The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 116. Pria Berambut Pirang 2


__ADS_3

Pria berambut pirang itu berjalan kembali ke tempat pemimpin


penjaga perbatasan.


“Bagaimana hasilnya?” tanya pemimpin perbatasan.


“Kurasa, pria muda yang terbang ke atas langit itu adalah


pemimpin perang ini. Ucapannya diikuti oleh yang lain.” Si rambut pirang


menunjuk ke langit, di mana ada titik kecil bersinar terang keemasan tepat di


atas kota.


“Apa katanya?” Pemimpin itu bertanya lagi.


“Dia bilang, kita diberi waktu lima belas menit untuk


mengungsikan semua wanita dan anak-anak,” jawab si pirang.


“Selama apa itu lima belas menit?” gumam pemimpin penjaga


perbatasan bingung.


“Aku tidak tahu. Mungkin itu istilah mereka untuk menentukan


waktu. Entah dari mana mereka berasal. Rasanya aku ingin sekali datang dan


berkunjung ke sana.”


Pria berambut pirang itu tertegun. Sekarang, untuk pertama


kali setelah terusir dari istana yang dikenalnya sejak kecil, dia punya


keinginan lain.


“Kalau saja aku punya sedikit kekuasaan, aku ingin kita


berdamai dengan mereka. Menjaga negara ini dengan baik, seperti yang ayahku


lakukan. Memulai perang hanya akan merugikan kita saja pada akhirnya.” Pria itu


menggeleng dan masuk ke tenda tempat pemimpin pasukan itu bekerja.


Pemimpin pasukan penjaga perbatasan itu menunduk dan hanya


melihat pangeran itu pergi. Dia setuju pemikiran si pemuda. Hanya saja, sebagai


rakyat, mereka harus mematuhi perintah raja. Raja yang hingga sekarang tidak


juga mengirimkan bala bantuan untuk mempertahankan perbatasan ini!


Kepalanya kembali menengadah menatap cahaya kecil keemasan di


atas kota. “Kurasa, pemuda itu punya kekuatan lebih. Dia sedang menahannya dan  “membiarkan para wanita serta anak-anak keluar


dari kota. Apa yang sednag direncanakannya?” pikir pemimpin itu.


Tiba-tiba dia terkejut dan berlari menyusul si rambut pirang.


“Pangeran Oselin! Pangeran!” serunya


dengan panik.


“Jangan sebut pangeran lagi. Kau bisa dihukum pancung oleh


raja!” tegur pria pirang itu dengan nada tajam.


“Apa anda tidak berpikir, kenapa mereka langsung menyetujui


permintaan Anda?” tanya Pemimpin perbatasan itu dengan kengerian di matanya.


“Aku tidak tahu dan tidak peduli. Yang penting kan bisa memberimu


banyak waktu untuk menyusun pasukan di tempat yang kau inginkan,” jawab pria


itu santai.


“Kurasa ... skenario terburuknya adalah, mereka akan membumi


hanguskan kota ini! Kau ... kau harus keluar dari kota ini, sekarang! Pergi!


Selamatkan dirimu!” usir pria itu panik.


“Tidak!” tolaknya. “Aku tidak akan ke mana-mana!”

__ADS_1


“Kau seorang pangeran, aku harus menyelamatkanmu! Pergi ...


bantu aku dengan menyeamatkan dirimu sendiri!” kata pemimpin penjaga perbatasan


itu lagi. Kali ini dia sudah memohon kesediaan pria itu untuk pergi dengan suka


rela.


“Tidak! Aku bukan siapa-siapa. Hanya orang buangan di negara


ini! Jika memang harus mati, maka matilah di kota yang warganya telah


menerimaku apa adanya. Ini kehormatan terkahir yang kupunya,” ujarnya membuang


muka.


“Kau keras kepala sekali,” gerutu pemimpin perbatasan itu


sambil menggeruk kepalanya. "Maaf“an aku!” ujarnya lirih.


“Apa katamu?”


Pria berambut pirang itu segera melotot, lalu matanya


terpejam setelah tengkuknya mendapat pukulan keras. Tubuhnya yang  jatuh segera ditahan oleh pemimpin pasukan itu


dengan tangannya.


“Maafkan aku, tapi aku harus menyelamatkanmu!” bisik pemimpin


perbatasan itu lirih. Dia berteriak memanggil seseorang.


“Ya!” seorang Orc masuk ke tenda dengan wajah cemas.


“Kau selamatkan Pangeran Oselin dan antar dia keluar dari


perbatasan!” perintah pemimpin itu.


“Ku-kurasa,  itu sudah


tak mungkin lagi. Lihatah keluar!” kata Orc tadi.


Pemimpin penjaga perbatasan itu bergegas keluar dari tenda. Matanya


segera melihat cahaya besar yang menutupi seluruh kota.


itu merasa, waktu mereka telah habis dan tak akan ada pilihan lain selain mati.


Dia balik ke tenda dan mengangkat sendiri tubuh Pangeran Oselink.


