
Pria berambut pirang itu berjalan kembali ke tempat pemimpin
penjaga perbatasan.
“Bagaimana hasilnya?” tanya pemimpin perbatasan.
“Kurasa, pria muda yang terbang ke atas langit itu adalah
pemimpin perang ini. Ucapannya diikuti oleh yang lain.” Si rambut pirang
menunjuk ke langit, di mana ada titik kecil bersinar terang keemasan tepat di
atas kota.
“Apa katanya?” Pemimpin itu bertanya lagi.
“Dia bilang, kita diberi waktu lima belas menit untuk
mengungsikan semua wanita dan anak-anak,” jawab si pirang.
“Selama apa itu lima belas menit?” gumam pemimpin penjaga
perbatasan bingung.
“Aku tidak tahu. Mungkin itu istilah mereka untuk menentukan
waktu. Entah dari mana mereka berasal. Rasanya aku ingin sekali datang dan
berkunjung ke sana.”
Pria berambut pirang itu tertegun. Sekarang, untuk pertama
kali setelah terusir dari istana yang dikenalnya sejak kecil, dia punya
keinginan lain.
“Kalau saja aku punya sedikit kekuasaan, aku ingin kita
berdamai dengan mereka. Menjaga negara ini dengan baik, seperti yang ayahku
lakukan. Memulai perang hanya akan merugikan kita saja pada akhirnya.” Pria itu
menggeleng dan masuk ke tenda tempat pemimpin pasukan itu bekerja.
Pemimpin pasukan penjaga perbatasan itu menunduk dan hanya
melihat pangeran itu pergi. Dia setuju pemikiran si pemuda. Hanya saja, sebagai
rakyat, mereka harus mematuhi perintah raja. Raja yang hingga sekarang tidak
juga mengirimkan bala bantuan untuk mempertahankan perbatasan ini!
Kepalanya kembali menengadah menatap cahaya kecil keemasan di
atas kota. “Kurasa, pemuda itu punya kekuatan lebih. Dia sedang menahannya dan “membiarkan para wanita serta anak-anak keluar
dari kota. Apa yang sednag direncanakannya?” pikir pemimpin itu.
Tiba-tiba dia terkejut dan berlari menyusul si rambut pirang.
“Pangeran Oselin! Pangeran!” serunya
dengan panik.
“Jangan sebut pangeran lagi. Kau bisa dihukum pancung oleh
raja!” tegur pria pirang itu dengan nada tajam.
“Apa anda tidak berpikir, kenapa mereka langsung menyetujui
permintaan Anda?” tanya Pemimpin perbatasan itu dengan kengerian di matanya.
“Aku tidak tahu dan tidak peduli. Yang penting kan bisa memberimu
banyak waktu untuk menyusun pasukan di tempat yang kau inginkan,” jawab pria
itu santai.
“Kurasa ... skenario terburuknya adalah, mereka akan membumi
hanguskan kota ini! Kau ... kau harus keluar dari kota ini, sekarang! Pergi!
Selamatkan dirimu!” usir pria itu panik.
“Tidak!” tolaknya. “Aku tidak akan ke mana-mana!”
__ADS_1
“Kau seorang pangeran, aku harus menyelamatkanmu! Pergi ...
bantu aku dengan menyeamatkan dirimu sendiri!” kata pemimpin penjaga perbatasan
itu lagi. Kali ini dia sudah memohon kesediaan pria itu untuk pergi dengan suka
rela.
“Tidak! Aku bukan siapa-siapa. Hanya orang buangan di negara
ini! Jika memang harus mati, maka matilah di kota yang warganya telah
menerimaku apa adanya. Ini kehormatan terkahir yang kupunya,” ujarnya membuang
muka.
“Kau keras kepala sekali,” gerutu pemimpin perbatasan itu
sambil menggeruk kepalanya. "Maaf“an aku!” ujarnya lirih.
“Apa katamu?”
Pria berambut pirang itu segera melotot, lalu matanya
terpejam setelah tengkuknya mendapat pukulan keras. Tubuhnya yang jatuh segera ditahan oleh pemimpin pasukan itu
dengan tangannya.
“Maafkan aku, tapi aku harus menyelamatkanmu!” bisik pemimpin
perbatasan itu lirih. Dia berteriak memanggil seseorang.
“Ya!” seorang Orc masuk ke tenda dengan wajah cemas.
“Kau selamatkan Pangeran Oselin dan antar dia keluar dari
perbatasan!” perintah pemimpin itu.
“Ku-kurasa, itu sudah
tak mungkin lagi. Lihatah keluar!” kata Orc tadi.
Pemimpin penjaga perbatasan itu bergegas keluar dari tenda. Matanya
segera melihat cahaya besar yang menutupi seluruh kota.
itu merasa, waktu mereka telah habis dan tak akan ada pilihan lain selain mati.
Dia balik ke tenda dan mengangkat sendiri tubuh Pangeran Oselink.
