Kemarahan Eric


__ADS_3

 “Tidak, jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku Eric


saja. Aku tak ada bedanya dengan semua bangsa Cahaya lainnya. Bukankah begitu,


teman-teman?” tanya Eric pada Hakon dan Gerald. Keduanya mengangguk dengan


cepat.


Glenn mundur sedikit karena anggukan kepala Gerald yang besar


dan hampir mengenainya.


“Kau menakuti mereka, Gerald,” tegur Eric.


“Oh, baiklah ....” Gerald kembali ke bentuk manusianya,


seorang permuda tampan.


Sekali lagi, orang-orang itu terkejut dan mundur melindungi


Glenn, sambil mengacungkan pedang lagi.


“Tenang saja. Gerald sangat baik. Dia tak berbahaya sama


sekali, kecuali kita memusuhinya!” kata Levyn menenangkan. Para pengawal


ayahnya kembali berwajah lega.


“Jadi, kau datang menyusul dengan menaiki punggung temanmu?


Tidak sopan!” tegur Glenn.


“Lalu aku harus bagaimana? Aku kan tidak bisa terbang seperti


mereka!” Levyn membela diri.


“Kalau begitu, ucapkan permintaan maaf dan terima kasih,


setelahnya!” Glenn tetap pada pendiriannya.


“Kau dengar itu, Gerald? Maafkan aku sudah menaikimu tadi.


Dan terima kasih untuk pengalaman terbangnya. Tadi menyenangkan sekali,” ujar


Levyn dengan wajah cerah.


“Itulah gunanya teman,” balas Gerald. “Bagaimanapun juga, kau


yang menyelamatkan nyawa kami di hutan sihir itu. Jadi tak perlu minta maaf


atau berterima kasih,” tambahnya lagi.


“Ah, mari kita duduk. Kalian pasti lelah di perjalanan,” ajak


Glenn.


Setelah perkenalan singkat dan menikmati sarapan, Eric


kembali pada tujuan utama perjalanan mereka. “Apakah posisi putri Anda sudah


diketahui?”


“Kami masih mencari petunjuk. Kadang seperti ada petunjuk ke


satu tempat. Kami mengejarnya. Tapi ternyata tak ada apapun. Rasanya seperti


sedang dipermainkan! Tapi entah oleh siapa,” keluh Pangeran Glenn.


“Apakah Ayah belum sampai di ibukota negara Penyihir?” tanya


Levyn.


Semua desa dan kota yang kami temui, hanya diisi dengan mayat


penduduk yang tewas. Dada para penyihir itu dipasangi besi beracun oleh Orc. Saat


pertama datang, masih kami temukan yang hidup. Belakangan, tak ada lagi desa


yang berpenghuni. Entah apakah semuanya sudah tewas, atau mereka mengungsi.”


Glenn menceritakan pengalaman perjalanan mereka.


“Apakah ibu kota Penyihir sudah jatuh?” tanya Eric.


“Kami sudah sampai di desa kecil terakhir sebelum ibukota.


Desa itu dipenuhi Orc. Hanya Orc yang hilir mudik dari dan ke desa itu. Tak ada


bangsa lain. Di mana-mana penjaganya berkeliling.  Kami sudah mengelilingi hampir seluruh desa

__ADS_1


yang mengelilingi ibu kota. Semuanya dikuasai Orc!”


“Jadi ayah tak bisa masuk ke sana?” tanya Levyn. Glenn


mengangguk.


“Tempat kita sekarang ini juga tak jauh dari desa terdekat ke


ibukota. Kami bersembunyi di hutan agar tidak ketahuan. Dan biasanya selalu


berpindah setiap hari. Mencoba mencari celah ataupun informasi tentang ibukota.”


“Jadi, ibu kota penyihir itu tak jauh lagi? Kita bisa


memeriksa keadaannya dari udara pada malam hari, ujar Eric.


“Kenapa tidaka kita periksa sekarang saja? Bukankah keadaan


inisudah tak bisa ditunda lagi. Ibu kota Elf sedang perang. Jangan sampai informasi


di sana terdengar ke sini ataupun sampai ke negaranya. Mereka bisa menjadikan


putri Elf sebagai sandera!” kata Gerald.


“Apakah tidak ada yang mencari ke negara Orc?” tanya Hakon


heran.


“Setengah tim ini pergi mencari ke sana. Kami selalu


berkomunikasi tiap minggu. Tapi mereka juga belum menemukan jejak yang pasti.


Apa lagi menyelinap ke negara Orc sangat sulit.” Glenn menggeleng dengan cemas.


“Jadi, bagaimana tindakan kita? Tak ada penduduk yang bisa


diajak kerja sama. Hanya kita saja ...,” keluh Eric.


Bukankah kita saja juga cukup?” kata Gerald.


Eric mendengus. Dia paham maksud Gerald. Naga itu ingin


bermain-main di ibu kota penyihir.


“Tidak semudah itu. Jika mereka menyembunyikan putri Elf di


sana, bagaimana? Jika masih ada rakyat penyihir, atau raja dan keluarganya,


pertimbangan.


