
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Yabie setelah sampai di ruang rawat dua orang bangsa Elf itu.
Calya menempakan keduanya dalam satu ruang perawatan, setelah pasien terakhir selesai operasi. Kaki dan tangannya yang patah sudah dioperasi oleh Dimas, dibantu Calya dan seorang asisten pria yang ertarik di bidang kesehatan.
Keduanya sudah sadar dan saling mengenali, Hanya saja, pasien kedua memang jauh lebih lemah dan parah keadaannya.
"Sudah lebih baik," jawab pria yang pertama ditemukan. Terima kasih sudah menemukan dan merawatnya," katanya tulus.
"Itu memang tugas seorang tabib," sahut Yabie. "Oh ya, aku mau memperkenalkan pamanku, Dia adalah pemimpin Bangsa Cahaya, dimana Paman Robert tinggal," jelas Yabie.
"Terima kasih atas kedatangannya." Elf yang sudah cukup sehat, mewakili temannya untuk bicara.
"Tak perlu duduk. Santai saja." Dean melarang pria itu yang berusaha bangkit dari baringnya.
"Aku hanya sedang menunggu pemulihan kalian. Kami akan mempersiapkan orang-orang yang pergi membantu ke negaramu," tambahnya lagi.
"Benarkah? Terima kasih banyak. Kami senang mendengarnya. Apakah kalian sudah menemukan jalan menuju negara kami?" tanyanya antusias.
"Memang ada jalan ke sana. Itu adalah jalan yang kami tempuh dulu, untuk mencapai negaramu. Jalan yang sulit dan penuh rintangan," kata Dean.
"Jalan yang dulu kalian tempuh? Berarti kalian akan melewati hutan sihir, seperti saat pertama bertemu dengan Tuan kami." Pria Elf itu sedikit khawatir.
"Aku dengar dari Robert bahwa hutan itu sangat berbahaya. Jika tidak diselamatkan oleh Glenn, mereka mungkin tak akan selamat. Itu sebabnya kuharap kalian bisa ikut serta dalam rombongan itu, agar tidak tersesat seperti teman-temanku." Dean tersenyum menenangkan.
"Aku sudah cukup sehat. Kita bisa pergi secepatnya," kata pria yang baru operasi dengan terbata-bata.
Dean tersenyum dan menepuk pundaknya halus. "Aku senang dengan semangatmu," angguknya. Kalian akan dipindahkan dalam perawatan Dokter Dimas, jika sudah mendapat ijin dari Calya.
"Menurutku, begitu juga lebih baik." Suara seorang wanita terdengar dari belakang.
"Calya," sapa Dean saat membalikkan badan.
"Paman." Calya mengangguk hormat. Istri Yabie yang menjadi tabib menggantikan ayahnya, memeriksa dua pasiennya.
"Yang ini sudah bisa dibawa ke sana. Namun, yang ini bagaimana memindahkannya? Dia masih belum boleh banyak bergerak," katanya setelah memeriksa keduanya.
"Siapkan saja obat-obat yang mereka butuhkan. Biar aku yang membawa mereka ke sana," kata Dean.
"Baik. Aku siapkan dulu obatnya." Calya keluar dari ruangan.
"Kakek, aku ingin ikut ke negara mereka," seorang pria muda muncul setelah Calya menghilang.
__ADS_1
"Bukankah kau yang bertanggung jawab dengan tanaman obat ibumu?" Yabie bertanya heran.
"Biarkan itu dilanjutkan oleh Judith. Tanpa aku, dia akan belajar tentang obat dengan lebih serius!" kata Jason.
"Kakek, ijinkan aku ikut," Jason beralih pada Dean.
"Diskusikan dengan orang tuamu. Meskipun memeng, tim itu akan butuh tenaga medis dan ahli obat-obatan untuk membantu keadaan darurat!" Dean mengedipkan mata pada Jason sebagai tanda dukungan.
"Ayah dengar apa yang kakek bilang? Mereka butuh tenaga obat-obatan dan medis!" Jason menampakkan wajah berseri-seri di depan Yabie.
"Aku setuju saja, tapi tanyakan dulu pada ibumu. Karena dia yang sangat mengandalkanmu di sini." Yabie mengelak untuk bertentangan dengan istrinya.
"Huh! Akan sulit untuk bicara dengan ibu." Jason cemberut.
"Soal apa?" tiba-tiba ibunya bertanya dari belakang. Semuanya terkejut melihat Calya sudah berdiri di ambang pintu. Tangannya menjinjing bungkusan obat yang besar.
Jason menjadi gugup untuk bicara di depan ibunya. Calya menyerahkan obat pada Dean.
Ini obat untuk mereka masing-masing. Jason akan membantu untuk menyiapkan obat mereka," kata Calya.
"Maksud ibu?" Jason bertanya bingung.
"Bukankah kau ingin pergi ke tempat mereka? Maka pergilah sebagai seorang ahli pengobatan. Mereka sekarang adalah pasienmu!" tegas Calya.
