The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
24. Diskusi


__ADS_3

"Angel itu salah seorang korban kecelakaan pesawat." Widuri kembali menceritakan tentang Angel yang diingatnya. Tak banyak yang diketahuinya juga, sebab mereka terpisah.


"Info lain tentangnya, bisa kau tanya pada Niken dan Indra. Mereka berada dalam tim yang sama," saran Dean.


"Soal apa?" Indra tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu masuk.


"Robert mendapat pesan dalam botol dari Angel," Dean menjawab cepat.


Indra mengerutkan dahi. "Bukankah Angel tidak mengetahui jalan ke sini ...."


"Nah, kalau begitu, harusnya itu adalah pesan penting!" Widuri menambahi.


"Memang penting." Dean mengangguk. "Kita harus mengadakan pertemuan malam nanti, untuk membahas hal ini!" Suara Dean yang tegas, menyiratkan telah terjadi sesuatu yang besar menyangkut pesan tersebut.


Petang hari, Robert kembali. Dia menyambangi Laras dan Liam di Kota Mati, serta Kang dan Nastiti. Liam dan Kang mengikuti Robert ke Dunia Cahaya, di mana Dean dan kelompoknya tinggal. Mereka merasa harus mendiskusikan tentang Angel secepatnya.


Seperti dugaan, acara makan malam itu dihadiri oleh seluruh anggota kelompok. Mereka menunggu Dean untuk membuka diskusi. Dia adalah pemimpin yang dipilih Dokter Chandra sebelum kematiannya. Hal itu dipandang perlu, untuk menjaga keutuhan kelompok kecil rakyat Bangsa Cahaya yang tersisa.


"Baik, pertemuan ini kita buka. Tolong katakan pada kami apa yang kau temukan di sana, Robert," pinta Dean.


"Aku sudah bicara dengan pengantar pesan itu. DIa adalah pengawal pribadi Angel. Katanya, dia pergi berdua dengan seorang pengawal lain. Tapi dalam hantaman badai, dia kehilangan temannya." Robert mengatakan yang didengarnya tadi siang di klinik milik istri Yabie.


"Apa kalian sudah memeriksa seluruh pantai? Mungkin saja dia terdampar di bagian pantai lainnya," tanya Widuri.


Robert mengangguk. "Ya. Kami juga sudah menitipkan pesan pada penduduk di sana, untuk melaporkan pada Liam atau Laras, jika menemukan seseorang asing terdampar di pantai."


"Berarti satu orang hilang." Indra bergumam.


"Lalu, apa kata pengantar pesan itu?" Dean melanjutkan diskusi.


"Dia mengatakan bahwa saat mereka pergi menjalankan tugas, kediaman Angel sedang diserang dan dibumi hanguskan. Dia tak dapat membayangkan nasib Angel sekarang." Robert menerangkan.

__ADS_1


"Di mana Glenn?" Niken ingin tahu.


"Glenn sedang pergi mencari keberadaan putrinya yang diculik Orc. Saat itu Gilang yang mengawalnya menuju Kerajaan Penyihir. Setelah itu, kabar keduanya tak diketahui."


Mata semua orang terperangah mendengar penjelasan Robert.


"Orc? Mereka menyerang Kerajaan Elf? Berani sekali!" geram Indra.


"Kita harus membantu Angel, Dean. Kita harus ke sana!" Niken ikut mendesak Dean.


Dean merenung. Antara dunia mereka dan dunia Angel, terpisah jarak yang tak diketahuinya. Dia bahkan belum pernah ke sana. Kemudian Dean menoleh pada Aslan.


"Ta, apakah kau mengetahui titik koordinat Dunia Fantasi yang ditempati para Elf dan Peri?" tanya Dean.


Semua mata beralih pada Aslan yang telah menjadi kepala bagian ilmu teleportasi. Dia punya beberapa murid sekarang. Mereka bertugas menjaga tiap pintu teleportasi menuju dunia asing.


"Aku belum pernah bertemu dengan bangsa seperti itu. Mungkin harus bertemu dengan pembawa pesan itu dulu dan mencoba menyerap ingatannya," jawab Aslan diplomatis. Dia tak ingin terlalu memberi harapan yang tak bisa dipenuhi.


"Jika tak bisa mendapatkan informasi dengan cara itu, lalu bagaimana mau pergi menolong mereka?" tanya Sonny, putra Indra. Dia adalah salah seorang murid Aslan yang mempelajari ilmu teleportasi.


"Apa. Itu?" Eric tampak antusias.


Dia adalah pemuda yang sangat haus pengalaman. Selalu ingin tau dan telah mempelajari semua ilmu yang bisa diajarkan oleh semua orang di sana. Dokter Chandra telah menetapkan Eric sebagai pemimpin besar Bangsa Cahaya berikutnya, setelah Dean. Dia hanya harus belajar lebih banyak lagi, agar tidak melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri, nanti.


"Kita harus kembali ke tempat dimana kita jatuh, dan perjalanan bermula!" tegas Robert.


"Apa!" seru semuanya terkejut. Tak yakin dengan pendengaran mereka sendiri.


"Apa maksudmu kita kembali ke sana?" Widuri menatap Robert tajam. Istrinya Dyah juga tak kalah sengit. Tatapannya seakan mampu menelan Robert bulat-bulat!


"Ya ... kembali ke sana dan mengikuti jalur yang kita lalui waktu itu!" jelas Robert dengan heran.

__ADS_1


Dia tak mengerti, kenapa Widuri dan istrinya seperti menuduh dia akan membawa mereka ke neraka.


"Apa kau lupa berapa usiamu sekarang? Kekuatanmu tak seperti dulu lagi. Kenapa begitu senang menantang bahaya!" Dyah emosi.


"Lewat manapun kalian pergi, aku ikut!" Dimas adik Dyah menimpali.


"Untuk apa?" tanya kakaknya.


"Aku seorang dokter. Kenapa masih bertanya lagi? Bukankah dalam peperangan akan butuh tenaga medis?" pria muda itu balik bertanya.


"Tapi kau dokter satu-satunya di sini!" istrinya Shasha menimpali.


"Dimas benar, Shasa juga benar," Dean menengahi bibit keributan yang mulai muncul dari suami istri itu.


"Maksudnya?' Dimas merasa tak puas. Sebenarnya, dia memang sangat ingin menapak tilas jejak perjalanan ayahnya (Dokter Chandra) sebelum sampai di dunia kecil, yang mereka beri nama Dunia Cahaya.


"Maksudnya, hal itu biar kupikirkan dulu. Yang paling penting adalah membawa Aslan bertemu pengantar pesan, agar bisa mencoba mencari jalan yang singkat!" terang Dean.


Semua mengangguk setuju,


"Begitu juga bagus. Karena jika kita mencari jalan memutar yang jauh, akan sangat riskan." Kang ikut bicara.


"Kenapa?" tanya Eric lagi.


"Karena keadaan mereka sudah genting. Penting bagi kita untuk mencari jalan tercepat!" Kang selalu sabar menjelaskan apapun yang ingin diketahui oleh Eric. Dirinya selalu menyukai anak itu sejak dia lahir.


"Baik, sementara itu dulu hasil diskusi kita. Besok pergilah ke tempat Yabie dan tanyai pengantar pesan itu," perintah Dean.


"Baik!" sahut Aslan.


"Sekarang juga tidak apa-apa," tawar Yabie.

__ADS_1


Dean mengangguk kemudian menoleh pada Aslan. "Kabari dulu istrimu, jika ingin pergi," pesan Dean.


*******


__ADS_2