
Hingga setengah jam berikutnya, mereka masih belum menemukan pertanda apapun yang bisa dijadikan pegangan. Sementara langit mulai petang.
“Sebaiknya kita beristirahat di sini, malam ini,” usul Robert.
Lima orang itu menoleh pada Eric, untuk minta pendapat. “Kenapa melihat padaku?” tanyanya heran.
“Karena Kau yang memimpin tim ini.” Kakek Kang menyeringai.
“Hah … lupakan formalitas itu di sini. Aku mengiyakan apa yang diinginkan ayah, agar hatinya senang saja,” jawab Eric sambil mengedikkan bahu.
“Aku akan melaporkan kata-katamu itu, nanti!” Kakek Kang berkata serius.
“Oh, ayolah … jangan sekaku itu. Kita bisa melakukan perjalanan yang menyenangkan jika tidak dibatasi aturan rumit, kan.”
“Eric!” seru Robert keras.
“Tampaknya kau masih belum menyadari tanggung jawab
yang kau emban di pundakmu! Tanggung jawab yang sudah kau setujui sebelum berangkat! Nyawa kami berada di tanganmu saat ini!” tegas Robert.
“Ayolah, tak perlu bertengkar. Aku sangat tahu kemampuan kalian semua. Tak ada orang yang sangat perlu untuk dilindungi di sini, kecuali petugas medis!”
“Kalau kau menolak menjadi penanggung jawab tim, maka
kau akan kami masukkan dalam tempat penyimpanan saja!”
Arjun mengeluarkan ancaman. Matanya bersinar kebiruan dan tangannya sudah diarahkan pada anak muda badung itu.
“Kenapa selalu mengancam untuk membakarku?” Eric mengelak dan memutari tubuh besar Kakek Kangvuntuk berlindung.
“Pergilah! Jangan membuatku ikut terbakar juga!” Kakek Kang menjauh dari Eric.
Robert melesat cepat dan menahan tangan Eric. Kemudian Arjun menyentuhnya dan dengan segera pria muda yang keras kepala itu menghilang dalam penyimpanan Arjun.
“Dia masih mengira kita akan pergi bersenang-senang.” Hakon menggelengkan kepala.
“Sekarang mari kita mencari tempat untuk beristirahat."
Robert mengambil alih tanggung jawab. Kelimanya turun ke permukaan salju.
Masing-masing mereka mengeluarkan anggota tim lain yang sebelumnya tersimpan di dalam kalung penyimpanan. Semua orang, kecuali Eric yang mendapat hukuman.
“Wah, tempat yang sangat bagus, indah … dan … dingin,”
__ADS_1
celetuk mereka begitu keluar dan melihat dunia itu.
“Tidak ada waktu untuk mengagumi keindahannya. Kita berpacu dengan waktu untuk menyiapkan tempat berlindung, sebelum malam!” Arjun mengingatkan.
“Baik!” Hakon mengerti apa yang harus timnya lakukan. Dia membagi anggota tim untuk membangun tempat beristirahat dari beberapa batang pohon yang ada di sana.
“Dunia apa ini?” tanya Herdan.
“Aku juga tidak tahu. Sepertinya inilah dunia yang dulu mereka datangi saat pesawat itu jatuh dari langit.” Jason menjawab sekenanya.
“Mereka bangsa yang datang dari langit?” Khort ingin tahu.
“Hemmm … bisa dibilang seperti itu. Bangsa Cahaya memang berasal dari bintang yang ada di langit.” Jason sedikit kesulitan untuk menerangkan tentang dunia manusia yang menjadi tubuh sebagian saudaranya.
Aila, Sofie, Gerald dan Evan segera membantu menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
Dengan petunjuk Robert, anggota tim Hakon berhasil membangun tempat perlindungan dengan cepat. Mereka menebang beberapa batang pohon dengan tangan dan menyusunnya menjadi rangka yang saling menguatkan. Kemudian melapisi dinding dengan ranting dan tumpukan salju hingga tinggi.
Setelah membuang salju di bagian dasar tempat perlindungan, mereka lalu menunpuk dedaunan yang akan dijadikan sebagai tempat untuk membaringkan tubuh malam nanti.
Perapian segera menyala, persis ketika kegelapan
jatuh. Semua orang berlindung di dalam satu tenda kayu darurat. Para wanita menyiapkan makan malam dan minuman hangat. Mereka tidak harus berburu untuk makan, karena sudah membawa cukup stock makanan di penyimpanan.
