The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 101. Menghubungi Penguasa hutan Sihir


__ADS_3

Di istana Penyihir, Hakon melaporkan apa yang mereka lihat di Tanah tak bertuan. Pangeran Glenn tak bisa lagi menunda melaporkan hal itu pada Raja Penyihir. Levyn  dan Hakon ikut menghadap.


“Paman Raja, bagaimana keadaan Anda sekarang?” tanya Glenn/


“Berkatmu, aku sudah lebih baik,” jawab raja itu tersenyum.


Glenn juga bisa melihat bahwa tubuh pamannya pulih dengan cepat, meskipun tentu saja tubuhnya yang dulu kekar, belum kembali seperti semula.


“Bagaimana keadaan di luar?” tanyanya.


Glenn menceritakan keadaan negara itu dengan sebenarnya. Raja Penyihir itu menangisi rakyatnya dengan sedih. “Aku harus membalas perbuatan mereka!” ujarnya marah.


“Apa artinya menjadi raja di tanah yang penduduknya sudah tak ada!” Raja masih geram.


“Paman Raja, saya ingin pergi menjaga perbatasan di Tanah tak bertuan,” kata Glenn.


Raja melihat pada Hakon dengan seksama. “Coba ulangi, dari mana kalian berasal?” tanya raja. Sebelumnya dia tak terlalu memperhatikan hal itu.


“Kami adalah Bangsa Cahaya, Nenek Moyang kami berasal dari bintang yang hancur ribuan tahun yang lalu!” jawab Hakon takzim.


“Apakah pemimpi kalian ada di sini?” tanya Raja.


“Ada di negeri Elf, Yang Mulia. Namun, putranya, calon penerus pemimpin bangsa kami, dikirim ke sini untuk membantu mencari Putri Elf. Dia Eric,” jawab Hakon lagi.


Raja mengangguk-angguk seperti teringat sesuatu. Tapi dia belum ingin membahas hal itu. Pandangannya beralih pada Glenn lembali.


“Pasukan kecilmu itu dan tiga teman dari negara Cahaya, apakah mampu mengalahkan ribuan Orc? Apakah seharusnya aku menyerah saja pada Orc agar nyawa kalian diampuni?” Sang raja sedikit frustasi.


“Berikan perintahmu, Yang Mulia. Kami akan menghadapi mereka!” ujar Kepala pengawal istana.


Dia dan beberapa pengawal inti, sebelumnya berada dalam pengaruh sihir, guru sihir. Tanpa pengaruh sihir, maka mereka pasti akan memberontak melawan Orc dan berakhir dalam kematian. Maka istana itu benar-benar tidak akan berpenghuni lagi.


“Tidak! Kalian harus bertahan di sini dan menjadi benteng terakhir istana!” tolak Glenn.


“Tapi kalian hanya belasan orang!” bantah Kepala Pengawal


itu.

__ADS_1


“Kakek, boleh aku bicara?” tanya Pangeran Levyn.


“Jika kau punya ide, silakan saja, Levyn. Kau juga adalah Pangeran negara ini!” kata Raja.


“Bagaimana kalau kita meminta bantuan penghuni Hutan Sihir?” tanyanya.


“Apa?” Glenn terkejut mendengarnya. “Itu berbahaya!” tolaknya.


“Ayah, seperti kataku sebelumnya. Aku punya teman di hutan sihir dekat negara kita. Tadi aku memanggilnya dan menceritakan apa yang terjadi di sini dan juga negara Elf padanya. Katanya, dia ingin membantu. Tapi ada larangan bagi mereka untuk masuk ke sini. Jadi dia akan melaporkan hal itu lebih dulu  pada Penguasa Hutan Sihir!” beber Levyn.


“Kau juga punya teman di sana?” tanya sang raja heran.


“Ya. Dia menolongku saat aku melintasi hutan sihir yang berbatasan dengan negara Elf,” terang Levyn lagi.


“Kurasa ide Levyn bisa dicoba. Aku juga punya teman di sana. Sudah ribuan tahun berlalu. Selama itu, kita hidup berdampingan dengan damai. Apa salahnya memperbaiki hubungan buruk yang dilakukan nenek moyang kita dulu.”


Raja duduk dengan tegak di pembaringannya. Dia ingin bangun, tapi masih kesulitan, karena berat tubuhnya hilang lebih dari setengah berat semula.


“Mari saya bantu,” tawar Hakon. Tangannya bergerak dan mengangkat sang raja, melayang di udara. Raja itu terkeut sedikit, tapi kemudian membiarkannya.


Levyn dan Glenn membantu raja untuk duduk di tanah yang merupakan bagian Hutan Sihir. Guru sihir menyiapkan beberapa  obor sebagai penerangan. Sekarang, yang lain harus mundur dari sana dan membiarkan tiga orang keturunan istana Penyihir itu berkomunikasi dengan penghuni Hutan Sihir.


“Andai penghuni hutan itu bersedia berdamai, maka kita akan memiliki harapan lebih, untuk mempertahankan negara ini tetap eksis,” ujar Hakon penuh harap.


