
Empat pemuda itu melanjutkan perjalanan dengan terbang
melintasi langit negara Penyihir.
Di hutan perbatasan negara Peri.
Seorang pemuda tampan tidur terlentang di bawah langit.
Pengawal pribadi sekaligus penasehatnya, memejamkan mata di sebelahnya. Pria
muda itu sama sekali tidak khawatir pada binatang hutan. Karena hampir semua
binatang hutan berteman dengan para peri. Tak akan ada yang berani mengganggu
pemuda penjaga perbatasan hutan itu.
Dia masih sangat kesal karena idenya membantu negara Elf
ditolak raja mentah-mentah. Bahkan keinginannya untuk pergi membantu secara
pribadi pun ditolak raja.
“Bagaimana kalau kita pergi dan menyelinap sendiri saja?”
tanyanya.
“Tidurlah, Tuan. Ini sudah hampir pagi. Dan Anda belum tidur
sekejap juga!” Pria di sebelahnya ternyata masih merespon.
“Kau tak ingin pergi?” tanya pangeran itu.
“Aku mau tidur sekejap saja, bolehkan?” tanyanya memohon.
Pemuda itu diam, tak mengganggu pria itu lagi dengan
pertanyaan dan keluhannya. Dia ingin tidur juga, tapi kekesalan yang menumpuk
di dadanya itu, membuat matanya terus terbuka. Terutama saat melihat ibundanya
yang menangis hingga matanya bengkak.
“Kenapa Sang Raja seperti itu? Bukankah negara Elf adalah
juga keluarga!” kesalnya lagi.
“Aku harus membantu kakekku! Sudah sekian lama, tak ada kabar
beritanya. Bagaimana jika terjadi hal buruk padanya!” pria itu terus menggumam
sendiri.
“Aaaaarrrggg ....! Dia berteriak putus asa. Beberapa binatang
hutan terlompat kaget, lalu menjauh.
“Tolong, Tuan. Tenanglah sedikit. Lima menit, saja!” kata
penasehatnya. Pria itu menutup kepalanya dengan kain lebar yang dijadikannya
selimut.
Dia sangat lelah. Mereka baru kembali dari istana raja di
ibukota. Yang paling melelahkan adalah membujuk pria muda itu untuk mematuhi
perintah raja. Agar kedua orang tuanya tetap aman di ibukota!
“Lihat itu!” si pemuda kembali berteriak nyaring menarik
tangan pria di sampingnya. Sepertinya dia sangat terkejut, hingga terduduk
sambil mendongak ke langit.
Keduanya menatap langit di atas Hutan Peri. Ada dua orang
terbang dan seekor makhluk aneh besar, terbang melintas. Terlihat sangat santai, tidak khawatir
apapun.
“Menurutmu, makhluk apa itu? Dari mana mereka berasal? Apakah
itu ciptaan Orc?” tanya Pangeran Peri Karl penasaran.
“Apakah Orc sudah sepintar itu? Alangkah berbahaya!” komentar
penasehatnya.
“Apa perlu kita laporkan pada raja?” tanya si pemuda.
“Kita belum tahu pasti siapa mereka. Tapi Anda tetap bisa
melaporkannya kalau mau,” balas penasehatnya.
Pria paroh baya itu kini sudah duduk dengan tegak. Kantuknya
sudah hilang entah kemana. Tiba-tiba dia menghilang.
__ADS_1
Karl menggerutu dengan kesal. “Andai aku bisa melakukan hal
seperti itu!”
Dilihatnya pria yang tadi duduk di sampingnya, sekarang sudah
berada di atas sana. Tempat tadi makhluk tak dikenalnya terbang melintas.
Kemudian kembali menghilang dan duduk lagi disampingnya.
“Bagaimana?” tanya pria muda itu.
“Itu bukan Orc! Benar-benar seperti kita. Kecuali---“
“Kecuali apa?” potong Karl.
“Kecuai makhluk yang bersayap itu. Aku tak pernah melihat
yang seperti itu, seumur hidupku!” jawab penasehatnya.
“Dari mana mereka berasal?” gumam Karl.
“Arahnya dari negara Elf. Sepertinya mereka menuju negara
Penyihir!”
“Tapi mereka bukan dari Elf, bukan?” Karl memastikan.
“Seingatanku, negara Elf tak punya rakyat yang seperti itu. Yang
bisa terbang hanya para peri pohon.”
“Peri pohon terlalu kecil!” bantah pria muda itu lagi.
“Menurutmu, mungkinkah ada negara lain yang tidak kita
ketahui, selain lima negara di sekitar kita?” tanya Karl penasaran.
“Kakek Anda adalah seorang petualang di masa mudanya. Dia
mengatakan bahwa ada banyak negara lain selain yang kita ketahui ini. Tapi
sayangnya kita tak bisa lagi menjelajah ke sana. Pintu teleportasi satu-satunya
dihancurkan setelah peperangan besar dengan Orc puluhan tahun lalu!”
