The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 111. Perang Besar


__ADS_3

Derap langkah kaki kuda yang berlari, menggetarkan tanah itu.


Di depan, Robert dan Arjun membuka jalan dengan menembakkan cahaya merah dan


biru pada pos perbatasan negara Orc. Sisanya dihadang oleh pasukan negara Elf.


Prajurit Elf melarikan kuda dengan pedang diacungkan ke


angkasa. Lalu membabat siapapun Orc yang mereka temui sepanjang perjalanan.


Bagian belakang menambahi luka-luka yang dialami oleh para Orc. Mereka terus


maju, menuju kota terdekat.


Tak lama, prajurit yang datang dengan berjalan kaki, menghabisi


seluruh  sisa Orc yang sekarat.


Eric dan Thorn yang melayang tinggi di langit, menunggu


kesempatan untuk mulai pencarian.


“Sekarang!” kata Eric.


Pria itu melesat cepat, meliuk-liuk di udara, meninggalkan


bayangan cahaya warna-warni sebagai di belakang.  Thorn mengikuti  jejaknya. Mereka mencari jejak kota terbesar.


Karena kemungkinan itulah ibukota negara Orc.


“Lihat di sana! Itu kota yang sangat terang.” Eric menunjuk


satu kota tak jauh di sebelah kanannya.


“Mari kita amati. Jika  ada bangunan megah dengan banyak pengawalan ketat, maka bisa jadi itu


adalah istana raja!” timpal Thorn.


Keduanya melayang turun perlahan. Berkamuflase dengan


pepohonan tinggi yang hidup meliar di beberapa tempat. Kota Orc ini


lumayan  teratur. Ada jalan lebar dan


ramai. Mereka berjalan ke sana-kemari tanpa rasa khawatir.


“Melihat mereka tetap santai, sepertinya kejadian di Tanah


tak bertuan memang tak terdengar sampai ke sini.” Thorn menyimpulkan.


“Bagus kalau begitu.”  Eric terbang mendekati bangunan megah dan penuh cahaya terang. Puluhan


prajurit yang berjaga, berkeliling tembok bangunan itu.


“Andai saja ada Gerald di sini! Mungkin dia bisa melihat


menembus bangunan-bangunan itu!” gumam Eric.


“Dia ke istana Elf!” kata Thorn. Eric mengangguk.


“Berarti kita harus memeriksa manual. Apa kau punya akal?


Fisik kita jelas sangat berbeda dengan para Orc. Sangat mudah ketahuan!” tanya


Eric.


Thorn menggeleng ragu. “Kalau aku yang mendapat tugas,


mungkin akan turun begitu saja. Jika ada yang memergoki, langsung bunuh saja.


Lalu simpan di tempat penyimpanan agar tidak ketahuan.”


“Ya sudah, mari kita cob aseperti itu saja!” ujar Eric.


Pemuda itu sudah akan melayang turun, jika tidka ditahan Thorn.


“Kau serius?” tanyanya heran.


“Hloo, bukannya tadi kau yang memberi ide?” Eric balik bertanya.


“Kan itu kalau aku yang ditugaskan. Kalau Kau, masa pakai ide


sesederhana itu juga?” balas Thorn heran.


“Memangnya kita harus pakai ide rumit? Kadang yang sederhana


juga mnyenangkan kok,” sahut Eric tersenyum.


“Senyummu mencurigakan!” tuduh Thor. Semua bangsa Cahaya tahu


bagaimana jahilnya Eric sejak kecil.


Eric tertawa keras mendengarnya. “Hahaha ....”


Thorn membekap mulut Eric karena terkejut. “Apa kau sengaja


tertawa begitu keras. Kau ingin mereka tahu kehadiran kita?” bisik Thorn.


“Astaga! Coba lihat posisi kita. Mungkin mereka akan mengira

__ADS_1


ada hantu yang tertawa!” Eric mencoba bicara dari balik bekapan tangan Thorn.


