The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 107. Raja Penyihir dan Bangsa Cahaya


__ADS_3

Setelah Dimas dan Glenn kembali ke istana Raja Penyihir, tinggal Hakon dan semua bawahan Glenn yang berada di sana.


“Hakon, Kau bantu mereka menjaga perbatasan negara ini dengan negara Orc!” perintah Dean.


“Baik, Pemimpin!” Hakon mengangguk hormat.


“Bisa kau tunjukkan garis perbatasan negara ini dengan negara Orc?” tanya Hakon.


“Hanya sedikit bagian yang kuketahui. Akan kutunjukkan!” kata Randall.


“Kalian berjalan lebih dulu ke pos perbatasan pertama dan berjaga di sana!” perintah Randal pada bawahannya. Sementara dirinya dibawa terbang oleh Hakon, untuk memeriksa garis perbatasan negara Penyihir.


Dean yang tertinggal sendiri di sana, memeriksa sekeliling sebelum meninggalkan tempat itu.


Di balik pepohonan, beberapa orang bangsa peri terkejut melihat semua orang yang tak mereka kenal.


“Kalian lihat itu? Pengawal komandan ternyata telah menyembunyikan sayapnya sekian lama!”


“Ssstt! Jangan dibicarakan lagi. Jika sang raja mengetahui masih ada yang bersayap seperti mereka di negeri ini, maka pembunuhan akan terjadi lagi!” Seseorang menutup mulut temannya.


“Anggap kita tak melihat apa pun! Lagi pula, dia telah menemukan bangsa lain yang jauh lebih kuat dari bangsa kita. Tak bisa kubayangkan jika bangsa itu menyerang ke sini, karena mengejar salah satu dari bangsanya.


“Kau dengar tadi? Koen menemukan gadis untuk pasangannya dan di sana ada keluarga gadis itu yang menjadi pemimpin mereka.”


“Apa yang sedang kalian bahas?” Seorang prajurit berjalan ke arah mereka dengan mengerjapkan mata berkali-kali. Matanya memerah.


“Tidak ada. Hanya menunggu kalian datang saja,” jawab salah seorang dari mereka.


“Kenapa matamu?” tanyanya balik.


“Aku menyesal pergi ke perbatasan itu. Ada cahaya terang yang menyerang mata kami!” Orang itu duduk dan matanya terus basah berkali-kali, seperti orang menangis.


“Sangat bahaya!” timpal empat orang yang sejak tadi menjaga perbatasan negara Penyihir.


Tak lama, beberapa kawan mereka yang sebelumnya pergi melihat peperangan di Tanah tak bertuan, kembali dengan susah payah. Semua mengalami nasib sama, mata merah yang terasa panas dan sakit.


Mereka membantu sebisanya dengan menuangkan air di mata teman-temannya. Hanya saja, mereka tak punya obat oles seperti yang dimiliki oleh wanita cantik bersayap putih itu.


“Jika sangat sakit, sebaiknya kembali ke pos dan minta obat pada tabib!” saran salah seorang.


“Tidak. Itu hanya akan membuktikan bahwa kami melanggar tugas!” tolak mereka serempak.


“Di mana Komandan?” tanya orang baru kembali.

__ADS_1


“Tidak tahu. Kami diminta menunggu di sini. Komandan dan pengawalnya pergi berdua ke negara Peri!” jawab yang lain.


***


Glenn telah sampai di istana bersama Dimas. Kepala pengawal menyambutnya dan segera mengantar ke kamar raja. Ada Levyn di sana, menemani dengan setia, sambil menceritakan pengalamannya memerangi Orc.


“Ayah sudah kembali! Bagaimana keadaan di sana?” tanya Levyn tak sabar.


“Saya kembali, Paman Raja,” Glenn menghormat lebih dulu.


“Syukurlah. Sekarang katakan bagaimana keadaan di perbatasan itu?” Sang raja juga terlihat tak sabar menunggu cerita Glenn.


Glenn mengangguk. “Sebelumnya saya akan perkenalkan Dokter Dimas, Salah seorang dari teman Eric. Darinya saya akhirnya mengetahui bahwa dia adalah putra dari Dokter Chandra,” kata Eric memperkenalkan Dimas.


“Oh, Kau putra Dokter Chandra yang waktu itu pernah berkunjung ke sini dan mengobati  ayah  Glenn?” tanya sang raja.


“Senang bertemu dengan Anda, Dokter. Apakah Anda juuga bisa menyembuhkan penyakit seperti Dokter Chandra?” tanay Raja.


“Ya, saya biasa menyembuhkan penyakit jika di negara kami. Apakah ada yang sakit di sini?”


“Sebenarnya keluarga saya sudah mendapat pengobatan dari Eric dan juga dari tabib Hutan sihir. Namun, jika Anda bersedia memeriksa lagi, tentu akan lebih melegakan saya,” ujar Raja.


“Baik, bisa tunjukkan pada saya, di mana pasiennya?”


“Levyn, antarkan dokter ini ke tempat nenek dan saudara=saudaramu!” perintah raja.


“Nah, sekarang Kau bisa ceritakan apa yang terjadi di perbatasan itu!” Raja tak sabar menunggu Glenn bercerita.


