
Pemimpin Orc itu menggeleng dan berkata lagi. “Apa Kau tak
lihat kalau pasukan Elf ada yang bisa terbang? Mereka tak butuh pintu untuk
bisa ke ibu kota!”
Para Orc yang bersembunyi itu saling pandang satu sama lain.
Namun, mereka menggeleng kuat. “Kami tidak akan menyerah. Kami akan terus
melawan dan mempertahankan perbatasan ini!” ujar salah seorang dari prajurit
Orc dengan tekad kuat.
“Kita prajurit memang tidak takut mati. Hanya saja, di dalam
kota yang terkurung, ada banyak penduduk kota yang akan mati sia-sia, jika kita
terus melawan. Mereka bukan lawan kita!” jelasnya dengan suara bernada rendah.
Sepertinya, menyerah itu sungguh melukai harga dirinya.
“Aku meminta kalian menyerah, demi menyelamatkan nyawa
penduduk kota yang tidak bersalah sama sekali!” ujarnya penuh permohonan.
Para bawahannya kembali saling pandang. Mereka merasa
dilema. Ingin melawan, tapi penduduk dijadikan tawanan dalam kurungan.
Sebagian teman mereka juga masih berada di sana. Melawan pun, belum tentu akan
menang.
Akhirnya satu per satu mereka turun dan berkumpul dengan
pimpinannya. Wajah mereka tampak lesu dan menunduk. Arjun menghitung mereka
semua, ada sepuluh orang.
“Apakah sudah semuanya? Kami tidak akan mengampuni
kebohongan!” ancamnya.
“Memang hanya ini prajurit penjaga yang tersisa di luar!”
jawab pimpinan Orc itu.
“Baik. Ayo kembali ke tempat Pangeran Mahkota!” ajak Arjun
lagi.
Para Orc itu kembali berjalan menuju kota yang sedang
dikurung dengan kubah cahaya. Para bangsa Cahaya yang lain juga sudah berkumpul
di sana dan siap untuk mendengarkan perintah.
“Vidar, ikat mereka semua!” perintah Dean.
Salah seorang bangsa Cahaya muncul dan mengikat para Orc
dengan tali tak terlihat. “Jangan banyak bergerak! Atau ikatan itu akan semakin
erat dan membunuhmu!” ujarnya lantang.
Para prajurit penjaga itu akhirnya diam tak bergerak. Mereka
menunggu pasrah hukuman apa yang akan dijatuhkan. Memang seperti itulah nasib
tentara yang kalah dalam perang.
“Ikut aku ke dalam!” ajak Eric. Vidar mengikuti pria muda itu
masuk menembus kubah yang diciptakan Eric.
“Siapa yang menjadi penjaga perbatasan?” tanya Eric lantang.
Para prajurit penjaga yang sudah berbaris rapi di belakang
para penduduk, menyahut. Mereka bisa lihat bagaimana pemimpin dan teman-teman
mereka diikat di luar sana.
“Ikat mereka semua!” perintah Eric pada Vidar.
“Baik!” Vidar melakukan hal sama pada sisa prajurit penjaga.
Eric berdiri di samping pria berabut pirang yang mulai
bergerak sadar. Lalu Eric mengurungnya sendirian. “Pemimpin penjaga itu meminta
kami membebaskan kalian para penduduk kota. Tapi aku tertarik pada yang satu
ini. Jadi sementara aku akan menahannya dulu!” ujar Eric.
__ADS_1
Para Orc yang berlutut itu hanya diam dengan pasrah. Dean
membawa Pangeran Mahkota Elf masuk ke dalam kubah cahaya. Memberinya kesempatan
untuk bicara.
“Pangeran Mahkota, aku ingin menahan yang ini dulu,” tunjuk
Eric pada si rambut pirang.
“Oh, baiklah.” Pangeran Mahkota Elf mengangguk mengiyakan.
“Aku ingin memberi tahu kalian semua. Baik prajurit, maupun
penduduk kota ini.” Putra Mahkota menjeda kalimatnya dan memperhatikan para Orc
itu satu per satu.
“Ibukota dan istana raja kalian sudah menjadi abu. Negara ini
sudah jatuh. Maka sejak itu, kalian berada dalam pengawasan kerajaan Elf!”
titahnya.
“Apa!”
Para Orc itu ribut dan tak percaya. Namun, sekarang mereka
memang tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan memeriksa kebenaran informasi
ibukota, mereka bahkan tidak dapat keluar dari kurungan cahaya di atas kota.
“Jadi, bagaimana sekarang?” tanya Pangeran Mahkota pada Dean.
“Lebih baik biarkan kubah ini hingga pagi. Biarkan penduduk
beristirahat dengan tenang,” usul Dean.
“Bagaimana dengan para prajurit itu?” tanya sang pangeran
lagi.
“Kita kumpulkan dekat penjagaan kita. Mereka harus dipisahkan
dari warga kota!” tambah Dean.
“Baik, mari kita buat seperti itu saja.” Pangeran Mahkota mengangguk
setuju.
teman-temannya!” perintah Dean.
