The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 91. Menyusul Pangeran Glenn


__ADS_3

 Empat pemuda itu melanjutkan perjalanan dengan terbang


melintasi langit negara Penyihir.


Di hutan perbatasan negara Peri.


Seorang pemuda tampan tidur terlentang di bawah langit.


Pengawal pribadi sekaligus penasehatnya, memejamkan mata di sebelahnya. Pria


muda itu sama sekali tidak khawatir pada binatang hutan. Karena hampir semua


binatang hutan berteman dengan para peri. Tak akan ada yang berani mengganggu


pemuda penjaga perbatasan hutan itu.


Dia masih sangat kesal karena idenya membantu negara Elf


ditolak raja mentah-mentah. Bahkan keinginannya untuk pergi membantu secara


pribadi pun ditolak raja.


“Bagaimana kalau kita pergi dan menyelinap sendiri saja?”


tanyanya.


“Tidurlah, Tuan. Ini sudah hampir pagi. Dan Anda belum tidur


sekejap juga!” Pria di sebelahnya ternyata masih merespon.


“Kau tak ingin pergi?” tanya pangeran itu.


“Aku mau tidur sekejap saja, bolehkan?” tanyanya memohon.


Pemuda itu diam, tak mengganggu pria itu lagi dengan


pertanyaan dan keluhannya. Dia ingin tidur juga, tapi kekesalan yang menumpuk


di dadanya itu, membuat matanya terus terbuka. Terutama saat melihat ibundanya


yang  menangis hingga matanya bengkak.


“Kenapa Sang Raja seperti itu? Bukankah negara Elf adalah


juga keluarga!” kesalnya lagi.


“Aku harus membantu kakekku! Sudah sekian lama, tak ada kabar


beritanya. Bagaimana jika terjadi hal buruk padanya!” pria itu terus menggumam


sendiri.


“Aaaaarrrggg ....! Dia berteriak putus asa. Beberapa binatang


hutan terlompat kaget, lalu menjauh.


“Tolong, Tuan. Tenanglah sedikit. Lima menit, saja!” kata


penasehatnya. Pria itu menutup kepalanya dengan kain lebar yang dijadikannya


selimut.


Dia sangat lelah. Mereka baru kembali dari istana raja di


ibukota. Yang paling melelahkan adalah membujuk pria muda itu untuk mematuhi


perintah raja. Agar kedua orang tuanya tetap aman di ibukota!


“Lihat itu!” si pemuda kembali berteriak nyaring menarik


tangan pria di sampingnya. Sepertinya dia sangat terkejut, hingga terduduk


sambil mendongak ke langit.


Keduanya menatap langit di atas Hutan Peri. Ada dua orang


terbang dan seekor makhluk aneh besar, terbang melintas.  Terlihat sangat santai, tidak khawatir


apapun.


“Menurutmu, makhluk apa itu? Dari mana mereka berasal? Apakah


itu ciptaan Orc?” tanya Pangeran Peri Karl penasaran.


“Apakah Orc sudah sepintar itu? Alangkah berbahaya!” komentar


penasehatnya.


“Apa perlu kita laporkan pada raja?” tanya si pemuda.


“Kita belum tahu pasti siapa mereka. Tapi Anda tetap bisa


melaporkannya kalau mau,” balas penasehatnya.


Pria paroh baya itu kini sudah duduk dengan tegak. Kantuknya


sudah hilang entah kemana. Tiba-tiba dia menghilang.

__ADS_1


Karl menggerutu dengan kesal. “Andai aku bisa melakukan hal


seperti itu!”


Dilihatnya pria yang tadi duduk di sampingnya, sekarang sudah


berada di atas sana. Tempat tadi makhluk tak dikenalnya terbang melintas.


Kemudian kembali menghilang dan duduk lagi disampingnya.


“Bagaimana?” tanya pria muda itu.


“Itu bukan Orc! Benar-benar seperti kita. Kecuali---“


“Kecuali apa?” potong Karl.


“Kecuai makhluk yang bersayap itu. Aku tak pernah melihat


yang seperti itu, seumur hidupku!” jawab penasehatnya.


“Dari mana mereka berasal?” gumam Karl.


“Arahnya dari negara Elf. Sepertinya mereka menuju negara


Penyihir!”


“Tapi mereka bukan dari Elf, bukan?” Karl memastikan.


“Seingatanku, negara Elf tak punya rakyat yang seperti itu. Yang


bisa terbang hanya para peri pohon.”


“Peri pohon terlalu kecil!” bantah pria muda itu lagi.


“Menurutmu, mungkinkah ada negara lain yang tidak kita


ketahui, selain lima negara di sekitar kita?” tanya Karl penasaran.


“Kakek Anda adalah seorang petualang di masa mudanya. Dia


mengatakan bahwa ada banyak negara lain selain yang kita ketahui ini. Tapi


sayangnya kita tak bisa lagi menjelajah ke sana. Pintu teleportasi satu-satunya


dihancurkan setelah peperangan besar dengan Orc puluhan tahun lalu!”


