The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 55. Rahasia Bangsa Cahaya


__ADS_3

Semua mata mengarah pada Eric. Meminta dia yang memberi penjelasan. “Aku letih, bisakah Paman Robert menjelaskan maksudku tadi?” elaknya.


Robert hanya bisa menggelengkan kepala. Sikap Eric masih sulit ditebak. Kadang dia bersikap bijaksana, kadang sikap semaunya itu muncul lagi. “baik, saya akan jelaskan. Di mana Ameera?” tanya Robert.


“Dia menunggui ibu,” sahut Yasmeen.


“Sebaiknya panggil dia. Karena kalian perlu berdiskusi nanti,” Arjun menimpali.


Yasmeen meminta pelayannya untuk memanggil Ameera. Dan gadis itu muncul dengan cepat.


“Ada apa?” tanya gadis itu.


“Begini. Kami melihat perkembangan kesehatan Silvia masih akan lama. Persoalannya, kami diburu waktu untuk segera melanjutkan perjalanan,” kata Robert.


“Lalu, ibu bagaimana? Apakah kalian bisa ke sini lagi setelah semua urusan penting kalian selesai?” harap Yasmee.


“Andai saja bisa semudah itu mencari jalan kembali, maka kami tak mungkin akan tersasar beberapa kali.” Arjun menggeleng.


Kemudian, terdengar dengkuran halus dari Eric, Dimas dan Sofie. Di sebelah mereka, Hakon, Jason dan Aila juga ikut membaringkan diri.


“Mereka sangat kelelahan karena menolong ibu.” Ameera melihat dengan pandangan kasihan.


“Abaikan saja. Mereka memang biasa tidur di mana saja.” Robert menenangkan gadis itu. “Mari kita kembali dengan bahasan tadi.”


“Lalu kami harus apa sepeninggal kalian? Apakah ada obat lain yang harus kami berikan setelah ini?” Yasmeen lebih fokus dengan persoalan Silvia.


Robert menggeleng. “Kami mengobati Silvia dengan tenaga dalam. Kemampuan penyembuhan bangsa Cahaya sangat berbeda.” Robert berhenti sejenak.


“Namun, kami bisa tawarkan solusi lain untuk kalian ambil. Hanya saja ada syaratnya,” lanjutnya lagi.


“Apa syaratnya?” tanya Yasmeen cepat. Dia tak sabar melihat kesembuhan Silvia. Jika ada cara, maka syarat apapun akan dipenuhinya.


“Seperti yang kalian lihat tentang kami. Wujud Bangsa Cahaya adalah adalah hal yang kami rahasiakan. Biasanya kami akan tampil seperti manusia biasa saja. Jadi, bisakah kalian rahasiakan hal itu dari orang lain?” Mata Robert menatap tajam.


“Apakah itu syaratnya?” tanya Ameera.


“Bukan hanya itu. Tapi itu adalah syarat pertama!” Arjun menjawab cepat.

__ADS_1


Yasmeen dan Ameera saling berpandangan. Keduanya mengangguk secara bersamaan. “Kami akan merahasiakannya. Bagaimana pun juga, ibu kami juga sudah menjadi bagian dari Bangsa Cahaya. Tak mungkin kami membocorkan hal yang mungkin akan membahayakan ibu kami juga!” Yasmeen menjawab dengan tegas.


“Hemm … masuk akal. Baiklah. Sekarang kita bahas tentang kelanjutan pengobatan ibumu.”  Robert kembali menjeda kalimatnya, menunggu reaksi kedua wanita tersebut.


“Kalian masih bisa merawat ibu?” Mata Ameera berkilauan gembira.


“Di dunia kami, Ada rumah sakit dan dokter serta tabib yang sangat hebat. Obat juga sangat cukup. Silvia bisa dirawat di sana, kalau kalian bersedia!” jelas Robert.


“Bukankah negara asal kalian sangat jauh? Bagaimana cara pergi ke sana? Terbang? Kami tidak bisa terbang. Berapa hari perjalanan yang harus ditempuh? Aku tidak ya---”


Robert mengangkat tangan, menghentikan Yasmeen. “Kami punya cara sendiri untuk berpindah lebih cepat.Hanya  saja, cara itu sangat rahasia dan menggunakan alat yang juga sangat rahasia. Jika kami meletakkan alat itu di sini, maka harus bisa dipastikan bahwa alat itu aman dari pandangan orang lain. Jika alat itu hilang, kalian tidak akan pernah kembali ke sini lagi!”


Yasmeen dan Ameera terkejut. “Tak bisa ke sini lagi?”


“Jika alat itu dicuri orang, maka kalian tak bisa kembali ke sini lagi. Selain itu, dunia kami juga akan berada dalam bahaya besar, sebab mungkin akan dimasuki oleh pencuri dan orang-orang jahat!”


