The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 88. Perencanaan Dean 2


__ADS_3

Robert berkata dengan lugas. Baginya dan bagi seluruh Bangsa Cahaya, nyawa Eric memang sangat penting. Pria muda itu diharapkan mampu membangkitkan lagi kejayaan masa lalu bangsa mereka yang pernah hancur berkeping-keping.


Raja dan Pangeran mahkota terdiam. Ini memang dilema. Tapi, jika tidak mengirim Levyn, artinya bantuan yang mereka harapkan tidak mungkin terjadi. Eric punya kedudukan sama dengan pangeran mahkota, meskipun tidak diberi gelar Pangeran Mahkota!


“JIka kalian setuju, maka aku kan menugaskan Gerald, Eric, Hakon dan Pangeran Levyn pergi mencari Putri Cristal!” Dean berkata cepat.


“Di bagian pengobatan, Aku akan memperbantukan Dimas, Jason, Aila dan Evan. Kakek Kang akan menjaga istana ini, agar raja dan ratu aman!” Sepertinya Dean sudah memikirkan pembagian itu sejak awal. “Selain itu, dokter dan tabib kami bisa membantu prajurit yang terluka saat pecah perang nanti,” tambahnya.


Raja terperanjat mendengarnya. Betapa cepat Dean membuat keputusan. Dia menoleh pada pangeran mahkota. “Lalu bagaimana kau akan membagi tentaramu?” tanyanya.


“Aku akan mengirimkan pesan pada beberapa jenderal yang bertahan di pinggir kota. Kita bisa mengerahkan mereka jika sudah mengatur strateginya. Tapi sejujurnya, tentara kita hanya tinggal ratusan saja, lagi,” kata Pangeran mahkota sedih.


“Kukira, pasukan penjaga pintu teleportasi atas dan bawah bisa dikurangi. Mereka bisa diperbantukan dalam pasukan perang. Aku akan menempatkan Red dan Icye di pintu teleportasi bawah. Kuharap bantuan mereka berdua bisa memperkuat penjagaan, agar tidak tertembus oleh Orc!” kata Dean.


“Ayah benar!” Eric berbinar-binar. “Mereka akan membeku jika melawan Icye, dan meleleh jika terkena cahaya panas Red!”


Lalu siapa dari kubu Anda yang akan memimpin perang?” tanya salah seorang jenderal.


“Kami punya Jenderal So yang sangat terkenal!” Dean menoleh pada Robert. “Juga Arjun yang ditakuti!” Dean menoleh pada Arjun yang tersenyum kecil. “Dan Sofie sang Jenderal Panah Pembunuh!”


“Apa mereka sehebat itu?” pikir Raja. Beberapa orang yang ada di situ juga tak percaya. Karena orang-orang asing itu terlihat sangat sederhana.


“Jenderal Panah Pembunuh?” gumam pangeran mahkota menoleh ke arah Sofie.


Sofie langsung mengeluarkan busur warisan Ivy dan menunjukkannya pada pangeran itu. Kemampuannya bisa dikatakan sama dengan Ivy. Pangeran itu jelas terkejut setelah melihat busur besar dan mengerikan milik Sofie. Sekarang dia mengerti bahwa tamu-tamu mereka memang menyembunyikan kemampuan mereka sedemikian rupa.


“Tak perlu khawatir. Seperti yang tadi saya katakan, pasukan kita harus dibagi-bagi. Pasukan kami akan menyerang lebih dulu dan membuka jalan untuk kalian maju.” Dean menjeda kalimatnya.


“Meskipun kami punya kekuatan yang kalian mungkin tidak menduganya, tapi kekuatan itu tak bisa digunakan terus menerus. Jika dipaksakan, itu bisa membuat bangsaku tewas! Aku tak mau itu terjadi.”


Dean memperjelas posisinya. Meski dia bersedia membantu, bukan berarti dia akan mengorbankan rakyatnya dalam perang ini. Jadi dia sudah membuat rencana yang telah dikalkulasi dengan teliti.


“Asgeir, vidar, Tugot, Iron dan Thorn bisa mendukung tim kami untuk mendesak mereka melepaskan penjagaan atas istana pertama! Lalu mendorong mereka keluar dari kota.Pasukan kalian membantu menyerang yang terlewat dari pantauan. Jangan ada yang satupun  Orc yang tertinggal di kota. Kita harus mendorong mereka keluar kota dalam satu serangan itu!”

__ADS_1


Raja, pangeran mahkota dan para jenderal, Penasehat serta Kepala pengawal istana terhenyak. Pemimpin asing itu sudah merencanakan hingga sejauh itu. “Apakah kalian bisa mengumpulkan tentara lebih cepat masuk kekota?” tanya raja pada pangeran dan dua jenderal yang ada di sana.


“Akan kuminta mereka masuk kota dan menempati rumah-rumah warga yang dikosongkan!” sahut pangeran cepat.


“Tentang itu, belum semua warga berhasil kami selamatkan,” kata Arjun dan Eric serempak.