“Sang Raja sudah bersedia membuka diri, sekarang, semua itu terserah pada Penguasa Hutan Sihir. Kita tak mungkin memaksa mereka untuk membantu, karena selama ini kita juga sama sekali tidak pernah membantu mereka.” Guru sihir itu sedikit murung.


Satu jam berlalu, Sang Raja dan dua pangeran itu masih belum bangkit dari duduknya. Ketiganya seperti tengah berbincang-bincang. Tapi tak ada yang melihat seperti apa lawan bicara mereka.


Setengah jam berikutnya, seseorang tiba-tiba terlihat duduk di depan Pangeran Levyn. Keduanya tersenyum senang. Lalu seorang lagi muncul. Dia agak tua dan terus berbincang serius dengan Raja. Kemudian, keduanya bangkit. Hakon melesat cepat, untuk membentu raja berdiri dan mengantarnya ke tempat yang diinginkan.


“Kita kembali ke kamar Yang Mulia,” kata Glenn. Hakon mengangguk dan mengikuti langkah Glenn serta Levyn. Di belakang mereka, mengikuti seorang pemuda tampan dari Hutan sihir. Dia membawa keranjang yang penuh buah-buahan segar dan ranum.


Tak lama setelah raja berbaring, pria tua itu memeriksa sang raja. Ternyata dia adalah seorang tabib yang dikirim oleh Penguasa Hutan Sihir. Tak jauh dari sana, Levyn terus berbincang dengan teman barunya yang ternyata seorang wanita!


Setelah memeriksa sang raja dan memberikan obat, guru sihir mengantarkan tabib itu memeriksa permaisuri dan Pangeran Juno serta kerabat istana lain yang kondisinya juga tak kalah memprihatinkan.


Pria yang membawa buah, memberikan masing-masing orang satu buah yang dibawanya. "Ini untuk memulihkan kesehatan,” katanya.

__ADS_1


Raja dan Levyn memakannya tanpa ragu. Yang lain akhirnya mengikuti. Menunggu dengan sabar tabib itu memeriksa semua orang. Semua orang yang ada di istana, tanpa kecuali, diperiksa olehnya.


Dia mematung sejenak saat memeriksa Hakon. Lalu berjongkok. “Saya tidak tahu kalau leluhur bangsa Penyihir masih semuda ini!” ujarnya menunduk.


Hakon terkejut dan mundur. “Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud. Tapi saya bukan leluhur Anda. Saya hanya seorang rakyat biasa di negeri kami!”


Tabib itu mengernyitkan dahi dengan heran. Raja batuk sebentar untuk menengahi. “Leluhur bangsa kami yang agung, sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu,” jelasnya.


Tabib menoleh pada raja dengan tak percaya. Namun, dia bisa melihat bahwa semua orang mengangguk mengiyakan. Kemudian dia menoleh lagi pada Hakon dengan kebingungan. Dia merasa yakin dengan firasatnya.


“Anda tahu Yang Mulia, saya berusia seratus tahun lebih. Sebelum berteman dengan Anda, saya berteman dengan leluhur negara ini. Saya seperti melihat jejaknya pada pemuda ini!” tunjuknya pada Hakon.


Raja Penyihir mengangguk. “Kita akan membahas hal itu nanti. Keadaan negara kami sedang terjepit. Kami sangat membutuhkan bantuan dari Penguasa Hutan Sihir." Raja mengingatkan tujuan kedatangannya.


“Baik. Saya akan kembali dan melaporkan semua yang saya lihat di sini pada Penguasa kami.”  Tabib itu mengangguk dan mengundurkan diri. Dua orang yang bersamanya mengikuti pergi. Guru Sihir mengantar mereka ke pintu penghubung dekat dapur.


Sekarang ruangan itu sunyi. Mereka harus menunggu kebaikan hati Penguasa Hutan Sihir.


 “Jika hingga subuh tidak ada keputusan dari Hutan Sihir, Saya akan pergi ke perbatasan Tanah tak bertuan!” Glenn berkata penuh tekad.


Adalah mustahil baginya membiarkan hanya Eric dan teman-temannya saja yang menjaga di sana. Bagaimanpun, mereka sebenarnya tidak punya kepentingan dan sengketa di dunia ini.


“Yah ... lakukan seperti itu. Kuharap kalian bisa menahan para Orc tetap berada di perbatasan!” angguk raja, mengijinkan.


“Terima kasih, Paman. Kami akan menunggu di bawah sambil beristirahat!” pamit Glenn.


‘Hakon, bisakah Kau beri tahu Eric apa yang kita putuskan barusan?” tanya Glenn.


“Tentu saja.” Hakon langsung melaporkan pada Eric keputusan raja Penyihir.


“Oke!” sahut Eric.


“Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan untuk memancing kemarahan Orc?” tanya Eric lagi pada Gerald.


“Tolonglah ... biarkan aku tidur sejenak. Bagaimana kalau aku besok tertidur saat pertarungan?” kesal Gerald. Dia sudah sangat mengantuk. Tapi terus saja diajak bicara.


“Ah! Aku tahu caranya!” Senyumnya mengembang, diikuti mata yang bersinar cemerlang.

__ADS_1


__ADS_2