Dibawanya pria berambut pirang yang pingsan itu dengan kedua


tangannya yang besar. Tak terlihat kepayahan sedikit juga. Ini adalah


kesempatan terakhirnya untuk memohon keselamatan bagi pangeran baik yang


terbuang. Ini bentuk baktinya pada raja terdahulu yang sudah wafat. Menyelamatkan


putra bungsunya yang tak pernah diinginkan oleh semua saudaranya.


Pemimpin pasukan itu berjalan ke tempat dimana sebelumnya ada


dinding cahaya sangat tinggi yang membatasi mereka ke perbatasan Tanah tak


bertuan.


“Tolong!” teriaknya keras.


Pria itu menunggu sesaat. Bangsa asing di luar kubah yang


melingkupi kota, hanya memandangnya dingin.


“Tolong selamatkan dia. Dia tidak bersalah sama sekali!”


serunay lagi. Namun orang-ornag di luar, tak membalas kata-katanya. Hanya saling


pandang.


“Mungkinkah kubah besar ini menghalangi suara?” pikirnya.


Tak punya cara lain, akhirnya dia maju dan membaringkan pria


berambut pirang itu di tanah, dekat perbatasan kubah cahaya. Kemudian dia


berdiri dan memandang pria pirang itu sedih. Tangannya meraba kubah cahaya yang

__ADS_1


seperti selubung lembut. Tangannya bisa tercetak jelas di sana.


Ditepuknya selubung lembut itu meminta perhatian mereka yang


ada di luar. Lalu dia menunjuk ke arah pria berambut pirang dan dengan isyarat


tangan seadanya, dia meminta mereka untuk mengambil pria tersebut.


Dilakukannya itu beberapa kali, sebelum mundur menjauh. Dia menunggu


dengan harap-harap cemas. Orang-orang asing itu sangat kuat. Dia harus bisa


memohon untuk lebih banyak nyawa lagi, kalau bisa. Matanya nanar melihat


kebingungan dari penduduk kota yang tak bisa keluar.


“Kalian semua! Dengarkan aku!” serunya.


Para Orc yang sedang riuh ketakutan, terpaksa ditertibkan


oleh beberapa penjaga yang tersisa. Akhirnya mereka semua diam untuk bis


amendengarkan apa yang akan dikatakan oleh pemimpin perbatasan itu.


“Menurutku, kita akan kalah. Sejak awal, mereka bukan lawan


kita. Melanjutkan peperangan hanya akan menewaskan kita semua!” akunya dengan


berat hati.


Para Orc itu kembali ribut. Saat tangan pria itu terangkat,


tempat itu sunyi kembali. “Penduduk kota yang bukan tentara dan penjaga


perbatasan, silakan menyelamatkan diri dan menyerah. Kalian boleh menunduk


memohon keampunan untuk nyawa kalian! Aku tak dapat lagi menjaga kota ini!”


Penjelasan jujur itu sangat mengagetkan semua orang. Mereka


sangat kebingungan. Sekali lagi tangan pemimpin itu terangkat, semua kembali


diam.


“Aku sudah meletakkan Pangeran Oselin di depan sana. Kalian penduduk


sipil juga silakan memohon di sana. Semoga hati mereka tergugah dan


menyelamatkan kalian semua!” ujarnya dengan suara tercekat di tenggorokan.


Dia tak pernah menduga harus menyarankan hal ini pada orang


lain. Kesombongan seorang Orc dalam dirinya, telah hilang. Yang ada di


pikirannya adalah menyelamatkan sebanyak mungkin penduduk kota dari kemusnahan!


“Pergi!” perintahnya sambil menunjuk tempat di mana Pangeran


Oselin diletakkannya.


Para penduduk kota, Orc pria tua dan muda berjalan cepat ke


depan dinding cahaya. Pemimpin itu mengatur agar mereka berjejer rapi di


belakang sang pangera yang masih pingsan.


“Kalian, semua penduduk kota adalah warga sipil yang tidak


ada hubungannya dengan penyerbuan ke negara Elf. Maka kalian berhak untuk mohon


pengampunan. Menunduklah. Semoga mereka cukup murah hati untuk mengampuni nyawa


kalian. Jika berhasil, ingatlah kejadian ini. Hiduplah dengan damai dengan


siapa pun!” pesannya sebelum berbalik pergi.


“Kita bagaimana?” tanya beberapa prajurit penjaga yang


tersisa. Mereka hanya tinggal tujuh belas orang saja, lagi. Berdiri bingung di


beakang para penduduk yang sudah menunduk dan memohon di depan sana.


“Kita prajurit perbatasan. Hidup dan mati kita, di sini!” angkat


kepala dan matilah dengan bangga saat menjaga kota ini!” jawabnya tegas.

__ADS_1


Para prajurit itu saling pandang. Kemudian berjejer rapi dan


berdiri tegap. Kematian mereka sudah ditentukan.


__ADS_2