“Baik!”
Vidar langsung menyimpan para prajurit yang tersisa itu dalam
penyimpanan dan keluar dari kubah cahaya. Eric mengikutinya keluar dengan
membawa si rambut pirang.
Para Orc penghuni kota itu kembali ribut, melihat Pangeran
Oselin hilang begitu saja dari pandangan mereka. Hal itu membuat mereka semakin
takut pada bangsa Elf dan sekutunya.
“Kalian bisa bergerak bebas dan beristirahat malam ini,” kata
Pangeran Mahkota. Lalu dia keluar bersama Dean.
“Kita bebas di dalam kota ini?” tanya para Orc tak percaya.
Mereka melihat sekitar. Kota itu sangat sepi dan hanya tinggal
mereka saja. Tak ada para prajurit yang tersisa. “Sepertinya kita memang
dibiarkan bebas di dalam kota. Para prajurit itu menjadi jaminannya!” ujar
salah seorang.
“Sial sekali! Kenapa tentara kita bisa kalah pada
makhluk-makhluk mungil seperti itu?” ketus salah seorang.
“Dalam perang, kekuatan sangat penting. Dibanding kita,
memang mereka terlihat sangat kuat!” kata yang lain.
“Ah ... sudahlah. Tidak perlu berbuat onar. Raja kita saja
sudah jatuh. Negara ini kalah dan kita masih dikurung. Sangat mudah bagi mereka
menghabisi kita yang tak bisa sembunyi ke mana-mana!” ujar yang lain.
“Itu benar. Demi nyawa kita, para prajurit itu menyerah dan
__ADS_1
Pangeran Elf itu mengampuni kita. Jadi mari istirahat. Semoga besok para wanita
kita juga bisa diijinkan untuk kembali ke dalam kota!” seru yang lain.
“Benar. Aku khawatir memikirkan mereka berada di dalam hutan
malam ini!” timpal yang lainnya.
Para Orc itu membubarkan diri satu-per satu dan kembali ke
rumah masing-masing.
“Kalian bisa beristirahat malam ini!” Arjun mengurung para
prajurit penjaga itu dalam satu kubah kecil, agar tidak bisa melarikan diri.
“Mudah sekali mereka membuat kurungan cahaya seperti ini,”
pikir pemimpin Orc keheranan. “Bangsa apa mereka sebenarnya?”
“Baiklah, semua sudah terkendali. Jadi, kita beristirahat
dengan tenang. Yang lain kita pikirkan besok pagi,” ujar Dean.
“Terima kasih banyak untuk bantuan Anda, Pemimpin Cahaya,”
ujar Pangeran Mahkota hormat. Setelahnya, dia dan Pangeran Taksa diantar
kembali ke tenda di Tanah tak bertuan.
Eric duduk dan beristirahat di bawah pohon. Di sebelahnya,
duduk Sofie yang ikut memperhatikan pria berambut pirang yang ada dalam
selubung cahaya. Sofie menempelkan tangannya di selubung itu. Kau siapa?” tanya
Sofie ingin tahu.
“Aku adalah warga sipil dan penduduk kota itu!” tunjuknya ke
arah kota yang ditutup kubah cahaya.
“Apakah kau semacam pemimpin kota? Kau sangat berbeda dengan
para Orc. Mereka juga menghormatimu!” Eric ikut nimbrung dalam percakapan
mereka.
“Tidak! Kota ini dipimpin oleh Pemimpin pasukan perbatasan,”
ujarnya.
“Tapi dia sangat menghormatimu!” Mata Eric tajam menatap pria
pirang itu.
“Aku tidak merasa seperti itu. Mungkin karena kami berteman
baik. Jadi dia ingin melindungiku sebagaimana penduduk kota lainnya,” ujarnya berkelit.
“Aku juga ingin berteman denganmu!” kata Eric tiba-tiba.
Sofie dan pria pirang itu menatapnya heran.
“Jangan menatapku dengan pandangan aneh begitu. Logikanya,
kalau seorang pemimpin Orc bisa berteman baik denganmu, itu pasti karena Kau memang
pria yang baik!” jelas Eric.
“Bagaimana jika kami hanya pura-pura baik?” uji si rambut
pirang.
“Aku paling benci dikhianati. Dan musuh yang kubenci hanya
akan berakhir mati!” Eric menjentikkan kedua jarinya. Seakan membunuh musuh
adalah hal mudah baginya. Pria pirang itu masih menatap Eric dengan takjub.
“Aku lapar,” kata Eric pada Sofie. “Kau mau?” dikeluarkannya
tiga buah apel dan menawarkan pada Sofie. Gadis itu tersenyum senang. Diambilnya
satu dan langsung memakannya dengan lahap.
“Ini untukmu!” Eric menyodorkan buah itu pada pria yang
dikurungnya.
“Pria tu mengambilnya tanpa takut. Kemudian ikut memakannya
mengikuti Sofie.
Eric terkekeh dan ikut makan juga. Ketiganya makan dan beristirahat
__ADS_1
begitu saja beralas tanah, beratap langit.