“Bagaimana kalau kau saja pergi menemani ibu. Dan aku menjaga di rumah, agar semua aman?” Yasmeen membuat keputusan dengan cepat. Dia mendorong Ameera untuk pergi dan menjaga ibu mereka.


“Keputusan seperti itu jauh lebih baik. Siapapun yang pergi, harus ada yang menjaga alat itu tetap aman di sini! Selain itu, kalian bisa bergantian menjaga di sana. Asalkan selalu ada yang menajga alat itu di sini!”


Yasmeen dan Ameera berbisik-bisik berdiskusi.  Robert menoleh pada Arjun yang sudah tidur sambil bersandar.


“Bagus. Hanya itu yang kami perlu tahu. Sekarang aku sangat ngantuk. Mari kita istirahat sebentar. Setelah pagi, kita lanjutkan perjalanan!” Robert menyandarkan tubuhnya ke dinding, mengikuti Arjun yang sudah bermimpi. Kemudian sebuah selubung cahaya biru yang bermula dari Eric, melingkupi seluruh anggota timnya.


“Bahkan saat tidur, dia tetap menjaga anggotanya. Tak heran dia diangkat jadi pemimpin tim.”Ameera masih memperhatikan tamu-tamu yang sedang tidur itu. Dia merasa kagum pada kemampuan dan kerjasama mereka.


“Kau istirahatlah di tempat ibu. Aku akan bereskan kamarku, untuk tempat menaruh alat rahasia mereka,” bisik Yasmeen.


“Besok saja. Kakak juga harus istirahat sebentar!” desak Ameera. Ditariknya tangan Yasmeen agar mengikutinya ke tempat Silvia.


Keesokan pagi. Yasmeen telah meminta pelayannya menyiapkan makanan untuk para tamunya yang terus bertambah. Pagi ini, saat mereka menyapa, telah hadir satu orang anggota lain yang belum pernah dilihat Yasmeen.


“Ini Ubbe. Dia yang ahli soal alat itu. Kami membawanya ke mana-mana, agar bisa pulang dengan cepat, jika sewaktu-waktu diperlukan.” Eric menjelaskan.


“Oh, aku mengerti. Berarti kalian punya keahlian yang berbeda-beda satu sama lain.”


“Tepat! Kau sangat pintar!” puji Robert.

__ADS_1


“Ibu yang mengajariku agar aku pintar.” Senyum Yasmeen.


“Perkembangannya cukup bagus!” Dimas dan Eric berjalan bersama dan bergabung di ruang tamu. Mereka berdua baru saja memeriksa Silvia.


“Jadi, apakah masih perlu perawatan rumah sakit atau tidak?” tanya Arjun.


“Masih. Dia baru sadar, tapi masih sangat lemah. Biarkan Paman Indra dan Bibi Niken membuatkan ramuan rahasia vitalitas untuknya,” kata Eric.


Sofie tertawa mendengar pujian Eric. “Tak kukira ramuan vitalitas ibuku sangat terkenal.”


“Kau belum tahu saja!” kata Arjun sambil tersenyum penuh arti. Seisi ruangan tertawa terbahak.


“Sudah bercandanya,” tegur Dimas.


“Apakah kita semua akan kembali pulang sekarang?” tanya Hakon.


“Sebagian kita harus kembali, mengantarkan Silvia dan mengambil persediaan air abadi. Juga pintu teleportasi baru untuk digunakan di negara Elf!”  kata Eric.


“Paman Robert dan Dimas bisa pergi ke sana. Ubbe kau minta pintu baru pada Aslan! Juga jangan lupa kalian bilang pada ayah dan ibu bahwa aku memimpin tim dengan baik, di sini!”


“Tentu … tentu.” Robert mengangguk.


“Di mana tempat aku memasang alatnya?” tanya Ubbe.


“Di kamarku saja. Tak ada pekerja di sini yang berani masuk ke ruanganku!” Ajak Yasmeen.


“Sebelum pergi, tanyakanlah pada Silvia, apakah dia ada mendengar tentang dinding cahaya ataupun pintu cahaya lain di sini!” saran Arjun.


“Akan kutanyakan. Tadi dia sedang disuapi oleh Ameera, maka kami tinggalkan.” Dimas menanggapi.


“Ya! Kita butuh informasi apapun tentang dinding cahaya ataupun pintu cahaya.


“Suamiku waktu itu pernah menceritakan padaku, bahwa di sebuah desa, saat dia sedang pergi mengobati seseorang. Pasiennya berkata pernah belihat sesuatu bercahaya di atas langit!” Yasmeen bercerita dengan serius. DIa berusaha mengingat-ingat apa yang dikatakan almarhum suaminya dulu itu.


“Lalu, apa tanggapanmu?” tanya Robert.


“Kubilang, itu pasti bintang, atau mungkin bintang jatuh seperti yang dikatakan ibu.”

__ADS_1


******


__ADS_2