“Mungkinkah ada pintu teleportasi baru yang tidak kita
ketahui? Misalnya di hutan sihir itu. Tak ada yang berani ke sana karena
keangkerannya. Tapi kan bisa saja itu dihembuskan oleh pihak-pihak itu agar
“Pikiranmu selalu punya ide yang mencengangkan!” Penasehatnya
tertawa. “Sekarang ijinkan aku tidur sebentar saja, Yang Mulia Pangeran,”
katanya memohon. Lalu dia kembali berbaring, walaupun hari telah mulai terang
dan binatang hutan bernyanyi riuh.
Pria muda itu juga ikut membaringkan tubuhnya dan mencoba
memejamkan mata sejenak.
***
Bersamaan dengan itu, Pangeran Glenn baru saja bangun dari
tidurnya. Beberapa prajurit yang ikut bersamanya sebagian masih tidur pulas,
sebagian lagi sibuk menyiapkan sarapan sekadarnya. Entah kapan mereka berburu,
tapi pagi itu hidungnya mencium aroma daging panggang.
“Ke mana rencana kita hari ini, Tuan?” tanya Randal.
“Aku menerima pesan dari istana. Putraku sedang menyusul ke
sini. Aku harus menunggunya,” kata Pangeran Glenn.
“Apakah ada sesuatu yang penting, hingga Pangeran Levyn
datang menyusul ke sini?” tanya Randal lagi.
“Dia membawa bantuan untuk mencari Cristal!” jelas Glenn.
“Bantuan? Raja mengirim bantuan ke sini? Apakah keadaan
ibukota sudha membaik?” tanya Randal heran.
“Itu juga yang menjadi pertanyaanku.” Glenn ikut berpikir.
Informasi terakhir mereka mengatakan bahwa kekuasaan Orc
sudah semakin meluas dan rakyat sangat menderita. Lagipula, siapa yang akan
dikirim untuk membantunya mencari, disaat ibukota Elf sedang genting? Bukankah
__ADS_1
mereka lebih membutuhkan tenaga tambahan, ketimbang Glenn?
“Kapan Pangeran Levyn berangkat?” tanya Randall kembali.
“Ibuku bilang, dia akan pergi saat hari masih gelap. Agar
tidak diketahui oleh Orc penjaga.”
“Berarti dia berjalan malam hari. Bukankah akan sangat
berbahaya melewati tanah tak bertuan di malam hari? Apa mungkin mereka selamat
melewati pasukan penjaga Orc di sepnjang perjalanan itu?” Randal terkejut.
“Mungkin mereka melintasi tanah para peri. Lebi sulir, tapi
jelas sangat aman.” Glenn mengoreksi pemikiran Randall.
Pria itu mengangguk mengerti. Kenapa dia lupa bahwa ada jalan
lain menuju negara Penyihir.
Di atas langir, beberapa saat kemudian.
“Kurasa yang di bawah sana adalah kelompok ayahku,” tunjuk
Levyn ke sebuah tempat terpencil. Ada asap membubung dari api unggun yang
mereka gunakan.
“Mari kita lihat!” ajak Eric.
“Hei, tidak takutkah kalian jika ternyata itu bukan kelompok
ayahku?” tanya Levyn heran. “Apakah orang-orang negara Cahaya ini tidak pernah
mengenal kata mengamati lebih dulu?” pikirnya heran.
Gerald mengikuti Eric dan Hakon yang sudah melayang turun ke
dekat para pria yang sedang santai dan mempertajam pedang mereka.
“Siapa kalian!” Seseorang berseru dengan terkejut. Pedang
yang sedang diasahnya langsung diacungkan ke arah Eric. Yang lain ikut
berlompatan dan segera mengarahkan senjata pada dua pria yang sedang melayang
setinggi tiga meter dari permukaan tanah.
“Levyn, apakah mereka orang-orang ayahmu?” panggil Eric
dengan suara keras.
Tiba-tiba sesuatu yang sangat besar melayang mengitari
kumpulan orang yang makin takut dan ngeri.
“Ayah!” panggil seseroang dari atas punggung binatang yang
besar dan mengerikan itu.
“Levyn?” kata Glenn tak yakin.
“Pangeran Levyn, apakah itu Anda?” Randal berteriak
memanggil.
“Ya! Ini aku dan kawan-kawan baruku!” balas pemuda itu dengan
gembira. Lalu Eric, Hakon dan Gerald turun ke tanah.
Semua pegawal Glenn melihat dengan heran pada dua orang asing
dan makhluk mengerikan yang menjejak tanah di depan mereka itu. Bagaimana tidak
ngeri. Tinggi makhluk yang dinaiki Levyn, lebih dari tiga meter! Belum lagi
besar badan dan rentang sayapnya. Mereka bergidik sendiri, membayangkan Levyn
berteman dengan makhluk yang memiliki gigi sebesar dan setajam pisau jagal.
Levyn sudah turun dari punggung Gerald dan menghampiri
ayahnya. Mereka berpelukan sejenak. Lalu pangeran muda itu memperkenalkan
teman-teman barunya.
“Ini Eric, Pangeran Mahkota Bangsa Cahaya. Yang itu Hakon dan Yang ini Gerald!”
kata Levyn.
“Pangeran Mahkota Bangsa Cahaya?” Glenn kebingungan. Dia tidak
pernah tahu tentang bangsa itu dan dimana negeri itu adanya. Namun, dia tetap
menyambut Eric dengan hangat.
__ADS_1
“Selamat datang Pangeran Mahkota,” kata Glenn.