Jason senang bukan kepalang. Dipeluknya Calya dengan haru. Dia yang semula takut dilarang dan dimarahi, sekarang justru diberi kesempatan dan tanggung jawab baru.
"Apa kau pikir ibumu terlalu kejam, hingga kau takut meminta, hmm?" senyum Calya sambil mengusap lembut punggung putranya.
Jason menggeleng. "Aku akan ambil tanggung jawab ini," ujarnya tegas.
"Bagus! Kau persiapkan semua keperluanmu dan susul kakek ke sana," ujar Dean senang.
"Iya, Kek. Akan kusiapkan sekarang!" Jason langsung lari menuju kamarnya.
"Baik, biar kubawa mereka ke sana, sekarang," ujar Dean.
"Sebentar, biar kuberi sedikit tambahan tenaga buat mereka," tahan Yabie.
Dean dan Calya membiarkan Yabie menyalurkan energi penyembuhnya pada dua orang yang sedang terbaring itu.
Seberkas cahaya terang keluar melalui telapak tangannya dan menyelubungi dua orang yang sakit. JKedua pasien itu terkejut dan secara refleks mencoba menjauhkan tubuh mereka, menghindari cahaya. Namun, itu tak berhasil.
__ADS_1
Lewat lima menit, cahaya terang itu mulai meredup, kemudian hilang sama sekali.
"Istirahatlah." Dean mengambilkan bangku agar Yabie bisa duduk, dan menyerahkan botol airnya pada keponakannya itu.
"Terima kasih, Paman," angguk Yabie. Dia langsung meminum air abadi yang diberikan Dean, untuk mengisi kembali tenaga.
"Bagaimana perasaan kalian sekarang?" tanya Dean pada dua Elf yang masih terkejut itu.
"Aku merasa sangat segar," ujar Herdan senang.
"Bagaimana denganmu? Namamu siapa?" tanya Dean.
"Aku Khort. Saya sakit di seluruh tubuhku lenyap. Kemampuan apakah itu?" tanya pasien yang baru dioperasi sehari yang lalu.
"Itu kekuatan penyembuhan Bangsa Cahata," sahut Yabie.
"Hebat sekali. Apakah kalian semua bisa menyembuhkan orang? Seperti generasi tabib turun temurun?" tanya Herdan takjub. Dia melihat Calya dan Yabie sebagai tabib, lalu putra mereka Jason juga sedang belajar pengobatan.
"Bangsa Cahaya lebih besar dari pada itu. Kalau menurut cerita Robert yang bertemu dengan leluhur Bangsa Penyihir, menurutnya, pria itu juga adalah bagian dari Bangsa Cahaya, yang berilmu tinggi. Apa kalian tahu, sistem teleportasi yang kalian gunakan di sana, dibuatnya karena di tanah kami, selalu menggunakan teleportasi untuk melintasi bintang-bintang!"
"Benarkah? Berarti leluhur Bangsa Penyihir adalah Bangsa Cahaya! Dan negara mereka sekarang sudah jatuh! Dikuasai para Orc!" Herdan merasa marah.
"Entah bagaimana keadaan keluarga kerajaan itu sekarang. Tak ada lagi kabar sejak berita jatuhnya mereka terdengar."
Dean terdiam mendengarnya. Dia memikirkan sesuatu sekarang. "Baik, mari kita kembali ke Dunia Bangsa Cahaya. Dunia yang sedang kami usahakan untuk bisa kembali seperti masa keemasan kami dulu."
"Baik." Herdan sudah bisa duduk dengan baik di tempat tidurnya. Api saat dia ingin turun dari tempat tidur, kembali dilarang Dean.
"Jangan turun. Istirahat saja yang santai di dalam," kata Dean. Disentuhnya pundak Herdan. Pria itu langsung hilang dari pandangan.
"Di mana dia?" Mata Khort melotot cemas.
"Jangan khawatir. Ini ada cara pemindahan yang paling mudah dan tidak menyakitkan sama sekali!" jelas Yabie. Disentuhnya Calya. Seketika istrinya hilang. Kemudian dikeluarkannya lagi. Wanita itu cemberut padanya, karena tidak diberi aba-aba ;ebih dulu.
"Lihat .... Istriku sangat senang disimpan di dalam sana." Yabie terkekeh geli. Calya langsung melotot dan memukulnya.
"Baiklah." Khort mengangguk setuju untuk ikut disimpan juga, seperti Herdan. Bagaimana pun juga, dia masih belum dapat berjalan ke mana-mana.
Dean menyentuh pundak pemuda itu, dan segera melenyapkannya.
"Aku kembali. Biarkan JAson menyusul. Dan aku butuh cukup banyak obat untuk luka-luka nanti. Tolong persiapkan. Dean menyerahkan uang untuk obat-obat yang dipesannya.
__ADS_1
"Nanti akan kuantar ke sana." Yabie berjanji.
*******