“Bisakah Anda menceritakan kisah perjalanan Anda di dunia ini?” Icye, salah satu anggota tim suku Cahaya wanita bertanya pada Robert.
“Kami pernah mendengar cerita tentang asal-usul Nyonya Angel. Namun, kami tidak sungguh-sungguh dapat memahaminya.” Khort menimpali.
Robert mengangguk. “Aku sendiri masih tidak mengerti apa yang terjadi. Rasanya hal itu seperti mimpi saja.”
“Ceritakan saja. Aku tidaknpernah bosan mendengarnya.” Aila terlihat antusias.
“Baiklah … akan kuceritakan sedikit,” Robert akhirnya menyerah.
“Kami manusia biasa yang sedang dalam tugas
masing-masing ke satu negara. Kami tak saling mengenal satu sama lain di
pesawat itu. Kami berangkat malam, Dan pagi hati kami tersadar di hutan pinus yang dipenuhi salju!” Robert memulai ceritanya, untuk mengahbiskan malam, sebelum pergi beristirahat.
“Tetua, kenapa Eric tidak bersama dengan kita” bisik
Sofie pada Arjun, saat menyajikan makanan.
__ADS_1
“Dia sedang beristirahat,” jawab Arjun, menenangkan Sofie.
“Oh, apakah tadi kalian mengalami hari yang berat?” Sofie tak mudah ditenangkan hanya dengan sedikit informasi.
Arjun menghela napas. “Dia tadi mengalami sedikit kecelakaan, jadi kami memintanya untuk istirahat, agar lebih cepat pulih. Aku akan memberikan masakanmu untuk makan malamnya.” Makanan di tangan Arjun langsung menghilang.
“Kecelakaan apa?” Sofie berseru keras dan menarik perhatian yang lainnya.
“Ssttt!” tak bisakah kau bicara dengan suara rendah?” tegur Arjun serba salah.
“Ceritakan padaku apa yang terjadi,” pinta Sofie.
“Pertama masuk ke dunia ini, kami tidak langsung sampai di sini. Kami melewati daerah gersang dan kering, serta misterius.” Arjun menjelaskan dengan suara perlahan, agar yang lain tidak mendengar.
Akan tetapi, perhatian semua orang sudah teralih ke mereka berdua akibat seruan keras Sofie sebelumnya. Mereka menanti penjelasan Arjun dengan penuh minat.
Robert terkekeh. Dia senang akhirnya lepas dari keharusan menceritakan hal yang sama berulang kali selama beberapa tahun ini.
“Tadi kami menemukan air terjun di satu area gersang di balik bukit itu. Tempat yang aneh dan sangat panas, tanpa pohon satupun." Eric terbang lebih dulu untuk melihat sekitar. Tak diduga dia terjerat tanaman air dan ditarik ke dalam lumpur sungai,” kata Arjun tenang,
“Apa?”
“Bagaimana dia sekarang?”
“Dia baik-baik saja, sekarang. Dokter Dimas sudah memeriksa kesehatannya secara umum,” jelas Arjun.
Meski tidak cukup puas dengan cerita singkat Arjun, namun mereka tak bisa mendesak pria itu.
“Sebaiknya kita beristirahat, agar bisa berangkat lebih pagi,” perintah Robert.
“Baik!” jawab anggota tim lain patuh. Mereka membaringkan tubuh di atas hamparan daun pinus yang ditumpuk.
“Aku merasa kau sedang memikirkan sesuatu, Robert,” sapa Kakek Kang, setelah semua membaringkan tubuh.
“Aku tidak mendengar lolongan serigala di sini,” pria itu menggeleng heran.
“Bukankah itu bagus? Kita sudah kehilangan satu musuh?” sela Kakek Kang.
“Memang bagus. Hanya saja, itu membuatku berpikir bahwa kita berada di tempat yang sma sekali berbeda dari sebelumnya.”
“Akan tetapi, itu juga menjadi pertanda buruk, bahwa kita telah salan jalan. Tidak mudah lagi mencari jalan menuju Dunia Elf!” jelas Robert
“Jadi kalian tersesat?” Kekhawatiran Khort tampak jelas di matanya.
__ADS_1
“Bagaimana kita bisa mencapai negara kami?” keluh Herdan lemas. Dia menjadi semakin khawatir saat ini. Khawatir membuang waktu terlalu banyak untuk perjalanan yang tidak pasti!
*****