“Sebaiknya kalian menyebar ke seluruh kota secara diam-diam, lalu bawa mereka pergi. Waktu kalian hanya malam ini dan besok!” kata Dean tajam.


“Baik!” angguk Arjun, Hakon dan Eric..


“Kerahkan lebih banyak orang yang bekerja!” Dean seperti tak sabar.


“Baik!” sahut Hakon. Suku cahaya memang lebih banyak tinggal di tempat Glenn dan tidak melakukan apapun selama empat hari mereka mereka tiba. Jadi dia bertanggung jawab atas hal itu.


“Kami mengumpulkan beberapa orang tadi siang,” lapor Arjun.


“Biar kuambil alih dan mengantar mereka ke sana.” Eric mengulurkan tangannya pada Arjun, untuk mengambil orang-orang yang disimpan arjun. Hakon juga memindahkan orang-orang yang berhasil diselamatkannya.


Raja tidak langsung menjawab. Sedikit sulit untuk mengatakan bahwa negara tetangga yang sebelumnya sanat dekat, tiba-tiba saling memisahkan diri dan memilih untuk menjaga tanah masing-masing. Namun, karena Dean sudha bertanya, tak mungkin juga tidak menjelaskannya.


“Kami sudah mengirimkan pesan dan permintaan bantuan. Tapi sepertinya, mereka juga sama takutnya menghadapi Orc. Jadi mereka lebih memilih memperketat penjagaan wilayahnya sendiri, ketimbang ikut campur dalam perang terbuka di negeri kami,” jawab raja.


Dean menggeleng tak percaya. “Tidakkah mereka berpikir? Jika negara ini berhasil dikueasai, maka mengalahkan mereka justru akan jadi lebih mudah?”


“Karena hal itu, kami mengimbau mereka untuk menjaga perbatasana masing-masing. Karena seluruh tentara kami yang semula menjaga perbatasan, sudah ditarik ke ibu kota.


“Baiklah, aku mengerti. HAnya saja, nanti saat kita mendorong Orc mundur, maka tak bisa dielakkan, mereka mungkin akan mundur dan menyebar ke semua area perbatasan negara. Mereka juga akan kena imbasnya!” jelas Dean.


“Jika waktunya sudah dekat, aku akan mengirim pesan agar mereka menjaga perbatasan dengan lebih ketat!” janji sang raja.


Dean mengangguk. Tak ada yang bisa dilakukannya terkait hal itu.


“Sepertinya pertemuan malam ini cukup sampai disini. Karena Pangeran Mahkota juga masih harus mengumpulkan para tentaranya,” kata raja mengakhiri pertemuan.

__ADS_1


“Bagaimana dengan bahan makanan ini?” tanya Penasehat.


“Karena rakyat dipindahkan ke pulau terapung yang penuh bahan makanan, maka semua ini akan dibagi ke beberapa keluarga bangsawan di pulau terapung lain, disimpan di istana dan juga untuk suplai para tentara saat perang!” putus Raja.


“Bagaimana kita bisa mengantarkan bahan makanan ke para bangsawan lain? Post teleportasi mereka sudah ditutup sejak awal!” kata Kepala pengawal istana.


“Aku akan membantu, dan tunjukkan jalannya,” kata Dean.


“Kalau Anda yang turun, maka biar aku saja yang menunjukkan tempat mereka,” ujar raja. Dean mengangguk.


“Di mana Kakek Kang?” tanya Dean. Ada di tempat Pangeran Mahkota!” jawab Arjun.


“Minta dia ke sini, untuk mengantarkan sang raja,” perintah Dean.


“Baik, Pemimpin,” sahut Hakon cepat.


“Red, Kau panggil Kakek Kang dan datang ke sini bersamanya!” panggil Hakon melalui pikiran.


“Baik!” sahur Red.


“Aku memanggil Red. Mereka akan segera datang,” lapor Hakon.


“Bagus!” Dean mengangguk puas.


Pertemuan itu pun selesai dengan perencanaan awal. Mereka masih akan mematangkannya setelah para prajurit masuk ke kota, menggantikan penduduk yang diungsikan.


Kepala pengurus istana dan bagian logistik membagi bahan makanan untuk dibawa pangeran mahkota dan dibagikannya pada prajurit yang ada di bawah komandonya.


Lalu dua jenderal itu juga membawa sebagian bahan makanan untuk prajurit masing-masing. Kemudian pembagian untuk empat keluarga bangsawan yang tinggal di pulau terapung dan tidak diketahui keadaannya saat ini.


Selebihnya disimpan di istana untuk persediaan dan suplai prajurit yang berada di bawah pengaturan raja. Raja merasa cukup puas melihat pembagian bijaksana yang dibuat pangeran mahkota.


“Jika ada yang bisa kita antarkan ke pulau terapung lain, mari kita lakukan secepatnya. Kita tidak tahu seberapa berat kehidupan mereka saat ini,” ujar Dean.

__ADS_1


__ADS_2