
Semua akhirnya menyadari bahwa ada hal yang lebih genting dari sekedar tak bisa terbang. Sekarang, mereka adalah manusia biasa di lorong sihir itu. Sihir yang amat sangat kuat, berhasil menekan semua kemampuan bawaan mereka sejak lahir.
“Kalau begitu mari kita percepat langkah. Hanya itu caranya kita keluar dari sini!” putus Eric.
Yang lain mengikuti. Mereka jalan lebih cepat lagi, nyaris seperti berlari. Tapi lorong itu seperti lorong tak berujung. Mereka terus saja berada di dalam lindungan pohon maple.
“Aku menarik ucapanku tadi. Tempat ini sama sekali tidak cantik!” gerutu Red kesal.
“Aku lelah sekali,” kata Sofie. Dia terduduk di tanah, tak sanggup melanjutkan jalan lagi.
Yang lain ikut duduk untuk beristirahat. Ini sudah entah ke berapa kali mereka istirahat. Merasa lelah, haus dan lapar. Tapi tak bisa mengambil persediaan makanan di dalam penyimpanan mereka. Sementara, demi kepraktisan, tak ada yang membawa bahan makanan di luar. Hal ini sangat berbeda dengan Robert dan timnya dulu yang membawa barang-barang di atas punggung kuda masing-masing.
“Maafkan aku, aku tidak tahu kekuatan tempat ini bisa mempengaruhi kemampuan kita,” sesal Robert.
“Kau tidak mengetahuinya, jadi bukan salahmu. Kita saja yang tidak memperkirakan kemungkinan seperti ini. Makanya tidak ada yang membawa senjata dan bekal di luar,” hibur Arjun.
“Kukira tidak benar. Kami berdua masih memegang pedang yang dihadiahkan pemimpin Bangsa Cahaya,” kata Herdan sambil menunjukkan gagang pedang mereka yang tampak dari balik pundak.
“Baiklah, mari kita lanjutkan lagi perjalanan. Sebelum langit gelap dan kekuatan sihirnya memaksa kita berhenti dan tidur!” Eric mengingatkan.
Rombongan itu kembali bergerak. Robert berusaha memeriksa bagian samping barisan pohon maple untuk mencari jalan lain. Akan tetapi, seperti ada dinding yang menghalang, dia tak bisa menembusnya.
“Jalan ini memang mengarahkan pengunjungnya ke tempat yang mereka mau!” kesal Robert.
Tim itu tak bisa berbuat apa-apa selain terus berjalan melalui lorong yang seakan tak ada akhirnya. Dan seperti peringatan Eric tadi. Saat langit mulai menggelap, maka kekuatan tubuh mereka seperti sudah berada di ambang batas. Memaksa mereka untuk berhenti dan beristirahat.
Rasa lelah, dan lapar, membuat semua menjadi sangat kesal dan putus asa. “Mari kita istirahat dan berjaga bergantian,” perintahnya.
Robert membagi beberapa orang untuk berjaga. Menekankan bahwa mereka tak boleh dikalahkan oleh kantuk. Atau, semua orang mungkin akan terkubur di hutan itu selamanya!”
“Baik!” jawab anggota Tim.
Robert meminjam pedang Herdan dan Khort untuk menusuk pohon maple. Kemudian menyelipkan daunnya sedemikian rupa, agar bisa mengalirkan airnya. Beberapa pohon dilukai dan diberi potongan daun.
__ADS_1
“Tampung air yang menetes dengan tangan kalian. Itu aman untuk diminum,” jelas Robert.
Anggota tim itu cukup senang mendapati bahwa mereka akhirnya bisa melepas dahaga. Mereka menampung air maple bergantian.
Para wanita tidur lebih dulu. Mereka sudha sepenuhnya menjadi wanita biasa yang bertubuh lemah. Sampai Kakek Kang mengutarakan dugaannya.
“Kurasa, hutan ini bukan hanya menahan kekuatan dan mengubah manusia asing menjadi manuasia biasa. Tapi juga mengurangi kekuatan kita hampir setengahnya!”
“Maksud Kakek?” tanya Gerald tak mengerti.
“Lihatlah para wanita itu. Selain Aila yang biasa mendalami pengobatan, yang lainnya adalah petarung kita yang biasa berlatih fisik. Tapi semua itu terlihat sirna. Mereka seperti umumnya para wanita biasa saja,” jelas Kakek Kang.
“Menurutku, kekuatan fisik kita juga dikurangi. Itu sebabnya kita mudah sekali lelah. Padahal hanya berjalan lurus dan datar saja. Tidak ada jalur pendakian yang pasti sangat menguras fisik.” Hakon menimpali.
“Kau benar. Jadi, untuk mengantisipasi smua kemungkinan yang akan kita hadapi nanti, sebaiknya kita mulai beristirahat dan mengisi tenaga. Kemudian bergantian sesuai dengan waktu yang ditetapkan!” kata Eric.
“Baik!”