Thorn melihat ke bawah. Benar juga, mereka berada di


ketinggian lebih dari seratus meter dari permukaan tanah. Perlahan dilepaskannya


tangan yang membekap mulut Eric.


“Maaf ... aku sedikit lupa, tadi.” Pria itu tersenyum ganjil.


Antara lucu dan takut karena sudah lancang.


“Sudahlah ... kita bereskan pekerjaan kita, sebelum berita


perang itu sampai di sini!” Eric meluncur turun ke bagian belakang bangunan. Eric


memastikan bahwa itu adalah bagian terjorok bangunan itu.


Keduanya langsung bersembunyi di balik kegelapan tempat kusam


itu. Setelah beberrapa waktu tak ada yang datang memeriksa ke sana, mereka melangkah


mengendap-endap ke bagian lain yang terhubung langsung ke belakang bangunan.


“Sepertinya ini dapur mereka!” ujar Thorn.


Eric mengangguk setuju. Dia juga bisa lihat tungku besar


dengan panci-panci masih berada di atasnya. Namun tak ada api yang menyala di


sana.


“Mereka mungkin sedang sibuk makan malam!”


Sekarang keduanya kembali berjalan melintasi dapur yan sangat


besar dan kotor itu. Setelah melewati bagian penyimpanan yang isinya entah apa,


Eric dan Thorn melihat bahwa sebenarnya bagian dapur itu terpisah dengan


bangunan lain. Hanya saja, tetap ditutup atap. Hingga dari atas semua terlihat


seperti satu bangunan luas.


Di hadapan mereka terlihat jalan yang bercabang-cabang. Ke


depan, kanan, juga kiri. “Ke mana kita?” tanya Thorn.


“Bagaimana kalau kau ke sana,” Eric menunjuk ke kiri, “...


dan aku ke sana!” tunjuknya ke kanan.


“Aku ditugaskan untuk melindungimu!” tolak Thorn tegas.


hanya jalan bersama, kita akan terlambat memeriksa semua sudut!” Eric memberi


alasan.


“Tapi---“


“Tak ada tapi-tapi. Ikuti saja apa kataku! Jika terpergok


Orc, langsung bunuh saja dan simpan di penyimpananmu!” pesan Eric.


“Ya sudah kalau begitu!”  Thorn mengangguk pasrah. Bagaimnapun,


kedudukan Eric lebih tinggi darinya.


“Hati-hati!” Eric melesat cepat ke tempat yang tadi


ditunjuknya. Thorn mengikuti langkahnya, melesat ke arah sebaliknya.


“Hampir saja!” Eric langsung menyembunyikan diri saat


mendengar derap langkah kaki Orc menggetarkan lantai yang dipijaknya.


“Bagaimana mereka bisa bersembunyi kalau langkahnya bisa


meruntuhkan tebok rumah?” pikir Eric.


Kemudian lewat seorang Orc. Dia menyeret seseorang melewati


dapur yang  tadi disinggahi Eric dan


Thorn. Eric memperhatikan arah pergi Orc tadi. Dia ragu, apakah harus kembali


untuk melihat, atau meneruskan langkah saja.


“Sial! Sepertinya aku harus memeriksa, apakah orang yang


dibawanya mash hidup atau sudah mati!” gumamnya.


Eric bersembunyi di balik bayang-bayang gelap dua pilar


yang  berdekatan. Kalau Orc, tak mungkin


bisa bersembunyi di sana. Hanya saja tubuh Eric masih bisa masuk ke celah


antara dua pilar itu. Orc tadi kembali dengan tangan kosong. Lalu tempat itu

__ADS_1


kembali sunyi.


Eric keluar dari persembunyian dan kembali ke dapur serta


tempat penyimpanan itu. Dia melihat berkeliling, untuk mencari orang yang tadi


diseret ke sana.