Dibawanya pria berambut pirang yang pingsan itu dengan kedua
tangannya yang besar. Tak terlihat kepayahan sedikit juga. Ini adalah
kesempatan terakhirnya untuk memohon keselamatan bagi pangeran baik yang
terbuang. Ini bentuk baktinya pada raja terdahulu yang sudah wafat. Menyelamatkan
putra bungsunya yang tak pernah diinginkan oleh semua saudaranya.
Pemimpin pasukan itu berjalan ke tempat dimana sebelumnya ada
dinding cahaya sangat tinggi yang membatasi mereka ke perbatasan Tanah tak
bertuan.
“Tolong!” teriaknya keras.
Pria itu menunggu sesaat. Bangsa asing di luar kubah yang
melingkupi kota, hanya memandangnya dingin.
“Tolong selamatkan dia. Dia tidak bersalah sama sekali!”
serunay lagi. Namun orang-ornag di luar, tak membalas kata-katanya. Hanya saling
pandang.
“Mungkinkah kubah besar ini menghalangi suara?” pikirnya.
Tak punya cara lain, akhirnya dia maju dan membaringkan pria
berambut pirang itu di tanah, dekat perbatasan kubah cahaya. Kemudian dia
berdiri dan memandang pria pirang itu sedih. Tangannya meraba kubah cahaya yang
__ADS_1
seperti selubung lembut. Tangannya bisa tercetak jelas di sana.
Ditepuknya selubung lembut itu meminta perhatian mereka yang
ada di luar. Lalu dia menunjuk ke arah pria berambut pirang dan dengan isyarat
tangan seadanya, dia meminta mereka untuk mengambil pria tersebut.
Dilakukannya itu beberapa kali, sebelum mundur menjauh. Dia menunggu
dengan harap-harap cemas. Orang-orang asing itu sangat kuat. Dia harus bisa
memohon untuk lebih banyak nyawa lagi, kalau bisa. Matanya nanar melihat
kebingungan dari penduduk kota yang tak bisa keluar.
“Kalian semua! Dengarkan aku!” serunya.
Para Orc yang sedang riuh ketakutan, terpaksa ditertibkan
oleh beberapa penjaga yang tersisa. Akhirnya mereka semua diam untuk bis
amendengarkan apa yang akan dikatakan oleh pemimpin perbatasan itu.
“Menurutku, kita akan kalah. Sejak awal, mereka bukan lawan
kita. Melanjutkan peperangan hanya akan menewaskan kita semua!” akunya dengan
berat hati.
Para Orc itu kembali ribut. Saat tangan pria itu terangkat,
tempat itu sunyi kembali. “Penduduk kota yang bukan tentara dan penjaga
perbatasan, silakan menyelamatkan diri dan menyerah. Kalian boleh menunduk
memohon keampunan untuk nyawa kalian! Aku tak dapat lagi menjaga kota ini!”
Penjelasan jujur itu sangat mengagetkan semua orang. Mereka
sangat kebingungan. Sekali lagi tangan pemimpin itu terangkat, semua kembali
diam.
“Aku sudah meletakkan Pangeran Oselin di depan sana. Kalian penduduk
sipil juga silakan memohon di sana. Semoga hati mereka tergugah dan
menyelamatkan kalian semua!” ujarnya dengan suara tercekat di tenggorokan.
Dia tak pernah menduga harus menyarankan hal ini pada orang
lain. Kesombongan seorang Orc dalam dirinya, telah hilang. Yang ada di
pikirannya adalah menyelamatkan sebanyak mungkin penduduk kota dari kemusnahan!
“Pergi!” perintahnya sambil menunjuk tempat di mana Pangeran
Oselin diletakkannya.
Para penduduk kota, Orc pria tua dan muda berjalan cepat ke
depan dinding cahaya. Pemimpin itu mengatur agar mereka berjejer rapi di
belakang sang pangera yang masih pingsan.
“Kalian, semua penduduk kota adalah warga sipil yang tidak
ada hubungannya dengan penyerbuan ke negara Elf. Maka kalian berhak untuk mohon
pengampunan. Menunduklah. Semoga mereka cukup murah hati untuk mengampuni nyawa
kalian. Jika berhasil, ingatlah kejadian ini. Hiduplah dengan damai dengan
siapa pun!” pesannya sebelum berbalik pergi.
“Kita bagaimana?” tanya beberapa prajurit penjaga yang
tersisa. Mereka hanya tinggal tujuh belas orang saja, lagi. Berdiri bingung di
beakang para penduduk yang sudah menunduk dan memohon di depan sana.
“Kita prajurit perbatasan. Hidup dan mati kita, di sini!” angkat
kepala dan matilah dengan bangga saat menjaga kota ini!” jawabnya tegas.
__ADS_1
Para prajurit itu saling pandang. Kemudian berjejer rapi dan
berdiri tegap. Kematian mereka sudah ditentukan.