Selain yang berjaga, yang lain tidur dalam lingkaran penjagaan. Yang pertama jaga adalah Hakon, Herdan, Jason, dan Kakek Kang. Mereka mengobrol dan sesekali berkeliling, memeriksa bagian lain.
Gerald jalan berkeliling, bergantian dengan Eric. Arjun mencoba melihat ke langit, menembus rimbunan daun maple. Tempat itu seperti gua saja, gelap gulita dan hanya diterangi oleh kelip kunang-kunang yang terus bertambah banyak di sekeliling mereka.
“Apa kalian pernah membaca sesuatu tentang kunang-kunang?” tanya Arjun. Setelah kehilangan kekuatan, dia menjadi sedikit parno.
“Itu hanya binatang yang berkelip. Bagus ada mereka. Kalau tidak, tempat ini akan sepenuhnya gelap. Dan kita tak akan bisa melihat apa yang terjadi!” jawab Eric.
“Kau benar soal itu. Hanya saja, makin malam, dia makin bertambah banyak dan mengelilingi kita!” bantah Arjun.
Pernyataan Arjun membuat Eric, Gerald dan Fire melihat ke sekitar tempat mereka duduk. Yang dikatakan Arjun ada benarnya.
“Aku tidka melihat dari mana mereka datang. Tapi lama kelamaan jadi semakin banyak saja!” kata Fire.
“Tak mungkin mereka membelah diri, kan?” tanya Arjun keheranan.
__ADS_1
“Apapun mungkin jika di dunia sihir!” tegas Gerald. “Bahkan, bisa saja mereka sebenarnya bukan kunang-kunang!” tambahnya lagi.
“Lalu apa?” tanya Fire.
“Kalimat sihir! Ada yang mengirim mantera sihir! Makin banyak mereka, makin kuat sihir itu membuat kita tidur!” Eric akkhirnya menemukan hubungan semua keanehan itu.
“Kalau begitu, ayo kita usir saja!” Arjun sudah berdiri dari duduknya dan mengibaskan tangan pada kerumunan cahaya yang berada di atas teman-teman mereka yang sedang tidur pulas.
Yang lain ikut membantu mengusir cahaya yang terus merubung semakin banyak. Eric membangunkan Robert yang tidur di bagian pinggir dekat batang pohon. “Bangun! Keadaan bahaya!”
Robert bergeming. Dia seperti tak mendengar apapun. Tak kehilangan akal, Eric memukul keras lengan atas Robert. Plakk!
Pukulan itu begitu keras, hingga mustahil Robert tidak terbangun. “Ada apa?” tanyanya gelagepan.
“Kunang-kunang itu makin banyak merubung di atas teman-teman kita. Menurutku, itu adlah manteri sihir!” Ayo bantu bangunkan yang lain!” perintah Eric.
“Baik!” Robert lalu berdiri dan mendekati Dimas yang tidur tak jauh dari mereka. Dia menggunakan cara yang sama dengan Eric tadi. Sebuah pukulan teramat keras, berhasil membangunkan dokter itu dari mimpinya. Dan dengan sikap terkejut luar biasa, dia bangun dan bertanya. “Ada apa? Apakah sudah giliranku jaga?” tanyanya.
“Ya!” bantu bangunkan yang lainnya. Kita sedang dimanterai dengan sihir!” kata Robert. Dia membangunkan kakek Kang.
Setelah beberapa waktu, beberapa pria yang tidur di bagian pinggir kelompok, berhasil dibangunkan. Namun, para wanita dan sebagian besar lain yang tidur di tengah lingkaran, tak bisa mereka bantu.
Fire dan Gerald yang terus membuyarkan sinar kelap kelip itu akhirnya kelelahan juga. Mata mereka menjadi semakin berat.
“Sepertinya mereka juga terkena sihir saat mengusir cahaya-cahaya itu pergi.” Rober menarik keduanya ke pinggir dan membiarkannya beristirahat di abwah sebatang pohon.
“Bagaimana sekarang?” tanya Dimas bingung. Dia sudah berulang kali mengibaskan cahaya berkelip-kelip itu, tapi tak berhasil. Cahaya itu hanya akan menjadi semakin banyak.
“Ya Tuhan, aku sangat ingin ada dari kita yang punya kemampuan sihir, sekarang!” kata Eric kesal. Matanya melihat cahaya kelap-kelip itu terbang makin rendah ke arah teman-teman mereka yang sedang tidur.
“Apakah dulu seperti ini juga?” tanya Arjun pada Robert.
Robert tak langsung menjawab. “Seingatku, memang ada kunang-kunang. Juga ada kupu-kupu di pagi hari. Sangat banyak. Tapi aku tidak tahu jika mereka ada sebanyak ini. Waktu itu kami menyalakan api unggun untuk mengusir dingin dan gelap. Mungkin hanya tak terlihat nyata saja. Tapi benar, memang kami jadi sangat mengantuk setelah malam hari.”
__ADS_1
“Mari kita coba buat api unggun dengan daun-daun kering ini,” ajak Eric.
****