“Mungkinkah ada pintu teleportasi baru yang tidak kita


ketahui? Misalnya di hutan sihir itu. Tak ada yang berani ke sana karena


keangkerannya. Tapi kan bisa saja itu dihembuskan oleh pihak-pihak itu agar


“Pikiranmu selalu punya ide yang mencengangkan!” Penasehatnya


tertawa. “Sekarang ijinkan aku tidur sebentar saja, Yang Mulia Pangeran,”


katanya memohon. Lalu dia kembali berbaring, walaupun hari telah mulai terang


dan binatang hutan bernyanyi riuh.


Pria muda itu juga ikut membaringkan tubuhnya dan mencoba


memejamkan mata sejenak.


***


Bersamaan dengan itu, Pangeran Glenn baru saja bangun dari


tidurnya. Beberapa prajurit yang ikut bersamanya sebagian masih tidur pulas,


sebagian lagi sibuk menyiapkan sarapan sekadarnya. Entah kapan mereka berburu,


tapi pagi itu hidungnya mencium aroma daging panggang.


“Ke mana rencana kita hari ini, Tuan?” tanya Randal.


“Aku menerima pesan dari istana. Putraku sedang menyusul ke


sini. Aku harus menunggunya,” kata Pangeran Glenn.


“Apakah ada sesuatu yang penting, hingga Pangeran Levyn


datang menyusul ke sini?” tanya Randal lagi.


“Dia membawa bantuan untuk mencari Cristal!” jelas Glenn.


“Bantuan? Raja mengirim bantuan ke sini? Apakah keadaan


ibukota sudha membaik?” tanya Randal heran.


“Itu juga yang menjadi pertanyaanku.” Glenn ikut berpikir.


Informasi terakhir mereka mengatakan bahwa kekuasaan Orc


sudah semakin meluas dan rakyat sangat menderita. Lagipula, siapa yang akan


dikirim untuk membantunya mencari, disaat ibukota Elf sedang genting? Bukankah

__ADS_1


mereka lebih membutuhkan tenaga tambahan, ketimbang Glenn?


“Kapan Pangeran Levyn berangkat?” tanya Randall kembali.


“Ibuku bilang, dia akan pergi saat hari masih gelap. Agar


tidak diketahui oleh Orc penjaga.”


“Berarti dia berjalan malam hari. Bukankah akan sangat


berbahaya melewati tanah tak bertuan di malam hari? Apa mungkin mereka selamat


melewati pasukan penjaga Orc di sepnjang perjalanan itu?” Randal terkejut.


“Mungkin mereka melintasi tanah para peri. Lebi sulir, tapi


jelas sangat aman.” Glenn mengoreksi pemikiran Randall.


Pria itu mengangguk mengerti. Kenapa dia lupa bahwa ada jalan


lain menuju negara Penyihir.


Di atas langir, beberapa saat kemudian.


“Kurasa yang di bawah sana adalah kelompok ayahku,” tunjuk


Levyn ke sebuah tempat terpencil. Ada asap membubung dari api unggun yang


mereka gunakan.


“Mari kita lihat!” ajak Eric.


“Hei, tidak takutkah kalian jika ternyata itu bukan kelompok


ayahku?” tanya Levyn heran. “Apakah orang-orang negara Cahaya ini tidak pernah


mengenal kata mengamati lebih dulu?” pikirnya heran.


Gerald mengikuti Eric dan Hakon yang sudah melayang turun ke


dekat para pria yang sedang santai dan mempertajam pedang mereka.


“Siapa kalian!” Seseorang berseru dengan terkejut. Pedang


yang sedang diasahnya langsung diacungkan ke arah Eric. Yang lain ikut


berlompatan dan segera mengarahkan senjata pada dua pria yang sedang melayang


setinggi tiga meter dari permukaan tanah.


“Levyn, apakah mereka orang-orang ayahmu?” panggil Eric


dengan suara keras.


Tiba-tiba sesuatu yang sangat besar melayang mengitari


kumpulan orang yang makin takut dan ngeri.


“Ayah!” panggil seseroang dari atas punggung binatang yang


besar dan mengerikan itu.


“Levyn?” kata Glenn tak yakin.


“Pangeran Levyn, apakah itu Anda?” Randal berteriak


memanggil.


“Ya! Ini aku dan kawan-kawan baruku!” balas pemuda itu dengan


gembira. Lalu Eric, Hakon dan Gerald turun ke tanah.


Semua pegawal Glenn melihat dengan heran pada dua orang asing


dan makhluk mengerikan yang menjejak tanah di depan mereka itu. Bagaimana tidak


ngeri. Tinggi makhluk yang dinaiki Levyn, lebih dari tiga meter! Belum lagi


besar badan dan rentang sayapnya. Mereka bergidik sendiri, membayangkan Levyn


berteman dengan makhluk yang memiliki gigi sebesar dan setajam pisau jagal.


Levyn sudah turun dari punggung Gerald dan menghampiri


ayahnya. Mereka berpelukan sejenak. Lalu pangeran muda itu memperkenalkan


teman-teman barunya.


“Ini Eric, Pangeran Mahkota Bangsa  Cahaya. Yang itu Hakon dan Yang ini Gerald!”


kata Levyn.


“Pangeran Mahkota Bangsa Cahaya?” Glenn kebingungan. Dia tidak


pernah tahu tentang bangsa itu dan dimana negeri itu adanya. Namun, dia tetap


menyambut Eric dengan hangat.

__ADS_1


“Selamat datang Pangeran Mahkota,” kata Glenn.


__ADS_2