“Di mana dia disembunyikan? Apakah ada banyak orang yang


disembunyikan dekat dapur?” pikir Eric.


Setelah mencari di tiap sudut tak bertemu, akhirnya Eric


terbang melayang di atas dapur yang besar itu. Dia ingin melihat bagian mana


yang mungkin terlewat olehnya.


“Astaga!”


Matanya melotot melihat posisi orang itu di atas kuali besar


dari besi. Persis di atas tunggu yang apinya sudah mati. Cepat-cepat dia


mendekat untuk memeriksa keadaannya. Jarinya menekan bagian leher orang


tersebut.


“Masih hidup?” Eric terkejut sekali dengan kenyataan itu. “Biadab!


Apakah mereka memakan manusia lain?”


Tangannya mengeluarkan sebotol air abadi dan mencoba


meminumkannya pada pria itu. Kemudian pria yang sekarat itu hilang dari


pandangan.


Setelah melihat hal itu, Eric mulai memeriksa setiap tempat


penyimpanan di dapur. Dia tak mau ada orang lain yang mungkin disembunyikan


untuk jadi menu sarapan para Orc!


“Hei, Ada penyusup! Tangkap!” gelegar suara Orc terdengar.


Eric menggelengkan kepalanya kesal. Di tangannya ada tiga


potongan tangan manusia, setelah dia memeriksa beberapa kendi besar yang


memenuhi tempat penyimpanan dapur. Dia berbalik dan berwajah masam.


Dapur sudah ramai sekarang. Mereka tertawa senang melihat


seorang manusia kecil terjebak di antara beberapa Orc. “Sang putri pasti akan


puas dengan yang ini! Lihat, dagingnya tebal. Dia sangat sehat!”


“Ayo bantu tangkap. Aku akan memasak masakan kesukaan sang


putri besok pagi. Kau akan kuberi sisa kaki dan tangannya nanti!” ujar seorang


Orc yang memegang pisau besar di tangannya.


Empat Orc menjaga dua pintu keluar dari dapur. Keempatnya berjalan


berdekatan menuju mangsanya, untuk menutup celah yang mungkin jadi jalan lari


manusia kecil di depan mereka itu.


“Ayo, menyerah saja. Dari pada tubuhmu luka-luka. Sangat


sayang kalau darahmu terlanjur habis sebelum waktunay masak. Nanti tidak segar


lagi!” ujar satu Orc bergigi runcing dan kotor.


“Dasar sampah busuk, mulut bau! Kau kira aku makanan? Tak sudi!”


Eric berkelit lincah sambil menjentikkan sekelebat cahaya biru yang sehalus


jarum.


“Aduh!” ujar mereka bergantian. Keempatnya merasakan sakit. Hanya


saja, tak ada luka ataupun darah yang terliihat. Dan Eric memang tidak terlihat


memegang senjata.


“Aarggg!” Para Orc itu meraung marah.


“Dia punya senjata rahasia. Hati-hati!” Seseorang


memperingatkan, setelah melihat Eric kembali bergerak zig zag untuk melewati mereka


berempat yang sedang menghalangi jalan keluar.


“Tangkap!” teriak salah seorang. Tak lama dia memekik kecil. “Sialan!”


Orc besar itu memegangi harta masa depannya dengan mata melotot. Entah apa yang dilakukan oleh makhluk kecil di dapur itu, hingga ‘itunya’ terasa nyeri dan panas. Mulutnya mengatup rapat menahan sakit yang tak terperi.

__ADS_1


 Teman-temannya bingung melihat Orc itu jatuh berlutut dengan wajah begitu menderita. Hingga mereka akhirnya bisa melihat asap keluar dari sela-sela jari temannya yang akhirnya melolong kesakitan.


Sementara Eric yang mereka hadang, sudah hilang entah ke mana. “Aku sedang buru-buru. Kalau tidak, pasti seru sekali bermain dengan kalian!”


__ADS_2