Glenn dan para Elf lain mendengarkan pembicaraan keduanya


dengan perasaan lucu. Berpikir bagaimama anak-anak muda di depan mereka bisa


begitu sombong, ingin mengalahkan Orc dengan kemampuan sendiri.


Namun, Randal sudah tak tahan untuk mengomentari kesombongan


Gerald dan Eric. “Kami bisa lihat kalau kalian bisa terbang. Tapi perang bukan


hanya soal terbang. Butuh keahlian bermain pedang, panah, atau beladiri


lainnya. Kalian punya kemampuan apa?”


“Betul kata Randall. Jadi jangan bicara sombong, ingin


mengalahkan Orc hanya dengan kalian bertiga saja,” timpal yang lain.


“Apa kau bisa membunuh atau melenyapkan seisi kota?” ejek


yang lain.


“Bisa!” kata Gerald. “Dan Eric juga bisa! Sementara Hakon punya


kemampuan lain lagi,” Gerald menjawab dengan percaya diri.


Lalu tawa keras penuh ejekan terdengar. Eric pun merasa


tersinggung. Wajahnya memerah menahan amarah. Dia melayang di atas tanah dengan


mata bersinar biru terang. Tangannya juga mengeluarkan cahaya kebiruan yang


seperti nyala api.


Hakon dan Gerald terkejut. “Eric, ingat pesan ayahmu!” seru


Hakon.


Gerald langsung berubah jadi naga dan memandangnya dengan

__ADS_1


waspada sambil melindungi para Elf. “Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal


yang akan kau selali nanti. Mereka hanya tidak tahu, jadi abaikan saja!”


Glenn dan Levyn jadi terkejut melihat perkembangan yang


terjadi. Situasi bincang-bincang itu berubah cepat. “Ada apa?” tanya Glenn.


“Mereka menghinanya!” kata Hakon marah. “Jika dia tidak cepat


menyadari keadaan, maka kita akan habis! Dan keadaannya jadi bahaya!” tambahnya


lagi.


Glenn terkejut. Dia tak menyangka jika perbincangan kritis


tadi telah menyinggung perasaan Eric. Dia memang mendengar cemooh dari


bawahannya. Tapi biasanya itu terjadi sesama mereka dan untuk membuat suasana


ramai saja. Tapi Eric memasukkannya dalam hati.


“Eric, mereka hanya bercanda. Maafkan ketidak tahuan mereka!”


seru Glenn dengan sedikit ngeri melihat sinar biru terang  tubuh Eric yang jelas menghangatkan


sekitarnya.


“Apakah tubuhnya menyimpan api?” tanyanya.


“Kita harus menghentikannya sekarang, karena tidak ada para


tetua yang bisa mengendalikannya di sini!”  Hakon sangat cemas.


“Eric, Aku akan mengirimkan pesan pada Pemimpin, jika kau


tidak segera sadar!” Teriak Hakon. Dia ikut melayang, menyusul Eric yang naik


makin tinggi. Gerald menyusul di belakangnya.


Ketiga orang itu sudah melayang tinggi melewati puncak pohon


di hutan itu. Glenn menatap tajam para bawahannya. “Tidak bisakah kalian


melihat kenyataan bahwa ada bangsa lain yang lebih unggul dari kita?”


“Apa kau pernah melihat seperti apa kekuatannya?” tanya Glenn


pada Levyn.


“Tidak pernah. Tapi semua orang yang kuselamatkan di hutan


sihir itu, mengangkatnya jadi pemimpin dan patuh pada kata-katanya. Bahkan


paman Robert yang teman ibunda, mematuhinya!” jawab Levyn.


“Kalau melihat ketakutan dua temannya, ayah rasa, dia bukan dipatuhi


hanya karena dia seorang pangeran mahkota, tapi karena kemampuannya!” tegas Dean.


“Kakek juga hormat dan kagum padanya,” tambah Levyn.


“Kalian dengar itu? Jika keadaannya membaik, segeralah minta


maaf. Bangsa mereka sudah mengirimkan bantuan, tapi kalian justru


mentertawakan. Dan tak mungkin tim bantuan yang dikirim orang yang tak punya


kemampuan!” Glenn masih merasa kesal. Ta[i dia tak punya cara untuk mengatasi


masalah di atas.


“Eric, kau harus segera sadar. Kita tak bisa membuang waktu


percuma. Ayahmu dan yang lainnya sedang berjuang di negara Elf. Jangan sampai


mereka kecewa padamu!” Hakon kembali membujuk.


“Mereka sudah menghina bangsaku yang besar. Menganggap kita


tak punya kemampuan!” kata Eric dengan suara parau. Hakon dan Gerald saling


pandang. Itu jelas suara leluhur bangsa cahaya.


“Leluhur yang agung, mereka belum pernah melihat kehebatanmu,


tapi kita bisa buktikan nati, saat melawan para Orc. Kau harus menyimpan


kekuatan itu untuk ditunjukkan di hadapan mereka nanti! Agar bangsa kita tidak

__ADS_1


lagi diremehkan oleh bangsa lain!” bujuk Hakon.


“Aku tidak mau membantu mereka!” kata Eric.


__ADS_2