Maka Glenn pun bercerita. Raja mendengarkan hingga tercengang.


“Secepat itu? Mereka semua musnah hanya dengan cahaya? Cahaya warna apa?” tanya sang raja.


“Biru! Cahaya biru yang sangat dashyat! Sangat terang dan panas! Saat Eric membuka kubah yang mengurung para Orc, uap panasnya menyebar ke mana-mana!” Glenn menambahkan.


“Apakah mereka yang dimaksud leluhur?” gumam sang raja yang terus berpikir keras.


“Apa yang paman katakan?” tanya Glenn tak mengerti.


“Tolong, setelah dokter itu selesai mengobati yang lain, panggilkan dia ke sini,” perintah sang raja.


“Baik!” sahut Glenn sedikit bingung.


“Paman, aku kembali ke sini untuk menanyakan apakah Penguasa Hutan sihir masih tidak bersedia membantu? Kita membutuhkan pasukan untuk menjaga perbatasan kita dengan Orc. Agar mereka tidak kabur lagi ke sini saat bangsa Elf dan bangsa Cahaya menyerbu ke kerajaan itu!” jelas Glenn.

__ADS_1


“Aku dan Levyn sudah dua kali ke sana. Tak ada seorang pun dari mereka yang bersedia muncul lagi. Bahkan teman Levyn, juga tidak menyahuti panggilan putramu!” jawab sang raja sedih.


Glenn menghela napas. Dia juga tak bisa berbuat apa-apa lagi jika sudah seperti itu. “Kalau begitu, maka siagakan para pengawal itu untuk menjaga perbatasan yang tak jauh dari sini. Dan paman lebih baik meminta guru sihir untuk kembali memasang selubung untuk menyembunyikan keberadaan istana ini!” sarannya.


“Panggilkan guru sihir dan kepala pengawal ke sini!” perintah raja.


“Baik!” seorang pengawal yang menemani di ruangan, mengangguk sebelum pergi.


Tak lama kedua ornag itu bergabung dalam pembicaraan dengan sang raja.


“Baik, kami akan berjaga di perbatasan!” jawab Kepala pengawal.


“Saya juga sudah melatih mantera berterung pada rakyat yang tersisa. Mereka ingin ikut berperang mempertahankan negara ini!” ujar Guru sihir.


“Baiklah. Itu artinya adalah tambahan tenaga yang sangat berarti!” Sang raja sudah tak mungkin berharap lebih, karena memang sudah tak ada lagi rakyat yang tersisa.


Dimas kembali bersama Levyn. “Kerabat Yang Mulia sudah lebi sehat sekarang. Hanya butuh asupan teratur agar segera pulih kembali,” lapor Dimas.


“Bagus kalau begitu. Aku ingin bicara berdua dengan Anda,” ujar sang raja.


Diamas hanya mengangguk setuju. “Di mana kita bisa bicara?” tanyanya. Sebagai Dokter, Dimas sangat peka pada kata-kata seorang pasien. Dia mengira ada hal pribadi yang ingin ditanyakan sang raja terkait kesehatannya.


Glenn, Guru sihir dan Kepala pengawal mengundurkan diri. Memberi kesempatan pada Dimas untuk berdua dengan sang raja.


Setelah tak ada orang lain di ruangan, Dimas bertanya sopan. “Apa yang ingin Anda tanyakan?”


“Sebentar. Sang Raja membuka laci meja kecil dekat tempat  tidurnya dan mengeluarkan sebuah kotak tua. Dibukanya kotak itu dan melihat isinya. Tangannya masuk dan mengambil sesuatu di dalamnya.


“Apa Anda mengenal ini?” tanya sang raja seraya menunjukkan isi kotak pada Dimas.


Jiwa Penguasa Cahaya yang mendiami Dimas, terkejut melihat lambang bintang di sana. “Ya, saya mengenalinya. Di manakah pemilik lambang ini dimakamkan?” tanya Dimas.


“Anda mengenalinya?” tanya Raja tak percaya.


“Saya tidak mengenal namanya. Tapi ya, lambang itu menunjukkan bahwa dia adalah bagian dari bangsa kami, Bangsa Cahaya yang berasa dari bintang-bintang!” jelas Dimas.


“Apakah cahaya yang Anda miliki?” tanya raja lagi.


Dimas diam di tempatnya berdiri. Lalu keluar cahaya bening yang berkilauan dari tubuhnya. Matanya juga bercahaya seperti berlian yang kena cahaya.


“Indah sekali,” gumam sang raja. Matanya ikut memancarkan cahaya putih lembut.


Dimas terkejut melihatnya. “Anda bagian dari Bangsa Cahaya!” ujarnya tak percaya. “Apakah Glenn dan Levyn mengetahuinya? Sejak kapan Anda berada di sini?” Dimas bertanya tanpa henti.

__ADS_1


Raja itu menggeleng. “Saya sepenuhnya keturunan penyihir. Namun, leluhur mewariskan kekuatan ini sebelum dia menutup mata!”


Dimas mengangguk dan berkata dengan yakin. “Tidak salah lagi. Anda adalah bagian dari bangsa Cahaya!”


__ADS_2